
Zelene dan Callista akan pergi ke Mal Sinar Galaxy.
"Bagaimana, kakak ipar?" tanya Zelene mengenai kesiapan kakaknya.
"Sebentar, Ze. Aku ambil tas dulu," ucap Callista masuk lagi ke kamarnya.
Lima menit kemudian, Callista baru saja keluar.
"Kenapa lama sekali, Kak?"
"Aku mencari dompet. Sudah ketemu, kok," ucapnya.
"Baiklah, aku pesan taksi online dulu," Zelene mengambil ponselnya. Sekitar lima menit, semuanya selesai.
Keduanya menunggu di depan gerbang apartemen. Tak lama, taksi yang dipesan Zelene datang. Mereka langsung naik.
Sepanjang perjalanan, Zelene mengomentari penampilan kakak iparnya.
"Kak, makin kesini semakin cantik, loh," puji Zelene.
"Apa iya?" tanya Callista.
Semenjak hamil, Callista terlihat semakin cantik dan mempesona. Tubuhnya juga semakin berisi. Setelah merasakan mual beberapa hari yang lalu, sekarang tidak lagi. Porsi makannya lumayan lahap. Tidak ada adegan mual lagi.
"Iya, Kak. Malah aura kecantikannya semakin bertambah. Aku jadi iri," ucap Zelene.
"Lekaslah hamil! Biar bisa barengan," ucap Callista.
"Entahlah, Kak. Doakan yah?"
Callista mengangguk. "Pasti kudoakan."
Taksi yang mereka tumpangi telah berada tepat di depan pintu masuk Mal. Keduanya bergegas turun karena Zelene sudah membayarnya melalui aplikasi.
"Terima kasih, Pak," ucap Zelene.
Tujuan pertama mereka adalah untuk berbelanja di supermarket. Beberapa kebutuhan bulanan Zelene sudah menipis sedangkan Callista juga berbelanja untuk kebutuhan bulanan yang di rasa memang perlu.
Kedua wanita itu mengambil masing-masing satu troli untuk memasukkan beberapa barang belanjaan.
Sepertinya ucapan Kakaknya tidak diindahkan oleh Zelene. Wanita itu berbelanja di supermarket terpisah dengan Callista, kakak iparnya. Zelene sedang berada di tempat daging dan ikan. Sedangkan kakak iparnya berada di tempat pemilihan susu kehamilan.
Ketika sedang membaca beberapa merek susu untuk menentukan mana yang akan dipilihnya, tiba-tiba seorang pria berada di sampingnya.
"Belanja sendiri, Nona?" tanya pria yang tidak dikenalnya.
"Anda berbicara dengan saya?" tanya Callista.
Pria itu mengangguk. Callista enggan menanggapinya, tetapi pria itu terus saja bertanya.
__ADS_1
"Tentu, dengan siapa lagi, Nona? Mencari susu kehamilan untuk siapa?" tanya pria itu kepo.
"Bukan urusan Anda," Callista masih fokus membaca beberapa merek susu.
"Biasanya jika seorang wanita yang sedang hamil, untuk belanja kebutuhan susu kehamilan akan ditemani suaminya. Kecuali wanita itu tidak bersuami atau baru saja diceraikan suaminya karena hamil anak orang lain," ucap pria itu. Pria misterius yang sok kenal sok akrab.
"Jaga ucapan Anda! Anda pikir saya bukan wanita baik-baik?" Callista tidak terima dengan ucapan pria itu. Callista menoleh mendapati pria tampan yang hampir seumuran suaminya. Itu yang dilihatnya.
"Ternyata Anda sangat cantik, Nona. Suami Anda sangat beruntung mendapatkannya," pria itu terus saja berbicara.
Callista meletakkan kembali susu kehamilan itu. Dia tidak jadi mengambilnya. Dia lebih memilih ke tempat soft drink berada, tetapi pria itu terus saja mengikutinya.
"Kenapa tidak jadi ambil?" tanya pria itu sembari memasukkan susu kehamilan yang paling terakhir di ambil oleh Callista ke dalam trolinya.
"Saya tidak jadi membelinya dan kenapa Anda memasukkan tanpa permisi ke dalam troli saya," protes Callista.
"Jangan khawatir, saya akan membayarnya," ucap pria itu.
"Tidak perlu! Saya bisa membayarnya sendiri, Tuan," Callista sudah selesai dengan beberapa soft drinknya. Dia menuju ke tempat daging dan ikan.
Callista mencari keberadaan Zelene, tetapi tidak menemukannya.
Kemana Zelene? Rasanya tidak nyaman berbelanja di temani orang asing.
"Jangan khawatir, Nona. Aku akan membayarkan semua yang ada di troli Anda," ucap pria itu kemudian meninggalkan Callista.
Dasar pria aneh!
"Kak, siapa pria itu?" tanya Zelene.
"Kau melihatnya?"
"Iya, sebenarnya sejak tadi aku hendak menghampiri kakak. Melihat ada orang yang sepertinya mengenal kakak, aku mundur lagi. Aku pikir kakak akan aman bersamanya," ucap Zelene.
"Bukan! Aku tidak mengenal pria itu," ucap Callista.
"Hah? Kakak tidak mengenalnya? Bagaimana jika orang itu akan berbuat buruk pada kakak?" Zelene khawatir dengan kakak iparnya. "Maafkan aku, Kak. Harusnya aku tidak meninggalkan kakak sendirian."
"Tidak apa-apa, Ze. Pria itu juga tidak berbuat buruk pada kakak," ucapnya.
Zelene bernafas lega. Jika sampai kakak iparnya kenapa-napa, bisa habis Zelene dengan Kakaknya, Sean.
"Kakak sudah selesai?"
"Hanya tinggal mengambil roti tawar dan selai saja. Setelah itu ke kasir. Mau menunggu atau mengantre di kasir lebih dulu?" ucap Callista.
"Nungguin kakak saja. Sebentar juga kelar. Aku takut orang itu akan kembali lagi," jawab Zelene.
Setelah Callista mengambil beberapa kebutuhan yang dimaksud, keduanya berjalan menuju kasir. Zelene antre berada di depan kakak iparnya.
__ADS_1
Setelah belanjaan Zelene selesai dan membayarnya dengan kartu debit, sekarang giliran Callista.
"Berapa?" tanya Callista pada kasir.
"Wah, Anda sangat beruntung sekali, Nona. Tadi ada seorang pria yang menitipkan sejumlah uang untuk membayarkan belanjaan Anda," ucap kasir itu.
"Maaf, Kak. Itu tidak perlu! Saya bisa membayarnya sendiri," tolak Callista.
"Maaf, Nona. Jika Anda menolak, pekerjaan saya yang menjadi taruhannya. Pria itu mengancam akan membuat saya dipecat. Tolong terimalah," ucap Kasir itu memohon.
Zelene melihat kakak iparnya merasa tidak nyaman dan juga melihat wajah kasir itu seperti ketakutan, akhirnya Zelene ikut memutuskan.
"Terima saja kakak ipar. Kasian kasirnya kalau sampai dipecat," ucap Zelene.
"Tapi aku harus bilang apa ke kakakmu?" tanya Callista.
"Biar aku yang bantu ngomong. Yaudah Kak, total saja dan berapa bayarnya," ucap Zelene.
Kasir itu dengan cekatan menyelesaikan struk pembayaran dan total uangnya. Ternyata masih ada lebih bayar.
"Nona, ini lebih bayar dari pria itu. Mohon di terima," ucap kasir itu sangat sopan.
Callista tidak bisa menerima pemberian orang asing, tetapi melihat antrean di belakangnya masih panjang. Akhirnya dia menerimanya.
"Terima kasih," ucapnya kemudian membawa beberapa kantong belanjaan.
"Pria yang aneh, Kak," ucap Zelene.
"Entahlah, Ze. Lihat, dia melebihkan uangnya begitu banyak," ucap Calistta.
"Kita cari makan atau langsung pulang?" tawar Zelene.
"Menurutmu?" Callista sengaja membiarkan adik iparnya itu untuk memilih mana yang seharusnya.
Mengingat keberadaan kakak iparnya yang tidak nyaman dengan kehadiran orang asing, sepertinya Zelene memilih untuk pulang dan mengantarkan kakak iparnya kembali ke apartemen.
"Pulang saja, Kak," ajaknya.
Dari sudut lain, seorang pria sedang mengamati kedua wanita itu. Salah satu wanita itu sangat menarik baginya. Entah apa tujuan pria itu sebenarnya. Hanya dia yang tau.
Callista dan Zelene tidak menyadari jika sedang diawasi seseorang. Mereka berdua keluar Mal untuk menunggu taksi online yang baru saja dipesannya.
Pria yang bertemu dengan wanita itu dan belum mengetahui namanya terlihat sangat bahagia. Dia pikir wanita itu datang seorang diri, tetapi ternyata ada seseorang yang menemaninya.
Kau sangat menarik! Baru beberapa hari berada di negara ini, dan aku sudah tertarik dengan istri orang. Ini sangat menyenangkan dan juga menyebalkan. Pesonanya sangat luar biasa!
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓
Aduh, siapa lagi ya? Babang Sean dapat saingan baru, nih. Urusannya mikir dokter Olivia dan Dizon belum kelar. Nambah lagi deh.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. 🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕☕
Terima kasih.... Luv yu All... 😍😍😍😍