
Malam ini di apartemen, Sean dan Callista saling memaafkan kesalahan masing-masing. Sebenarnya Sean masih tidak terima karena mendadak dikerjai oleh sang istri. Sebenarnya bukan itu tujuan Callista. Dia memang ingin menyendiri. Bukan berarti dia harus kabur, 'kan?
"Sayang, bagaimana kondisi bayi kita?" tanya Sean.
"Dia semakin aktif. Hanya tinggal beberapa minggu lagi bakalan launching," ucapnya semringah.
"Seperti sebuah produk harus ada istilah launching segala," ucap Sean. Baru kali ini dia mendapatkan istilah baru bersama istrinya.
"Iya, setiap mamud harus tampil keren dan selalu kece. Apalagi mamud macan manggala." Callista tertawa renyah. Entah, dapat dari mana istilah aneh itu?
"Apa lagi itu?"
Mata dan telinga Sean semakin pusing mendapat beberapa kosakata baru dari Callista. Usianya memang tak lagi muda, tetapi dia harus mengikuti tren yang diciptakan istrinya.
"Yang mana? Mamud?" Callista merebahkan diri di atas ranjang. Dia tidur miring karena semakin tua usia kehamilannya disarankan untuk tidur miring ke kiri.
"Bukan, yang ada mangganya itu," ucap Sean. Dia menyandarkan badannya pada headboard ranjang.
"Manggala itu. Oh itu, mama muda makin cantik memang segalanya."
Sean tertawa. Jiwanya berasa menjadi seorang pria yang terlahir reinkarnasi menjadi seusia Callista, tetapi kenyataannya dia sudah hampir memasuki setengah abad usianya.
"Ngomong-ngomong, mengenai baby A, siapa namanya?" tanya Sean. Jangan sampai nama anak gadisnya jelek hanya karena Callista merahasiakan nama panjangnya.
"Kluenya, seperti nama air mineral yang semua orang menyebutnya itu."
"Oh ya ampun, anak kita mau kamu beri nama produk air mineral yang pasaran itu? Kenapa tidak bikin yang lain? Yang lebih beda dan tidak mengandung unsur merek," protes Sean.
"Ish, yang penting aku nggak plagiat nama 'kan, bebas," ucapnya.
Sean geleng kepala. Dia tidak tau harus bagaimana membuat Callista mengakui nama yang akan disematkan pada putrinya itu.
"Baiklah, terserah kamu saja, tetapi jangan lupakan sematkan nama Armstrong dibelakang namanya."
__ADS_1
"Tentu, sudah dipikirkan bagaimana baiknya." Callista beralih miring ke kanan. Dia sangat lelah jika terus-terusan miring ke kiri.
"Boleh aku menjenguk baby A malam ini?"
"Boleh, tetapi ada sya__" Sean memotong ucapan istrinya.
"Katakan syaratnya, pasti akan kupenuhi," ucap Sean. Dia tau, istrinya akan melakukan segudang cara untuk menolaknya.
"Makhluk hidupnya tidak boleh muntah di dalam. Menurut yang kubaca bisa menyebabkan kontraksi, sayang," ucap Callista menjelaskan. Walaupun masih muda, dia berusaha belajar dari ponsel cerdasnya itu.
Sean nampak tersenyum memandang punggung istrinya. Update kemesuman yang diajarkan padanya tidak sia-sia. Callista dengan gamblang menyebut merek milik suaminya.
"Baiklah, kalau syarat itu bisa kupenuhi. Malam ini boleh berapa babak?" tanya Sean.
"Hanya sekali saja. Aku sangat lelah, sayang." Perutnya yang terlihat sangat besar itu membuat Callista enggan melakukan apapun selain tidur.
"Kamu diam saja, biar aku yang pegang kendali," ucap Sean. Sejak kehamilan istrinya, dia harus menjaga keinginannya dengan baik. Tidak boleh terlalu sering mengunjungi baby A.
Sean mengerucutkan bibirnya. Harapannya hanya angin lalu. Sebentar lagi dia akan punya anak, tetapi dia mempunyai ide gila yang belum terwujud yaitu menjadi provokator persatuan duda untuk lekas menikah. Karena menduda itu bukan jabatan yang layak untuk disandang seorang pria. Walaupun sebenarnya status duda itu menyebabkan level pria meningkat drastis. Mulai segi ketampanan, statusnya, dan pengalamannya. Ya, bisa dibilang duda tertentu lah, yang paket komplit.
Sean mempunyai ide gila untuk mengundang makan malam seseorang yang sampai saat ini menyandang status dudanya, siapa lagi kalau bukan Jonathan Anderson. Duda beranak satu yang belum melepas masa dudanya. Sean sengaja ingin mengundangnya untuk membuat Jonathan sadar bahwa menyandang status duda tidak senikmat menikah untuk yang kedua kalinya. Apalagi istri Sean masih muda dan sudah bunting pula. Apa itu tidak membuat Jonathan cemburu pada eks duda itu?
"Sayang, berbaliklah! Apa kamu tidak ingin jalan-jalan?" tanya Sean.
Callista memutar badannya untuk kembali miring ke kiri.
"Hah? Tumben kamu menawarkannya dulu. Biasanya sangat sibuk sekali. Bahkan menemani bumil pergi ke mal saja tidak pernah," cerocos Callista.
"Kamu tidak mau?" tanya Sean lagi.
"Aku mau, sayang. Tapi aku sangat lelah jika harus berjalan terus."
Sean tidak akan mengajak istrinya untuk jalan ke mal melainkan untuk makan malam dengan relasi bisnisnya.
__ADS_1
"Kita tidak akan jalan ke mal. Aku mau mengundang relasi bisnisku untuk makan malam. Ya, walaupun dia baru saja menduda, tetapi aku ingin menunjukkan padanya bahwa menikah masih enak dibanding dengan menduda," ucap Sean semringah. Setelah misi penyelamatan Zelene, perjodohan satu miliar, biro curhat eksklusif Kayana, dan sekarang akan menjadi provokator duda baru, Jonathan Anderson. Kehidupan Jonathan pasti lebih rumit daripada dirinya. Dulu dia mengira jika Willow adalah putrinya, ternyata salah besar.
"Hah? Kenapa banyak sekali duda bertebaran? Atau memang lagi musimnya duda?" tanya Callista dengan mode cengengesannya.
"Ck, kamu menyindir suamimu yang eks duda ini? Tapi memang kenyataannya duda lebih menantang, sayang. Apa yang menyebabkan kamu memilih seorang duda sepertiku?"
Ingatannya kembali pada mantan gesreknya ternyata ada main dengan wanita lain. Itu yang membuatnya berjanji seumur hidup untuk tidak mengenal pria lajang.
"Takdir," jawabnya singkat, jelas, dan tidak ada komentar yang menyertainya.
"Jawabanmu pelit sekali. Katakan yang lebih realistis alasanmu memilih duda." Sean memaksa istrinya untuk mengaku.
"Ya, karena aku trauma dengan mantanku itu. Selebihnya, aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku."
Sean tau cita-cita absurd istrinya itu. Untung saja Sean paket komplit, selain duda, dia juga tajir melintir, dan cakepnya luar biasa.
"Hemm, baiklah. Alasanmu bisa kuterima. Oh ya, rencana makan malamnya jadi, ya? Aku akan mengundang Jonathan. Dia pasti suka dengan acara meet up ini."
"Terserah kamu saja. Aku juga ingin bertemu dengan duda Jonathan Anderson. Setampan apa dia?" ucapan Callista membuat Sean cemburu.
"Kamu membuatku cemburu, sayang." Sean merebahkan diri disamping istrinya kemudian memeluknya dengan sangat lembut. Dia mengatakan pada calon bayinya yang akan lahir itu. "Anak papa, kalau mamamu punya cita-cita menikah dengan duda, bagaimana denganmu, nak? Apa kamu punya cita-cita yang sama."
Callista mendorong suaminya. "Ish, jangan katakan itu. Aku masih teringat ucapan Dizon kulkas itu. Gara-gara kamu, sih. Dia mengucapkan kutukannya untuk anak kita." Callista sangat sedih. Dia tidak ingin putrinya berada di tangan duda yang tidak mencintainya.
"Itu hanya candaan, sayang. Jangan dimasukkan ke hati," ucap Sean.
Bagaimana mungkin Dizon bercanda jika pada saat mengatakannya dengan mimik muka yang sangat serius itu? Callista hanya bisa mendoakan putrinya semoga terlepas dari kutukan Dizon.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓
Jonathan Anderson dari Novel Mendadak Menjadi BabySitter Anak Sang Duda, Author Syasyi
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Emak minta maaf sedikit tersendat karena real life yang luar biasa, tetapi emak akan usahakan update setiap hari. Terima kasih untuk dukungan dan pengertiannya. Luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1