
"Pagi, honey... Apakah hari ini terasa menyenangkan?" tanya Zelene.
"Tidak, honey! Aku masih memikirkan rencana untuk membuat mereka berdua datang ke Villa keluarga Armstrong. Parahnya, aku belum menemukan ide apapun!" Vigor nampak memijit pelipisnya.
Zelene mendekati suaminya. Dia meraih wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Kau pasti bisa, honey!" Zelene melepaskan tangannya kemudian kembali lagi ke ranjang untuk membereskan bed covernya yang berantakan.
"Kupikir akan mendapatkan ci*man selamat pagi darimu, honey! Ternyata tidak," raut wajah Vigor terlihat sedikit kecewa.
"Big no, hon! Belum sikat gigi...," protes Zelene.
Vigor memang baru saja bangun, sementara Zelene sudah sejak pagi menyiapkan sarapan kemudian membersihkan diri.
Hemmm, bau jigong katanya.
Vigor beranjak ke bathroom untuk membersihkan diri. Sementara Zelene sudah menunggunya di meja makan. Wanita dua puluh delapan tahun itu terlihat sangat bahagia hidup bersama dengan orang yang dicintainya.
Lima belas menit menunggu, Vigor akhirnya muncul juga dengan pakaian jas rapi dan berdasi.
"Lama sekali, honey!" protes Zelene.
"Standar waktu tercepat untuk mandi dan bersiap itu maksimal lima belas menit kurang sedikit, honey," Vigor menjelaskan.
Versi Zelene, menunggu di meja makan dengan waktu tersebut memang sangat lama. Sedangkan untuk seorang Vigor terlalu cepat untuk mandi dan mempersiapkan diri.
"Baiklah, lekas sarapan! Aku tidak ingin kau datang terlambat ke kantor kakakku. Aku bisa sangat malu dikira istri yang nggak becus merawat suami," ucapnya.
Vigor terkekeh. Tidak sia-sia perjuangannya untuk mendapatkan gadis itu yang dicintainya sejak lama.
Vigor secepatnya menghabiskan sarapan pagi, kemudian pamit pada istrinya.
"Honey... Aku berangkat dulu. Kalau kau perlu kemana-mana, jangan lupa kabari aku," pamitnya.
"Oke, honey! Hati-hati di jalan. I miss you...."
"I miss you too," Vigor mengecup pipi istrinya.
"Hemm, kurang romantis," Zelene menunjuk bibirnya.
"Aku bisa terlambat, honey," jawab Vigor.
"Ya, baiklah...."
Vigor secepatnya mengendarai mobilnya untuk sampai lebih dulu dikantor daripada bosnya, Sean.
Hari ini dia sangat beruntung, karena datang lebih pagi daripada Bosnya. Vigor tak menunggu lama, secepatnya pagi ini akan menyerahkan daftar bonus karyawan ke bagian keuangan supaya lekas ditransfer. Semua data yang diberikan sudah melalui pengecekan dan persetujuan atasannya, Sean.
Hanya bonus kecil yang tidak akan mengurangi harta kekayaan bosnya yang tidak akan habis selama empat puluh turunan.
__ADS_1
Vigor sudah membayangkan bisa duduk santai dan menyiapkan beberapa berkas untuk proyek awal tahun dan mengecek beberapa poin penting yang harus dikerjakan.
Bayangannya hanya sebuah mimpi di siang bolong yang tidak ada artinya apapun. Baru sekitar lima menit bersandar pada kursinya, panggilan interkom berbunyi.
"Datanglah ke ruanganku, sekarang!"
Siapa lagi kalau bukan suara bos sekaligus kakak iparnya itu.
Ada apa lagi?
Vigor bergegas masuk ke ruangan bosnya.
Tok tok tok.
"Masuk!" teriak Sean.
Pria empat puluh tahun lebih itu sedang menatap jauh ke luar jendela gedung teratasnya. Vigor sudah duduk tepat di depan meja bosnya.
"Ada apa, Bos?"
"Pesanku pada Zelene apa sudah sampai kepadamu?" Sean kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Sudah. Tetapi aku belum memikirkan ide apapun," ucapan Vigor membuat Sean sedikit kecewa.
"Kau yakin sedang buntu ide?" tanya Sean.
Vigor hanya mengangguk saja.
"Maaf, Bos. Bukannya tidak ada ide, mengingat calon yang akan dilakukan perjodohan itu tipe belut licin," ucap Vigor.
Vigor mengakui jika Dizon itu pria rumit ditambah lagi dengan cerita dokter Olivia yang didapat dari istrinya. Fix, rumit kuadrat.
"Apa kita harus membuat skenario penculikan untuk mereka berdua?" tanya Sean.
"Hah?" Vigor nampak bingung harus berbuat apa. Keduanya sudah sama-sama dewasa dan harus melakukan perjodohan versi ABG.
Kalau menculik Dizon dari rumahnya, itu sangat mudah. Tetapi menculik Olivia dari rumah sakit? Apa harus seperti di film-film? Menculik dengan menggunakan bunyi alarm kebakaran. Semua orang akan panik! Akan dengan mudah kita membawa Olivia keluar dari sana. Fix, ini ide yang brilian. Batin Sean.
"Jangan gila, Bos. Yang kita urus bukan anak kecil lagi. Sangat sulit mengajak mereka berdua," ucap Vigor yang melihat Sean dengan senyuman tidak jelasnya itu.
"Kamu bisa baca pikiranku?"
Vigor menggeleng. "Mana mungkin saya mampu membaca pikiran, Bos. Hanya melihat tingkah aneh saja," cibir Vigor.
Sean berdiri untuk pindah ke sofa kantornya. Dia berharap bisa menyalurkan ide gila yang ada dipikirannya.
"Vigor, kita culik dokter Olivia dari rumah sakit. Kita gunakan alarm kebakaran untuk mengelabuinya," usul Sean.
Ck, lama-lama Bosku gila! Menculik seperti itu akan membahayakan nyawa banyak orang. Kenapa tidak main cantik saja?
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Sudah punya ide?" tanya Sean.
"Tidak! Belum ada ide yang terlintas. Tetapi mendengar cara bos menculik dokter Olivia itu akan membahayakan banyak orang," protes Vigor.
Ah, iya. Kenapa tidak terpikirkan ke sana ya? Lalu harus apa? Permintaan Felix sepertinya akan sangat sulit untuk dikabulkan.
Setengah jam mereka terdiam. Sepertinya obrolan ini tidak berguna sama sekali. Vigor dan Sean tidak menemukan ide apapun.
"Baiklah, Bos. Aku harus melanjutkan pekerjaanku. Hari ini beberapa berkas harus sudah selesai," Vigor berdiri untuk kembali ke ruangannya.
"Tunggu!" Sean menghentikan langkahnya.
"Ada apalagi, Bos?"
"Pikirkan ide lain yang lebih masuk akal demi keselamatan banyak orang dan demi keberhasilan perjodohan aneh ini," ucap Sean.
"Baiklah, Bos," Vigor tidak ingin mendebatnya lagi. Dia memang belum mempunyai ide.
Sean kembali ke kursinya. Terlintas rencana untuk mengirim pesan kepada dokter Olivia, sahabatnya.
[Oliv, apa kau sibuk?] pesan dari Sean.
Lama tak ada balasan darinya. Sean meletakkan ponselnya ke atas meja. Belum lama, ponselnya malah berdering. Ada sebuah panggilan yang masuk.
Diambilnya dan lihat ternyata bukan dari Olivia.
"Halo, sayang...," sapa Sean setelah menggeser tombol warna hijau.
"Sayang, aku akan pergi ke supermarket bareng sama Zelene. Apa boleh?" Callista sedang meminta persetujuan dari suaminya.
Tumben mendadak?
"Memangnya Zelene sudah ada di apartemen, sayang?"
"Iya, dia baru sampai. Boleh ya aku pergi bersamanya?" Callista menanyakan ulang.
"Boleh aku bicara sebentar dengan Zelene?"
Callista memberikan ponsel pada adik iparnya.
"Ya, Kak. Ada apa? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Zelene.
"Bukan kakak tidak percaya padamu. Kakak titip Callista. Jangan pernah kau tinggalkan sedikitpun. Kakak iparmu sedang mengandung. Ingat itu!" tegas Sean.
"Siap, Kakak. Jangan khawatir. Seperti biasa, Mal Sinar Galaxy. Kalau kakak mau datang, aku tunggu," ucap Zelene kemudian menutup teleponnya.
Apa sebaiknya aku pergi ke sana. Tunggu pekerjaanku selesai. Sementara untuk dokter Olivia, aku belum ada ide. Lebih tepatnya ide buntu. Ada baiknya aku meminta pendapat mereka. Jika perlu, harus diadakan rencana penculikan atau apalah. Ribet sekali. Huft...
Sean menyelesaikan pekerjaannya. Dia berniat akan menyusul adik dan istrinya.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓