Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Zelene Hamil


__ADS_3

Sean baru saja sampai di apartemennya. Dia disambut oleh istri gembulnya itu. Berbadan dua dan terlihat lebih gendut.


"Sayang... Tumben pulang cepat?"


"Pekerjaanku hari ini tidak banyak, sayang. Vigor juga pulang lebih cepat. Dia berusaha menghubungi ponsel Zelene, tetapi tidak diangkat oleh wanita itu." Sean langsung masuk ke kamarnya. Dia melepas jas kerjanya dan meletakkan di atas sofa.


"Apa mungkin Zelene sedang mandi? Jadi nggak mungkin mengangkat teleponnya, 'kan? Apalagi kalau Vigor video call. Jelas tidak mungkin diangkat. Orang Ze-nya lagi mandi," canda Callista.


"Pikiranmu tidak jauh dari kata mesum!" ucap Sean tegas.


"Oh, helo... Siapa dulu yang ngajarin mesum?"


Sean tertawa. Rupanya dia dan istrinya tidak jauh beda. Sean beranjak untuk masuk ke bathroom. Namun, ketika hendak melangkah ponselnya berdering.


"Sayang, ambilkan ponselku di saku jas!"


Callista mengambilnya. Dia membaca sekilas nama pemanggil.


"Vigor, sayang." Callista menyerahkan ponsel suaminya.


"Tumben. Ada apa?" Sean langsung menggeser tombol hijau di ponselnya. "Halo, Vigor. Ada apa? Kenapa kamu terdengar panik seperti itu?"


"Zelene masuk rumah sakit, Bos," ucapnya.


"Hah? Sakit apa dia?"


"Entahlah. Aku pulang dan sudah menemukannya dalam kondisi pingsan. Dia terlihat sangat pucat sekali," jawab Vigor.


"Sekarang kamu dimana?" Sean mulai panik.


"Aku perjalanan ke rumah sakit, Bos," jawabnya.


"Rumah sakit mana?"


"AB," jawab Vigor kemudian sambungan teleponnya terputus.


Tut tut tut....


"Ada apa, sayang?" tanya Callista. Dia menerima ponsel suaminya dan diletakkan di atas nakas.


"Zelene pingsan. Ayo ikut ke rumah sakit." Sean bergegas masuk ke bathroom.


Callista bersiap-siap sembari menunggu suaminya. Setelah melihat suaminya keluar dari dalam kamar, dia menanyakan sesuatu.


"Apakah Mama mertua akan berada di sana?" tanya Callista.


Sean belum yakin. Mamanya memang sudah sembuh dan jarang bertemu dengannya. Bisa jadi ketika Zelene sakit, wanita itu juga datang ke rumah sakit.


"Aku tidak tau, sayang. Kamu jangan khawatir, ya."


Sean mengambil dompet, ponsel, dan kunci mobilnya. Dia bergegas menggandeng istrinya menuju basemen.

__ADS_1


Perjalanan ke rumah sakit kali ini sedikit terhambat. Jalanan dari apartemennya memang tidak macet, tetapi sedikit merambat.


"Sayang, apa Zelene pernah sakit sebelumnya?" Callista memainkan ponselnya seperti biasa. Dia akan update ilmu kehamilannya melalui eyang google dan beberapa grup kehamilan di facebook.


"Tidak, sayang. Zelene itu wanita kuat. Dia lebih jarang sakit daripada aku." Sean fokus menyetir.


"Apa ada kemungkinan Zelene hamil?" tanya Callista lagi.


"Apa hubungannya sakitnya Zelene dengan kehamilan?" tanya Sean sedikit menoleh ke arah istrinya.


"Bisa saja dia hamil muda, terus tiba-tiba seperti orang sakit," jawab Callista. Sejak update ilmu setiap hari membuat Callista menjadi orang yang cerdas dan terkadang sok tau.


"Memangnya kamu tau darimana?"


"Itu hanya diagnosa dariku versi ilmu eyang goo...." Ucapan Callista tertahan ketika suaminya menyuruhnya untuk berhenti pakai ilmu sok tau dan kira-kira itu.


"Jangan sok tau dan hanya mengira-ngira. Pelajari ilmu untuk dirimu sendiri, biarkan dokter yang bekerja." Ucapan Sean membuat nyali Callista menciut untuk berbicara lagi.


Sean sedang fokus menyetir dan mengkhawatirkan adiknya. Dia tak menghiraukan istrinya yang mulai mode ngambek itu. Ucapannya seperti angin lalu. Sean tidak salah dalam hal ini karena pikirannya sedang tertuju pada adiknya.


Sampai di rumah sakit AB, Sean berjalan terlebih dahulu. Callista berjalan perlahan mengikuti suaminya. Tujuannya langsung ke IGD.


Vigor sudah berada di depan IGD menunggu kabar istrinya yang sedang ditangani di dalam.


"Bagaimana kejadiannya, Vigor?" tanya Sean yang baru saja sampai.


"Aku pulang kerja, Zelene sudah pingsan di kamarnya."


"Kemana saja? Kenapa baru sampai?" bisik Sean.


"Jalanan rumah sakit macet! Kamu, sih. Jalannya cepat sekali," kritiknya.


Beberapa menit kemudian, suster keluar mencari keberadaan keluarga pasien.


"Keluarga Nyonya Zelene Armstrong...," panggil suster itu.


Vigor segera masuk ke IGD. Sean dan Callista menunggu di luar. Dari kejauhan, dokter Olivia berjalan ke arahnya.


"Sean? Kamu di sini? Siapa yang sakit?" tanya dokter Olivia.


Setelah pesta pernikahannya, Sean baru bertemu lagi dengannya hari ini. Olivia banyak berubah, sepertinya dia mengikuti tren berbusana dari keluarga Damarion.


"Zelene, Oliv. Apa kamu sedang tidak ada pekerjaan?"


"Aku mau mengambil berkas yang tertinggal di kantor," jawab Olivia. "Wah, sudah berapa week kehamilan istrimu?" Olivia melihat istri sahabatnya lebih berisi dari sebelumnya.


"Trimester dua, dokter," jawab Callista.


"Wah, selamat, ya! Semoga nular ke aku," ucapnya dengan senyum semringah.


Sean dan Callista saling pandang. Ada pertanyaan dan tawa di antara keduanya.

__ADS_1


"Iya, dokter," jawab Sean.


"Aku permisi dulu ya, Sean," pamit dokter Olivia.


Vigor keluar ruangan IGD bertepatan dengan dokter Olivia meninggalkan Sean dan istrinya.


"Bagaimana kabar Zelene?" tanya Sean.


"Dia hamil, Kak," ucap Vigor sangat bahagia.


Sean dan istrinya berpelukan. Mereka sangat bahagia mendengar kabar baik ini.


"Tetapi, ada sesuatu hal yang menyebabkan dia harus rawat inap, Kak." Vigor terlihat bahagia lalu berubah sedih.


Sean melepaskan pelukannya. Dia menatap tajam pada adik iparnya. Sesaat merasa bahagia kemudian bersedih dalam waktu yang bersamaan.


"Kondisinya sangat lemah, Kak. Dia harus mendapatkan infus sampai benar-benar pulih," ucap Vigor.


Sean sedikit lega. Dia sangat khawatir jika kehamilan adiknya akan bermasalah. Ternyata hanya untuk istirahat selama beberapa hari sampai kondisinya pulih.


"Kamu tidak mengabari Mama Jelita?" tanya Sean.


Vigor menggeleng. "Aku tidak mau merepotkannya, Kak."


Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa bertemu dengan Mama mertua. Wanita itu malah akan membuat Zelene tidak bisa beristirahat dengan baik.


"Aku meminta izin cuti selama beberapa hari sampai Zelene membaik."


"Tentu, aku mengizinkannya," jawab Sean.


Callista terdiam dan duduk kembali di kursi tunggu IGD. Dia capek jika harus terus-terusan berdiri. Dia hanya mendengarkan ucapan suaminya dengan adik iparnya.


"Kapan Zelene pindah ke ruang rawat?" Sean ikut duduk di samping istrinya.


"Kata suster, nanti menunggu keputusan dokter," jawabnya.


Sean mengajak Callista untuk ke kantin rumah sakit. Dia berniat membelikan beberapa makanan untuk Vigor.


"Sayang, apa kamu tidak lelah?" tanya Sean.


"Aku lelah jika terus-menerus berdiri, sayang," jawab Callista.


Sean kali ini berjalan perlahan demi mengimbangi istrinya. Sesampainya di kantin, Callista yang memesan makanan untuk adik iparnya.


"Kamu tidak makan?" tanya Sean.


"Aku makan di apartemen saja," tolak Callista. Melihat hawa rumah sakit yang sepertinya bau obat-obatan itu, dia tidak ada minat untuk makan.


"Baiklah. Kutunggu di sana," Sean menunjuk bangku kosong di kantin itu.


Sean sedang menimbang ucapan Vigor. Sebenarnya dia tidak tega untuk tidak mengabari Mamanya. Tetapi melihat kondisi Zelene seperti itu, Sean tidak tega.

__ADS_1


🍅🍅🍅🍅🍅TBC🍅🍅🍅🍅🍅


__ADS_2