
Dizon hampir menyerah. Ini sudah sangat malam sekali. Kemana perginya wanita itu?
Dizon mengarahkan mobilnya ke rumah sakit. Siapa tau ada petunjuk di sana.
Gayung bersambut, di depan IGD dia melihat rival masa lalunya, Sean. Entah bisa dibilang rival atau dewa penolong, hanya kalian yang bisa mengapresiasi.
"Sean, kamu sedang apa?" tanya Dizon basa-basi. Jika bukan karena ada kebutuhan mendadak, dirinya enggan untuk mendekati Sean.
"Oh, kamu. Ada apa kemari? Istrimu sudah pulang sejak tadi," jawab Sean enteng.
Sementara Vigor hanya mengamati dari jauh dua orang itu.
"Iya aku tau. Mama memintaku untuk mengambil beberapa barang Olivia di apartemennya, tetapi aku belum menanyakan alamatnya. Ponselnya tertinggal di rumah," ucap Dizon.
Sean memandang aneh pada Dizon. Sementara Olivia tadi mengatakan jika Zelene meminta bantuannya. Itu artinya ada masalah yang terjadi pada rumah tangga Dizon. Jika bukan karena Callista memintanya untuk bersikap manis pada pria dihadapannya, sudah dihajar habis olehnya.
"Apartemen Scorpio lantai tujuh nomor tujuh belas," ucap Sean.
"Terima kasih." Secepatnya Dizon pergi ke apartemen istrinya. Harapannya segera menemukan istrinya.
Jangan tanya mengenai Sean dan Vigor. Kedua pria itu jelas menatap aneh pada kelakuan manusia kutub itu. Sementara yang ditatap hanya menanggapi biasa saja.
Jarak apartemen Scorpio dan rumah sakit memang tidak terlalu jauh, tetapi sampai sana sudah sangat malam sekali.
"Kamu sangat merepotkan, Oliv," ucap Dizon.
Dizon lupa jika tujuannya untuk menyatakan perasaannya bahwa dirinya sudah bergantung pada Olivia. Hanya wanita itu yang bisa mengimbangi sikap kolot dan ribetnya itu.
Mobilnya mulai memasuki apartemen Scorpio, jam tangan sudah menunjukkan jam sebelas lebih.
"Ya ampun, ini sangat merepotkan!" Dizon memarkir mobilnya di depan. Ini untuk pertama kalinya dia masuk ke apartemen Scorpio. Sebelumnya penjaga sempat menanyakan untuk apa ke apartemen malam-malam. Dizon hanya menyampaikan jika ingin pulang ke istrinya yang berada di unit lantai tujuh.
Dizon melangkah menuju unit yang dimaksud. Dia merasakan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan jelas, tetapi bisa diungkapkan dengan kata-kata maupun perbuatan. Dia merasa ada yang hilang setelah kepergian Olivia. Dia juga merasa heran kenapa tiba-tiba istrinya itu meninggalkan rumah tanpa berpamitan padanya.
Bisa dibilang, Dizon sangat munafik. Dia bucin sejak awal, tetapi tidak pernah bisa mengakuinya di hadapan sang istri maupun orang lain. Dia terlalu naif untuk mengakuinya.
__ADS_1
Aku harus mengalahkan ego demi kembalinya Oliv ke rumah. Jika tidak, mana bisa aku bertemu dengannya. Sayang juga dengan bibit itu.
Bilangnya mau mengalahkan ego, kenyataannya malah menyesal membiarkan Olivia pergi begitu saja.
Sekarang Dizon berada tepat di depan pintu unit yang dimaksud. Bergegas dia menekan belnya.
Sekali, dua kali, sampai tiga kali belum ada tanda pintu akan terbuka. Hampir saja dia kembali pulang.
Ceklek!
Nampak wajah ayu yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia merasa terganggu dengan bunyi bel di malam hari.
Empunya unit membelalakkan matanya tidak percaya jika makhluk di hadapannya adalah monster yang paling dihindari. Dia masih kesal karena suaminya memakai obat laknat itu demi mendapatkan jatah darinya. Olivia hendak menutup pintunya kembali, namun tangan kekar itu menghalanginya. Dia kalah kuat.
Dizon mendorong pintu unit itu sampai terbuka lebar kemudian masuk. Dia tak peduli lagi jika Olivia akan berteriak atau apapun itu. Secepat kilat, Dizon menutup pintunya kembali. Dia tidak ingin keributan yang akan terjadi sebentar lagi banyak dinikmati orang yang kebetulan lewat.
"Untuk apa kemari?" tanya Olivia dengan nada ketus.
"Mencari istriku!" jawab Dizon singkat.
"Oh, masih ingat jika punya istri."
"Malas!" Olivia akan kembali ke kamarnya dan menghindar dari monster itu.
Dizon lebih cekatan. Dia sudah tidak peduli dikatakan bucin atau apapun. Dia memeluk Olivia dengan erat sampai wanita itu tidak bisa mendorong suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" Olivia berusaha memberontak. Ini pertama kalinya Dizon memberikan pelukan secara tiba-tiba. Olivia merasa pelukan ini sangat aneh. Tidak seperti biasanya.
Kenapa rasanya aneh seperti ini? Oh ya ampun, jangan sampai aku kalah dengannya!
"Lepaskan!" Olivia berusaha meronta.
"Jangan bergerak! Kamu bisa membangkitkan sesuatu dibawah sana," ucap Dizon. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
Please, Oliv. Jangan kalah dengannya. Kamu tidak boleh terlena dengan bujuk rayunya. Ayo berontak dan melepaskan diri. Buat dia semakin bucin. Pria kaku ini harus bucin biar tidak berbuat seenak jidatnya.
__ADS_1
Olivia tetap memberontak. Dizon tidak kehilangan akal. Dia mendaratkan ciuman pada bibir istrinya. Awalnya Olivia membelalakkan matanya. Semakin ke sini, ciuman Dizon sangat lembut. Olivia enggan untuk membalasnya. Dizon menekan tengkuk istrinya dan memberikan gigitan kecil. Barulah keduanya menikmati ciuman dadakan ini. Mereka saling mel*mat dan melupakan perseteruannya. Lama ciuman itu berlangsung membuat Dizon hampir saja kalap untuk melucuti piyama tidur yang dipakai istrinya saat ini.
Olivia tersadar kemudian mendorong tubuh suaminya.
"Pergilah!" Perintah Olivia. Dia hampir saja kehilangan kendali. Dia wanita normal yang gampang mende*ah jika mendapatkan perlakuan lebih seperti barusan.
"Aku mencarimu, Oliv," ucapnya.
"Untuk apa? Untuk memuaskan bir*himu itu? Aku masih kesal padamu. Tolong pergilah!" ucap Olivia.
Dizon terkejut dengan ucapan istrinya. Dia merasa tidak melakukan apapun yang melukai wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Dizon. Nada ketus khasnya keluar lagi dan itu membuat Olivia semakin kesal.
"Ck, monster. Berhentilah berpura-pura! Kamu pikir aku tidak tau cara licik yang kamu gunakan untuk menjeratku, hah?" Kali ini suara Olivia meninggi.
Apa Olivia tau jika aku meminum obat laknat itu? Tetapi darimana dia bisa tau?
"Aku kemari untuk mengajakmu pulang ke rumah. Aku minta maaf jika itu membuatmu kesal," ucap Dizon. Dia berusaha menurunkan egonya yang berlevel sepuluh menjadi level satu. Mengalah untuk menang.
"Tentu saja aku sangat kesal dan marah padamu. Aku istri sahmu, bukan wanita malam yang bisa kamu datangi dengan obat laknat itu. Aku benci caramu seperti itu. Kamu bisa memintanya dengan baik-baik dan mengutarakan keinginanmu. Aku tidak akan menolaknya jika kamu memintanya," cerocos Olivia.
"Beberapa kali kamu menolakku. Itu yang membuatku frustrasi dan kehilangan akal sehatku." Suara Dizon sangat lemah lembut.
"Karena kamu pria gila!" Olivia mengatainya, tetapi Dizon tidak peduli.
"Iya aku pria gila yang mengejar dokter aneh sepertimu!" Dizon tidak mau mengalah.
"Apakah itu artinya kamu mulai bucin, Tuan Arrogan?"
"Terserah apapun yang kamu katakan. Yang pasti, aku tidak bisa kehilangan dirimu." Dizon mendekatinya lagi dan Olivia mundur beberapa langkah.
"Cukup! Jangan maju lagi!" teriak Olivia. "Penyakitmu itu level akut atau kronis?"
"Terserah apapun yang kamu katakan. Yang pasti, dari akut bisa menjadi kronis," jawab Dizon. Walaupun dia tidak terlalu paham masalah kedokteran, tetapi sedikit banyak dia memahami maksud istrinya.
__ADS_1
Malam ini, Dizon berencana untuk menginap di apartemen istrinya. Dia ingin memastikan jika perasaan cinta yang akan diutarakan bisa diterima dengan baik oleh istrinya.
ππππBersambungππππ