
Seperti biasa sebagai ibu rumah tangga, Mama Carlotta selalu menyiapkan semua sarapan untuk anggota keluarganya. Walaupun di rumahnya banyak pelayan yang membantunya, untuk urusan perut selalu menjadi urusannya.
"Mana Dizon?" tanya Mama Carlotta pada semua orang yang berada di meja makan.
"Entahlah, Ma! Sejak tadi, kakak tidak terlihat keluar dari kamarnya," jawab Felix.
"Baiklah, sayang. Lanjutkan sarapanmu! Biar nanti Mama yang akan melihatnya," ucap Mama Carlotta sembari mengoleskan selai ke rotinya.
"Bagaimana persiapan pernikahan Felix, Ma?" tanya Papa Denzel basa-basi. Padahal kemarin dia menolak tegas karena akan mendapatkan menantu yang tidak sepadan dengan keluarganya.
Tumben sekali pria kaku itu peduli. Bukankah kemarin dengan tegas dia menolaknya? Apa dia hanya mencari muka di hadapan putranya?
"Lima puluh persen selesai, Pa. Oh ya, Felix ... Apa kau bisa mengabari atau mengajak Kayana untuk fitting gaun pengantin? Saran Mama, sebaiknya kalian pergi berdua. Mama juga akan menemani kalian."
"Aku akan mengabarinya, Ma. Hotel Starlight untuk acara tanggal Dua puluh empat, bisa Ma?" tanya Felix.
"Iya, sayang. Mama sudah melakukan reservasi. Semoga berjalan lancar. Mama tidak sabar punya menantu," ucap Mamanya semringah.
"Felix juga sudah tidak sabar ingin segera mempunyai seorang istri. Biar ada yang perhatian kepada Felix. Kapan kita fitting bajunya, Ma?"
"Memang Mamamu tidak pernah perhatian padamu, Nak?" Mama Carlotta menjeda ucapannya. "Kalau bisa sore ini, sayang. Kabari kekasihmu. Mama akan menunggu kalian di Mal Sinar Galaxy," ucap Mamanya.
"Baiklah, Ma. Aku akan menjemputnya nanti. Dia juga harus bekerja pagi ini. Ma, Pa... Felix pamit berangkat ke kantor...," Felix berdiri kemudian meninggalkan meja makan.
Setelah Felix pergi, Papa Denzel dan Mama Carlotta masih berada di meja makan.
"Sepertinya kau terlihat sangat bahagia akan punya menantu?" sindir Papa Denzel.
"Setidaknya aku punya teman wanita untuk sekedar mengobrol dan berbagi perasaan bagaimana menjadi seorang istri yang baik," Mama Carlotta membalas sindiran suaminya.
Carlotta sebagai wanita tersabar yang bisa bersanding dengan Denzel. Pria kaya yang sangat arrogant dan terlalu pemilih kepada wanita. Carlotta sebagai wanita ke lima belas yang diajukan mamanya Denzel kala itu. Dari ke empat belas wanita yang diajukan, semua rata-rata mengejar Denzel untuk mendapatkan pria itu. Namun, berbeda dengan Carlotta, dia menolak tegas untuk dijodohkan dengan Denzel yang sangat keras kepala dan menyebalkan. Dari situlah Denzel berusaha keras untuk mendapatkan Carlotta sampai dia harus berpura-pura menjadi pria baik dan penyayang.
__ADS_1
Berkat kerja kerasnya, Carlotta akhirnya menerima Denzel. Seiring perjalanan waktu, Denzel mulai berubah setelah kelahiran Felix. Selama tujuh tahun pria itu hidup dalam kepura-puraannya. Setelah itu dia berubah. Sebenarnya Carlotta pernah mengajukan gugatan perceraian, tetapi mama Denzel tidak pernah mengizinkan wanita itu bercerai dengan putranya. Tidak ada wanita lain yang mampu mengerti dan memahami putranya. Mama Denzel memberikan petuah kepada Carlotta untuk selalu bersikap sabar, selalu berbahagia, dan melawan perlakuan Denzel yang kurang mengenakkan itu.
Dari kedua sifat berbeda itulah terlahir dua orang anak yang sangat berbeda dari segi karakter dan sifatnya. Dizon mengikuti Papanya sedangkan Felix mengikuti sifat Mamanya.
"Memangnya kau anggap aku apa? Tembok?" protes Papa Denzel yang tak terima karena merasa tidak dianggap oleh istrinya.
"Bukankah sejak lama kau menjadi tembok? Kenapa sekarang berpura-pura berubah menjadi batu yang sudah melunak? Kau khawatir Felix akan menjauhimu?" deretan pertanyaan Mama Carlotta dilontarkan untuk suaminya.
"Kau tau semuanya tentangku? Aku takut kehilangan Felix, karena hanya anak itu yang bisa memahamiku seperti dirimu," ucap Papa Denzel kemudian dia meninggalkan meja makan. Dia akan pergi ke perusahaan pusat untuk menemui Felix.
"Tunggu, Denzel! Selain kau takut kehilangan Felix, kau harus bisa menerima menantumu itu dengan baik. Jika tidak, jangan menyesal hidupmu akan sangat menderita. Karena setelah ini, Felix akan lebih perhatian kepada istrinya!" ucap Mama Carlotta mengingatkan.
Papa Denzel tidak menanggapi ucapan istrinya yang menurutnya tidak penting itu. Dia terus berjalan keluar ruang makan.
Kau masih saja selalu begitu, Denzel. Sudahlah biarkan dia berbuat sesuka hatinya. Aku akan menemui Dizon.
Mama Carlotta meninggalkan meja makan. Dia naik ke kamar anaknya. Sesampainya di sana, wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamarnya. Berulang kali tak ada jawaban. Dia langsung membuka pintu tersebut.
Mama Carlotta melihat keadaan Dizon yang sangat berantakan.
"Ya ampun, sayang ... Kamu mabuk lagi? Astaga ... Mama tidak suka melihat kelakuanmu yang seperti ini," ucap Mama Carlotta.
"Aku lelah, Ma ... Aku ingin menikahi Callista...," ucapnya setengah sadar.
"Callista? Siapa dia?" tanya Mama Carlotta.
"Istrinya Sean, Ma... Gadis itu sangat cantik sekali... Kenapa Sean selalu mendapatkan wanita yang cantik dan menarik... Aku tidak pernah bisa mendapatkan salah satu dari mereka...," racau Dizon.
Oh God, kesalah pahaman itu membuatmu sangat gila, Nak.
"Ayo ke rumah sakit!" ajak Mama Carlotta.
__ADS_1
"Untuk apa Ma ... Siapa yang sakit?"
"Kau yang sakit...," ucap Mama Carlotta dengan lembut.
Dizon tertawa. Menertawakan dirinya sangat keras sekali. Tawanya sampai memenuhi seisi kamarnya.
"Mama pasti bercanda, aku baik-baik saja. Lihat! Aku baik, bukan?" ucap Dizon berusaha berdiri di atas ranjangnya kemudian dia ambruk.
"Aku akan membawamu ke psikiater. Kau terlalu banyak berpikir tentang sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain," Mama Carlotta merasa gagal menjadi ibu melihat anaknya yang seperti itu.
"Ma, aku baik-baik saja. Aku tidak sakit. Aku hanya ingin menikah dengan Callista," ucapan Dizon membuat Mama Carlotta mengelus dada.
Harus ekstra sabar menghadapi pria ini. Kasihan memang. Dia tidak bisa mengontrol emosionalnya dengan baik. Aku terlambat memberikan pengobatan untuknya. Harusnya setelah dia ditinggal menikah oleh Diana, secepatnya aku mengantisipasi keadaan seperti ini. Bukan malah membiarkannya berlarut-larut dalam pikirannya yang sedang kacau.
"Aku akan menyiapkan dirimu. Kita ke rumah sakit, sekarang!" bujuk Mama Carlotta.
"Tidak, Ma... Aku tidak mau. Aku tidak sakit...," teriak Dizon.
"Beristirahatlah. Mama akan membuat janji temu dulu," Mama Carlotta meninggalkan putranya seorang diri di kamar.
Mama Carlotta mengambil ponselnya. Dia mendial nomor rumah sakit AB. Setelah berbincang cukup lama, barulah Mama Carlotta mendapatkan jadwal untuk membawa Dizon berobat.
"Besok, jam sembilan pagi," ucap Mama Carlotta.
Wanita paruh baya itu kembali ke kamar putranya. Dia melihat pria itu terlihat seperti sangat tertekan. Terlihat stres karena ambisinya tidak pernah berhasil.
Mama Carlotta mengelus wajah putranya itu yang seharusnya sudah layak menjadi seorang suami untuk pasangannya.
Berubahlah, Dizon! Mama ingin melihatmu menikah. Mempunyai keluarga yang utuh. Istri yang cantik, anak-anak yang cerdas, dan keluarga bahagia. Mama ingin setelah pernikahan Felix, kau mendapatkan wanita yang bisa menerimamu apa adanya.
😍😍😍😍TBC
__ADS_1