
What? Om kurir lagi? Dasar istri gesrek!
Vigor tak peduli lagi dengan ucapan istri Bosnya yang suka mengada-ngada itu.
"Boleh masuk nggak, nih?" tanya Vigor pada Callista.
"Silakan, Om asisten. Mohon maaf, apartemen sedikit berantakan. Maklum, sedang ada tamu," ucap Callista menjelaskan.
Di ruang tamu memang ada cemilan dan minuman yang belum dihabiskan oleh adik suaminya.
Apa benar ucapan Bos Sean jika Zelene masih berada di apartemen ini? Atau tamu yang dimaksud istrinya Bos itu adalah Zelene? Ah, Zelene... Bagaimana kau yang sekarang? Masih sama cantiknya seperti dulu, kah?
"Sayang, di mana dia?" tanya Sean pada istrinya. Dia yang dimaksud Sean adalah adiknya.
"Masih membersihkan diri di kamar tamu," ucap Callista meninggalkan ruang tamu menuju dapur untuk mengambilkan minuman asisten suaminya.
Sean mengikuti istrinya dari belakang. Ketika istrinya sedang menyiapkan minuman, Sean memeluknya dari belakang. Dia sudah rindu momen seperti ini.
"Ish, lepasin, Om! Malu tauk kalau sampai dilihat Zelene atau asisten Om itu," protesnya.
"Biarkan saja, sayang. Biar mereka berdua sadar akan indahnya menikmati momen berdua seperti apa. Oh ya, apa sudah berhasil?" Sean menanyakan tentang hasil dari proses yang dijalaninya selama beberapa kali dengan istrinya itu.
"Hasil apaan sih, Om? Nggak jelas banget, deh," Lagi-lagi Sean dibuat gemas dengan jawaban istrinya.
"Maksudnya, apakah tugas makhluk hidupku telah berhasil? Jika belum, mari kita buat setiap hari," ucap Sean di telinga istrinya.
Ish, bahas itu lagi. Lagi-lagi itu, capeknya luar biasa. Tapi....
"Entahlah, Om. Aku juga enggak tau. Lagian baru berapa kali pertemuan juga," Callista mulai berani membalas kata-kata suaminya yang berujung mesum itu.
"Jadi pertemuannya mau ditambah, nih? Biar cepat!" goda sang suami.
"Ish, enak di Om... Nggak enak di aku. Udah lepasih, ih. Dah kelar juga."
Sean melepaskan pelukannya. Sebelum dia menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, Sean membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.
"Nanti malam kita bekerja keras lagi, sayang. I love you."
Ish, pikirannya nggak jauh-jauh dari itu....
Sean menuju ke kamarnya sedangkan Callista ke ruang tamu mengantar minuman untuk asisten suaminya.
"Silakan...," Callista meletakkan gelas minuman di meja.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Vigor.
Setelah itu, Callista kembali ke kamar dan meninggalkan tamunya seorang diri.
Sementara Zelene baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian yang diberikan kakak iparnya.
Selera kakak ipar tidak terlalu buruk.
Zelene tidak membawa make up. Dia berniat untuk meminjam kakak iparnya supaya tidak terlihat polos seperti sekarang ini. Sebelum itu, Zelene berniat ke ruang tamu untuk minum. Minuman yang disiapkan kakak iparnya belum dihabiskan sejak tadi.
Deg!
Sesuatu mengejutkan Zelene dan membuat gadis itu berteriak histeris.
"Hei... Kau bayangan dirinya... Tolong jangan nampakkan wujudmu di hadapanku... Walaupun aku memang memikirkannya, setidaknya tolong jangan muncul secara tiba-tiba. Enyahlah kau dari hadapanku!" teriak Zelene histeris. Dia sadar sejak tadi memikirkan bayangan pria yang saat ini ada di hadapannya.
Vigor melongo. Melihat Zelene yang nyata berada di hadapannya.
Sementara sepasang suami istri yang mendengar teriakan histeris menuju ke sumber suara.
"Ada apa, Ze?" tanya kakaknya.
"Kak, kenapa bayangan pria itu muncul? Sejak tadi tidak menghilang dari hadapanku. Aku memang sedang memikirkankannya. Kenapa bayangannya selalu menghantui diriku, Kak?" Zelene mengutarakan perasaannya saat ini.
Sean dan Callista tertawa bersamaan.
"Ze, lihat! Dia bukan bayangan. Dia nyata," ledek kakaknya.
"Mana mungkin, Kak. Sejak tadi aku sedang memikirkannya. Tiba-tiba bayangan dirinya muncul seperti nyata. Aku sedang berhalusinasi, Kak...," Zelene masih merasa jika dirinya hanya melihat bayangan.
"Vigor, apa kau mau punya istri tidak waras?" goda Sean.
"Tidak, Bos!" ucap Vigor.
Eh, bayangan bisa ngomong?
"Ze, sudah berhalusinasinya? Kalau sudah, mari mengobrol dari hati ke hati," ajak Sean.
Zelene masih belum percaya jika di hadapannya adalah pria yang selama lima tahun ini dipikirkannya dan masuk dalam prioritas hidupnya. Hanya saja karena sudah lama tidak bertemu membuat Zelene merasa berhalusinasi. Pria itu sekarang lebih terlihat dewasa dan sangat tampan. Tidak kalah dengan ketampanan kakaknya. Bedanya, dia bersih tidak memiliki jambang seperti kakaknya.
"Ze, apakah kau selalu memikirkanku?" tanya Vigor yang terlihat sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya.
Kau semakin cantik dan lebih dewasa, Ze....
__ADS_1
Zelene malah mencubit tangannya sendiri.
"Auw, sakit! Aku tidak berhalusinasi, kan?" tanyanya pada semua yang ada.
"Ze, tolong jangan bercanda. Ini memang Vigor. Kakak yang mengajaknya kemari...," ucap Sean yang sudah tidak tahan melihat kelakuan adiknya yang alay itu.
Zelene sudah kepalang malu. Dia berusaha menutupi rasa kagumnya pada pria itu malah sekarang terbongkar di hadapan pria itu langsung.
"Baiklah, Vigor dan kau, Ze... Selesaikan masalah kalian. Ayo sayang...," Sean mengajak istrinya kembali ke kamar. Dia ingin membuat asisten dan adiknya menyadari jika keduanya saling mengagumi dan sama-sama ingin memiliki.
Zelene masih berdiri di ruang tamu. Dia sangat merindukan orang yang sekarang ada dihadapannya.
"Ze, aku akan menikah!" ucapan Vigor membuat tubuh Zelene luruh ke lantai.
Vigor mendekati gadis itu dan menolongnya. Zelene dipapahnya untuk duduk di sofa. Vigor memegang erat tangan gadis itu yang wajahnya terlihat sangat sedih dan gusar.
Semuanya sudah terlambat. Ternyata aku pulang mendapatkan kabar bahagia sekaligus kabar buruk. Rasanya ingin cepat kembali dan melupakan semuanya....
"Kenapa bersedih, Ze?" tanya Vigor seolah ucapannya tadi hanya gurauan belaka.
"Pergilah, Kak! Jangan temui aku lagi...," pinta Zelene dengan suaranya yang sangat lirih.
Aku tidak bisa menikah jika tidak denganmu, Ze. Aku tau saat ini kau sedang salah paham dan sangat cemburu.
"Ze, aku tidak akan menikah jika tidak denganmu," seketika ucapan Vigor mampu memberikan semangat lagi untuk Zelene. Binar mata gadis itu terlihat sangat bahagia. "Tapi...," Vigor menggantung ucapannya.
"Kenapa, Kak?" Zelene menatap dalam mata pria itu. Terlihat segurat kekhawatiran di sana.
"Aku tidak yakin Mama Jelita akan merestui kita," Vigor memberitahukan keraguan yang melanda dirinya saat ini. Dia mencintai Zelene dan takut terhalang restu Mrs. Perfeksionis itu.
Ah, iya. Mama... Bahkan pernikahan Kak Sean belum diketahui oleh Mama. Apakah aku akan melakukan hal yang sama seperti Kak Sean? Lebih tepatnya aku memilih kawin lari dengan Kak Vigor....
"Apa kita kawin lari saja, Kak?" usul Zelene.
Tidak, Ze! Aku tidak mau berurusan dengan Mama Jelita. Wanita itu akan menghalalkan segala cara untuk memisahkan kita. Aku tidak mau....
"Tidak, Ze! Kita minta restu padanya...," kali ini Vigor terlihat sangat bijak.
Apakah Mama akan merestui hubunganku dengan Kak Vigor? Bahkan usiaku hampir dua puluh sembilan tahun, tetapi Mama masih saja mengekangku masalah memilih jodoh. Aku harus yakin mampu menghadapi Mama.
"Mari berjuang bersama, Kak," ajak Zelene.
Vigor kemudian memeluk erat gadis yang selama ini dia harapkan kedatangannya.
__ADS_1
"Ze, jangan pergi lagi...," pintanya.
Zelene tidak menyadari jika kepergiannya waktu itu mampu membuat separuh hati seseorang sangat terluka. Kini, dia telah kembali untuk mengobati luka itu. Namun, perjuangan keduanya akan terhalang restu sang Mama.