
Dizon menepati janjinya untuk datang ke rumah Felix. Rumah yang mewah tetapi tidak terlalu besar. Rumahnya sangat bersih dan tertata rapi walaupun tidak ada asisten rumah tangga.
"Kamu sudah datang, Kak?" tanya Felix.
"Seperti yang kamu lihat. Aku menyelesaikan beberapa pekerjaanmu yang tertunda, setelah itu aku langsung ke sini," jawabnya.
"Duduk, Kak! Aku ambilkan minum dulu, ya? Istriku tidak ada kabar sama sekali," ucap Felix dengan wajah memelasnya.
"Tunggu! Kita bicara saja dulu," ajak Dizon.
"Apa kakak sudah menemukan buktinya?"
Dizon menggeleng. "Belum, aku belum menemukannya. Tapi kamu jangan khawatir. Sepertinya bukan papa pelakunya. Setiap hari aku bertemu dengan papa, jadi tidak mungkin pria itu. Mengenai proyek luar kota itu memang benar adanya. Itu juga bukan akal-akalan papa. Memang kenyataannya ada dan harus kamu yang berangkat," ucap Dizon.
"Tapi itu sangat aneh, Kak. Biasanya mereka akan memintamu yang berangkat, tetapi kenapa harus aku?" tanya Felix.
"Itulah yang sedang kakak selidiki. Kakak meminta orang kepercayaan untuk mengecek lapangan dan mencari semua buktinya. Sebelum itu, apa kamu mau menuruti permintaan kakak?"
Felix memandang kakaknya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa permintaan kakak? Jika itu memang baik untukku, akan kulakukan," jawab Felix. Dia beranjak dari untuk mengambil minuman karena dia juga sedang haus.
"Pergilah ke negara A dan menetaplah di sana... Urus bisnis kakak yang sudah berkembang. Aku yakin orang itu akan kesusahan mencarimu," ucap Dizon dengan sedikit berteriak karena Felix masuk ke dapurnya.
Felix kembali dengan nampan berisi air putih dan dua gelas.
"Maaf, Kak. Hanya air putih." Felix meletakkan nampan di meja. "Apa itu menurut kakak keputusan yang baik untukku?"
Itu bahkan sangat baik, Felix. Aku yakin, Papa bukan pelaku utamanya. Apalagi Kayana adalah menantu kesayangan Mama.
"Itu sangat baik. Kamu jangan khawatir, aku akan menyiapkan tempat yang terbaik untukmu. Berbahagialah bersama Kayana. Dia wanita yang baik." Dizon mengambil gelas dan mengisinya dengan air kemudian meminumnya.
Felix tampak sedang memikirkan ucapan sang kakak.
Apa sebaiknya aku ikuti kemauan kakak? Supaya kehidupan rumah tanggaku tidak ada yang mengganggunya lagi.
"Baiklah, Kak. Aku setuju saranmu!" ucap Felix bertepatan dengan kedatangan istrinya.
"Maaf, setuju untuk apa, ya?" tanya Kayana.
Felix terlihat sangat senang. Dia menghampiri istrinya kemudian memeluknya. Dia tidak peduli lagi ada kakaknya di ruangan ini.
__ADS_1
"Ehem, kalian pikir aku obat nyamuk?" sindir Dizon.
Felix melepaskan pelukannya. "Kamu darimana saja, sayang?"
"Aku hanya main ke tempat Om Sean. Aku rindu sama bumil gembul itu," jawab Kayana dengan senyum yang cerah.
Syukurlah. Dia sudah kembali seperti semula. Batin Felix.
"Ayo kemarilah. Kak Dizon memberikan saran terbaik untuk kita berdua," ajak Felix menggandeng tangan istrinya.
"Apa saran kakak?" tanya Kayana pada Dizon.
"Pergi ke negara A dan tinggalah disana bersama suamimu," ucapnya membuat Kayana sedikit meradang.
"Kenapa kakak tidak pecat sekretaris laknat itu? Kenapa kami yang harus pergi?" ucap Kayana dengan kesal.
"Kay, dengarkan kakak! Kata kunci masalah suamimu ada pada wanita itu. Jika kakak pecat sekarang, kita tidak bisa mengawasinya. Kakak hanya ingin masalah kalian selesai," ucap Dizon.
Kayana tertegun mendengar ucapan Dizon. Kakaknya yang dulu pernah dikagumi bisa sebijak itu daripada suaminya. Jika Kayana tidak sadar telah bersuami, mungkin dia akan mengejar Dizon untuk yang kedua kalinya. Tetapi sayang, semuanya sudah pada tempatnya masing-masing.
"Aku setuju, Kak!" ucap Felix.
"Tidak, aku tidak setuju. Aku belum menemukan bukti apapun tentang foto itu," balas Kayana.
"Mau kemana kamu?" teriak Dizon.
"Sebentar, ada yang tertinggal di mobil." Felix berlari kecil menuju mobilnya.
Hanya beberapa menit saja dia sudah kembali membawa amplop coklat itu. Diletakkan di atas meja supaya sang kakak melihatnya.
"Kak, setelah mempertimbangkan saran yang kakak berikan. Aku setuju untuk pergi ke negara A bersama Kayana. Aku akan memulai kehidupan baru berdua dengannya," ucap Felix membuat Kayana kesal kemudian masuk ke kamarnya.
Kayana tidak bisa menerima kenyataan harus berada di negeri orang tanpa sahabat atau orang terdekat. Itulah kenapa dia langsung masuk ke kamarnya sebagai wujud penolakan keputusan suaminya.
"Felix, sepertinya kamu harus berjuang lebih keras. Aku pulang dulu," pamit Dizon.
"Kakak tidak melihat fotonya terlebih dahulu?"
"Tidak. Simpan saja dulu, nanti aku akan memintanya sebagai bukti. Urus istrimu dulu. Dia sedang merasa kecewa." Dizon meninggalkan rumah adiknya.
Felix bergegas masuk ke kamarnya. Melihat Kayana duduk di sofa dengan pandangan kosong membuatnya semakin bersedih.
__ADS_1
"Aku kecewa padamu!" ucap Kayana.
"Aku hanya mengikuti saran kakak. Apa salahnya?"
"Jelas salah! Kenapa kamu tidak mempertimbangkan keadaan kita? Aku tidak bisa hidup di negeri orang tanpa siapapun. Kamu pikir itu akan mudah?" Kayana pindah ke ranjang ketika Felix mendekatinya.
"Ada aku. Kamu tidak akan sendirian. Jangan khawatir." Felix berusaha membujuk istrinya.
"Tidak. Aku tidak mau pergi ke sana. Kita tunggu sampai masalahnya selesai dan aku ingin tau pelakunya," jawab Kayana jelas.
Itu artinya Felix harus kembali bekerja di Damarion Corporation sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu. Bisa kamu berikan alasannya kenapa harus seperti itu?" Felix mendekati istrinya lagi. Kali ini Kayana tidak menghindar.
"Alasan pertama, aku betah berada di rumah ini. Kedua, kamu harus menjauhi sekretaris ganjen itu. Ketiga, aku ingin musuh yang sebenarnya menampakkan wujudnya," jawab Kayana. Berteman dengan Callista kadang membuat dia ketularan sedikit bijak.
"Kita tidak bisa melakukannya seperti itu, sayang. Akan sangat rumit memancing mereka keluar dari persembunyiannya."
Kayana mendekati suaminya. Felix pikir, Kayana akan memberikan ciuman atau sentuhan nakal pada wajahnya. Ternyata dugaannya salah. Dia hanya mendengar bisikan lembut di telinganya.
"Apa kamu yakin untuk pindah ke negara A?" tanya Felix.
"Seperti yang Callista bilang, aku harus menuruti semua permintaan suamiku." Kayana mengembangkan senyuman di hadapan suaminya.
"Semua itu ide istri Kak Sean?"
Kayana mengangguk.
"Wah, ternyata wanita hamil itu bisa makin cerdas, ya," ledek Felix.
"Kamu nyindir aku yang tak kunjung hamil?" tanya Kayana dengan wajah bersedihnya.
"Tidak! Kita belum terlalu serius untuk berjuang. Biarlah Kak Dizon yang lebih dulu membuat istrinya hamil," ucap Felix dengan tawa yang luar biasa.
Felix tau itu akan sulit untuk kakaknya dan dokter Olivia. Jika kakaknya berhasil, berarti memang dokter itu yang terbaik untuknya.
Mengenai keputusan Felix untuk ke luar negeri akan segera disampaikan pada orang tuanya. Terutama sang Mama. Wanita itu akan menjadi orang paling sedih di dunia jika tau kondisi putranya yang sebenarnya.
🍋🍋🍋🍋🍋TBC🍋🍋🍋🍋🍋
Wah, Felix jadi pindah, nih....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... terima kasih 💖