
"Selamat pagi, sayang. Bagaimana rasanya hari ini?" tanya Sean setelah hampir semalaman istrinya merasa mual dan hanya bisa memakan buah melon dan jeruk saja.
"Sudah mendingan, sayang. Kenapa belum bersiap?" Callista melihat suaminya masih duduk santai di sofa kamar dan memandangi dirinya.
"Masih menunggu istriku bangun," goda Sean.
"Ish, aku sudah baikan, sayang. Pergilah!" bujuknya. Padahal Callista sendiri masih merasa sedikit mual.
"Baiklah. Aku akan bersiap," Sean masuk ke bathroom.
Callista sebenarnya kasian melihat suaminya. Selain ke kantor, dia juga repot mengurus istrinya.
"Lebih baik aku ke dapur. Bikin sarapan sederhana," ucap Callista. Dia beranjak dari ranjang dengan menahan sedikit mual.
Di dapur, Callista menyiapkan omelet sayur dan teh hangat. Setelah selesai, dia duduk di meja makan.
Sean sangat terkejut ketika tak mendapati istrinya berada di ranjang.
"Kemana dia?" Sean bergegas mencarinya dan mendapati istrinya sedang duduk di meja makan.
"Sarapan dulu, sayang. Maaf, menu seadanya."
"Harusnya kamu istirahat saja, sayang. Biar aku yang menyiapkan sarapan paginya," ucap Sean yang langsung duduk di meja makan.
"Tak mengapa. Aku baik-baik saja, kok. Lekaslah! Nanti terlambat, loh," ucap Callista yang melihat jam dinding menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.
Sean menikmati sarapan paginya, setelah itu dia pamit pada istrinya untuk berangkat ke kantor.
"Jaga diri baik-baik. Apa perlu kupanggilkan pelayan untuk membantu?" Sekali lagi, Sean menawarkan.
"Tidak perlu! Minta tolong Zelene saja temani aku sebentar," pintanya.
"Baiklah," Sean mengambil ponselnya.
[Ze, datanglah ke apartemen! Temani kakak iparmu! Terima kasih] pesan untuk Zelene.
Sean kemudian mengecup kening istrinya. "Jangan lupa istirahat dan gunakan ponsel atau perhiasan yang kapan hari pernah kuberikan. Jangan membantah!"
"Baiklah, sayang," jawab Callista.
Sean berangkat ke kantor. Hari ini ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan Vigor. Asisten luar biasa itu harus segera menemukan ayah biologis Willow.
Aku penasaran, pria seperti apa yang membuat Diana sampai nekat menyembunyikan namanya dan memakai orang lain sebagai korban untuk bisa menerima putrinya?
Mobil Sean baru saja memasuki area kantor bersamaan dengan masuknya mobil Vigor.
__ADS_1
Tumben dia datang sedikit terlambat.
Sean dan Vigor baru saja turun dari mobil dalam waktu yang bersamaan. Vigor menyapa bos sekaligus kakak iparnya itu.
"Pagi, Bos! Maaf terlambat," ucapnya.
"Tumben?" tanya Sean.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke ruangannya masing-masing. Sean duduk di kursi kebesarannya. Dia memijat pelipisnya untuk sesaat sebelum melakukan pekerjaannya.
Hanya tinggal beberapa hari. Aku belum memberitahukannya pada Callista. Maafkan aku, sayang....
Sean secepatnya memanggil Vigor melalui interkom untuk menyelesaikan pekerjaan dan masalahnya.
"Vigor, datanglah ke ruanganku! Jangan lupakan data karyawan untuk bonus akhir tahun. Akan kuselesaikan hari ini," ucapnya.
Soal apapun Vigor selalu gercep. Apalagi soal bonus yang menanti. Jelas dia lebih gerak cepat dari biasanya.
Tok tok tok.
Tak sampai lima menit, asisten itu mengetuk pintu.
"Masuk!"
Ceklek!
"Duduklah! Kenapa seperti habis bekerja keras?" tanya Sean.
Ini semua gara-gara Mama Jelita!
"Ini gara-gara Mama mertua yang sudah menindasku. Sepulang dari pernikahan Felix, Mama Jelita memintaku mengantarkannya ke rumah utama. Asal bos tau, Mama Jelita memintaku mengerjakan semua pekerjaan rumah sebesar itu. Jika tidak selesai, aku tidak boleh membawa Zelene pulang. Boleh nggak bos, izin mendeportasi Mama Jelita ke Planet Pluto?" Vigor menceritakan betapa sengsaranya demi mendapatkan Zelene kembali.
Jika biasanya Sean akan menertawakannya, tidak dengan hari ini. Sean seketika terdiam. Dia tidak bisa membayangkan jika Callista berada di dekat wanita itu. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil saat ini.
Sebaiknya kutunda dulu untuk mendekatkan mereka berdua. Tunggu sampai lahiran!
"Bos, kenapa diam?"
"Zelene ada bersamamu, kan?" tanya Sean akhirnya.
"Iya. Mana mungkin kubiarkan istriku itu berada di neraka dunia. Untung saja semalam lolos. Jika tidak, mungkin aku akan terpisah dengan Ze dan hari ini tidak akan berada di hadapanmu, Bos," ucap Vigor yang merasa sangat kelelahan.
Sean tidak menanggapinya. Dia seperti sedang memikirkan hal lainnya.
Ini secepatnya harus diselesaikan. Jika tidak, Diana akan menjebakku lagi.
__ADS_1
"Vigor, sebenarnya aku dan Dizon adalah korban," ucapnya memulai pembahasan mengenai Diana.
"Diana, Bos?" tanya Vigor.
Sean mengangguk. "Ayah biologis Willow adalah orang lain. Dizon juga sudah bertemu dengan Callista dan menceritakan tentang hubungannya dengan Diana."
Sean menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya.
"Diana hanya menyebutkan namanya Burchard Juvenal Halbur... Seperti nama pria asing. Apa kita mengenalnya?" tanya Sean. Pria itu memang sangat asing mendengar namanya. Tetapi mengingat Diana sangat mencintainya, jelas pria itu sebenarnya hidup berada di sekitarnya.
Siapa Burchard Juvenal Halbur sebenarnya? Orang asing, kah? Atau orang terdekat dengan kita tetapi memakai nama samaran. Batin Vigor.
"Akan kuselidiki, Bos. Tetapi aku tidak janji ini akan cepat. Karena nama itu seperti orang asing yang baru kudengar," ucap Vigor.
Mengenai Vigor, Sean tidak akan khawatir. Karena pria muda dengan segala cara itu pasti bisa menemukan orang yang sedang dicarinya.
"Bos, bonus akhir tahun secepatnya tolong di cek. Supaya bagian keuangan bisa lekas membayarkannya," ucap Vigor mengingatkan.
"Tunggu lima belas menit. Aku akan menyelesaikannya," ucap Sean.
Pria empat puluh satu tahun itu dengan cekatan menyelesaikan berkas yang ditunggunya. Sebelum lima belas menit berakhir, dia sudah selesai. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya.
"Kenapa berhenti, Bos?" tanya Vigor yang melihat Sean menghentikan aktivitasnya.
"Mengenai ayah biologis Willow, aku rasa Dizon mungkin tau," ucapnya seperti memberikan sebuah clue.
"Itu tidak mungkin, Bos. Jika Dizon tau pria itu, kenapa dia selalu menyerang Anda dan mengira sebagai rivalnya? Sangat misterius, bukan? Untuk apa Dizon nekat menghancurkan pernikahan Anda, jika ada lelaki lain yang sudah ada terlebih dahulu dibanding Anda dan Dizon. Benar, kan?" ucap Vigor.
Ucapan Vigor sangat masuk akal. Siapa sebenarnya pria itu yang mampu membuatku dan Dizon harus bermusuhan? Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu? Aku bahkan baru mengenal Dizon ketika tau Diana berselingkuh dengannya.
"Bos jangan khawatir. Secepatnya aku akan memerintahkan seseorang untuk menyelidikinya. Sebenarnya aku bisa saja turun tangan langsung, ini sudah memasuki akhir tahun. Akan banyak pekerjaan yang lebih penting dari itu. Maaf ya, Bos," ucap Vigor.
Vigor benar. Akhir tahun yang hanya tinggal beberapa hari ini. Sean belum membicarakan rencananya dengan istri maupun adik-adiknya.
"Vigor, apakah Zelene mengabari jika sudah berada di apartemenku?" tanya Sean.
"Iya. Dia mengirim pesan padaku untuk meminta izin pergi ke sana. Memangnya ada apa?" tanya Vigor balik.
"Callista sedikit mual. Dia hanya butuh teman ngobrol atau apalah."
Sean tidak akan terlalu khawatir jika Zelene sudah menemani istrinya. Wanita itu tidak akan merasa kesepian. Secepatnya dia akan menyelesaikan pekerjaannya kemudian lekas pulang.
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀 atau ☕☕☕☕☕ ditunggu sebagai hadiahnya agar emak author semakin bersemangat...
Terima kasih, Luv yu All... 😍😍😍😍