Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Rasa Mint


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secerah wajah Sean. Pria itu semalam berhasil membuat istrinya tak berkutik. Setelah obrolan serius tentang rahasia besarnya, Sean sangat serius dengan ucapannya ketika berada di mobil dalam perjalanan menuju apartemen.


Callista masih tertidur dengan selimut tebalnya. Bagaimana semalam dia harus merasakan kehangatan yang luar biasa dari suaminya. Dia sangat kelelahan setelah menerima semua sentuhan suaminya. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Selamat pagi, sayang! Semoga mimpi indah.


Sean sudah siap dengan jas kerjanya. Dia menyiapkannya seorang diri seperti sebelum menikah. Dikecup kening istrinya dengan lembut. Dia bergegas berangkat ke kantor. Ada urusan penting yang harus dibahas dengan Vigor.


Sean mengambil kunci mobilnya kemudian menuju bassement. Dia mengendarai mobil dengan perasaan lega. Sepanjang perjalanan, dia memikirkan ucapan istrinya yang berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.


Sesampainya di tempat parkir kantor, dia melihat Vigor dan istrinya sedang menunggu. Sean menghampiri sepasang suami istri itu.


"Kak, kau baru datang? Kakak ipar mana?" tanya Zelene.


"Ada di apartemen. Masih tidur," ucap Sean dengan entengnya.


"Hais, pasti ulah kakak lagi, yah?" ucapan Zelene membuat Sean tersenyum mengejek.


"Aku bisa berulah setiap hari, Ze. Bagaimana dengan suamimu?" ledek Sean.


"Ish, kita bahas di dalam aja, yuk! Ze membawakan sarapan pagi untuk kakak," ucapnya.


Mereka masuk ke kantor bersamaan. Vigor masuk ke ruangannya sedangkan Zelene mengikuti kakaknya.


"Apa kakak ipar sakit?" tanya Ze yang sudah mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Dia baik, Ze," Sean baru saja melepas jasnya. Kali ini, dia hanya memakai kemeja beserta dasinya. Dia duduk di meja kerjanya seakan sedang memikirkan sesuatu.


Apa sebaiknya aku minta Zelene untuk menemani Callista? Aku yakin dia merasa kesepian.


"Ze, kamu tidak keberatan jika kakak mau minta tolong?" ucap Sean sembari melonggarkan ikatan dasinya.


"Apapun akan kulakukan untukmu, Kak," jawab Zelene tersenyum.


"Pergilah ke apartemen kakak! Temani kakak iparmu! Jangan pernah ajak dia pergi kemanapun," pintanya.


Tumben Kak Sean melarang kami pergi bersama. Memangnya ada apa?


"Kak, ada sesuatu yang tidak Ze tau?" Zelene berdiri. Dia berjalan mendekati meja kerja kakaknya.


"Dizon kembali lagi. Semalam tidak sengaja, kami bertemu di food court Mal Sinar Galaxy. Tatapan pria itu kepada kakak iparmu terlihat tidak biasa, Ze," Sean menceritakan keadaan yang sebenarnya.


Astaga, pria itu lagi? Dia itu sudah seperti kuman yang menempel dimana-mana. Penyakit yang sulit disembuhkan.

__ADS_1


"Baiklah, Kak. Aku pamit pada suamiku dulu, yah?" ucapnya.


"Iya, Ze. Terima kasih," balas Sean.


Zelene keluar. Dia menghampiri ruangan suaminya.


Tok tok tok.


Zelene mengetuk pintu ruangan suaminya.


"Masuk!" ucap Vigor dari dalam.


Ceklek!


"Eh, Ze. Ada apa? Apa urusanmu dengan kakak ipar selesai?" tanya Vigor sembari mengecek beberapa berkas yang akan diserahkan kepada Bosnya, Sean.


"Kak, aku mau pamit ke apartemen Kak Sean," pamitnya.


"Kenapa buru-buru sekali? Apa ada masalah serius dengan kakak ipar?" Vigor merasa bingung. Niat Zelene ikut ke kantor karena ingin menemaninya sampai pulang kerja, tetapi sekarang malah dia akan pergi ke apartemen kakaknya.


"Kak, Dizon si pengacau telah kembali. Semalam dia tak sengaja bertemu Kak Sean dan kakak ipar," ucapan Zelene membuat Vigor menghentikan pekerjaannya.


Astaga! Pria itu lagi? Apa tujuannya sebenarnya?


Vigor masih tak percaya dengan berita yang didengar dari istrinya.


Zelene mengangguk. "Kak Sean yang bercerita padaku."


"Pergilah! Jaga kakak ipar dengan baik. Jangan pergi kemanapun selain berada di dalam apartemen," ucapan Vigor persis seperti kakaknya.


Sebenarnya apa yang tidak kuketahui dari Kak Sean?


Zelene segera meninggalkan ruangan suaminya. Dia memesan taksi online agar lebih cepat sampai ke apartemen kakaknya. Tak lama, taksi yang dipesannya telah sampai di depan kantor. Zelene berjalan dengan sangat cepat sekali. Dia takut akan ada seseorang yang mengawasi gerak-geriknya.


Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke apartemen kakaknya. Dia meminta taksi itu sedikit ngebut dari biasanya.


Kalak ipar... I'm coming...


Zelene lekas menuju unit kakaknya. Dia menekan bel berulang kali, tetapi sepertinya dia kurang beruntung. Dia harus menunggu hampir setengah jam sampai kakak iparnya baru membukakan pintu.


Ceklek!


Seperti pandangan sebelumnya, kakak iparnya memakai bathrobe sekenanya. Callista melihat kedatangan Zelene masih dengan muka pandanya. Dia terlihat sangat lelah sekali. Zelene yang membantunya menutup pintu.

__ADS_1


"Astaga, kakak ipar! Kau tertidur atau mati? Setengah jam yang lalu aku menekan bel dan baru kakak buka sekarang? Ini parah sekali. Semalam kakak habis ngapain, sih?" protes Zelene.


"Seperti biasa, Ze. Tugas seorang istri melayani suami. Aku sangat lelah sekali," ucap Callista. Dia mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Pasti sangat melelahkan?" tanya Zelene.


Callista memandang serius ke wajah adik iparnya. "Memangnya kamu belum melakukannya?" Pertanyaan absurd Callista di pagi hari setengah siang.


Zelene menggeleng. Sejak kejadian kegagalan malam pertama itu, Zelene sengaja meminta pada suaminya untuk tidur di kamar yang berbeda. Hanya untuk sementara waktu sampai Zelene benar-benar siap.


"Aku belum siap, Kak," ucapnya dengan malu-malu.


"Ish, kenapa seperti seseorang yang menderita pobia saja. Kamu terlalu berlebihan. Eh, jika kamu tau rasa aslinya, aku yakin kamu akan memintanya setiap hari," goda Callista.


Hah, setiap hari? Maka aku akan bangun siang seperti kakak ipar. Memang rasanya seperti apa?


"Rasanya bagaimana, Kak?" Zelene semakin penasaran.


"Seperti rasa Mint...," ucap Callista.


"Rasa Mint? Yang benar saja," Zelene menertawakan kakak iparnya.


"Iya, Ze. Awalnya sangat sakit, lambat laun akan berubah sensasinya menjadi dingin yang menyegarkan," ucap Callista menutupi wajahnya yang bersemu merah. Dia teringat bagaimana pertama kali melakukannya dengan Sean, suaminya.


Wah, aku semakin penasaran. Apa aku secepatnya memintanya pada Kak Vigor, yah?


Zelene tersenyum malu bagaimana dirinya membayangkan bercinta untuk pertama kalinya dengan Vigor, suaminya. Mendengar ucapan kakak iparnya, Zelene dibuat semakin penasaran.


"Ze, kau sedang apa? Kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Callista yang sejak tadi melihat adik iparnya tersenyum tidak jelas.


"Aku hanya membayangkan melakukan itu dengan suamiku, Kak," ucap Zelene malu.


Callista menertawakan adik iparnya. "Jangan dibayangkan! Secepatnya lakukan dan kamu akan merasa menyesal telah menundanya."


"Ish, aku jadi malu sama kakak. Oh ya, kenapa kakak selalu bangun siang akhir-akhir ini?" tanya Zelene.


"Kakakmu selalu membuat kakak sampai kelelahan, Ze," Callista tidak ingin menceritakan berapa banyak suaminya itu mengadakan sesi bercinta setiap malam. Dia takut adik iparnya akan lebih ketakutan lagi.


"Ah, baiklah. Kakak sudah masak?"


Callista menggeleng. Bahkan dirinya baru membuka mata ketika bel apartemen berbunyi tanpa jeda. Dia seperti mendengar alarm kebakaran saja.


"Oke. Izinkan Zelene untuk menyiapkan sarapan buat Kakak. Sebaiknya kakak bersihkan diri terlebih dahulu, Supaya terlihat lebih segar," ucap Zelene.

__ADS_1


Callista bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Zelene ke dapur menyiapkan sarapan. Gadis itu tidak akan mengajak kakak iparnya untuk pergi kemanapun, mengingat bahaya sedang mengancamnya.


😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍


__ADS_2