Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Persiapan Pertunangan


__ADS_3

Pagi ini, di rumah utama terlihat sangat sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan rumah sedang menyiapkan dekorasi pertunangan anak bungsu keluarga Armstrong. Siapa lagi kalau bukan Zelene Armstrong.


Rencananya pertunangan akan dilaksanakan di ruang tengah yang memang sangat luas sekali. Di tepi ruangan dibuat dekorasi dari beberapa bunga yang disusun asimetris dan tirai yang sangat mewah. Tak lupa mereka menyematkan tulisan 'Happy Engagement Zelene Armstrong dan Felix Damarion' di sana.


Beberapa kursi disusun sedemikian rupa untuk menunjang acara yang akan dilaksanakan hari ini. Tak banyak memang, rencananya hanya akan ada beberapa keluarga Felix yang akan datang.


Mama Jelita sedari pagi juga sibuk mengecek persiapan semua pelayan rumah utama. Mengenai dekorasi pertunangan, tatanan kursi, pemilihan makanan untuk menjamu tamu undangan, dan menyiapkan kata sambutan yang tepat untuk kedatangan calon menantu beserta besannya. Semuanya harus terlihat perfect dan tak ada cacat sedikitpun.


"Rasanya hari ini sangat sibuk sekali. Aku mau melihat persiapan Zelene," ucap wanita paruh baya itu.


Selain persiapan untuk pertunangan, Mama Jelita sengaja menyewa salon langganannya untuk mempersiapkan anak gadisnya supaya terlihat sangat cantik dan menawan. Tak hanya merias wajah gadis itu, melainkan semua persiapan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semua harus terlihat sempurna.


Tok tok tok.


Mama Jelita mengetuk pintu kamar Zelene. Wanita itu sudah tau jika Zelene sedang bersama pegawai salon. Mama Jelita langsung saja masuk untuk melihat seluruh persiapannya.


Mama Jelita melihat wajah putrinya yang terlihat semakin cantik. Padahal masih polos belum memakai make up sedikitpun.


"Terima kasih, sayang. Mama sangat bahagia, akhirnya hari ini kau akan bertunangan," ucap Mama Jelita.


"Mama bahagia? Tidak denganku, Ma!" Zelene mengungkapkan kesedihannya.


"Jangan seperti itu, sayang. Ini demi kebahagiaanmu juga. Mama tidak ingin anak-anak hidup susah. Mama harus memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Kau tidak akan menyesal mendapatkan Felix. Dia pria sempurna untuk ukuran dirimu, Nak," ucap Mamanya malah membuat Zelene enggan untuk bersikap baik pada wanita yang selama ini disebutnya Mama.


Iya, sempurna untuk ukuran Mama. Tidak untukku! Bahkan yang kutahu jika kakaknya, Dizon Damarion adalah selingkuhan Diana. Wanita bermuka dua itu kenapa ikut mengurus kehidupanku. Aku tidak suka!


"Kenapa tidak Mama saja yang menikah dengan Felix. Mama seorang janda, bukan? Tak perlu susah payah memaksaku, Ma. Jika ini masih ada hubungannya dengan wanita ular Diana Carrington itu, sebaiknya Mama pikir ulang untuk keselamatan Mama dan anak-anak Mama," Zelene sudah tak peduli dianggap sebagai anak yang tak tahu terima kasih atau apa. Kekesalannya berbuntut panjang karena pertunangan yang mendadak ini atas usulan mantan kakak iparnya itu.


"Jaga ucapanmu, Ze! Diana sudah memberikan Mama banyak pilihan calon suami untukmu. Pilihan Mama jatuh pada Felix. Pria itu sedang mencari calon istri yang sepadan dengan dirinya. Dia pria baik," Mama Jelita dibuat naik pitam oleh anak bungsunya.

__ADS_1


Ck, pria baik darimananya? Jika kakaknya seorang loser seperti Dizon. Yang berani memporak-porandakan kehidupan pernikahan Kak Sean.


"Terserah Mama! Aku tidak peduli lagi. Mau dia baik, perfect, ganteng, tajir atau apalah. Ze tidak peduli!" Zelene sangat kesal pada Mamanya.


"Bagus! Ikuti saja skenario yang Mama buat. Tinggal menurut saja, anak manis. Jangan lupa gaun yang Mama pilihkan dipakai hari ini. Mama akan mengecek persiapan di luar," Mama Jelita meninggalkan Zelene dengan beberapa pegawai salon yang saat ini sedang mengurus persiapan dirinya.


Ketika Mama Jelita sedang mengecek persiapan, mantan menantunya, Diana Carrington datang dengan membawa sebuah buket bunga sebagai hadiah untuk pertunangan mantan adik iparnya itu.


"Kau datang, Di," Mama Jelita memeluk wanita itu dengan hangatnya.


"Iya, Ma. Zelene dimana, Ma?" Diana menanyakan keberadaan mantan adik iparnya untuk memberikan buket bunga yang dibawanya.


"Ada dikamarnya. Sedang bersiap dengan beberapa pegawai salon langganan Mama. Mau bantu Mama atau melihat Ze?"


Lebih baik aku melihat Zelene dulu. Biarkan Mama Jelita sibuk dengan urusannya.


"Aku mau ke kamar Ze dulu, Ma. Mau memberikan selamat untuknya," ucap Diana meninggalkan Mama Jelita.


Suara khas langkah Diana dengan stiletto heelsnya dengan tinggi sepuluh centimeter itu menggema di lorong rumah utama menuju kamar Zelene.


Wanita itu mengetuk pintu kamar Zelene. Zelene mengira jika Mamanya datang lagi.


"Ada apalagi, Ma?" teriak Zelene dari dalam.


"Ini aku, Ze... Diana," jawab Diana dari luar.


Astaga! Wanita itu lagi.


"Masuk!" perintah Zelene.

__ADS_1


Diana membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Dia menyerahkan buket bunga itu langsung ke tangan Zelene.


"Selamat atas pertunanganmu," ucap Diana yang kemudian duduk di sofa kamar itu.


Cih, aku berharap pertunangan ini tidak pernah terjadi. Semoga Kak Sean bisa menolongku.


Zelene menerima buket bunga itu kemudian langsung membuangnya ke tempat sampah yang berada tepat di sampingnya.


"Eh, kenapa kau buang? Kau tidak suka bertunangan dengan Felix?" protes Diana tak terima.


"Tidak! Aku tidak suka bertunangan dengan pria pilihanmu. Aku yakin, kau punya niat terselubung untukku. Bisa jadi setelah kau gagal menggaet Dizon Damarion, sekarang kau buat seolah aku bersama Felix. Tapi ternyata tujuanmu sebenarnya adalah dirinya," Zelene menuduh Diana sekenanya.


Astaga, mulut anak ini! Jika bukan karena aku sedang mengejar Sean kembali, aku juga tak sudi membuatnya bersama Felix. Pria itu sangat berbeda dibanding seorang Dizon yang playboy itu.


"Terserah kau, Ze! Aku tidak tertarik dengan Felix. Dia terlalu muda untukku," ucap Diana dengan senyum mengejeknya. "Fokusku sekarang untuk mengejar kakakmu yang bodoh itu," bisiknya ke telinga Zelene. Diana memutuskan untuk keluar kamar gadis itu dan melanjutkan membantu mantan Mama mertuanya.


Di ruang utama, Mama Jelita sedang meminta pelayan untuk memasang bunga segar yang diletakkan di atas meja. Beberapa persiapan hampir sembilah puluh persen selesai.


Diana mendekati mantan mertuanya untuk menanyakan sesuatu. Dia ingin bertanya perihal Sean, mantan suaminya.


"Ma, apa Sean juga hadir?" tanyanya.


Sean? Mama tidak yakin, Di. Duda itu pasti enggan menyetujui keputusan Mama.


"Entahlah, Di. Mama juga tidak tau. Mungkin Zelene sudah mengabarinya," ucap Mama Jelita yang tetap fokus pada beberapa pelayannya.


Apa dia sedang sibuk dengan istri barunya itu? Kenapa aku merasa kalah dengan anak kecil itu?


Mama Jelita terus saja fokus pada persiapan pertunangan putrinya. Setelah semuanya selesai, wanita paruh baya itu bersiap untuk menyambut kedatangan Felix dan keluarganya. Dia meminta Diana untuk menunggu di depan, sementara dirinya bersiap di kamarnya. Dia harus selalu tampil cantik sempurna. Seperti julukan yang disematkan padanya, Mrs. Perfeksionis.

__ADS_1


"Di, tolong tunggu di depan. Jika keluarga Felix datang, lekas kabari Mama," ucap Mama Jelita.


Diana menurut saja ucapan mantan mertuanya itu. Tak lama, rombongan beberapa mobil memasuki area rumah utama. Keluarga besar Felix Damarion telah datang.


__ADS_2