Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Dizon Khawatir


__ADS_3

Pria kulkas itu tidak menyadari jika pembicaraannya dengan Samuel didengar istrinya. Olivia berniat masuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Dia biasanya tidak seceroboh hari ini. Mungkin karena lelah setelah semalaman dihajar oleh suaminya.


Ck, dasar pria arrogan. Menginginkan jatah saja harus seperti itu. Kita lihat saja, siapa yang paling bucin di sini?


Olivia tidak jadi masuk ke kamar. Dia mengabaikan ponselnya dan sengaja memikirkan cara balas dendam yang elegan. Dia juga tidak khawatir karena ponsel yang ketinggalan hanya berisi nomor telepon keluarganya dan nomor telepon suaminya.


Olivia bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Hari ini, ada pemandangan dan berita yang tidak diduga olehnya.


"Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Dizon? Kamu terlalu kaku untuk mengakui jika sudah tertarik padaku," ucapnya.


Sementara di rumah keluarga Damarion, Dizon bergegas untuk berangkat ke kantor.


"Dizon, baru berangkat ke kantor sekarang?" tanya mamanya.


"Iya, ma. Memangnya kenapa?" tanya Dizon.


"Sebaiknya kamu minta Felix untuk pulang. Kalian bisa bergantian mengurus perusahaan," pinta mamanya.


"Felix pasti menolaknya," balas Dizon.


"Katakan padanya. Mama yang memintanya untuk pulang. Mama bisa saja memintanya pulang sekarang, tetapi dulu kamu yang memberikannya saran. Sekarang pun kalau Felix kembali, tak ada masalah, 'kan?"


Benar ucapan mamanya. Urusan Dizon juga tidak melulu tentang perusahaan. Ada istrinya yang sedang diperjuangkan. Jika Felix berada di kantor, pekerjaannya akan lebih ringan.


"Akan kucoba, Ma." Dizon bergegas berangkat ke kantor. Wajahnya terlihat bahagia walaupun semalam dia menjadi seperti itu.


Sepanjang perjalanan, Dizon merasa ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya.


"Lekas hamil, Oliv. Aku akan menjagamu dan buah hati kita," ucapnya sembari mengendarai mobil. Dia memang tidak ingin menunjukkan jika perlahan mulai mencintai Olivia. Dia terlalu kaku harus mengakui perasaan cintanya itu.


Selain memikirkan istrinya, dia juga memikirkan Felix dan memintanya untuk kembali. Tanpa pria itu, perusahaan sebenarnya sudah berjalan lancar. Tetapi permintaan mamanya tidak bisa diabaikan.


Sesampainya di kantor, bergegas Dizon menghubungi Felix, adiknya.


"Halo, Kak," sapa Felix.


"Apa kabar?" Dizon sudah lama tidak pernah menelepon adiknya.

__ADS_1


"Kami baik, Kak. Tumben kakak telepon. Ada apa?"


"Mama memintamu untuk kembali. Semuanya sudah aman, jadi kembalilah," pinta Dizon.


"Akan kupikirkan lagi, Kak," balas Felix.


"Demi mama, kebalilah!" perintah Dizon.


"Akan kuusahakan," jawab Felix.


Setelah mendapatkan jawaban Felix, Dizon segera mengakhiri sambungan teleponnya. Hari ini dia ingin pulang lebih awal untuk memberikan kejutan romantis pada istrinya.


"Aku secepatnya harus pulang. Semoga Olivia bisa menerima kenyataan jika aku telah mencintainya," ucap Dizon.


Dizon sungguh keterlaluan, bilangnya anti bucin dan sekarang telah menyerah akan mengatakan jika dirinya mencintai Olivia.


Sepertinya, hari ini sang waktu sangat mendukungnya. Beberapa urusan dengan relasi bisnis berjalan dengan cepat. Beberapa proyek besar sudah berada dalam genggamannya. Memang benar orang bilang, lakukan dengan cinta maka semuanya akan berjalan dengan mulus. Walaupun terkadang sedikit ada kendala, tetapi yang namanya perasaan cinta pasti akan diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.


Hari telah menunjukkan waktu yang membuat Dizon harus secepatnya pulang dan membeli beberapa keperluan untuk istrinya.


Sangat luar biasa, dua buket bunga kini berada dalam genggamannya. Satu untuk mamanya tercinta dan satunya untuk menyatakan cinta pada istrinya. Walaupun bukan pria romantis, dia akan berusaha memberikan yang terbaik.


Sampai di rumah keluarga Damarion terlihat sangat sepi. Tidak biasanya menjadi sesepi ini.


Kemana mama dan papa?


Pelayan yang lewat memberitahukan jika Nyonya dan Tuan rumah mendadak pergi ke luar negeri. Ada urusan keluarga yang harus mereka selesaikan.


Dizon langsung ke kamarnya. Dia meletakkan buket bunga di meja rias istrinya dan untuk yang satunya diletakkan di ruang tengah karena itu untuk mamanya. Setelah itu, dia bergegas ke bathroom untuk menyegarkan pikirannya dan menyiapkan diri untuk bertemu istrinya.


Lama Dizon berada di sini. Dia baru saja keluar dari bath up dan mengeringkan tubuhnya. Namun, Dizon belum tau jika sampai saat ini Olivia belum pulang. Entah, kemana perginya wanita itu?


Dizon bergegas kembali ke kamarnya. Dia melihat jam dinding.


"Oh ya ampun, seharusnya wanita itu sudah berada di rumah. Kemana dia? Apa ada rapat penting di rumah sakit?" Dizon bergegas mengambil ponselnya dan memulai menelepon istrinya.


Dizon mendengar bunyi ponsel yang tertinggal di kamarnya.

__ADS_1


"Suara ponsel siapa yang ada dikamarku?"


Ketika Olivia tidak mengangkat telepon, Dizon mengulang panggilannya. Suara dering ponsel itu berbunyi lagi.


"Oh, ya ampun. Ini ponsel wanita itu. Kenapa dia sangat ceroboh sekali meninggalkan ponselnya?" gerutu Dizon.


Lama Dizon menunggu kedatangan Olivia di dalam kamarnya. Dia mondar-mandir ke sana kemari. Dia juga sedang memikirkan kata apa yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Olivia tak kunjung datang membuatnya mengantuk kemudian tertidur dengan sangat pulas.


Dizon bahkan melewatkan waktu makan malamnya. Dia terbangun dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di dalam kamarnya juga masih sepi tidak ada orang selain dirinya.


"Astaga! Ini sudah jam sepuluh malam. Kemana wanita itu?" Dizon beranjak keluar kamar. Dia menanyakan kepada beberapa pelayan yang ditemuinya. Semua mengatakan jika dokter Olivia belum pulang.


Deg!


Dizon merasakan detak jantungnya tidak beraturan. Ada sesuatu yang tiba-tiba menghilang dari dalam dirinya. Dia berubah menjadi sosok yang sangat khawatir dalam hal ini.


Dizon berusaha menghubungi rumah sakit tempat Olivia bekerja. Sayangnya pihak rumah sakit mengatakan jika dokter Olivia selalu pulang tepat waktu. Pengecualian jika ada sesuatu yang urgen.


Dizon mengusap kasar wajahnya. Niatnya untuk memberikan kejutan malah berlangsung dramatis. Dia harus mencari keberadaan istrinya. Dia takut terjadi sesuatu padanya.


"Aku harus pergi mencarinya. Jangan sampai dia kabur bersama dengan benih yang sudah kutanam dengan susah payah," ucapnya.


Sepanjang jalan, dia melihat beberapa mobil yang lewat. Siapa tau salah satu dari mobil itu adalah milik istrinya.


"Oh God. Kabur kemana kamu?" Dizon memukul kasar kemudinya. Dia tidak biasa segila ini untuk mengejar seorang wanita. Pilihan terakhir, dia harus menghubungi pihak rumah sakit untuk menanyakan alamat apartemen dokter Olivia.


Beberapa kali dicoba akhirnya telepon tersambung. Pihak rumah sakit sepertinya enggan untuk memberikan alamat dokter Olivia.


"Katakan, dimana dokter Olivia tinggal?" tanya Dizon.


"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa memberikan alamat dokter Olivia jika bukan karena sesuatu hal penting."


Dizon menepikan mobilnya. "Aku suaminya dan berhak tau dimana tempat tinggal dokter Olivia."


Pihak rumah sakit tidak akan percaya pada pria ini. Mana mungkin seorang suami tidak tau dimana tempat tinggal istrinya? Ini hal aneh menurutnya.


Belum ada jawaban dan bertepatan dengan ponsel Dizon mati karena lowbat.

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


__ADS_2