Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Mengutarakan keinginan


__ADS_3

"Baru pulang, dokter?" sapa mama mertuanya.


"Mama, panggil Olivia saja," ucapnya dengan malu-malu.


Olivia tiba lebih dahulu daripada suaminya. Setelah melakukan malam pertamanya, Olivia belum terbiasa bersikap manis ataupun romantis pada Dizon, suaminya. Apalagi pria itu akan berbicara jika ada keperluan penting. Semisal menyiapkan baju atau beberapa kebutuhan yang dibutuhkannya.


"Bersihkan diri dulu! Mama akan menyiapkan makan malam untuk kalian," ucap mama Carlotta. Dia kemudian beralih ke dapur.


"Ma, biar kubantu." Olivia mengekor dibelakang mama mertuanya. Semenjak kedatangannya ke keluarga ini, dia tidak diperbolehkan untuk ke dapur atau sekadar membantu.


"Menantu mama yang cantik, sebaiknya kamu membersihkan diri dulu. Keburu suamimu pulang. Lekaslah!" Mama Carlotta menyuruh Olivia kembali ke kamarnya.


Olivia merasa tidak enak pada mertuanya, tetapi dia harus menurut padanya. Dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sebentar lagi suaminya akan pulang.


Tepat setelah Olivia keluar dari walk in closet, suaminya sudah berada di dalam kamarnya.


"Baru pulang?" tanya Olivia berbasa-basi. Rasanya aneh jika berada dalam satu kamar bersama suaminya, tetapi saling diam.


"Memangnya kamu pikir, aku akan berangkat bekerja?" jawab Dizon ketus.


Olivia mengelus dada. Dia butuh kesabaran ekstra menghadapi tingkah aneh seorang Dizon Damarion.


"Pertanyaan enak, setidaknya jawablah dengan enak. Apa susahnya memuaskan istrinya," jawab Olivia.


Jawaban yang membuat Dizon mencari kesempatan untuk berbuat mesum dan tidak disadari Olivia.


"Hmm, kalau untuk memuaskanmu setiap saat, aku sangat siap," jawabnya dengan nada datar.


Ya ampun, aku salah bicara. Harusnya untuk menyenangkan hati istri, apa susahnya.


"Terserah kamu saja. Aku mau ke meja makan. Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Olivia.


"Tidak perlu. Tunggu saja di sana!" Dizon beranjak masuk ke bathroom untuk membersihkan diri.


Olivia sudah di meja makan bersama kedua mertuanya. Papa Denzel lebih sering di rumah semenjak kehadiran dokter Olivia.


"Bagaimana pekerjaanmu, dokter?" tanya papa Denzel. Menurutnya, Olivia adalah menantu kebanggaannya.


"Panggil Olivia saja, Pa. Pekerjaanku lancar, Pa. Semoga seterusnya selalu begitu," ucapnya.


"Dizon sedang apa, Oliv? Kenapa dia belum turun juga?" tanya mama mertuanya.

__ADS_1


"Masih membersihkan diri, Ma," jawab Olivia. Dia sudah mulai mengisi piringnya.


Papa Denzel sudah sibuk dengan piring makannya. Sejak tadi dia menahan lapar karena menunggu kedatangan Dizon. Setelah menantunya datang, dia sudah malas menunggu putranya.


Papa Denzel lebih dulu selesai. Dia mengakhiri makan malamnya dengan minum teh hangat.


"Papa menginginkan seorang cucu dari kalian," ucap papa Denzel.


Uhuk!


Olivia langsung terbatuk. Dia tidak tau harus merespon seperti apa. Sebuah pertolongan datang dari arah yang lain. Dizon datang dan menjawab pertanyaan papanya.


"Pa, kalau menantunya sedang makan, jangan diberikan pertanyaan yang aneh seperti itu. Kalau mau bertanya, langsung saja ke suaminya," jawab Dizon dengan khas suara baritonnya. Dia langsung duduk di samping istrinya dan meminta piring makannya lekas diisi.


Setelah kedatangan Dizon, suasana makan malam semakin sunyi. Semua fokus pada piring, sendok dan garpu makannya. Papa Dizon masih menikmati dessert-nya.


Makan malam yang luar biasa dengan menu sederhana buatan mama Carlotta. Setelah semuanya selesai, Dizon dan Olivia pamit ke kamarnya. Olivia ingin beristirahat, sementara Dizon fokus untuk menunggu kabar baik dari masalah yang menimpa adiknya.


"Hemm, mama paham. Kalian berdua sangat betah di kamar karena masih pengantin baru. Nanti, kalau sudah punya anak, kamar akan menjadi nomor sekian dari sekian antrean yang sudah disusun. Kamar sudah bukan prioritas lagi," goda mama Carlotta.


Olivia hanya menyunggingkan senyum saja pada mertuanya. Sementara Dizon dengan cepat menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Sangat tidak romantis dan memaksa. Olivia sampai gedek menghadapi tingkahnya.


"Aku bukan pria romantis! Jangan berharap banyak. Yang penting aku bertanggung jawab penuh atas nafkah lahir dan batin. Itu lebih dari cukup," ucap Dizon. Dia langsung mengambil laptopnya dan mengetikkan sesuatu di sana.


Olivia naik ke ranjang, sementara suaminya berada di sofa kamar yang tak jauh dari ranjang. Ketika Dizon fokus pada laptopnya, tanpa diketahui pria itu, Olivia mengelus perutnya yang masih rata.


Rasanya aku ingin cepat hamil. Melihat istri Sean hamil, naluri keibuanku tiba-tiba muncul. Andai saja ada seorang bayi di sini, aku tidak akan merasa kesepian seperti ini.


"Hai, boleh berbicara sebentar?" tanya Olivia.


Dizon mendongak menatap sebentar ke arah istrinya kemudian kembali lagi fokus ke laptopnya.


"Bicara saja. Akan kudengar," ucapnya.


Olivia bingung harus mulai darimana. Sepertinya ucapannya sebentar lagi akan ditertawakan suaminya yang aneh itu. Tetapi jika tidak diutarakan, akan sangat sulit menembus benteng pertahanan pria itu. Mumpung dia lagi baik.


"Aku ingin lekas hamil," ucapnya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dizon mendongak. Ketika istrinya tidak menyadari, dia tersenyum semringah. Hanya sesaat, kemudian kembali seperti semula. Kaku dan sering membuat istrinya kesal.


"Memang itu sudah tugas suami untuk menghamili istrinya. Kamu tidak perlu khawatir," ucapnya dengan suara kaku khas Dizon.

__ADS_1


Oh ya ampun, salah lagi. Aku merasa malu padanya.


"Apa kamu setuju?" tanya Olivia lagi. Dia sudah menurunkan tangannya. Sekarang dia memegang bantal dan memeluknya.


"Tergantung dirimu. Jika aku menginginkannya, tetapi kamu tidak. Aku bisa apa?" jawaban suaminya selalu memojokkan dirinya.


Apa sebaiknya kusampaikan saja waktu idealnya, ya?


"Bagaimana kalau dibuat jadwal selama seminggu dua sampai tiga kali pertemuan?" tanya Olivia.


"Sudah seperti les privat saja, ya?" tanya Dizon. "Kalau aku menginginkannya lebih dari itu, bagaimana? Apa kamu akan menolaknya?"


Deg!


Ucapan Olivia selalu saja bisa dipatahkan oleh sang suami. Dia harus menjawabnya apa sekarang.


"Terserah kamu saja." Olivia menutup wajahnya dengan bantal. Dia persis gadis dua puluh tahun yang sedang menginginkan sesuatu. Malu-malu tapi mau.


Dizon tersenyum puas bisa mengerjai istrinya seperti itu. Tidak perlu susah payah untuk meminta haknya karena istrinya sudah memberikan jadwal.


Aku menang selangkah darimu, dokter Olivia.


"Apa mau memulainya malam ini?" tantang Dizon.


Glek!


Olivia melepas bantalnya kemudian menatap wajah suaminya. Bayangan malam pertama menari indah di pelupuk matanya. Olivia sepertinya sudah tidak peduli harus berhadapan dengan suaminya ketika sama-sama polos.


"Tidak, tunggu besok!" tolaknya. Olivia sudah terlanjur malu mengutarakan keinginannya untuk lekas memiliki seorang anak.


"Ck, dasar tidak konsisten. Bukannya kamu bilang dua atau tiga kali dalam seminggu? Harusnya malam ini pertemuan kedua setelah malam pertama kita beberapa hari yang lalu," ucap Dizon memandang wajah istrinya. Dia memang menginginkannya, tetapi dia berusaha menggiring agar istrinya terkesan memintanya terlebih dahulu. Benar-benar Dizon yang menggemaskan. Jika Olivia bisa membaca pikiran dan hati pria itu, Olivia akan menjadi orang pertama yang ingin membuatnya kapok sampai level tertinggi.


😜😜😜😜😜TBC😜😜😜😜😜


Bang Dizon, pengin tapi hobinya memancing... wkwkwkw...


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€β˜•β˜•β˜•β˜•β˜•β­β­β­β­β­jangan lupa diberikan, agar emak semakin bersemangat... 😍😍😍😍


Next, mulai Februari, per tanggal satu, kalian akan bertemu dengan cerita baru dari emak... Semoga suka... Covernya ganti baru... πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_1


__ADS_2