Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Reuni


__ADS_3

Setelah Kayana mendapatkan izin suaminya, bergegas dia pergi ke Mal Sinar Galaxy. Dia pasti sudah terlambat daripada Callista dan Zelene.


Hmm, jika bukan karena suamiku tidak membalas pesanku. Aku juga tidak akan ke kantor Damarion. Eh, malah aku terkejut dengan sekretaris baru itu. Bikin sensi saja. Batin Kayana ketika sudah berada di dalam taksi.


Kayana memesan taksi online, sehingga membuatnya lebih banyak diam tanpa harus berkata apapun pada sang sopir. Dia masih sangat cemburu pada sekretaris baru suaminya itu.


Sekitar tiga puluh menit, taksinya sudah masuk area Mal. Bergegas dia turun dan mencari keberadaan sahabatnya. Ponselnya sudah berisi beberapa pesan cinta dari sahabatnya itu.


Maaf, Call... Gue sangat terlambat!


Kayana bergegas masuk. Dia membaca sekilas pesan Callista. Sahabatnya itu sekarang berada di food court favoritnya. Di mana lagi kalau bukan Mie dan Bakso.


"Hai..., maaf aku sangat terlambat," ucap Kayana yang langsung bergabung dengan mereka berdua.


"Kita baru saja duduk," balas Zelene dengan senyum manisnya itu.


"Mau pesan dulu atau keliling dulu?" Callista menawarkan. Mereka memang baru saja sampai dan belum berkeliling. Callista keburu lapar.


"Makan dulu, Call. Aku lapar dan sedang kesal," umpatnya.


"Baiklah. Kita pesan dulu, baru ngobrol!" usul Callista.


Setelah pelayan datang dan mereka memesan beberapa makanan, barulah mereka melanjutkan obrolan sembari menunggu makanan datang.


"Tumben terlambat, Kay?" tanya Callista. Sahabatnya itu tipikal perempuan yang on time.


"Aku mampir ke kantor suamiku. Dia belum membalas pesanku, makanya aku jalan memutar ke sana," ucapnya. Kayana tidak ingin kesalah pahaman antara suaminya diketahui Callista.


"Oh, oke... Tak jadi masalah," jawab Callista.


"Kakak ipar, setelah makan kita belanja ya? Aku banyak keperluan dapur yang sudah habis," ucap Zelene.


"Iya, Ze... Kayana juga akan belanja bersama kita. Iya kan, Kay?"


Kayana mengangguk tanda setuju. Dia masih memikirkan suaminya yang sempat beradegan romantis dengan sekretaris barunya itu. Sesuatu yang buruk merasuki pikirannya.


Masak iya suamiku suka sama wanita seperti itu? Ih, bikin cemburu aja, sih.


"Kay, kok malah melamun. Bukannya menjawab pertanyaanku, malah asyik dengan duniamu sendiri. Hemmm," Callista mengeluhkan tingkah sahabatnya yang semakin aneh.


"Apa kalian pernah cemburu?" tanya Kayana.

__ADS_1


Callista dan Zelene sontak langsung memandang satu sama lain. Pertanyaan yang aneh untuk Zelene, tetapi tidak untuk Callista. Sahabatnya itu pasti sedang cemburu pada suaminya.


"Kamu sedang cemburu pada Felix? Memangnya apa yang kamu cemburui darinya? Pria itu sangat baik. Terlihat sangat jelas dari wajahnya," ucap Callista.


Apa kuceritakan saja mengenai sekretaris seksi itu, ya? Setidaknya aku punya jalan keluarnya untuk menghadapi suamiku.


"Iya, aku cemburu pada suamiku," ucap Kayana membuat kedua wanita dihadapannya itu menertawakan dirinya.


Untung saja makanan yang mereka pesan datang, jika tidak maka nasib Kayana persis seperti tontonan film komedi yang akan ditertawakan terus-menerus.


"Makan dulu, yah? Aku sudah sangat lapar...," ucap Callista yang mulai menyendok bakso mercon favoritnya.


Callista berani memesan makanan favoritnya itu karena tidak ada Sean. Suaminya itu sangat protektif sekali pada dirinya. Bisa-bisa dia hanya memakan bakso polos tanpa saos, sambal, dan kecap.


"Kak, kau dan kak Sean sangat berbeda. Tapi kalian selalu bisa bersikap romantis... Tidak seperti suamiku," ucap Zelene.


Zelene dan Vigor memang terpaut usia hanya dua tahun saja. Bisa dibilang hampir seumuran.


"Ck, kakakmu itu over romantis! Puber kedua," ledek Callista.


"Ah, iya... Kak Sean selalu begitu. Sifat romantisnya kadang bikin greget. Sebenarnya dia bukan pria yang romantis, sih. Entah belajar dari siapa," ucap Zelene.


"Hua... Bagaimana denganku?" tanya Kayana dengan mata berkaca-kaca.


"Ceritakan! Memangnya kamu dan Felix sedang bertengkar?" Callista tau, itu bukan sifat Kayana yang tiba-tiba ngajak ribut nggak jelas.


"Aku tidak bertengkar, tetapi aku cemburu...," ucapnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Callista baru kali ini melihat sahabatnya secemburu itu. Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan Felix.


"Aku memergoki Felix sedang beradegan mesra dengan sekretarisnya," ucapnya lemah tak berdaya.


Zelene dan Callista menatap tajam Kayana. Mereka memastikan jika Kayana sedang tidak bercanda atau melakukan prank pada mereka seperti adegan di Youtube itu.


"Kamu serius, Kay? Ini pasti bercanda. Aku yakin suamimu bukan pria seperti itu," Zelene membela Felix. Walaupun dia hanya bertemu beberapa kali, tetapi untuk melakukan selingkuh atau affair itu sangat tidak mungkin. Berbeda dengan Dizon, seribu persen Zelene tidak percaya dengan pria itu.


Kayana mengangguk.


"Itu tidak mungkin! Pasti ada bagian yang tidak kamu ceritakan secara utuh," protes Callista.


Kayana akhirnya menceritakan kronologis yang sebenarnya ketika berada di ruangan suaminya. Felix juga sudah menjelaskan semuanya tanpa ditutupi dan tidak ada rasa bersalah sedikitpun di wajah pria itu.

__ADS_1


"Ck, cemburumu mulai akut! Kamu pasti sudah mencintai Felix. Lagipula itu bisa saja tidak sengaja beradegan mesra seperti itu. Sudahlah, kalau kalian ribut.... Hemmm, aku gatau bakalan seperti apa," ucap Callista.


"Iya, kakak ipar benar! Ada baiknya kamu minta maaf. Felix benar... Dia sudah berkata jujur padamu. Lalu untuk apa kamu masih cemburu padanya?" imbuh Zelene.


"Lalu aku harus apa?" Kayana menyerah. Mungkin ucapan mereka berdua ada benarnya.


"Rayu suamimu!" ucap Callista dan Zelene bersamaan.


"Ck, kalian berdua kompak sekali," cibir Kayana.


Callista dan Zelene menertawakan Kayana. Keduanya juga tidak menyadari jika sering terlihat kompak dalam situasi apapun.


"Sudah... Jangan cemburu lagi! Tidak baik untuk kesehatan pikiran dan hatimu," ucap Callista.


Mereka menghabiskan minumannya kemudian membayar pesanan. Barulah mereka keluar menuju supermarket dengan perasaan riang gembira.


Kayana juga sedang menimbang usul dari sahabatnya itu. Berseteru dengan suaminya membuat dirinya tidak nyaman.


Acara mereka berlanjut ke supermarket. Niatnya untuk berbelanja membuat Kayana kepikiran suaminya lagi.


"Call, Ze... Aku langsung pamit, yah? Aku masih kepikiran ucapan kalian berdua," perasaan Kayana benar-benar tidak nyaman.


"Belanja saja dulu, setelah itu lalu pulang. Kalau kamu masih kepikiran dan tidak ada hiburan, akan semakin suntuk, Kay!" usul Callista.


"Tapi terserah Kayana, Kak. Mungkin dia benar-benar kepikiran suaminya. Bagaimana, Kay? Kamu mau pulang atau ke kantor lagi?" pertanyaan Zelene membuat Kayana pusing lagi.


Kalau dia pergi ke kantor dan bertemu sekretaris itu lagi, perasaan cemburunya semakin menjadi.


Sebaiknya aku belanja dulu saja kemudian baru pulang ke rumah dan menyelesaikan kesalah pahaman ini. Walaupun Felix sudah mengatakan semuanya, tapi rasa cemburuku mengalahkan segalanya.


🍇🍇🍇🍇🍇TBC🍇🍇🍇🍇🍇🍇



Callista



Zelene Armstrong


__ADS_1


Kayana


__ADS_2