
Mobil mereka telah memasuki halaman luas keluarga Damarion. Halaman yang sangat indah dengan beberapa bunga berada di sana.
Felix lebih dulu turun membantu Mama dan istrinya membawakan barang belanjaan. Dia juga menurunkan beberapa koper yang akan dibawanya ke Villa keluarga Armstrong.
"Sini sayang, biar kubantu," ucap Kayana.
"Terima kasih, sayang. Bantu tamunya Mama saja. Suamimu masih bisa mengatasinya," ucap Felix.
Kayana mundur beberapa langkah. Dia berpindah untuk membantu Callista dan keluarganya. Hanya sekitar lima belas menit, mereka semua sudah berada di dalam rumah keluarga Damarion.
"Selamat datang di rumah keluarga Damarion. Jangan sungkan. Anggap saja seperti berada di rumah sendiri. Jika memerlukan sesuatu, kalian bisa memanggil pelayan," ucap Mama Carlotta.
"Terima kasih, tante," jawab Sean.
Mama Carlotta meminta mereka untuk istirahat di kamar masing-masing sebelum makan malam siap. Rencananya setelah makan malam, mereka akan menyiapkan acara barbeque di kebun belakang rumah keluarga itu.
"Tante Carlotta sangat baik, ya?" ucap Callista ketika sudah berada di dalam kamar tamu yang sudah disiapkan.
"Iya, sayang. Kamu tidak masalah, kan?" ucap Sean. Dia takut istrinya kecewa karena gagal pergi ke Villa keluarganya.
Pria itu memeluk istrinya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Mengingat sekarang istrinya telah mengandung buah cinta yang selama ini didambakan kehadirannya.
"Terima kasih, sayang," ucapnya.
"Untuk?"
"Telah menjaga Sean junior dengan baik," ucap Sean.
"Ish, belum tentu laki-laki. Bisa jadi Callista junior," protesnya.
"Apapun akan kuterima," ucap Sean dengan bangga. Dia tidak mau berdebat dengan istrinya.
"Bagaimana kabar dokter Olivia dan Dizon?" tanya Callista. Yang dia tau, kedua orang itu akan didekatkan karena permintaan Felix, adiknya Dizon.
"Jangan khawatirkan mereka...," Sean menjeda ucapannya. "Mereka berdua akan baik-baik saja. Anak buah Vigor akan memperlakukan mereka dengan baik."
Ketika sedang mengobrol dan bermesraan, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Sean melepaskan pelukannya hendak membuka pintu.
Tok tok tok.
Ceklek!
"Iya, tante?" tanya Sean.
"Sean, ajak istrimu keluar. Kita makan malam bersama. Semuanya sudah menunggu kalian di meja makan," ucap Mama Carlotta.
__ADS_1
"Baik, tante," Sean bergegas masuk lagi untuk memanggil istrinya. "Sayang, ayo. Mereka menunggu kita untuk makan malam."
Semua sudah berkumpul di meja makan. Sean dan istrinya baru saja datang. Mama Carlotta sengaja memanggil keduanya paling akhir.
"Maaf, terlambat," ucap Sean ketika sampai di meja makan.
"Belum lama, Kak," ucap Felix.
"Tante sangat bahagia. Kalian berkumpul semuanya di sini. Andai saja Papa Denzel dan Dizon ada di rumah, suasana akan semakin rame," ucap Mama Carlotta.
Aku ogah ketemu pria aneh itu. Batin Zelene.
Lebih baik dia berada di tempat yang tepat. Batin Sean.
Kalau Kak Dizon ada di sini, semuanya nggak bakal berani datang. Batin Felix.
Sebelum pergi ke kebun belakang, mereka menikmati makan malam buatan pelayan rumah itu. Rasanya juga sangat enak.
"Kalau mau tambah, jangan sungkan," ucap Mama Carlotta.
"Iya, tante," jawab Zelene.
Mereka sangat menikmati makan malam yang luar biasa itu. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Tanpa menunggu lama, Mama Carlotta meminta mereka untuk berkumpul di kebun belakang untuk menyiapkan beberapa bahan makanan yang dibutuhkan.
"Iya, honey," jawab Zelene.
Zelene membantu pelayan rumah itu untuk menyiapkan beberapa bumbu. Dia memisahkan bumbu marinasi yang khusus untuk kakaknya, Sean. Pria itu tidak bisa memakan makanan yang ada komposisi cabe.
Felix dan Kayana sangat menikmati malam ini sebagai pengantin baru yang belum pernah merasakan indahnya berdua.
"Lihatlah, Kay! Kak Sean sangat romantis terhadap istrinya. Pria berumur itu selalu saja bisa membuat istrinya tersenyum berada di dekatnya," ucap Felix menunjukkan kebersamaan antara Sean dan istrinya.
"Iya, pasangan beda generasi itu selalu saja membuatku baper," ucap Kayana.
"Kapan aku bisa mendapatkan hakku?" tanya Felix.
Kayana belum tau. Dia juga belum yakin akan dirinya.
"Secepatnya," jawab Kayana sekenanya.
"Bagaimana kalau malam ini?" tanya Felix lagi.
"Entahlah, sayang. Aku belum siap," tolak Kayana.
"Sampai kapan?" tanya Felix lagi.
__ADS_1
"Secepatnya aku akan memberikannya," ucapnya kemudian dia hendak berdiri namun tangannya dicegah oleh suaminya.
"Di sini saja. Biarkan mereka menikmati malam ini tanpa kita," ucap Felix.
"Itu tamunya Mama, sayang. Tidak baik jika kita tidak menemaninya," Kayana meyakinkan.
"Tak baik juga menunda malam pertama kita, sayang," ucap Felix meminta kepastian.
"Baiklah. Malam ini," Kayana menyerah. Tak ada gunanya mengundurnya lagi. Semakin hari suaminya akan selalu mengejarnya.
"Kutunggu," ucap Felix penuh kemenangan.
Mereka berkumpul di tempat yang akan digunakan untuk menggelar acara barbeque sederhana. Mama Carlotta juga sudah berada di sana.
Malam ini mereka akan membakar daging, aneka olahan daging, dan jagung. Tak lupa juga mereka membakar masa lalu. Agar masa depan jauh semakin indah dari sebelumnya.
"Wah, Mama senang sekali kalian semua bisa berkumpul di sini. Rasanya anak Mama banyak sekali. Sayang, Dizon dan Papa Denzel berada di luar negeri," ucap Mama Carlotta sangat bahagia sekaligus sedih.
Tenang saja, tante. Sebentar lagi tante akan memiliki menantu baru seorang dokter. Batin Vigor.
Mereka semua sangat menikmati malam pergantian tahun untuk saling bercanda. Menyiapkan makanan dan minuman sederhana.
Zelene yang paling dominan. Karena wanita itu adalah lulusan sekolah memasak yang sangat luar biasa. Semua disiapkan wanita itu dengan sangat cekatan.
"Wah, sebentar lagi kau harus membuatkan Zelene sebuah restoran," usul Mama Carlotta.
"Tante benar. Di luar negeri dia sibuk mengurus restoran milik orang. Sekarang saatnya dia harus berkembang," balas Sean.
"Kalian bisa belajar pada Zelene," ucap Mama Carlotta pada menantunya dan istri Sean.
"Tante jangan khawatir. Istriku sudah piawai dalam hal memasak," ucapan Sean membuat Callista tersipu malu.
"Hemm, sangat terlihat," goda Mama Carlotta.
Mereka berhenti mengobrol untuk menikmati makanan yang diberikan Zelene barusan. Koki dadakan itu sangat cerdas sekali untuk mengeksekusi semua makanan yang ada.
"Bagaimana, tante?" tanya Zelene yang baru saja bergabung untuk mencicipi makanannya.
"Ini sangat istimewa, Ze. Semuanya sangat enak dan sangat pas rasanya. Suamimu sangat beruntung mempunyai istri sepertimu," Mama Carlotta hampir saja menjadikannya menantu jika gadis itu tidak memilih orang lain.
Semuanya sangat menikmati malam pergantian tahun yang sangat istimewa ini. Setelah puas mencicipi makanan yang dihidangkan Zelene, Sean dan yang lainnya menyiapkan pesta kembang api sederhana untuk menandai pergantian tahun dari tahun dua ribu dua puluh satu berganti menjadi tahun dua ribu dua puluh dua.
HAPPY NEW YEAR 🎉🎉🎉🎉🎉
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1