Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Rencana Akhir Tahun


__ADS_3

Zelene baru saja tiba di apartemen kakaknya ketika waktu makan siang. Dia sengaja karena ingin membawakan kakak iparnya makanan.


Zelene menekan bel apartemen kakaknya.


Ting tong ting tong.


Sekitar lima menit baru dibuka oleh Callista, kakak iparnya.


"Aku kira tidak akan datang," ucap Callista.


"Maaf, kakak ipar. Aku sengaja memasak untukmu, kak," ucap Zelene kemudian menutup pintu apartemen.


Zelene membawa makanannya ke meja makan. Diikuti Callista dari belakang.


"Memangnya kamu masak apa, Ze?" tanya Callista. Bukannya dia akan menolak apapun masakan adik iparnya, tetapi mengingat lebih gampang mual ketika mencium aroma makanan tertentu.


"Ayam cabai garam, Kak. Khusus buat Kakak. Kak Sean tidak akan memakannya," ucap Zelene mengingat kakaknya tidak pernah bisa makan cabai.


"Terima kasih, Ze," Callista mengambil piring.


Zelene ternyata selain membawakan ayam cabai garam plus nasi pulennya, dia juga membawakan salad buah yang terlihat sangat segar.


"Kak, salad buahnya kumasukkan ke lemari pendingin dulu, yah. Biar lebih segar," usulnya.


"Iya, masukkan saja," ucap Callista. Setelah semalaman merasakan mual teramat sangat, sekarang melihat nasi dengan ayam yang sangat menggoda membuat selera makannya naik lagi. Callista mulai mengambil nasi dan lauknya.


Wanita hamil itu seperti mempunyai tenaga baru untuk sekadar menikmati makan siangnya. Dia mencobanya dan terasa sangat enak sekali.


"Ini sangat enak, Ze. Kamu pandai memasak," puji Callista.


"Kalak ipar terlalu memuji," balas Zelene.


Ketika sedang menikmati makan siangnya, Callista dan Zelene dikejutkan dengan suara bel apartemennya yang berbunyi.


"Siapa, Kak?" tanya Zelene.


"Entahlah, Ze. Kakak juga tidak ada janji dengan siapapun. Atau mungkin Kakakmu yang datang?"


Bel itu berbunyi untuk yang kedua kalinya.


"Mana mungkin, Kak. Jika Kau Sean yang datang, dia akan langsung masuk. Ngapain dibikin ribet, Kak Sean kan punya kode akses masuk," ucap Zelene.


"Oh, iya ya. Kenapa aku bisa lupa?" Callista mencuci tangan sebentar. Dia meninggalkan makan siangnya yang belum selesai untuk membuka pintu.


Ceklek!


Callista terkejut mendapati tamunya adalah sepasang pengantin baru yang kemarin diresmikan.

__ADS_1


"Wah, selamat datang. Silakan masuk," ucapnya pada Felix dan Kayana.


"Lama sekali bukanya, Call," protes Kayana.


"Maaf, Kay. Aku sedang makan siang ditemani Zelene," ucapnya.


"Siapa Kak yang datang?" tanya Zelene yang mengikuti kakak iparnya ke ruang tamu.


Zelene melihat Felix dan Kayana.


"Oh, kalian berdua. Pengantin baru kok sudah jalan-jalan, sih," goda Zelene.


"Hanya ingin mampir, Ze," jawab Kayana. Sebenarnya Kayana sudah berada di rumah mertuanya, tetapi dia merasa kaku harus berbuat apa. Itulah sebabnya dia meminta suaminya untuk mengantarkannya ke tempat Callista.


"Ya, baiklah. Apapun alasan kalian, tak jadi masalah. Aku senang kalian datang. Bukan begitu, kakak ipar?" ucap Zelene.


"Iya, Ze. Oh ya, aku kemarin lupa membawakan kado pernikahan untuk kalian. Kebetulan kalian datang. Nanti bawa sekalian, yah?" ucap Callista.


"Terima kasih atas perhatiannya. Kak Sean belum pulang? Aku ada sedikit urusan dengannya," ucap Felix.


"Sore hari baru pulang. Tapi untuk hari ini, tidak tau juga. Terkadang mendadak pulang," jawab Callista.


"Baiklah. Aku akan menunggunya," ucap Felix.


Sekitar tiga jam Felix menunggu seorang diri di ruang tamu, sedangkan istrinya, Callista, dan Zelene berada di kamar tamu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Ceklek!


"Felix? Sejak kapan kau berada di sini? Bersama istrimu?" ucap Sean. Karena yang tau apartemennya hanya Kayana.


"Iya, Kak. Istriku meminta untuk datang kemari. Kebetulan dia ada perlu dengan istri kakak. Nah, aku juga ada perlu dengan kakak," ucapnya.


Felix ada perlu denganku? Urusan apa?


"Tunggu sebentar! Aku masuk ke kamar dulu," pamitnya.


Sean ingin membersihkan diri sebentar kemudian berganti kaos oblong favoritnya. Setelah itu dia kembali menemui Felix.


"Maaf telah membuatmu menunggu," ucapnya. Sean duduk di sofa sebelah Felix.


"Tak apa, Kak. Lagipula Kakak juga baru pulang kerja," jawab Felix.


"Istrimu kemana?" Sean sejak tadi juga tidak melihat keberadaan istrinya.


"Dari tiga jam yang lalu bersama istri kakak dan Zelene berada di dalam kamar sebelah," Felix tau karena Callista yang memberitahukan.


"Astaga! Apa yang sedang mereka obrolkan?" Sean sampai geleng kepala. Tidak menyangka jika sesama wanita sedang berkumpul membutuhkan waktu selama itu, bahkan lebih lama.

__ADS_1


"Entahlah, Kak. Mungkin urusan wanita."


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Sean penasaran. Karena dia dan Felix sebenarnya tidak ada urusan apapun, selain pembatalan pertunangan waktu itu.


Apa mungkin Kak Sean mengenali wanita yang ribut dengan Kakak Dizon?


"Kakak ingat wanita yang dapat buket bunga bersamaan dengan Kak Dizon?" Felix sedang berusaha untuk mendekatkan kakaknya dengan wanita itu. Seperti pandangan Felix, kakaknya sudah tertarik dengan wanita itu. Hanya saja, sudah terlanjur gengsi melihat penolakan wanita itu. Secara tidak sengaja, mereka bahkan mengalami dua kali kejadian yang tidak mengenakkan.


"Iya, aku mengenalnya. Tetapi yang aku heran, kenapa dia bisa ada di pesta pernikahanmu?" ucap Sean.


"Entahlah. Mungkin keluarga dari kenalan Mama atau Papa. Aku juga tidak tau, Kak."


"Minumlah terlebih dahulu. Sejak tadi kau menungguku. Istriku saja entah belum keluar sejak tadi," ucap Sean.


Felix meminum soft drink yang sudah tidak dingin.


"Mau kuambilkan lagi?" Sean menawarkan.


"Ini saja, Kak," tolaknya. "Oh ya, siapa sebenarnya wanita itu?" Felix sudah tidak tahan untuk segera mengetahuinya.


"Dokter Olivia," jawab Sean.


Dokter Olivia? Aku baru mengenal nama itu.


Sementara Sean sedang mengingat rencananya untuk menginap di villa pada malam pergantian tahun.


Apa sebaiknya aku mengajak Felix? Biar makin rame.


"Oh ya, Felix. Malam pergantian tahun baru, aku mengajakmu untuk menginap di villa keluargaku. Apa kau bisa?"


Sebaiknya aku pergi bersama mereka dan aku akan mengajak Kak Dizon.


"Aku setuju, Kak. Aku ada rencana buat menjodohkan Kak Dizon dengan dokter itu," usul Felix.


"Baiklah. Itu usul yang bagus, tetapi...," ucapan Sean menggantung membuat Felix memandang ke arahnya.


"Aku tidak yakin jika mereka bisa bersatu," ucap Sean kemudian.


"Kenapa, Kak?" Felix semakin penasaran dengan wanita itu.


"Kita lihat saja nanti. Kau akan tau sendiri. Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Sean.


"Baiklah. Aku ikut kakak saja," jawabnya.


Felix dan Sean sudah memutuskan untuk pergi ke villa keluarga Armstrong untuk menikmati malam pergantian tahun bersama. Sementara istri mereka sejak tadi belum keluar dari kamar. Entah obrolan apa yang sedang berlangsung di sana.


Sekarang, pikiran Sean dan Felix terpecah. Sean harus menggunakan alasan apa untuk mengajak dokter Olivia, sedangkan Felix kebingungan bagaimana cara membujuk kakaknya untuk ikut. Kakaknya itu tipikal orang yang sangat sulit, apalagi jika tau Felix akan pergi bersama istrinya.

__ADS_1


😍😍😍😍TBC😍😍😍😍


__ADS_2