Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Ketakutan Zelene


__ADS_3

Sean dan Callista telah sampai terlebih dahulu di apartemen. Keduanya langsung masuk ke kamar utama karena merasa sangat lelah.


"Om, bagaimana caranya membawa Zelene keluar dari rumah Mama mertua?"


"Rahasia, sayang," ucapnya sembari memeluk istrinya.


"Ish, selalu saja begitu," jawab Callista. "Eh, Om. Kenapa mereka berdua lama sekali nyampeknya?"


"Biarkan saja pengantin baru menikmati kebersamaannya. Seperti kita," ucapnya mencoba menggoda Callista.


"Hemm, lagi-lagi begitu. Oh ya, Om. Aku masih penasaran apa yang Om bicarakan di mobil tadi? Apa itu ada hubungannya dengan Zelene?"


"Tentu! Nanti kau akan tau sendiri bagaimana kelakuan gadis itu," ucap Sean kemudian pria matang itu mendaratkan ci*man di bibir istrinya. Ci*man hangat seorang pria kepada istrinya. Ci*man yang saling menuntut untuk memberi dan menerima. Saling bertukar saliva dan memb*lit lidah. Keduanya terbuai dengan suasana syahdu itu, jika tidak ada suara bel apartemen yang berbunyi, keduanya pasti akan berlanjut ke permainan selanjutnya.


Sean melepaskan ci*mannya. "Hemm, mengganggu saja!"


"Biar aku yang buka, Om," pinta Callista.


"Jangan! Kamu mandi saja dulu biar lebih segar. Biar aku yang mengatasi pengantin baru itu," Sean segera menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.


Ceklek!


Nampak sepasang pengantin yang masih memakai gaun pengantin beserta aksesorinya di hadapan Sean.


"Lama sekali. Darimana?" tanya Sean.


"Hanya sedikit lambat di jalan, Kak," jawab Zelene dengan aura bahagianya.


"Masuklah!"


Zelene dan suaminya masuk ke ruang tamu. Seperti dugaan Sean, Zelene akan mencari kakak iparnya.


"Kak, kakak ipar di mana? Aku ada perlu. Aku mau meminjam baju ganti darinya," ucap Zelene.


Sekalian mau curhat, Kak.


"Kakak iparmu masih mandi. Tunggulah sebentar! Aku akan memanggilnya," Sean beranjak menuju kamar utama.


"Kak, jangan lama-lama," teriak Zelene.


Sean tidak peduli pada pengantin baru itu. Dia sengaja meninggalkannya untuk berduaan. Dia sendiri butuh quality time dengan istrinya.


"Sayang, apa kamu di dalam?" tanya Sean.


"Ada apa, Om?" teriak Callista yang baru saja akan masuk ke bath up.


"Boleh aku masuk?"


"Enggak!" jawab Callista dari dalam. Tetapi sayang, Callista salah memberi peringatan. Dia lupa mengunci pintu bathroom. Alhasil, suaminya sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


"Oh, astaga! Gercep sekali, Om," ucap Callista.


"Bisa minta sekali jatah untuk hari ini? Aku ingin membiarkan pengantin baru menunggu kedatangan kita. Biar mereka rasakan bagaimana nikmatnya berduaan," pinta Sean yang tak jauh dari kegiatan mesumnya.


"Engak! Aku lelah, Om. Lain waktu, bisa?" Callista memberikan penawaran.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tetapi izinkan kita mandi bareng, yah? Biar aku bisa bermanja-manja pada istriku," Sean memberikan penawaran lagi.


"Yakin mandi bareng? Nggak macem-macem, kan?" ancam Callista.


"Suer, sayang! Jika aku khilaf, apa salahnya? Toh kita sudah sah. Bebas dong mau ngapain aja," Sean melepaskan semua pakaiannya.


Calista menutup kedua matanya. "Ish, Om selalu saja membuatku ingin meminta lebih!"


Sean tertawa. "Ck, ternyata istriku lebih mesum dari yang kuduga."


Sesi mandi yang sangat singkat untuk sepasang pengantin lama, tidak dengan pengantin baru. Zelene tidak tahan harus berduaan dengan Vigor, suaminya.


"Ze, kau kenapa?" tanya Vigor.


"Duh, kakak ipar lama sekali. Apa saja yang mereka lakukan?" protes Zelene.


"Mungkin mereka sedang bercinta," canda Vigor seolah memancing Zelene untuk membuat gadis itu memahami apa saja yang sedang dilakukan sepasang suami istri.


Bercinta? Apa aku harus melakukannya? Oh astaga! Ternyata mencintai seseorang masih lebih mudah daripada menjadi seorang istri.


Zelene tak tahan. Dia menggedor pintu kamar utama.


Sepasang suami istri yang sedang menikmati sesi bercinta mereka merasa terganggu.


"Oh ****! Aku belum selesai," umpat Sean.


"Hemm, apa yang kubilang. Ze pasti buru-buru mencariku, Om," ucap Callista.


"Biarkan saja, kita selesaikan satu permainan ini," Sean sudah tidak peduli. Dia ingin menyelesaikan pelepasan pertamanya.


Setelah selesai, Sean membersihkan diri kemudian berganti pakaian. Bergegas dia membuka pintu kamar utama.


"Ada apa, Ze?" tanya Sean seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa kakak lama sekali, sih?" protes Zelene yang hendak menerobos masuk kamar kakaknya.


"Stop, Ze! Area privasi kakak. Jangan masuk!" Sean menghentikan langkah adiknya.


Zelene tersenyum. "Maaf, Kak. Khilaf."


"Tunggulah di ruang tamu! Kakak iparmu akan segera ke sana," pinta Sean.


Zelene mengalah. Tak ada gunanya berdebat dengan Kakaknya.

__ADS_1


"Sayang, lekaslah!" panggil Sean pada Callista.


"Iya, Om. Ada apa?"


"Lekas temui Zelene. Gadis itu sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Bawakan sample gaun saringan tahu dan baju ganti. Bikin dia ngeri memandang baju itu," ucap Sean dengan tertawa. Dia puas sekali akan mengerjai adiknya.


"Ish, Om yakin?"


"Tentu, sayang! Lekaslah temui dia," pinta Sean.


Callista mengambil dua paper bag yang salah satunya berisi baju perintah suaminya. Dia ingin mengerjai adik iparnya.


"Ze, maaf kakak lama. Ada urusan penting dengan Kakakmu," ucap Callista ketika sudah sampai di ruang tamu.


"Tidak apa-apa, Kak. Kak Vigor, aku mandi dulu, yah?" pamitnya pada Vigor, suaminya.


"Iya, Ze."


Zelene mengikuti Callista ke kamar tamu. Di sana, Callista memberikan dua paper bag untuk adiknya. Salah satunya baju saringan tahu.


"Kak, sebelumnya boleh aku bertanya?"


"Apa, Ze?"


"Bagaimana kakak ipar bisa menjalani malam pertama?" tanya Zelene.


Astaga! Pertanyaan mesum lagi?


Callista wajahnya memerah menahan malu. Bagaimana waktu itu dia menjalani malam pertamanya yang terkesan begitu berani menggoda suaminya. Dia harus nekat untuk memancing suaminya menggunakan gaun saringan tahu itu.


"Ze, tidak ada pertanyaan lain?" Callista berusaha bernegosiasi.


Zelene menggeleng. "Aku hanya takut untuk melakukannya, Kak. Makanya aku ingin tau dari kakak," ucap Zelene dengan wajah malunya.


"Aduh, bagaimana ya menceritakannya? Eh, kemarikan paper bag merah itu," pinta Callista. Dia ingat jika telah memasukkan lingerie ke dalam paper bag itu.


Zelene memberikannya. Callista membuka isi paper bag tersebut kemudian menunjukkannya pada Zelene.


"Aku memakai ini ketika melakukan malam pertama dengan kakakmu," ucap Callista tanpa malu lagi.


Zelene menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga! Apa harus memakai itu, Kak?" Zelene sedikit ragu. Apa dia sanggup memakai gaun minim bahan yang diperlihatkan kakak iparnya itu.


Callista mengangguk.


"Lalu, bagaimana rasanya, Kak? Apa sangat sakit seperti cerita author yang pernah kubaca?"


Pertanyaan Zelene kali ini membuat Callista bingung bagaimana menjelaskannya.


"Astaga, Ze! Tentu rasanya sangat berbeda-beda. Mana bisa aku menjelaskannya. Yang pasti, Kakakmu sudah sangat berpengalaman. Jadi, aku merasakan sensasi yang luar biasa," ucapannya membuat Zelene bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kenapa kau ketakutan? Tenang saja, Ze. Rasanya sangat nikmat," goda Callista pada adik iparnya.


Oh, God. Ternyata ini yang dimaksud Om Sean. Adiknya akan bertanya hal absurd seperti ini. Astaga!


__ADS_2