Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Kemarahan Sean


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama, mereka melanjutkan obrolan yang belum selesai. Kali ini tidak hanya obrolan pria, melainkan bersama istri mereka.


"Kak, kapan kita akan berangkat ke Villa?" tanya Zelene.


"Terserah kamu, Ze. Kalau aku dan kakakmu akan berangkat tepat tanggal tiga puluh satu Desember. Berangkat pagi karena aku khawatir jalanan menuju puncak akan macet," ucapnya.


"Kalau begitu, kita berangkat masing-masing dan bertemu di sana," usul Felix.


"Kamu tau dimana Villa keluargaku?" tanya Sean pada Felix.


"Kak Sean kirim alamatnya saja," jawab Felix.


"Mengenai dokter Olivia dan Dizon bagaimana, Kak? Apakah mereka akan berada di Villa bersama kita?" tanya Zelene.


Kayana dan Callista hanya menyimak obrolan mereka karena keduanya juga tidak tau harus bicara apa.


"Tidak! Suamimu yang akan membereskan mereka berdua," ucap Sean.


"Maksud kakak? Suamiku yang akan menculik dua manusia teribet sepanjang abad ini," protes Zelene.


"Tidak, honey! Mana mungkin aku mampu melakukannya. Aku meminta orang lain yang akan bekerja. Kita tinggal menikmati malam pergantian tahun dengan tenang dan santai," ucap Vigor.


Ooo, syukurlah! Aku sangat malas sekali jika harus bertemu Dizon. Pria itu akan sangat menyebalkan. Batin Zelene.


"Baiklah, Kak Sean, Vigor. Kami langsung pamit. Lagipula ini sudah sangat malam sekali," ucap Felix.


"Ze, Call, kami pergi dulu ya," pamit Kayana.


"Baiklah, hati-hati di jalan," ucap Zelene mengantarkan kepergian mereka sampai di depan pintu unit apartemennya.


Setelah sepasang suami istri itu pergi, kini tinggal mereka berempat. Sean sebenarnya ingin lekas pulang ke apartemen, mengingat jaraknya yang lumayan jauh dan akan sangat lelah, dia memutuskan akan menginap di hotel saja.


"Ze, Vigor. Aku dan Callista langsung balik," pamit Sean.


"Kakak tidak menginap di sini saja?" usul Zelene.


"Tidak, Ze. Akan sangat mengganggu privasi kalian," tolak Sean.


"Lalu, kakak akan langsung pulang ke apartemen? Kasian kakak ipar, pasti akan sangat melelahkan," ucap Zelene mengingat kakaknya iparnya sedang hamil.


"Aku akan mampir ke suatu tempat," jawab Sean.


"Baiklah, terserah kakak. Kakak ipar, jaga kesehatan, yah?"


"Iya, Ze. Terima kasih untuk makan malamnya. Kita langsung pamit...."


Sean sudah berencana akan membawa istrinya ke hotel Starlight. Pria itu sangat merindukan pertemuan pertamanya dengan sang istri.

__ADS_1


"Kita akan pergi kemana, sayang?" tanya Callista ketika sudah berada di dalam mobil.


"Hotel Starlight, sayang. Aku merindukan moment pertemuan pertama kita," ucapnya.


"Tapi, aku tidak membawa apapun," ucap Callista.


"Jangan khawatir. Aku akan meminta orang untuk mengirim baju untuk kita. Itu yang kamu khawatirkan, kan?"


Callista mengangguk.


"Jangan khawatir, suamimu ini bisa melakukan apapun. Oke?"


Sean fokus melajukan kendaraannya menuju hotel Starlight. Sesampainya di sana, dia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Ini sudah sangat malam sekali. Aku sangat lelah! Batin Sean.


Sean segera melakukan cek in untuk semalam. Sementara Callista duduk agak jauh dari jangkauan suaminya. Ketika Sean fokus dengan urusannya dengan petugas hotel, seseorang menghampiri Callista.


"Jodoh memang tidak kemana, Nona," ucap orang itu.


Astaga! Pria ini lagi?


Callista tidak merespon ucapannya.


"Katanya bersuami, tetapi di hotel sendirian. Apa itu namanya wanita baik-baik?" sindir pria itu.


Callista sangat kesal mendengar ucapan pria itu. Dia berniat untuk berdiri dan mendekati suaminya. Tetapi, ketika hendak menghindari pria itu malah tangannya ditarik secara paksa.


"Lepaskan, Tuan! Anda salah jika harus berurusan dengan saya," ucap Callista dengan kemarahannya.


"Siapa namamu? Aku hanya perlu itu untuk pertemuan selanjutnya," ucap pria itu.


"Tak perlu tau siapa saya! Lepaskan!" Callista meronta.


Wanita yang manis dan sangat menarik!


"Tolong, lepaskan!" ucap Callista.


Pria itu malah mengeratkan pegangan tangannya. Callista merasa sangat kesakitan.


"Aku hanya ingin tau namamu. Itu saja sudah cukup!" ucap pria itu memaksa.


Sean yang melihat istrinya diperlakukan tidak hormat seperti itu membuatnya murka. Setelah menyelesaikan cek in, dia melihat pria lain sudah membuat istrinya kesakitan. Sean langsung mendekati pria itu kemudian menghajarnya. Tangan Callista yang semula dipegang pria itu kemudian terlepas bersamaan pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Sean.


Terjadilah baku hantam antara kedua pria itu. Untung saja hotel terlihat sangat sepi, sehingga tidak ada kegaduhan yang mereka timbulkan. Callista tidak mampu melerai keduanya yang sudah sama-sama emosi. Dia meminta tolong Satpam hotel untuk melerainya. Dia takut terjadi apa-apa dengan suaminya.


Satpam hotel berusaha untuk melerai keduanya. Sekitar lima menit, mereka baru bisa dipisahkan. Callista mendekati suaminya kemudian memeluk pria itu agar emosinya mereda.

__ADS_1


Sementara pria asing itu sangat kesal melihat keromantisan orang di depannya itu.


Dasar pria brengs*k! Beraninya menghajarku secara tiba-tiba! Batin Juvenal.


Ya, pria asing itu adalah Burchard Juvenal Halbur. Pria yang bertemu Callista di supermarket dan membayarkan semua barang belanjaannya.


"Tolong, Tuan. Jangan membuat kegaduhan!" ucap Satpam hotel.


"Dia yang memulai menyentuh istri saya," tunjuk Sean pada pria itu.


Selama lebih dari beberapa tahun meninggalkan negara ini, Juvenal lupa jika pria di hadapannya adalah dari keluarga Armstrong. Jika dia tau, tidak akan mungkin dia berani bermain-main dengan pria di hadapannya itu.


"Saya hanya bertanya baik-baik pada wanita itu. Tetapi dia menolaknya," ucap Juvenal.


"Apapun alasan kalian berdua, itu tidak dibenarkan. Silakan kembali ke kamar kalian," perintah Satpam.


"Kau akan menyesal telah berhadapan denganku," ucap Sean.


Callista masih memeluk suaminya. Jika tidak, dia takut pria itu akan semakin kalap melihat cemburunya yang tidak biasa.


"Kau pikir, aku takut padamu, Tuan!" ucap Juvenal.


Pria ini cari mati! Beraninya menyentuh istri Sean Armstrong!


Keributan tidak akan selesai jika tidak datang seorang wanita yang sangat seksi mendekati pria asing yang sudah babak belur itu. Sean mengenalnya.


"Kau?" ucap Sean pada wanita itu. Wanita yang pernah masuk ke kantornya dan berniat menggoda dirinya.


Kenapa ada Sean di sini? Astaga!


"Om, baik-baik saja?" tanya Magenta pada pria asing itu.


"Aku tidak apa-apa, Maggy. Bawa aku ke kamar," ajak Juvenal.


Sean masih pada posisinya dipeluk istrinya dengan sangat lembut. Sedikit meredakan amarahnya.


Sementara lawan duelnya sudah meninggalkan tempat kejadian. Wanita itu membawanya kembali ke kamarnya.


"Siapa pria itu, sayang?" tanya Sean melepaskan pelukan istrinya. "Sepertinya dia sangat terobsesi denganmu."


"Dia pria asing yang kutemui di supermarket."


"Baguslah! Aku akan menitipkan uang yang diberikan kepadamu melalui petugas hotel," ucap Sean beranjak dari tempatnya berdiri. Dia bermaksud mencari ATM terdekat untuk mengambil sejumlah uang yang akan dititipkan.


"Tunggu, sayang! Sebaiknya kita beristirahat dulu. Lihat lukamu seperti itu. Aku akan mengobatinya," cegah Callista.


Sean menuruti permintaan istrinya. Ini memang sudah sangat malam dan sangat melelahkan. Dia meminta petugas hotel untuk menyediakan obat dan beberapa pakaian. Dia memintanya untuk mengantarkan ke kamarnya.

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


Juvenal cari gara-gara... 😁😁😁😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2