
Setelah kabar kehamilan Callista beberapa hari yang lalu, pagi ini dia sudah beraktivitas seperti biasa. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
"Pagi, sayang ... Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Sean yang sudah mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan.
"Lebih baik, sayang. Boleh aku keluar jalan-jalan? Terlalu bosan berada di apartemen sendirian," ucap Callista sembari meletakkan beberapa makanan di atas meja.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Sean yang baru saja menyeruput kopi paginya.
"Hanya ingin makan bakso di tempat langganan kita," ucap Callista penuh harap jika suaminya akan mengizinkannya.
Kasian juga Callista. Apa kuizinkan saja supaya pergi dengan Zelene. Aku akan meminta beberapa orang mengawasinya dari jauh.
"Akan kupikirkan, sayang...," ucap Sean yang mulai menikmati sarapan paginya.
Yach, ada kemungkinan tidak diizinkan. Sebenarnya aku ingin mencari keberadaan Mami Vee dan menanyakan tentang kebenaran foto itu.
"Hei, sayang ... Kenapa malah melamun?"
"Ah, enggak sayang! Boleh aku bertanya satu hal?" ucap Callista. Setidaknya dia akan mematahkan separuh dari jawaban suaminya mengenai foto itu.
"Tentu, sayang! Apapun itu ... Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Sebenarnya ada hubungan apa dengan Mami Vee. Maksudku ... Seberapa dekat hubungan kalian?"
Mami Vee? Aku? Kenapa tiba-tiba Callista menanyakan hal ini?
"Aku mengenal Mami Vee dengan baik. Wanita itu selalu memberikan suport untukku melepas masa lalu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di club malam. Memangnya kenapa, sayang?" Sean heran mendengar pertanyaan istrinya.
Apa iya suami gue pernah ada main dengan wanita malam? Kenapa rasanya sedih mendengar jawabannya?
"Jadi, bisa dibilang pernah tidur dengan salah satu dari mereka?" tanya Callista.
Pertanyaan macam apa ini? Walaupun aku sangat kalut, aku tidak pernah menggunakan jasa mereka. Mami Vee hanya memberikan saran tetapi tidak pernah membiarkanku untuk memesan jasa salah satu anak buahnya. Mengenai malam pertemuanku dengan Callista, aku pikir dia anak buah Mami Vee. Kenyataannya aku menikahinya terlebih dahulu baru menyentuhnya.
"Tidak! Aku bukan pria hidung belang yang kamu maksud. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, sayang?" Sean menyadari ada sesuatu yang disembunyikan istrinya. "Katakanlah! Aku tidak mau ada rahasia di antara kita. Aku juga tidak mau karena ketidak jujuranmu membuat kandunganmu bermasalah. Tolong katakan!"
Apa sebaiknya gue katakan yang sebenarnya. Gue takut, jika Om Sean akan marah lagi seperti beberapa hari yang lalu.
Callista beranjak dari tempat duduknya. Dia masuk ke kamarnya untuk mengambil amplop yang tempo hari disimpan di bawah ranjangnya. Callista menyerahkan amplop itu kepada suaminya.
"Apa ini, sayang?"
"Bukalah!"
__ADS_1
Sean membuka amplop itu dan mendapati sebuah foto mesum dirinya dan sebuah surat. Sebelum dia menjelaskannya pada Callista, dibacanya isi surat tersebut.
Lihatlah! Kelakuan suamimu yang sebenarnya. Dia tidak hanya tidur denganmu, tetapi dia telah tidur dengan banyak wanita. Foto itu hanya satu dari beberapa foto lainnya yang masih ada padaku. Jangan kau anggap suamimu itu pria baik dan bertanggung jawab. Itu hanya sebuah kedok untuk mendapatkanmu!
Sean memandang istrinya dengan seksama. Dia mendapati perubahan mimik wajahnya seperti seseorang yang terlihat sangat kecewa memandang dirinya.
"Kapan kamu mendapatkan surat ini?"
"Beberapa hari yang lalu," ucap Callista menundukkan kepalanya. Dia takut untuk memandang suaminya.
"Kamu percaya?" tanya Sean lagi.
Callista mengangguk. Sean berdiri mendekati istrinya. Dia memegang pundak istrinya dari belakang.
"Berdirilah!" perintah Sean.
Callista menurut saja. Setelah dia berdiri, Sean memeluknya dengan sangat mesra.
"Apa yang kamu lihat barusan, tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang. Semuanya bertolak belakang. Aku tidak pernah tidur dengan siapapun kecuali dengan istriku," ucap Sean. "Kamu percaya padaku, kan? Jangan pernah lagi mempercayai hal yang tidak pernah aku lakukan sama sekali."
"Mengenai foto itu, bagaimana?" Callista masih tidak percaya.
"Itu bukan aku!" jawab Sean dengan tegas.
Callista berusaha mempercayai suaminya. Sean melepaskan pelukannya kemudian memegang wajah istrinya. Diciumnya bibir istrinya itu dengan sangat mesra, kemudian dilepaskan.
Callista bisa tersenyum lega.
"Apa aku boleh pergi jalan-jalan?" tanya Callista lagi. Sejak tadi dia belum mendapatkan jawabannya.
"Tidak! Sebaiknya hari ini di apartemen saja. Lain waktu, aku yang akan mengajakmu jalan-jalan," ucapnya kemudian berangkat ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Sean masih memikirkan siapa pengirim surat kaleng itu.
Apa Dizon yang melakukan hal itu? Rupanya pria itu tidak ada kapoknya untuk membuat rumah tangga orang lain hancur. Diana tidak akan mungkin melakukan hal itu padaku. Sudah beberapa kali dia tidak pernah muncul di hadapanku.
Sesampainya di kantor, Sean hendak masuk ke ruangannya tetapi seorang staf front office memanggilnya.
"Bos Sean, maaf jika saya lancang!" ucap staf itu.
"Ada apa?" Sean menghampiri stafnya.
"Di ruangan Bos sudah ada yang menunggu sejak pagi. Katanya dia keluarga jauh Bos yang sengaja datang untuk menemui Anda, Bos. Saya sudah mencegahnya tetapi dia bilang jika Nyonya Jelita yang memintanya untuk masuk. Sekali lagi, maafkan saya, Bos."
__ADS_1
"Baiklah! Terima kasih," Sean berjalan menuju ruangannya.
Siapa yang sedang menungguku? Kenapa ada hubungannya dengan Mama Jelita?
Ceklek!
Sean membuka pintu ruangannya. Dia mendapati seorang wanita muda yang sangat cantik dengan gaun yang sangat seksi berpose menggoda di sofa ruangannya.
"Keluar!" teriak Sean.
Wanita itu tidak gentar menghadapi teriakan Sean. Dia malah sengaja berdiri untuk mendekati Sean dan memeluknya. Sean mendorong wanita itu dengan sangat kuat.
"Jangan coba-coba memancing amarahku! Keluar sekarang atau aku panggilkan penjaga!" ancam Sean.
"Sayang, kemarilah! Jangan seperti itu. Kau tidak menghargai aku sedikitpun!" ucap wanita penggoda itu dengan manja.
"Baiklah! Kamu menantangku," Sean memanggil beberapa penjaga dari panggilan interkomnya.
Tak menunggu lama, penjaga itu sudah berada di dalam ruangannya.
"Ada apa, Bos?"
"Seret wanita liar itu keluar!" teriaknya.
"Hei, jangan begitu sayang. Kita bisa bicara baik-baik ... Aku mencintaimu, Sean ... Sangat mencintaimu...," ucap wanita itu.
"Cepat keluarkan wanita itu sekarang!" perintah Sean.
Penjaga dengan cepat menarik wanita itu. Sebenarnya dia tidak tega melihat pakaian yang dipakainya terlalu seksi dan menggoda. Mereka tak kehabisan akal. Ternyata wanita itu masuk menggunakan jaket tebalnya sehingga tidak terlihat seperti seorang wanita penggoda.
Setelah kepergian wanita itu, Sean duduk di kursi kebesarannya. Dia memijit pelipisnya.
"Setelah ini, apalagi? Ini pasti kerjaan Mama. Kenapa suka sekali memakai cara licik untuk membuat anak-anaknya hancur? Surat kaleng itu jelas ada hubungannya dengan Mama. Siapa lagi?"
Sean berdiri memandang jauh keluar sana. Dilihatnya beberapa gedung pencakar langit yang berada di sekitar gedung perkantorannya.
Sebaiknya aku mengajak Callista pergi berlibur. Dia butuh ketenangan batin setelah beberapa kejadian yang tidak masuk akal ini. Sangat melelahkan!
😍😍😍😍TBC
Karena kehidupan tidak melulu datar... sesekali kita seperti naik roller coaster... terombang ambing terlebih dahulu kemudian kembali seperti semula. Bagaimana cara menyikapinya saja yang membuat kehidupan kita berbeda...
Di kehidupan nyata, ada beberapa orang tua yang bersikap demikian pada anak-anaknya... semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal buruk... Aamiin...
__ADS_1
Terima kasih sudah membacanya...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻