Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Rencana Adopsi


__ADS_3

Apartemen Vigor terlihat sangat ramai karena kehadiran Callista. Dia membiarkan bumil muda itu diam di meja makan. Sementara Callista dengan cekatan membuat makanan untuk menanti kehadiran suami dan adik iparnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Callista. Dia menyodorkan bakwan jagung hasil gorengannya barusan.


"Hah? Rasanya apa, Kak?" tanya Zelene. Sejak tadi dia melamun dan tidak memperhatikan kakak iparnya.


"Astaga, Ze. Bukankah kamu yang memintaku membuat bakwan jagung? Kenapa tidak dicicipi? Aku sudah bergaya ala-ala chef, malah didiamkan saja hasil karyaku yang luar biasa itu." Callista memprotes tingkah adik iparnya itu. Dia sedang melamun. "Apa yang kamu pikirkan? Bumil harus ceria, loh."


Bagaimana caranya menyampaikannya?


Zelene memandang sendu kakak iparnya. "Aku harus apa, Kak? Aku takut membuat suamiku kecewa. Ini penantian kami selama ini. Walaupun syarat dari mama sudah tidak kuanggap sama sekali. Sekarang malah kondisi kehamilanku seperti ini."


"Ze, sebaiknya kamu jujur pada suamimu. Apapun kondisinya, dia akan selalu menerimamu apa adanya." Callista berusaha menjadi kakak ipar yang baik.


"Aku takut, Kak." Zelene tertunduk.


Zelene melupakan beberapa berkas kesehatannya yang ada diruang tamu. Dia sangat antusias ketika kakak iparnya mau membuat makanan lokal yang sangat dirindukannya itu.


Zelene tidak menyadari jika suami dan kakak iparnya datang bersamaan. Setelah pintu apartemen terbuka, Vigor dan Sean masuk.


"Honey...," panggil Vigor ketika sampai di ruang tamu. Dia melihat meja ruang terlihat sangat berantakan. Dia melihat berkas kesehatan istrinya yang baru diketahuinya. Vigor juga tidak tau apa maksud berkas yang tercecer itu.


Vigor mempersilakan Sean, kakak iparnya untuk duduk di ruang tamu. Sementara Vigor mencari istrinya dan mendapati berada di meja makan.


"Honey, aku baru saja menemukan berkas kesehatanmu ada diruang tamu. Apa maksudnya itu?" tanya Vigor. Dia merasa jika istrinya telah menyembunyikan sesuatu.


"Eh, adik ipar. Apakah suamiku juga datang?" Callista bertanya karena suaminya itu sudah berjanji akan menjemputnya.


"Ada di ruang tamu, Kak," jawab Vigor.


"Baiklah. Lanjutkan urusan kalian!" Callista meninggalkan dapur karena sudah selesai dengan aktivitas memasaknya.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Vigor. Selama ini, dia sangat menyayangi Zelene apa adanya.


Zelene terdiam. Lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ze, katakanlah. Jangan seperti itu!" ucap Vigor.


"A-aku telah berbohong padamu," ucapannya lolos begitu saja.


"Tatap mataku! Kebohongan apa yang sedang kamu sembunyikan?"


"Kehamilanku bermasalah," ucapnya.

__ADS_1


Deg! Vigor seperti terkena palu godam yang sangat keras menghujam kepalanya. Pikiran mengenai syarat yang diajukan mama mertua masih terngiang terus di kepalanya.


"Kamu membohongiku, Ze!" Vigor bergegas masuk ke kamarnya. Selama ini, Vigor selalu berusaha jujur pada istrinya. Dia paling tidak suka dibohongi seperti ini.


"Honey..., dengarkan aku!" teriak Zelene.


Vigor tidak menggubrisnya sama sekali. Dia ingin agar istrinya itu tidak mengulang kesalahan yang sama di masa mendatang.


Sean dan Callista yang mendengar teriakan adiknya itu kemudian mendekatinya.


"Ada apa, Ze?" tanya Sean.


"Aku ada masalah dengan suamiku, Kak," jawab Zelene. Dia tidak ingin menceritakan secara detail.


"Cepat selesaikan! Ingat kehamilanmu," ucap Sean mengingatkan.


"Ze, kami langsung pamit, ya. Ingat apapun itu, kalian tidak sendiri." Callista ingin agar adik iparnya itu menyelesaikan masalah dengan baik.


Setelah kepergian kakaknya, Zelene masuk ke kamarnya. Dia melihat suaminya seperti orang yang sangat frustrasi.


"Katakan apa kebohonganmu lainnya?" tanya Vigor ketika menyadari jika istrinya masuk ke kamarnya.


"Tidak ada lagi. Maafkan aku, honey. Aku tidak ingin membuatmu khawatir." Zelene berusaha merayu suaminya.


"Kandunganku lemah. Aku hanya menunggu beberapa hari saja untuk mempertahankannya," ucap Zelene.


Deg! Vigor sangat frustrasi, tetapi mau bagaimana lagi. Dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Zelene. Dia duduk di samping suaminya.


Vigor menggeleng. Dia hanya tidak suka dengan kebohongan yang diciptakan istrinya. "Tidak, Ze. Tolong lain kali berkatalah sejujurnya."


Zelene terdiam. Dia sedang memikirkan sesuatu. Jika kehamilannya kali ini bermasalah, ada kemungkinan kehamilan keduanya juga bermasalah.


Apa sebaiknya aku adopsi seorang anak? Batin Zelene.


"Honey, bagaimana kalau kita mengadopsi seorang anak laki-laki," usul istrinya.


Vigor menoleh dan memandang lekat manik mata indah istrinya. "Apa kamu menyerah dengan kehamilan ini?"


"Aku tidak pernah menyerah, honey. Aku hanya mengantisipasi hal yang terburuk," ucapnya.


"Apa kamu yakin akan melakukannya? Lihat, kondisi kita terjepit seperti sekarang ini. Mengenai persyaratan mama saja, aku belum bisa mewujudkannya." Vigor mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Berhentilah memikirkan mamaku. Lebih baik memikirkan masa depan kita. Setuju atau tidak, aku akan mengadopsi anak jika terjadi kemungkinan terburuk dalam hidupku," ucapnya.


"Kamu tidak menyesal mengambil keputusan seperti ini, honey?" tanya Vigor.


Aku tidak menyesal sama sekali, honey. Justru aku berharap, setelah ini aku bisa hamil kembali jika terjadi kemungkinan terburuk dalam kehamilanku.


Zelene mengangguk. "Aku yakin, honey. Kamu setuju, 'kan?"


"Apapun keputusanmu, aku setuju. Asal ada kejujuran di antara kita." Vigor memeluk mesra istrinya. Dia memberikan kekuatan penuh padanya. "Jangan menyerah honey. Aku selalu mencintaimu."


Keputusan Zelene untuk mengadopsi seorang anak sudah dipikirkan secara matang ketika berada di rumah sakit. Dia belum berani mengutarakan niatnya pada sang suami.


Hari ini, niatnya sudah bulat. Tetapi dia tetap berharap jika janin yang dikandung akan baik-baik saja.


Zelene melepaskan pelukan suaminya. Dia memandang cermin yang ada di kamarnya.


"Apa aku sudah pantas menjadi mama?" tanya Zelene.


Vigor merasakan sakit yang teramat sangat ketika melihat tingkah istrinya seperti itu.


"Iya, honey. Kamu sangat pantas. Kapan kita akan memulai mencari bayi adopsi?" tanya Vigor.


"Setelah acaranya Kak Sean selesai," ucapnya semringah.


Vigor tidak tau apapun tentang hal ini. Biasanya dia yang paling tau rencana bosnya itu secara detail.


"Kakak ipar akan meminta Kak Sean untuk membuat acara syukuran kehamilannya. Aku yang menyarankan," ucap Zelene.


Vigor hanya bisa ber o ria karena memang dia tidak tau apapun.


Zelene berganti duduk di ranjang. Dia meminta pendapat suaminya untuk melanjutkan rencana adopsi tersebut.


"Bisa kita mulai secepatnya?" tanya Zelene.


"Apanya, honey?" tanya Vigor.


"Rencana adopsi kita mulai darimana?" Vigor sangat antusias untuk mendukung rencana istrinya itu.


"Kita jalan-jalan ke panti dulu, honey. Kita cari yang cocok, setelah itu baru kita lakukan proses adopsi," usul Zelene.


Niat Zelene sudah bulat. Bukan dia tidak yakin akan kehamilannya akan baik-baik saja, tetapi dia mencari opsi kedua untuk melanjutkan keturunannya. Walaupun anak adopsi, Zelene akan berusaha menyayangi anak itu. Setelah itu, dia berharap bisa hamil lagi tanpa kendala apapun.


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓

__ADS_1


__ADS_2