
Setelah semalam Sean mendengar keluh kesah Zelene mengenai rencana perjodohannya dengan Felix Damarion, pagi ini wajah Sean terlihat tak secerah biasanya.
Sean sedang memikirkan rencana apa untuk menggagalkan pertunangan adiknya yang akan diselenggarakan besok. Walaupun ini sudah sangat terlambat untuk masuk ke kantor, dia masih bermalas-malasan di ranjangnya.
Callista tidak sanggup melihat kemuraman yang ditampilkan wajah suaminya itu.
Apa yang harus gue lakuin? Biar Om Sean kembali seperti biasa. Gue lihat doi kek gitu, rasanya nyesek juga. Apa ini saatnya gue harus benar-benar agresif? Ish, harus memulai duluan....
"Sayang...," panggil Callista pada suaminya.
Sean sedang fokus pada pikirannya sehingga panggilan dari istrinya tidak didengarnya sama sekali. Callista sepertinya berusaha menjadi istri yang pengertian. Dibiarkan suaminya itu dengan dunianya saat ini.
Apa gue minta Kayana kesini aja? Biar gue bisa nyari solusi yang baik untuk masalah suami gue.
Callista mengambil ponselnya di atas nakas. Dia mengirim pesan untuk Kayana.
[Kay, lo bisa ke apartemen pagi ini? Gue ada masalah sangat urgent, nih. Kalau lo emang ga bisa, ga apa-apa] pesan untuk Kayana terkirim.
Tak menunggu lama, sohibnya yang gercep itu selalu bisa memberikan solusi dengan baik.
[Oke, Call. Gue bakal off kerja hari ini. Demi elo๐ค] balasan pesan yang diterima dari Kayana.
Sumpah demi apapun! Sohib gue emang the best banget. Thanks, Kay.
Callista berusaha membuat suaminya itu ceria seperti biasanya. Dia mendekatinya kemudian memeluk suaminya dengan sangat mesra.
"Maafkan aku, Call. Aku sedang tidak fokus padamu. Sekali lagi maaf," ucap suaminya membalas pelukan Callista.
Kini, Callista mulai bersikap agresif. Dia melepaskan pelukannya kemudian memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya. Dia memandangi wajah suaminya yang mendung itu dan berusaha memberikan semangat untuknya.
"Kita pasti bisa menghadapinya, sayang. Jangan khawatir ya? Akan ada solusi untuk masalah Zelene," Walaupun Callista masih dua puluh tahun, terkadang dia juga bisa bersikap lebih dewasa.
Callista benar-benar agresif. Dia menci*m bibir suaminya sampai suaminya mengikuti permainannya. Ci*man yang saling menuntut untuk memberi dan menerima. Ci*man yang menenangkan bagi Sean. Sean sangat menikmatinya. Setelah dirasa Callista cukup untuk membuat suaminya kembali ceria, dia melepaskan ci*mannya.
"Padahal aku masih ingin berlama-lama menikmatinya, sayang," protes Sean.
"No, no, no. Bisa berlanjut ke hal lainnya. Aku belum siap, Om. Aku lelah!" balas Callista dengan senyuman menggodanya.
"Kalau begitu jangan goda aku. Aku lebih suka istriku lebih agresif. Belajar dari siapa?" Sean akhirnya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Suamiku mulai kepo, deh," ledek Callista. "Oh ya, Om suami tidak berangkat ke kantor? Ini sudah sangat terlambat, loh."
"Nanti lah, Call. Aku masih pusing," Baru kali ini Sean sangat malas untuk berangkat bekerja.
"Om, Callista harus apa biar Om ceria kembali?" Callista sudah melakukan semuanya, tapi tidak ada yang berhasil.
"Sebenarnya pagi ini lebih enak melakukan sesi bercinta, sayang. Tapi mood suamimu sedang tidak bagus," Kali ini Sean berganti memeluk istrinya. Dia sedang berusaha mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan semua masalahnya.
"Ish, kalau moodnya lagi bagus. Aku yang kewalahan," canda Callista.
Sean memeluk Callista sampai entah berapa lama. Tiba-tiba bel untuk apartemennya berbunyi. Sepertinya pagi ini dia kedatangan tamu.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu?" tanya Sean pada istrinya.
"Mungkin sohibku, Om. Sebaiknya Om mandi dulu. Setelah itu Om ke ruang tamu untuk menemuinya," pinta Callista. Dia melepaskan pelukan suaminya.
Callista meninggalkan suaminya untuk membuka pintu apartemen.
Ceklek!
"Hai, cantik... Untung saja gue belum berangkat," ucap Kayana, sahabatnya.
"Tar lah, Call. Gue baru nyampe juga. Eh, suami duda lo masih ada di apartemen?" Kayana memang penasaran dengan suami sahabatnya itu. Dia memang belum pernah bertemu.
"Ada. Sedang mandi. Memangnya kenapa?" tanya Callista.
"Elo tau gak, Call. Kalau duda itu selalu meresahkan. Jadi, gue pikir duda lo itu tipe yang seperti itu," canda Kayana.
"Eh, maksud lo meresahkan gimana, sih?"
"Iya, meresahkan seluruh hati wanita sejagad... Lo tau kan, duda selalu mempesona. Siapapun bakal kecantol doi kalau gantengnya kebangetan apalagi asa plus-plusnya...," candaan Kayana membuat Callista memikirkan sesuatu.
Lo benar, Kay. Duda gue emang meresahkan. Buktinya mantan istri doi getol ngejar-ngejar pengin rujuk.
Sean yang sudah selesai dengan aktivitasnya, dia langsung ke ruang tamu menemui sahabat istrinya.
Kayana yang melihat kedatangan pria matang, tinggi, dengan postur tubuh bak artis, dan dengan jambangnya membuatnya belingsatan. Baru kali ini doi melihat pria se-perfect suami sohibnya.
Ini keren... Bukan ganteng lagi, tapi ganteng banget. Bener-bener meresahkan!
__ADS_1
"Halo, perkenalkan suami Callista, Sean," ucapnya pada Kayana.
Kayana masih melongo memandangi wajah suami sahabatnya. Callista menyenggol sahabatnya karena suaminya mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan.
"Kayana, Om," jawab Kayana.
"Kay, gue minta lo kesini karena ada perlu," Callista membuat Kayana tersadar. Setelah berjabat tangan, Kayana sudah bisa menguasai dirinya.
"Eh, iya Call. Maaf ya, Om. Kalau ketemu yang bening suka khilaf lahir batin," canda Kayana.
Semuanya duduk di ruang tamu. Callista memulai pembicaraannya.
"Jadi begini, Kay. Gue ada problem mengenai adik ipar yang bakal melangsungkan pertunangan secara mendadak dengan orang yang nggak dicintainya. Menurut lo, gue harus ngapain buat nolongin adik ipar?" tanya Callista seperti mengadakan sesi curhat dengan pihak yang berpengalaman.
Astaga! Lama-lama gue buka biro curhat beneran, nih.
"Apa nggak sebaiknya langsung dinikahkan dengan kekasihnya saja. Ya, walaupun hasil akhirnya akan sangat rumit. Setidaknya adik ipar lo sudah bersama dengan orang yang dicintainya," usul Kayana.
Sahabat Callista ini lumayan juga bisa memberikan masukan untuk masalah Zelene. Istriku memang luar biasa. Disaat dia tidak mampu menopang masalahnya sendirian, dia meminta tolong orang kepercayaannya. Seperti yang dulu pernah kulakukan bersama Vigor. Ah, iya. Secepatnya aku harus mengurus surat pernikahan mereka. Besok biar aku yang menjemputnya ke rumah utama.
"Sayang, lanjutkan obrolannya. Aku pergi ke kantor dulu. Ada yang ingin aku selesaikan secepatnya," Sean sudah bisa kembali tersenyum. Secercah harapan baru didapatkan pagi ini. Ternyata dia dan istrinya sama-sama berada dilingkungan orang baik.
"Iya, Om. Hati-hati," Callista mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu apartemen. Kemudian dia kembali menemui sahabatnya.
"Kay, makasih ya. Lo emang sohib gue paling best banget," Callista memeluk haru sahabatnya.
"Itulah gunanya sahabat, Call. Ngomong-ngomong, suami lo cakep bener. Mantan brengs*k lo mah lewat," canda Kayana.
"Ish, apaan sih Kay. Ngingetin masa lalu gue?" balas Callista.
Kayana adalah sahabat terbaik yang dimiliki Callista. Sahabat yang tidak saling menjatuhkan tetapi saling mendukung. Secercah harapan untuk masalah adik iparnya telah membuat suaminya kembali ceria seperti sebelumnya.
๐๐๐๐
Hai hai hai, akak readers semuanya... semoga selalu bersabar menantikan kelanjutan kisah mereka yang semakin rumit dan ambyar ini...
Semoga di dunia nyata juga nemuin sahabat model Kayana, ya? Aamiin
Jangan lupa like, komentar, dan votenya. Agar Emak author semakin bersemangat... Setangkai bunga dan secangkir kopi pun boleh dikirim ke mak author... Kamsia...
__ADS_1
Love u all... ๐๐๐