
Sean dan Callista pulang dengan perasaan bahagia. Masalahnya dengan pria asing itu telah berujung membawa Diana bertemu dengan pria masa lalunya.
"Sayang, apa harapanmu pada Diana?" tanya Callista ketika berada di dalam mobil.
"Aku berharap Juvenal akan menikahinya dan memberikan keluarga utuh untuk Willow. Setidaknya nama anak itu akan menjadi Willow Halbur," ucap Sean penuh percaya diri.
"Lalu, bayi yang ada dalam kandunganku akan diberi nama siapa?" tanya Callista sengaja memancing suaminya.
"Sayang, malam ini aku ingin meminta jatahku," ucap Sean fokus mengendarai mobilnya. Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, malah membicarakan hal lainnya.
"Hah? Jatah yang mana? Jawab dulu pertanyaanku...," tanya Callista pura-pura lupa. Suaminya selalu memiliki level mesum paling tinggi.
"Mengenai nama bayi, itu kita urus nanti setelah USG untuk yang entah ke berapa kali. Sekarang yang paling penting adalah jatah untuk membahagiakan makhluk hidup setelah beberapa hari vakum dari pertemuan rutinnya," ucap Sean terkekeh.
Jika sebelum istrinya hamil, Sean lebih sering meminta jatah bahkan terkadang sampai berulang kali dalam semalam. Sekarang, dia berusaha mengurangi kemesumannya itu demi buah hati yang dikandung istrinya.
"Dua ronde untuk malam ini," pinta Sean.
"Ish, jangan harap!" tolak Callista.
"Tidak baik menolak suamimu, sayang! Aku merindukanmu sekaligus anak kita," ucap Sean.
Callista terdiam. Dia enggan menanggapi kemesuman suaminya yang semakin hari semakin menjadi. Pria empat puluh satu tahun itu akan selalu memiliki cara membuat istrinya menyerahkan diri secara sukarela.
"Sayang, ke Mal yuk? Dah lama banget loh, kita enggak ke sana," ajak Callista. Dia berusaha mengalihkan obrolan mesum suaminya.
"Next time, sayang... Hari ini aku ingin bermanja padamu."
Wajah manyun Callista langsung muncul. Wanita hamil itu sangat kesal perihal permintaannya yang tidak diwujudkan oleh suaminya.
"Jangan manyun seperti itu. Aku jadi pingin nyi*m, loh," ledek Sean.
Mobil mereka mulai memasuki basement apartemen. Sesampainya di sana, Sean bergegas turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu istrinya.
"Pelan-pelan, sayang," Sean menggandeng mesra istrinya.
Melewati pintu keluar basement, kemudian jalan melalui beberapa koridor dan menaiki lift. Sampailah keduanya di depan unit apartemennya. Sean yang membuka akses masuknya.
"Tunggu!" teriak Sean setelah menutup kembali pintu unitnya.
"Apalagi, sayang... Aku ingin tidur. Rasanya lelah sekali," jawab Callista yang langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Kita tidur sama-sama," ajak Sean.
Callista tidak menolak. Pesona suaminya mampu membuat dirinya terhipnotis begitu saja. Keduanya berada di ranjang yang sama. Saling berpelukan dan memberikan kekuatan dan dukungan.
"Aku mencintaimu dan bayi kita, sayang," ucap Sean mulai merayu istrinya.
Sayang seribu sayang, Callista sangat mengantuk dan tidak merespon ucapan suaminya. Sean baru menyadari itu. Dia juga sangat lelah. Keduanya tertidur dengan sangat romantis. Siapapun yang melihatnya pasti akan sangat iri pada pasangan beda generasi itu.
Jika bukan karena bunyi ponselnya yang terus memekakkan telinga, Sean mungkin tidak akan terbangun lebih cepat. Dia terlalu nyaman memeluk istrinya.
"Sayang... Angkat teleponnya!" perintah Callista. Telinganya terganggu dengan suara berisik itu.
Sean bangun dan mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Kebiasaannya meletakkan ponsel di sana selalu menjadi rutinitas.
"Halo, Ze... Ada apa?" tanya Sean sesudah menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Kak, beberapa hari yang lalu... Mama ternyata pulang ke rumah... Dan, sekarang pelayan rumah mengabari jika Mama mendadak masuk rumah sakit," ucap Zelene dengan suara yang terdengar khawatir.
"Ke rumah sakit mana, Ze?"
Walaupun wanita paruh baya itu selalu membuat kehidupan Sean sulit, sebagai seorang anak dia tetap harus memberikan yang terbaik untuk mamanya.
"Rumah sakit AB, Kak... Sebentar lagi aku dan suamiku akan ke sana," ucap Zelene.
Sean mengembalikan ponselnya seperti semula. Dia beranjak dari ranjang dan hendak masuk ke bathroom.
"Sayang... Siapa yang sakit?" tanya Callista.
"Mama, sayang... Kamu tidak apa-apa, kan? Berada di apartemen sendirian," ucap Sean.
Callista mengangguk. Dia memang sangat lelah. Memaksakan diri untuk ikut suaminya juga tidak mungkin. Hubungannya dengan sang mertua tidak seperti Kayana dan Mama mertuanya yang selalu terlihat akur dan sangat baik itu.
Andai saja Mama mertuaku baik seperti Mama Carlotta. Aku ingin ikut menemani dan merawatnya.
Sepuluh menit. Sean telah memakai pakaiannya sangat rapi sekali. Dia selalu menjaga penampilannya.
"Sayang, kemarilah!"
Callista beranjak dari ranjang dan mendekati suaminya. Pria itu langsung memeluk istrinya begitu saja. Seperti sudah tidak berjumpa selama puluhan tahun.
"Aku sangat mencintaimu...," Sean menjeda ucapannya. "Jangan cemburu dengan Mama, ya? Dia juga wanita istimewa yang ada dalam hidupku. Demikian juga denganmu, sayang. Kamu wanita yang istimewa juga," ucapnya. Dia tidak ingin istrinya merasa tersingkir karena Sean juga peduli dengan Mamanya.
__ADS_1
"Enggak, sayang... Aku malah seneng kalau kamu sangat perhatian sama Mama. Semoga mama mertua bisa menerimaku dengan baik, ya?" ucap Callista memandangi wajah suaminya.
Selama pernikahannya, Callista belum pernah merasakan indahnya memiliki mertua yang sayang kepada menantunya. Dia berharap suatu saat nanti, Mama Jelita akan menerimanya dan memperlakukan dirinya dengan baik.
"Kalau ada apa-apa, kabari suamimu, ya? Jika memang memerlukan Kayana untuk menginap di sini, silakan," ucap Sean melepaskan pelukannya.
Tidak mungkin aku meminta Kayana untuk menginap. Dia sudah bersuami. Pasti akan sangat sibuk dengan suaminya sepertiku. Batin Callista.
Sean mengecup lembut kening istrinya.
"Ibu hamil jangan sering-sering melamun. Tidak baik untuk kesehatan," goda Sean. Dia tidak tau istrinya sedang memikirkan apa.
"Aku tidak apa-apa, sayang... Aku hanya memikirkan Kayana...," ucapnya.
"Kenapa dengan sahabatmu itu?" tanya Sean.
"Sudah, tidak usah membahasnya lagi. Lekaslah pergi ke rumah sakit! Mama mertua pasti sangat membutuhkanmu," Callista mendorong tubuh suaminya agar lekas keluar dari kamar. "Jangan lupa ponsel, dompet, dan barang yang perlu di bawa."
Sean mengecek ulang semua barang yang disebutkan istrinya itu.
"Terima kasih, sayang. Kamu sangat istimewa untukku," Sean mengecup kening istrinya untuk kedua kalinya. "Jaga diri baik-baik, aku akan lekas pulang."
Sean bergegas meninggalkan apartemennya untuk pergi ke rumah sakit. Dia ingin melihat kabar mamanya yang baru saja masuk ke sana.
Semoga Mama selalu sehat. Apapun masalah yang kita hadapi pasti ada jalan keluarnya.
Sepanjang perjalanan, Sean juga memikirkan wanita yang sebentar lagi akan melahirkan keturunan keluarga Armstrong. Pikiran Sean terpecah. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya seorang diri di apartemen, tetapi dia juga butuh untuk menjaga Mamanya yang sedang sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Sean langsung mencari keberadaan adiknya. Dia sudah berjanji akan bertemu lebih dulu sebelum menemui mamanya.
🍒🍒🍒🍒🍒TBC🍒🍒🍒🍒🍒
Kira-kira Mama Jelita sakit apa, yach?
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... 🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ jangan lupa dihadiahkan untuk emak author agar lebih bersemangat lagi...
Oh ya, sambil nunggu update terbaru emak author mau kasih rekomendasi novel tamat milik teman emak...
Judulnya : Lentera Teruslah Bersinar
Author : ria aisyah
__ADS_1
Cus kepoin... terima kasih... luv Yu all.... 😍😍😍😍😘😘😘😘