Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Penentuan Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Sesuai yang diminta Mama Carlotta, kali ini diadakan pertemuan kedua keluarga yang dilakukan di sebuah restoran kenamaan di kota J. Restoran XYZ lebih tepatnya.


Pertemuan kedua keluarga itu hanya dihadiri kedua orang tua dan sepasang calon pengantin.


Dizon datang lebih awal bersama Papa Denzel dan Mama Carlotta. Pria paruh baya itu terlihat sangat bahagia akan mendapatkan calon menantu seorang dokter. Berbeda ketika menerima istri Felix yang notabene seorang gadis yatim piatu yang tinggal di rumah peninggalan keluarganya.


"Mana dokter Olivia, Nak?" tanya Mama Carlotta.


"Sebentar lagi pasti datang, Ma. Wanita aneh itu sudah mengabariku jika sedang dijalan bersama orang tuanya," jawab Dizon.


"Hust, calon istrinya kok dikatain aneh!" protes Mamanya.


Tak menunggu lama, rombongan keluarga Olivia datang. Dokter itu tampil sangat cantik dan elegan. Dia juga memakai perhiasan yang beberapa hari yang lalu dibelikan oleh Dizon, calon suaminya.


"Maaf, Om, Tante... Sedikit terlambat. Jalanan lebih padat dari biasanya," ucap Olivia basa-basi.


"Denzel?" tanya Mama Olivia yang bernama Librivia.


Mama Carlotta, Dizon, Olivia, dan Papa Alfred Hugo saling memandang. Mereka semua terkejut manakala Mama Olivia mengenal Papanya Dizon, Papa Denzel.


"Kamu mengenal orang tua calon menantu kita, Ma?" tanya Papa Alfred.


Librivia, gadis cantik yang masuk sesi perjodohan dengan Denzel di masa lalu. Denzel pria yang sangat tampan namun sangat emosional. Pria itu lebih memilih Carlotta, istrinya saat ini. Membuat beberapa gadis lainnya merasa patah hati. Dunia memang sempit, yah? Semua saling terkait.


"Iya, Pa. Dia Denzel, pria yang pernah dijodohkan dengan Mama. Tapi itu masa lalu. Iya, kan Denzel?" ucap Mama Librivia.


"Ternyata dunia sangat sempit, Libri... Kita gagal menikah tetapi malah akan menjadi besan," ucap Papa Denzel.


Mama Carlotta juga ingat betul siapa Librivia. Tetapi wanita paruh baya itu tidak menaruh cemburu pada calon besannya.


"Dunia benar-benar sempit, Nyonya...," ucap Mama Carlotta.


"Panggil Libri saja," ucap Mama Librivia.


Setelah reuni basa-basi antara kedua orangtua yang ternyata saling kenal, Dizon dan Olivia duduk berdampingan. Keduanya terdiam seperti sedang bermusuhan.


"Jodoh memang dekat ya, Jeng?" goda Librivia.


Olivia hanya diam saja. Ternyata kegagalan pernikahannya dengan Burchard di masa lalu, membawanya mendekati masa lalu sang Mama.

__ADS_1


"Iya, Jeng. Tau gitu kenapa kita tidak besanan dari dulu, ya?" balas Carlotta.


Kedua wanita itu menertawakan ucapan masing-masing. Berbeda dengan suami dan anaknya yang terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Kupikir akan mengenal orang jauh. Ternyata, Mama malah kenal dengan papanya Dizon! Batin Olivia.


"Kapan rencana pernikahannya?" Alfred buka suara. Secepatnya dia harus menyelesaikan pertemuan ini.


"Semua kuserahkan pada Dizon," jawab Denzel.


"Aku pasrah pada dokter Olivia, Pa," jawab Dizon.


"Kalian kenapa tidak bertanya pada kami?" protes Carlotta.


Semuanya memandang pada wanita paruh baya itu.


"Maksudnya?" tanya Dizon.


"Mama yang akan menentukan. Jeng Libri pasti setuju. Iya kan, Jeng?"


Librivia menganggukkan kepala. Tersenyum menanggapi calon besannya.


"Sebelas Januari dan itu tidak bisa ditawar lagi," ucap Carlotta akhirnya. Menunggu putranya atau calon menantunya terlalu lama. Keduanya sama-sama sibuk mengurus ego masing-masing.


"Nunggu kalian berdua yang menentukan, kelamaan. Biar Mama yang memutuskan. Mama yakin, Jeng Libri juga setuju. Papa kalian berdua juga setuju, iya kan, Nak Olivia?" ucap Carlotta.


Olivia hanya manggut-manggut cantik, tanda bahwa wanita itu menyetujui calon mertuanya.


"Anakku setuju saja apa katamu, Jeng. Lebih cepat lebih baik. Bukan begitu, Pa?" tanya Librivia pada suaminya.


"Iya, Ma... Papa setuju saja apa kata calon besan," ucapnya.


Lain halnya dengan Papa Denzel. Pria itu lebih banyak diam. Apalagi ketika makanan yang mereka pesan sudah datang.


"Jeng, sebaiknya di makan dulu. Setelah itu kita rembukan lagi. Ayo yang lainnya, silakan makan," usul Carlotta.


Mereka semua makan dalam diam. Dizon juga diam. Bahkan dia tidak terlihat melirik ke arah calon istrinya. Begitu juga Olivia. Suasana kaku terjadi di antara keduanya.


Dizon ini persis seperti Denzel. Kaku dan tidak bisa romantis! Batin Librivia.

__ADS_1


Librivia selesai terlebih dahulu. Dia mengamati Carlotta yang terlihat biasa saja mengharapi Denzel, suaminya.


Itu artinya Carlotta berhasil menaklukkan Denzel dengan baik. Olivia harus tau juga kelemahan Dizon. Batin Librivia.


Wanita itu tidak menyangka jika akan menjadi besan calon mantan suaminya yang dijodohkan itu. Yang melalui tahap seleksi berhari-hari dan membuat Carlotta menjadi pemenangnya.


Semuanya telah selesai. Sekarang Librivia yang berperan penting dalam acara ini.


"Baiklah, Jeng. Secara formalitas, aku ingin putramu dengan Denzel melamar putriku secara terhormat. Aku tau, Dizon bukan tipe pria romantis. Setidaknya ini hanya sebagai simbolis kalau putra kalian resmi melamar putriku," ucapan Librivia sangat menohok perasaan Dizon. Pria itu tidak menyiapkan apapun untuk acara ini.


Skak mat! Ini gila... Calon mertuaku udah membuatku mati kutu seperti ini. Batin Dizon.


Carlotta adalah wanita yang sangat tanggap. Dia tau putranya tidak akan memikirkan untuk membawa cincin atau apapun untuk diberikan pada calon istrinya. Walaupun yang Carlotta tau, semua perhiasan yang telah dipakai Olivia adalah pemberian putranya. Carlotta selalu memberikan pengawasan dari jauh.


"Dizon, Mama sudah membawakan cincin untuk kalian. Bukankah kamu lupa untuk membawanya? Mama tadi yang memasukkannya ke dalam tas," ucap Carlotta membuat putranya sedikit lega.


Aku harus menjadi mama yang siaga untuk Dizon. Batin Carlotta.


"Segeralah lanjutkan untuk memasang cincin itu," usul Denzel.


"Iya, ayo Dizon. Segeralah!" Alfred juga ikut andil menyemangati calon menantunya.


Dizon sepertinya sangat gemetar dan kaku untuk memegang tangan calon istrinya. Tidak biasanya dia seperti itu.


Carlotta membantu putranya untuk memasangkan cincin dijari manis tangan kiri calon menantunya. Setelah berhasil, baru ke empat orang tua mereka memberikan tepuk tangan.


Sangat kaku tapi romantis, bukan? Siapa lagi yang paling cekatan di sini kalau bukan Mama Carlotta.


Sekarang giliran Olivia yang akan memasangkan cincin pada calon suaminya. Dia sudah keder duluan menghadapi Dizon yang kaku itu. Mama Librivia seolah melihat kekakuan yang sedang dilanda putrinya.


"Ayo sayang... Pasangkan cincinnya pada calon suamimu," Librivia menyemangati putrinya.


Olivia gemetar ketika memasangkan cincin pada jari manis Dizon. Rasanya sangat aneh dan berbeda. Olivia berhasil menyematkan cincin itu walaupun ada drama hampir jatuh ke atas bekas piring makan mereka. Kali ini, Mama Librivia yang lebih cekatan untuk menangkapnya.


"Putiku sangat gugup!" ucap Librivia.


Semuanya bersorak karena pertunangan resmi mereka telah terjadi. Keputusan pernikahan mereka akan dilangsungkan tanggal sebelas januari. Kedua keluarga sudah menyetujuinya.


Librivia selaku mama Olivia, wanita paruh baya itu menyerahkan pemilihan tempat dan lainnya kepada calon besannya. Dia paham betul, selera Carlotta selalu bagus dan bisa menyesuaikan putrinya.

__ADS_1


Setelah acara selesai, mereka memutuskan untuk bertemu lagi di hari pernikahannya. Librivia bukan tanpa alasan menyerahkan semua pada besannya. Dia dan suaminya harus bolak balik ke negara asalnya untuk mengurus bisnis keluarganya yang sudah berkembang pesat dari dulu.


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓


__ADS_2