Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Mencari Duda lagi?


__ADS_3

Bel apartemen berulang kali berbunyi. Callista enggan untuk membukanya. Dia khawatir yang datang adalah rival atau bahkan Mama mertuanya.


"Sayang, buka saja! Siapa tau itu tamu penting untuk kita," ucap suaminya.


"Jika yang datang Mama atau rivalku, bagaimana?"


"Rival?"


"Iya, mantan istri Om itu," Callista menjelaskan.


"Jangan takut. Kita hadapi sama-sama," ucapnya meyakinkan.


Dengan wajah pucat pasi, langkah gontai, dan semangat level nol, Callista memberanikan diri membuka pintu. Ketika pintu terbuka, tamu nggak ada akhlak itu nyelonong masuk begitu saja kemudian memeluk erat Callista.


"Eh, untung lo yang buka, Call. Coba kalau suami elo, gue sudah menang banyak, tauk!" ucapnya sesenggukan. Tamu itu menangis sejadinya dipelukan Callista.


"Eh, ada apa ini? Cowok lo selingkuh?" tanya Callista.


Sean merasa menjadi orang ketiga yang tidak diperlukan dua sahabat itu memilih menyingkir.


"Sayang, aku masuk ke kamar," pamitnya pada Callista.


"Oke, Om," jawabnya.


Callista melepas pelukan Kayana, sahabatnya. Dia kembali menutup pintu kemudian membimbing Kayana untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah nangisnya? Ceritakan ada apa?"


Kayana masih sesenggukan. Dia mengusap ingusnya dengan baju yang dipakai Callista.


"Iyuh, jorok sekali, Kay!" tegur Callista.


"Salah sendiri, apartemen sebagus ini nggak disediakan tisu," protes Kayana.


Callista melupakan sesuatu. Harusnya memang jadwalnya untuk belanja bulanan.


"Iya, sori. Eh, kenapa nangis bombay kek gitu?"


"Hiks, hiks, hiks, lo inget Galen Austin?" tanya Kayana.


"Cowok lo, bukan?" Callista sekilas pernah mengingat jika nama kekasih Kayana adalah Galen. Tetapi dia tidak pernah tau nama lengkap lelaki itu.


Kayana mengangguk.


"Kenapa dengan doi? Apa seperti kelakuan Eros Kalandra?"


"Ish, jangan lo samakan doi dengan lelaki brengs*k itu. Jelas sangat jauh bedanya," Kayana tau, Galen bukan tipe lelaki seperti itu.

__ADS_1


"Lah terus, ngapain lo nangis gak jelas kek gini?" Callista pusing, Kayana terlalu berbelit-belit mengatakan sesuatu.


"Galen mau nikah, Call," ucapnya.


"Bagus dong. Lo bakalan jadi istrinya," ucap Callista bahagia.


Kayana mentoyor sahabatnya itu. "Bukan dengan gue, Call. Doi dijodohkan sama orang lain."


Kayana sesenggukan lagi.


"Oh, astaga. Rumit sekali, yah?" Callista baru ngeh dengan ucapan sahabatnya. "Rencana lo selanjutnya?"


"Cariin gue Duda, Call. Gue mau nikah persis kayak yang lo lakuin," pintanya sambil mengerlingkan mata ke arah Callista.


"Astaga, Duda lagi? Lo serius? Eh, tapi gue nggak ada lepi. Gimana dong? Kan ketemu sama Om Sean juga lewat situs Kilat Jodoh. Mau pake itu lagi?" Callista memastikan.


Enggak! Gue ogah masuk situs terpaksa itu. Takutnya dapat pria nggak sekeren Om Sean. Bukan gue ngiri sama Callista, setidaknya jika gue dapet yang sebelas duabelas macam Om Sean kan enak dipandang. Diajak kondangan gak malu-maluin.


"Eh, kenapa lo diam?"


"Call, Om Sean tidak punya perkumpulan geng Duda gitu. Kali aja ada referensi yang bisa doi berikan buat gue?" Kayana berharap ada seberkas sinar terang menerangi kagalauannya yang maksimal ini.


"Eh, kalau soal itu, ntar gue tanyain. Gue ambilin minum dulu, yah? Tar keburu lo komen lagi," Callista ke dapur mengambil soft drink di lemari pendingin. Tak lupa dia membawakan cemilan untuk sohibnya itu. Semuanya tersusun rapi di atas nampan.


Callista meletakkan nampan di atas meja, Kayana langsung mengambil sebotol soft drink kemudian meminumnya.


"Iyah, kelihatan banget," ucap Callista.


Apa gue nginap di apartemen Callista, yah? Siapa tau doi bisa ngasih solusi cepet, tetapi kan enggak enak juga kalau ada suaminya.


Kayana merasa nggak nyaman.


"Kay, lo bisa bantu gue, kan?" Kayana ingin memastikan keputusan sahabatnya itu.


"Gue coba pinjam lepi Om suami dulu, yah?" Callista masuk ke kamarnya untuk meminjam laptop.


Callista membuka pintu kamarnya. Dia melihat suaminya sedang rebahan di atas ranjang. Dia mendekati suaminya, dikiranya Sean sedang tidur. Callista membangunkan suaminya.


"Om, bangun! Callista butuh sesuatu, nih," ucapnya.


Sean yang berpura-pura tidur hanya mendengarkan ucapan istrinya itu. Entah apa yang dibutuhkannya saat ini.


"Hais, tidur rupanya. Ish, nggak seru. Padahal aku mau meminta tolong," Callista hendak berdiri kembali ke ruang tamu, ternyata Sean menariknya sehingga Callista jatuh tepat di atas tubuh suaminya.


"Ish, mesum lagi," canda Callista.


"Tidak suka punya suami mesum?" goda Sean.

__ADS_1


"Iya suka, tapi tidak sekarang juga. Kayana sedang menungguku," Callista hendak melepas tangan suaminya yang memeluknya dengan erat itu.


"Sebentar saja," pinta Sean. Pria itu mendaratkan ciuman bibir untuk istrinya. Ciuman yang sangat lembut dan romantis membuat Callista terbuai sesaat. Dia melupakan jika Kayana sedang menunggunya di luar. Jika bukan Sean yang melepaskan ciumannya kemudian mengingatkan, mungkin Callista akan lupa.


"Sudah cukup, sahabatmu menunggu di depan."


"Ish, Om, sih. Bikin aku lupa segalanya," Callista beranjak dari ranjang untuk ke ruang tamu, tetapi sebelum itu dia ingat akan meminjam laptop milik suaminya. "Om, mau pinjam laptop, boleh?"


"Buat apa?"


"Mau nyari Duda lagi untuk Kayana. Doi patah hati, Om," ucapnya.


"Mencari Duda lagi?" Sean menggeleng. Dia khawatir akan ada pengaruh buruk dari situs tidak jelas itu. "Tunggu, sebaiknya kalian tidak usah memakai situs tidak jelas seperti itu. Tidak baik hasilnya. Mungkin banyak pria yang berbohong di luar sana," Sean mengingatkan.


"Ish, kayak Om nggak bohong sama Callista aja," protes Callista.


"Sayang, itu sebuah kebetulan. Bukan suamimu yang main situs kencan nggak jelas itu, tetapi Vigor pelakunya," Sean membela diri.


"Terus Kayana bagaimana dong? Kasian dia, Om," Callista sedang membujuk suaminya untuk melanjutkan pencarian di situs kencan itu.


"Nanti aku bantu. Tidak sekarang. Sampaikan saja padanya untuk tidak khawatir, tetapi aku tidak mau kalian mencari situs kencan itu," Sean tidak mengizinkan.


Aku mengingat bagaimana Callista datang menemuiku. Dia gadis baik yang malah aku anggap wanita malam anak buah Mami Vee. Untung saja bertemu orang sepertiku, jika bertemu orang jahat dan berniat buruk padanya. Aku tidak habis pikir akan jadi seperti apa hidupnya.


"Baiklah, Om. Aku sampaikan padanya," Callista berterima kasih dengan mengecup sebentar pipi suaminya.


"Pelit sekali," cibir Sean yang melihat istrinya kembali ke ruang tamu.


"Call... Lo lama amat, sih! Abis nganu, yak?" teriak Kayana yang melihat Callista baru saja keluar dari kamar.


"Ish, mulut dijaga dikit bisa nggak, sih?" protes Callista. Jika tidak ada suaminya di apartemen, suka-suka mereka bertingkah.


"Maaf," ucap Kayana tersenyum. "Jadi, ada laptopnya?"


Callista menggeleng. Nampak raut kecewa di wajah Kayana, sahabatnya.


"Laptopnya ada, tapi suami gue nggak ngizinin buat dipake," ucap Callista duduk tepat di samping Kayana.


Om Sean tidak mengizinkan laptopnya gue pinjam. Ish, katanya orang kaya. Pelit sekali!


"Bukannya suami gue pelit, loh! Doi nggak ngebolehin kita nyari lagi di situs kencan nggak jelas itu. Doi mau bantu nyariin buat lo," Callista menjelaskan.


"Ish, lo bisa baca pikiran gue? Gue pikir suami lo pelit banget," canda Kayana.


"Kelihatan di muka lo, keles!"


Kedua sahabat itu tertawa bahagia. Mereka saling mendukung untuk menyelesaikan suatu masalah.

__ADS_1


😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍


__ADS_2