
Callista keluar kantor suaminya dengan perasaan cemburu yang teramat sangat. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun, dia gagal. Ketika berada di dalam taksi, dia menangis sejadinya membuat sang sopir mengomentarinya.
"Mbaknya baru putus cinta, ya? Jangan menangis seperti itu, mbak. Masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik dari pria brengs*k seperti itu!" ucap sopir taksi.
Eh, pria brengs*k?
Seketika Callista menghentikan tangisannya. Dia merasa tersindir atas ucapan sopir taksi tersebut. Dia malah tertawa mendapatkan perhatian sekecil itu.
"Terima kasih. Bapak keren sekali!" ucap Callista memberikan dua acungan jempol pada sopir taksi itu.
"Eh, mbaknya sudah tidak menangis lagi?" tanya sopir taksi keheranan.
"Kenapa bapak tidak suka pada penumpang yang sedang menangis? Seperti di sinetron tidak ada masalah lo, Pak," ucap Callista pada sopir taksi yang diperkirakan usianya lima puluh tahun itu.
"Beda Mbak. Kalau di real life, saya takut dikira jadi sopir taksi yang suka memalak penumpang atau dianggap menganiaya penumpang. Kalau di sinetron, beda lagi Mbak. Mereka menangis untuk dibayar sedangkan mbaknya nangis, siapa yang bayar? Yang ada mbaknya malah bayar ongkos taksi saya," canda sopir itu.
Ini baru sopir keren! Iya juga ya, ngapain gue sedih? Harusnya gue happy bisa ngabisin uang unlimited suami gue. Ehe, bapak sopir taksi memang best!
Callista sudah melupakan masalahnya. Dia ingin segera sampai ke Mal Sinar Galaxy dan membeli gaun untuk pernikahan sahabatnya yang hanya tinggal beberapa hari lagi dan akan makan bakso mercon sepuas hatinya.
"Mbak, tujuannya mau kemana, yah?" pertanyaan sopir taksi mengejutkan dirinya.
"Loh, saya belum bilang mau kemana, Pak?"
Sopir taksi menggeleng. "Belum, Mbak!"
"Oh astaga, maafkan saya Pak. Mal Sinar Galaxy ya...," ucapnya.
"Baik, Mbak...," sopir itu kemudian melanjutkan tugasnya untuk mengendarai mobil menuju tempat yang dimaksud penumpangnya.
Sepanjang perjalanan, Callista bisa tersenyum semringah. Dia sudah tidak ingin mengingat lagi rasa cemburu yang sempat menderanya. Dia merogoh beberapa lembar uang yang akan dibayarkan pada sopir taksi tersebut. Setelah sampai, tak lupa dia memberikan uang lebih padanya.
"Mbak, ini kebanyakan!" teriak sopir taksi.
"Buat bapak saja. Terima kasih sudah menghibur," ucap Callista.
Callista berjalan seorang diri memasuki Mal seluas itu.
Fokus cari gaun untuk datang ke pernikahan Kayana!
Callista ingat, butik ternama yang pernah dikunjunginya adalah butik Queen. Waktu itu dia sedang membuntuti Zelene yang sedang bersama Mama mertua dan mantan istri suaminya.
Sebaiknya gue nyari di sana aja....
Callista melangkah menuju butik yang dimaksud. Sesampainya di sana, dia langsung diterima oleh pegawai butik dengan ramah.
__ADS_1
"Mbak, mau cari gaun pesta. Di mana ya?" tanya Callista.
Salah satu pegawai butik mengarahkannya ke koleksi gaun pesta yang sangat banyak sekali pilihannya. Daripada pusing untuk memilih, dimintanya salah satu untuk diambil dan dicobanya.
"Tolong carikan yang cocok untuk menghadiri pesta pernikahan...," pinta Callista.
Pegawai itu memberikan gaun model sabrina dengan belahan yang terlalu tinggi.
"Bisa carikan model lain?" protesnya. Bagi Callista, itu tidak lagi menghadiri acara pesta pernikahan malah seperti mengadakan fashion show.
Akhirnya dia lebih memilih gaun sederhana pendek berwarna putih dan terlihat sangat nyaman dipakainya. "Ini saja," Callista mencobanya dan merasa pas ditubuhnya. Kemudian dia memberikannya kepada pegawai butik untuk dibungkus.
Callista juga mencarikan jas untuk suaminya. "Kak, kalau yang model bajuku tadi cocoknya model jas yang mana, yah?"
Pegawai butik menunjukkan beberapa referensi. Ketika tangannya hendak mengambil jas itu sepertinya dia akan berebut lagi seperti berebut lipstik dengan mantan istri suaminya beberapa waktu lalu.
"Eh, ini pilihanku, Tuan! Kenapa Anda malah ikut-ikutan mau mengambilnya?" protes Callista pada pria itu.
Pria itu menatap dengan intens wanita di hadapannya.
"Callista?" tanya pria itu.
Callista berusaha mengingat pria di hadapannya. Dan....
"Iya, ada apa?" tanya Callista cuek.
"Bisa kita bicara?"
"Tidak! Aku tidak ada urusan denganmu," tolak Callista sembari memilih beberapa jas lain untuk suaminya.
"Ambilah yang sudah kau pegang barusan. Aku tidak jadi mengambilnya," ucap Dizon yang tau wanita itu sepertinya enggan mengambil barang bekas tangannya.
"Tidak! Ambil saja, aku mau cari yang lain," ucapnya.
Ketus sekali wanita ini. Aku pikir akan lebih ramah....
"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Dizon untuk kedua kalinya.
"Tidak bisa! Daritadi aku sudah bilang, tidak ya tidak!" Callista masih saja fokus memilihkan jas untuk suaminya.
"Berikan satu kesempatan. Aku ingin bicara mengenai mantan istri suamimu!" ucap Dizon akhirnya.
Callista sejenak menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh ke arah Dizon. "Apa yang ingin kau bicarakan tentangnya? Katakan saja di sini. Jika itu ada hubungannya denganku, katakan. Jika tidak ada, lebih baik kau diam!"
"Lanjutkan memilihnya! Kita akan bicara di food court Bakso yang tempo hari," ucapnya.
__ADS_1
Callista pikir, dengan mengulur waktu akan membuat pria itu pergi. Tetapi malah membuat pria itu menunggunya di dekat kasir.
Oh God. Cobaan apalagi ini?
"Biarkan aku yang membayarnya," pinta Dizon.
"Eh, mana bisa begitu. Aku juga bawa uang, kok," Callista menyerahkan black card pada kasir butik.
Rupanya Sean sangat mencintai istrinya.
Setelah dua paper bag dan black card diberikan padanya, Callista lekas pergi meninggalkan butik Queen. Dizon tetap saja mengikutinya.
"Kenapa lagi, sih?" protes Callista.
"Bukankah aku memintamu baik-baik untuk bicara sebentar saja," ucap Dizon.
Kalau begini terus Dizon akan mengikutiku sampai apartemen.
"Baiklah...," Callista akhirnya memutar arah menuju food court Bakso langganannya.
Sesampainya di sana, Dizon duduk di hadapan Callista dan memulai pembicaraannya.
"Kau tidak mau memesan sesuatu?" Dizon menawarkan.
"Tidak perlu! Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu," Callista secepatnya ingin pergi dari hadapan pria itu.
"Ini mengenai Diana... Mama memintaku untuk menikah dengannya, tetapi aku menolak."
Callista membelalakkan matanya. Itu artinya Diana akan berusaha keras mendapatkan suaminya kembali.
"Kenapa kau menolak? Bukankah rumor yang beredar, kalian berselingkuh?" Callista sedikit banyak tau ceritanya dari suami dan adik iparnya.
"Aku memang berselingkuh dengannya, tetapi aku tidak pernah tidur dengannya! Aku hanya mempermainkan wanita itu karena dia berhasil meninggalkanku dan menikah dengan Sean waktu itu," ucap Dizon dengan raut sedih.
Callista melihat sekilas wajah pria itu terlihat mengatakan yang sebenarnya. Tetapi Callista sedikit ragu apakah ucapannya bisa dipercaya atau tidak? Callista teringat gadis kecil yang sedang berada di kantor suaminya, Willow.
"Willow? Dia bukan anakmu?" tanya Callista penasaran.
Dizon menggeleng. "Aku berselingkuh ketika tau Diana sedang hamil. Makanya aku selalu menolak untuk menerima anak itu...."
Kebenaran sudah terungkap. Sekarang Callista semakin bingung. Berarti mantan istri suaminya itu tidak hanya berselingkuh dengan Dizon, melainkan ada pria lain sebagai ayah biologis gadis kecil itu. Siapa sebenarnya pria yang disembunyikan mantan istri suaminya itu? Kenapa dia masih mengejar Sean lagi?
"Terima kasih. Sudah memberikan informasi yang sangat lengkap. Aku pamit," ucap Callista. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman lagi antara dia dan suaminya.
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
__ADS_1