Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Ketahuan Mama


__ADS_3

Semalam, Zelene memutuskan pulang ke apartemen suaminya. Dia tidak mungkin lagi untuk menginap di apartemen kakaknya ataupun pulang ke rumah Mama Jelita.


Pagi ini, setelah suaminya berangkat dengan wajah yang mendung. Bagaimana tidak, semalam rencana unboxing gagal total. Dia sudah merayu istrinya dengan segenap jiwa dan raga dipertaruhkan. Ketika berhasil membuat polos istrinya dan membuat gadis itu terlena dengan sentuhan lembutnya, mengikuti alur demi alur ritme permainannya. Ketika sampai pada inti permainan, Zelene kabur ke kamar sebelah. Dia merasa belum siap untuk merasakan kesakitan yang katanya mengasyikan itu. Akhirnya Vigor harus berjuang sendirian menyelesaikan pelepasannya.


Zelene tersenyum manis memandangi cermin. Dia memegangi bibirnya berulang kali. Bagaimana dia merasakan nikmatnya pertama kali mendapatkan ciuman dan jejak kepemilikan yang ditinggalkan merata oleh suaminya.


"Duh, rasanya seperti ini. Sekarang aku harus bekerja keras menutupi tanda merah ini. Malu rasanya mengingat semalam," ucapnya sembari mengoles foundation ke seluruh warna merah yang terlihat.


Selesai bersiap, Zelene ingin bermain ke apartemen kakak iparnya. Dia akan mengajak kakak iparnya berkeliling Mal untuk mencari penyegaran. Tujuan utamanya selain jalan-jalan, dia ingin mengorek informasi yang belum jelas didapatkannya itu. Apalagi kalau bukan urusan ranjang.


Zelene menaiki taksi untuk sampai ke apartemen kakaknya. Sesampainya, dia bergegas naik ke unit kakaknya karena Zelene yakin jika kakak iparnya akan ada di apartemen.


Beberapa kali menekan bel, barulah dibuka oleh Callista. Dia baru saja terbangun. Jangan tanyakan lagi kenapa bisa terlambat bangun seperti sekarang ini. Tingkat kemesuman suaminya yang mencapai tiga ratus enam puluh derajat lah yang membuatnya sampai terlambat.


"Kakak baru bangun?" tanya Zelene yang melihat kakak iparnya hanya memakai bathrobe sekenanya.


Callista menutup kembali pintunya. "Iya, Ze. Tumben pagi-pagi datang. Ada apa?"


"Hemm, kakak yang ada apa? Bahkan ini hampir tengah hari dan kakak baru bangun. Habis ngapain aja sih, Kak?" goda Zelene.


Astaga, ini sudah siang? Ya ampun, bahkan gue baru bangun. Suami mesum gue itu betah bener bikin gue sampe teler kek gini.


"Biasa, Ze. Kerjaan suami istri. Ntar kamu juga tau. Eh, ngomong-ngomong, semalam bagaimana? Apa adik ipar berhasil dengan misinya?" aura kepo nampak sekali di wajah Callista.


Zelene memerah mukanya. Dia semalam hampir saja berhasil mendapatkannya, tetapi Zelene keburu kabur ke kamar sebelah.


"Eh, kenapa diam, Ze? Sudah berhasil, yah?" goda Callista.


Zelene hanya menggeleng kepala.


"Astaga! Suamimu kurang gercep memang," protes Callista.


Kak Vigor udah gercep, Kak. Akunya yang kabur.


"Kak, ngemal yuk. Aku lagi pingin jalan-jalan, nih," ajaknya.


"Baiklah. Tunggu aku bersiap sebentar," pamit Callista pada adik iparnya.


Zelene menunggu kakak iparnya di ruang tamu. Dia bisa heran kenapa pasangan beda generasi itu selalu saja bisa bersikap romantis. Apa sebenarnya rahasianya?

__ADS_1


Melihat kakak iparnya muncul, membuat rasa penasaran Zelene tak bisa dibendung lagi.


"Kak, boleh tanya satu hal?" ucapnya.


"Apa, Ze? Tanyakan saja."


"Kenapa kalian selalu bisa bersikap romantis. Padahal secara usia, perbedaan kalian sangat jauh sekali. Aku jadi iri melihatnya."


"Rahasianya..., Suami kakak selalu mesum!" Callista tertawa.


Zelene ikut tertawa. Dia tidak bisa membayangkan mesumnya sang kakak pada istrinya.


"Sudahlah, Ze. Jangan pikirkan kakakmu lagi, fokuslah pada suamimu. Jika dia tidak terlalu mesum, kamu harus bisa lebih mesum darinya. Ayo berangkat, keburu siang," ajaknya.


Wah, saran kakak ipar keren. Tapi aku masih sangat malu harus memulai duluan.


Keduanya menuju Mal Sinar Galaxy menggunakan taksi. Sesampainya di sana, Callista yang membayarkan ongkos taksinya.


"Kak, kau mau kemana dulu?" tanya Zelene.


"Cari makan dulu, yah? Aku kelaparan," ajaknya.


"Kakak mau makan apa? Aku pingin makan sesuatu yang sangat segar," ucap Zelene.


"Baiklah, aku makan nasi goreng Hongkong saja."


Keduanya menuju ke food court yang menyediakan berbagai menu nasi goreng dari yang biasa sampai istimewa. Semuanya tersedia.


Keduanya memilih tempat duduk yang agak jauh dari jangkauan orang berlalu lalang agar bisa menikmati sepiring nasi goreng dengan nikmat.


Pelayan mendatanginya untuk menanyakan pesanan.


"Maaf, Kak. Mau pesan apa?"


"Nasi goreng ikan asin, satu. Nasi goreng Hongkong, satu. Air mineral 600ml, satu. Kamu mau minum apa, Ze?" tak lupa Callista menanyakan pada adik iparnya.


"Es Jeruk saja, Kak," jawab Zelene.


"Iya, tambah itu, Kak," ucap Callista pada pelayan tersebut.

__ADS_1


"Baik, ditunggu ya, Kak!"


Setelah pelayan itu pergi, Callista memberanikan diri untuk bertanya pada adik iparnya.


"Ze, aku sedikit kepo. Kalau nggak mau jawab, nggak usah dijawab nggak apa-apa. Kenapa semalam bisa gagal? Kalian pisah kamar?" Callista memberondong pertanyaan pada gadis itu.


"Aduh, Kak. Aku malu. Nggak usah cerita, yah. Intinya belum berhasil, itu aja," Zelene menutup wajahnya karena malu.


Sedang menunggu pesanannya, dari arah lain muncul wanita paruh baya sedang berjalan dengan wanita matang fashionable. Siapa lagi kalau bukan Mama Jelita dan Diana Carrington. Zelene yang melihatnya.


"Astaga! Mama menuju kemari, Kak," ucap Zelene pada kakak iparnya.


Callista berusaha menangkap ucapan adik iparnya.


Hais, mertua nenek sihir dan wanita rendahan yang mau merebut suami gue. Oh God, apa yang akan terjadi?


Mama Jelita lebih dulu menangkap keberadaan putri bungsunya. Wanita paruh baya itu mengajak mantan menantunya untuk menemui Zelene. Wanita itu tidak tau jika di sana ada menantunya, Callista yang merupakan istri Sean.


"Ze, kau di sini?" tanya Mama Jelita seolah tidak pernah terjadi sesuatu pada putrinya.


"Kenapa Mama di sini?"


"Mama hanya ingin jalan-jalan dengan Diana. Mama kesepian, Nak," ucap wanita paruh baya itu memelas.


"Ma, kau tidak mengenal wanita itu?" tunjuk Diana pada Callista.


Mama Jelita belum pernah bertemu Callista. Dikiranya gadis itu adalah teman Zelene.


"Teman Zelene, kan?" ucapnya pada Callista.


Callista hendak menjawab pertanyaan Mama mertuanya itu, tetapi sayang lebih dulu dijawab oleh rivalnya, mantan istri suaminya.


"Bukan, Ma! Dia istri Sean. Entah istri beneran atau jadi-jadian, Diana kurang paham," ucap Diana membuat Mama Jelita terkejut. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika mendapatkan berita sebesar ini.


"Kau pasti menjadi sugar baby putraku. Mana mungkin dia mau menikah denganmu. Atau jangan-jangan, kau hanya menginginkan harta putraku saja?" ejek Mama Jelita.


Wo o, ketahuan deh.


"Jaga ucapan Mama! Dia memang kakak iparku," bela Zelene.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa benar Sean telah menikah lagi? Aku sangat tidak setuju jika dia menikah dengan orang lain.


"Kau pasti semacam jal*ng. Iya, kan? Mengaku saja! Jangan kau rayu putraku terlalu jauh. Dia tidak akan tertarik denganmu!" Mama Jelita merasa tidak terima dengan keputusan putranya.


__ADS_2