
Dizon dan Olivia berada di ruang tamu. Mamanya menatap aneh pada anak sulungnya itu. Dia masih tidak percaya pada penjelasan yang diberikan putranya mengenai kejadian yang sebenarnya. Apalagi Dizon sudah bermalam dengan wanita itu.
"Mama masih tidak percaya. Kau berani membawa wanita ke rumah dan harus bertanggung jawab," ucap Mama Carlotta.
Felix, Sean, dan yang lainnya. Jangan tanya mereka kemana dan ada di mana. Mereka masih stand by di rumah keluarga Damarion. Mereka tidak muncul ketika tersangka perjodohan satu miliar itu telah kembali. Memang sengaja mereka lakukan supaya Dizon hanya berperang melawan Mamanya.
"Benar tante apa yang dikatakannya," ucap Olivia. Walaupun sebenarnya dia masih kesal dengan Dizon, tetapi dia tidak tega melihat pria itu disudutkan oleh Mamanya.
"Maaf, Nak. Namamu siapa?"
"Olivia, tante. Kami berdua memang tidak sengaja berada di tempat yang sama. Putra tante yang telah menolong saya," Olivia berusaha membuat pria itu terbebas dari tuduhan Mamanya.
"Ini tetap tidak dibenarkan. Kalian berdua berada di malam yang sama dan hanya berduaan saja? Apa kalian pikir orang lain tidak akan berpikiran sama dengan Mama," ucapnya pada Dizon.
"Ma, aku tidak ngapa-ngapain dengan Olivia. Kami hanya terjebak di waktu dan tempat yang bersamaan," Dizon berusaha membela diri.
"Tunggu! Mama akan meminta pendapat Felix. Jangan berani-berani kabur atau melangkahkan kaki keluar dari rumah ini!" ancam Mamanya.
Mama Carlotta memanggil Felix ke kamarnya. Dia sebenarnya sudah tau tentang rencana putra bungsunya itu. Mama Carlotta sebenarnya tidak ingin memaksa putranya. Namun, ada hal yang harus dilakukan pada pria itu agar mau berubah menjadi yang lebih baik.
Tok tok tok.
"Felix, buka pintunya, sayang," panggil Mama Carlotta.
Ceklek!
"Ada apa, Ma?"
"Keluarlah sebentar. Bantu Mama untuk meyakinkan Dizon," pintanya.
Felix dan Mama Carlotta kembali ke ruang tamu. Dizon dan Olivia tertunduk di sana. Felix hanya menanggapi dengan senyum kemenangannya.
"Kak, siapa wanita itu? Apa dia kekasihmu?" tanya Felix.
Dizon merasa kesal dengan pertanyaan adiknya yang sama sekali tidak berbobot itu. Bahkan, pertanyaan itu membuat dirinya terpojok untuk menjawabnya.
"Namanya dokter Olivia, Felix. Kami tidak sengaja bertemu dan kami sama-sama diculik," ucap Dizon.
"Bukankah tujuan kakak hendak ke Negara A? Kenapa tidak sengaja kalian bisa pulang bersamaan?" Felix memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
"Maaf, ini hanya kesalah pahaman. Ucapan Tuan Dizon memang benar," Olivia sedang berusaha menetralkan masalah yang sangat rumit itu.
__ADS_1
Ribut dengan Mama akan membuat moodku hancur. Sebaiknya aku terima saja. Batin Dizon.
"Baiklah, Ma. Aku akan bertanggung jawab pada wanita ini. Tentukan kapan tanggal pernikahannya," ucap Dizon membuat semua mata tertuju padanya, termasuk dokter Olivia.
"Itu keputusan Anda, Tuan?" tanya Olivia tidak percaya.
"Bukankah kau sudah mengatakan jika aku bisa menikahimu?" protes Dizon pada dokter Olivia.
Skak mat! Olivia pikir akan dengan mudah mengelabui pria itu, kenyataannya sekarang dia telah terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Dengarkan Mama baik-baik. Bicarakan berdua dan jika sudah mendapatkan keputusannya, panggil Mama," ucap Mama Carlotta.
Wanita paruh baya itu mengajak Felix untuk meninggalkan ruang tamu. Membiarkan mereka berdua dalam masalahnya.
"Apa kau yakin akan menikah denganku?" tantang Olivia.
"Tidak ada pilihan lain. Bukankah kau sendiri yang memintanya?" Dizon mengingatkan perkataan Olivia pada malam itu.
Aku memang mengatakannya. Aku tidak mau tidur dengan pria tanpa ikatan apapun.
"Iya, itu hanya sekedar ucapan saja, Tuan. Aku tidak ingin menikah denganmu."
"Kau berhutang padaku tentang tiga hal. Pertama, kau telah membuat bajuku basah di pesta itu. Kedua, kau mempermalukanku gara-gara buket bunga. Ketiga, aku menyelamatkanmu dari sarang penculik itu. See! Siapa yang punya banyak hutang?" ucap Dizon.
"Menikah denganku!" ucap Dizon membuat dia akhirnya terjebak dalam ucapannya sendiri.
"Jika aku tidak mau?" tawar Olivia.
"Aku akan tetap meminta untuk tidur denganmu sebagai bayaran atas semua hutangmu padaku!"
Dasar pria gila! Tidak bermoral! Bisa-bisanya dia memutar ucapanku malam itu. Aku terjebak dalam permainanku sendiri. Tak ada pilihan lain. Dia pasti akan terus mengejarku.
"Baiklah! Aku akan menikah denganmu. Tetapi aku minta syarat," dokter Olivia tidak akan menyerah begitu saja melawan pria di hadapannya.
"Apa syaratnya?"
"Kita akan tidur di kamar yang terpisah!" ucapnya.
"Kau gila! Mana mungkin aku menikah dengan wanita seperti itu? Kau pikir aku pindah kost atau apa? Menikah dan tidur denganku! Jika tidak mau, aku bisa saja melaporkanmu atas tuduhan pembohongan publik. Aku akan mengatakan pada mereka, jika kau memaksaku untuk berada ditempat yang sama denganmu!" protes Dizon.
Dizon pria normal. Tidak mungkin dia akan menikah tanpa menyentuh istrinya. Mengenai kenapa dia pernah berobat ke rumah sakit, itu karena Dizon terkadang tidak bisa menahan emosinya yang sering memuncak. Bahkan, jika bertemu dengan Sean. Pria itu terlihat sangat labil di hadapan mantan duda itu.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit berdiskusi, akhirnya Olivia mengaku kalah. Dia tidak bisa melawan pria di hadapannya itu.
Aku bisa gila! Kenapa aku bisa terjebak dengan pria sepertinya?
Sesuai kesepakatan, Dizon memanggil Mamanya untuk melanjutkan kembali rencananya.
"Bagaimana Dizon? Sudah kau putuskan?" tanya Mama Carlotta.
"Iya, Ma. Kami akan menikah dan untuk tanggal pernikahannya akan ditentukan oleh dokter Olivia," ucap Dizon.
Mama Carlotta sangat bahagia. Dia tidak akan memaksakan putranya sampai pria itu yang akan memutuskan dengan sendirinya.
"Baiklah, dokter Olivia... Mama tunggu kabar terbaiknya," ucap Mama Carlotta mendekati wanita itu kemudian memeluknya. "Terima kasih sudah menerima putraku dengan baik. Dia pria yang baik. Dokter tidak akan menyesal telah memilihnya."
Mama Carlotta kemudian melepaskan pelukannya.
"Panggil Olivia saja, tante," dokter Olivia merasa tidak nyaman di hadapan calon mertuanya.
"Iya, Olivia. Kapan keluarga kami akan datang melamar dan menentukan hari pernikahan? Secepatnya akan lebih baik," usul Mama Carlotta.
"Nanti kukabari, tante. Semua keluargaku ada di luar Negeri. Termasuk Mama dan Papa. Secepatnya kami akan mengabari tante," ucap Olivia.
Tante Carlotta sangat baik. Tidak seperti putranya yang aneh dan arrogan itu.
"Dizon, sebaiknya antarkan Olivia pulang ke rumahnya," pinta Mama Carlotta.
"Aku, Ma?" Dizon menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, sayang. Siapa lagi? Bukankah kamu akan menjadi calon suaminya? Harus tanggung jawab, loh," ucap Mama Carlotta.
Dizon sudah setuju untuk mengantarkan Olivia pulang dengan mobilnya. Setelah kepergian mereka, Felix, Sean dan yang lainnya berpamitan pada Mama Carlotta.
"Ma, Felix langsung pamit ke rumah baru, ya?" ucap Felix.
"Tante... Sean dan keluarga juga langsung pamit ya. Semoga Dizon bisa menerima dokter Olivia dengan baik," ucap Sean.
"Terima kasih. Kalian sudah mewarnai malam pergantian tahun baru tante dengan sangat meriah," ucap Mama Carlotta.
"Sama-sama, tante," ucap Sean dan keluarganya secara bersamaan.
Sean dan keluarganya akan kembali ke apartemen Sean. Sedangkan Felix dan istrinya akan pergi ke rumah baru mereka.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓