
Setelah sekitar dua minggu Olivia bingung atas keputusannya antara memilih melanjutkan kariernya sebagai seorang dokter atau mengikuti suami monsternya yang kini sudah berubah, akhirnya Olivia dengan sangat terpaksa mengambil keputusan kedua. Dia lebih memilih mengikuti suaminya.
"Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu?" tanya Dizon di sela-sela persiapannya untuk membawa sebagian kecil baju favoritnya. Selebihnya di tempat baru dia akan membeli banyak barang.
"Ck, kamu pikir ini apa, Dizon? Aku sedang berkemas. Direktur rumah sakit terpaksa menyetujui pengajuan resign-ku yang mendadak ini."
Dizon tersenyum. Walaupun istrinya masih sulit untuk bersikap romantis padanya, tetapi itu bukan masalah. Setidaknya di dalam rahim istrinya ada janin yang sedang berkembang dan diharapkan kelahirannya.
Dizon membawa satu per satu koper itu ke ruang tamu. Dia mulai membuat istrinya nyaman. Setelah meletakkan semua koper di sana, Dizon dan Olivia beralih ke meja makan. Ini sarapan terakhir bersama keluarganya.
"Semua sudah lengkap, nak?" tanya mama Carlotta.
"Ya, ma," jawab Dizon singkat.
"Ingat jangan abaikan istrimu. Ada anak kalian yang sedang tumbuh dan berkembang di sana." Mama Carlotta tak hentinya untuk mengingatkan putra sulungnya.
Sarapan dimulai. Semua diam menikmati hidangan yang selalu menggoda buatan mamanya.
Rencananya Felix dan Kayana yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Mama Carlotta tidak sanggup mengantar kepergian putra sulungnya. Sementara Felix dan orang tuanya tetap bertahan di sini untuk melanjutkan bisnis keluarganya.
Setelah sarapan usai, ke empat anggota keluarga Damarion itu bergegas masuk ke mobilnya. Sebelum itu, Dizon dan Olivia berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Ma, pa. Dizon dan Olivia pamit. Mama dan papa jaga kesehatan agar bisa melihat cucu kalian tumbuh dewasa," ucap Dizon.
Mama dan papanya menatap haru kepergian mereka.
"Dizon, jaga istrimu dengan baik. Ada keturunan Damarion yang harus kamu jaga dengan baik. Felix, kamu kapan?" Papa Denzel sengaja mengatakan ini untuk menyindir Felix.
"Secepatnya, pa. Papa jangan khawatir. Setelah Kak Dizon, aku segera menyusulnya." Felix sangat yakin sebentar lagi istrinya pasti akan hamil.
"Pa, sudahlah. Jangan buat keributan untuk kebahagiaan keluarga ini. Oliv, jaga diri baik-baik, nak. Jaga cucu mama dengan baik, yah," pesan Mama Carlotta.
"Baik, Ma. Kayana, lekas menyusulku ya. Jangan khawatir, aku selalu berdoa untukmu," ucap Olivia. Dia sangat sayang pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak Oliv. Aku akan sangat merindukanmu." Kayana memeluk erat kakak iparnya.
"Sudah-sudah, Dizon bisa terlambat kalau kalian terus berpelukan seperti itu." Mama Carlotta mengingatkan.
Setelah itu, mereka pergi mengantarkan Dizon dan istrinya ke bandara. Sesampainya di sana, Felix tidak rela berpisah dengan kakaknya itu.
"Kak, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Felix ketika mobilnya sudah sampai di bandara.
"Tentu, Felix. Aku ingin hidup berdua dengan istriku dan lingkungan baru di sana. Benarkan, sayang?" ucap Dizon.
Ini pertama kalinya Dizon memanggil istrinya dengan sebutan sayang. Olivia hanya mengangguk menjawab ucapan suaminya.
Felix sedikit tertawa melihat tingkah aneh kakaknya, namun masih bisa ditahannya.
"Terserah kakak. Jangan lupa sering memberikan kabar pada kami," ucap Felix ketika Dizon dan istrinya akan memasuki bandara.
Sebelum berpisah, mereka saling berpelukan Dizon dan Felix, sedangkan Kayana dan Olivia juga melakukan hal yang sama.
"Jangan dengarkan ucapan papa mertua. Tenangkan pikiranmu. Kakak doakan semoga segera menyusul untuk hamil," ucap Olivia sebelum berpisah.
Dizon dan Olivia menuju ke pesawat yang akan membawanya ke tempat baru. Dia akan memulai hidup barunya dengan tentram dan damai bersama anak dan istrinya.
*****
Lain halnya di keluarga Armstrong, hari ini mereka mempersiapkan keberangkatan Zelene dan Vigor. Mama Jenica yang meminta putri bungsunya untuk melanjutkan hidupnya di tempat Zelene yang menjadi pilihannya. Harapan sang mama agar putrinya itu segera mendapatkan keturunan.
"Ze, mama bukan mengusirmu. Mama hanya ingin kamu hidup bahagia dengan suamimu. Mama yakin di tempat baru kalian akan lebih tenang." Mama Jenica sengaja meminta putrinya untuk melakukan program hamil di sana.
"Ma, ini bukan mengusir. Mama memberikan kesempatan terbaik untukku dan suami. Mama bisa menjaga cucu mama di sini. Setelah itu giliran mama menjaga anakku," canda Zelene. Wanita itu sebenarnya tidak rela berpisah dari mamanya.
"Vigor, jaga istrimu dengan baik. Jangan biarkan dia berkutat dengan restoran barunya. Percayakan pada salah satu orang untuk mengurusnya. Biar kalian lekas mendapatkan keturunan." Pesan Mama Jenica.
"Baik, Ma."
__ADS_1
Sean dan istrinya yang berada di ruangan itu tidak mampu berkata-kata. Perpisahan mendadak ini membuatnya terkejut. Zelene bahkan tidak pernah membahas kepergiannya.
"Kak, doakan Zelene, ya?" pamitnya pada Sean dan istrinya.
"Kenapa mendadak sekali, Ze? Apa kakakmu ini tidak bisa membahagiakanmu?" tanya Sean.
"Bukan begitu, Kak. Aku melihat pertumbuhan Aquarabella semakin hari semakin menggemaskan dan aku ingin memilikinya juga. Makanya, aku dan suami memutuskan untuk mencari suasana baru. Aku ingin membangun restoran seperti cita-citaku, Kak," ucap Zelene dengan mata yang berkaca-kaca.
Keduanya saling memeluk untuk menyalurkan kekuatan. Setelah puas memeluk kakaknya, Zelene berpindah untuk memeluk kakak iparnya.
"Kak, doakan aku, ya?" ucapnya.
"Iya, Ze. Semoga secepatnya kamu hamil agar Aqua memiliki seorang teman. Kami akan selalu merindukanmu. Kalau ada kesempatan, kami akan berkunjung ke sana. Jaga diri baik-baik dan jangan stres, ya." ucap Callista.
Perpisahan yang mengharukan. Sean, istri dan mamanya tidak ikut mengantarkan kepergian Zelene ke bandara. Mereka tidak sanggup dengan perpisahan mendadak ini.
Setelah acara mengharukan itu berakhir, Vigor menggenggam erat tangan istrinya dan meyakinkan jika mereka berdua akan baik-baik saja.
"Tenangkan dirimu, honey. Kita harus selalu yakin bahwa setelah ini kita akan memiliki keturunan lagi. Percayalah, mama selalu mendoakan kita."
Mobil membawa mereka ke bandara. Sepanjang perjalanan, Vigor selalu meyakinkan istrinya bahwa keputusan yang diambil adalah benar. Tidak selamanya kehidupannya bergantung pada keluarga Armstrong. Saatnya Zelene dan Vigor memperjuangkan hidupnya. Selain memperjuangkan keturunan, Vigor ingin mewujudkan cita-cita istrinya.
"Kamu tidak menyesal meninggalkan Kak Sean?" tanya Zelene.
"Honey, Kak Sean itu guruku. Kamu adalah kebahagiaanku. Aku selalu mempertimbangkan keputusanku karena mendengar ucapan kakakmu itu. Terkadang kakakmu itu sedikit ceroboh, untung saja kakak ipar mampu mengatasinya. Jadi, aku tidak khawatir lagi meninggalkannya. Kita berdua akan bahagia di tempat baru. Ingat jangan setres karena kita berdua sedang berjuang mendapatkan momongan."
Setelah Zelene mengalami keguguran, dia belum hamil lagi sampai saat ini. Entah mungkin karena pikirannya yang selalu mengingatkan kehilangan yang menyakitkan itu. Bersama Vigor, dia akan memulai kehidupan baru dan berjuang bersama. Zelene memutuskan untuk hidup jauh dari keluarga seperti sebelumnya.
"Terima kasih, honey. Kamu selalu menjaga kakakku dengan baik. Kini giliranmu menjagaku," ucap Zelene sembari memeluk suaminya menuju bandara. Kebahagiaannya akan dimulai.
๐น๐น๐น๐นTerima kasih๐น๐น๐น๐น
Terima kasih buat kakak readers yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Emak author meminta maaf jika belum memberikan cerita yang bagus dan menarik. Maafkan emak Author yang seperti remahan koya ini. Cerita ini harus berakhir karena emak harus mempersiapkan cerita baru kelanjutan dari Keturunan Armstrong dan Damarion. Doakan semuanya berjalan lancar.
__ADS_1
Sambil menunggu cerita baru emak, silakan mampir ke Gelora Cinta Yang Sama. Terima kasih ๐๐๐๐