
Sean dan Vigor bergegas pergi ke gudang kosong yang dimaksud. Vigor mengendarai mobil Bosnya. Sementara Sean berada di kursi penumpang. Dia masih memakai kacamata hitam dan maskernya.
"Anak buahmu sangat hebat. Misi kali ini berhasil. Kuharap misi perjodohan satu miliar itu juga berhasil," ucapnya ketika di dalam mobil.
"Tentu, Bos! Jangan ragukan kepiawaian mereka untuk mengurusi hal ini," ucapnya penuh semangat. Vigor yakin, orang-orang pilihannya bisa diandalkan dengan baik.
Perjalanan dari kantor menuju gudang kosong itu memerlukan waktu yang cukup lama. Sehingga membuat Sean dan Vigor harus bergantian mengemudikan kendaraannya.
"Apa Bos yakin, jika besok akan berangkat masing-masing? Apa tidak kasihan dengan kakak ipar? Kita bisa berangkat bersama kalau Bos mau?" usul Vigor.
Ke puncak, apalagi Villa keluarga Armstrong memang lumayan jauh jika ditempuh dari kantor. Apalagi dari apartemen masing-masing. Jika berangkat seorang diri tanpa ditemani oleh orang yang bisa diajak untuk gantian mengemudi pasti akan sangat melelahkan.
Vigor benar. Callista pasti akan sangat kelelahan. Lebih baik kuterima sarannya.
"Baiklah. Pergilah ke apartemenku terlebih dahulu. Kita berangkat bersama-sama," ucapnya.
"Baik, Bos," ucap Vigor.
Sepanjang perjalanan, Sean tampak diam. Dia sedang memikirkan apa yang akan dilakukan pada pria itu.
Masalahku sangat banyak sekali. Terbebas dari Diana malah mendapati pria lain mengejar istriku. Aku masih berhutang pada wanita itu untuk menemukan ayah biologis Willow. Setelah ini semua selesai, aku akan segera menyelesaikan masalah Diana. Walaupun wanita itu bukan tanggung jawabku, setidaknya aku masih punya hati untuk mempersatukan ayah dan anak yang terpisah.
Perjalanan yang ditempuh hampir lima jam. Mobil mereka mulai memasuki area gudang kosong itu. Di sana sudah terdapat dua mobil lain yang Vigor tau itu adalah mobil anak buahnya.
"Bos, kita sudah sampai," ucap Vigor.
Sean baru kali ini melakukan perjalanan sejauh ini. Rasanya sangat lelah sekali. Niatnya untuk ke Villa dan membuat istrinya senang sepertinya harus dipikirkan ulang. Mengingat istrinya yang sedang hamil muda.
Vigor lebih dulu masuk dan menemui kedua orang yang sudah berhasil dibawanya ke tempat ini. Keduanya diletakkan di tempat terpisah.
"Bos, mau ke prianya dulu atau wanitanya?" tanya Vigor.
"Pria gila itu. Aku butuh penjelasan penting darinya," ucap Sean.
Vigor dibimbing anak buahnya untuk masuk ke ruangan lain yang letaknya lebih ke dalam di gudang kosong itu. Pria itu disekap di sana.
Ceklek!
Anak buah Vigor membuka pintu. Dilihatnya pria itu terikat di kursi dengan mulut yang terikat kain.
"Lepaskan kain penutup mulutnya!" perintah Vigor.
Anak buahnya segera menjalankan perintah Vigor. Baru saja dilepas, tawanan sudah merasa kesal diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa tiba-tiba membawaku ke tempat ini tanpa sebab?" protes pria itu.
"Untuk apa kau mendekati istriku?" tanya Sean yang baru saja masuk.
Pria itu terkejut bukan kepalang. Dia pikir akan selesai semalam ternyata berbuntut panjang.
"A-aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya mengaguminya," ucapnya bertolak belakang dengan kenyataannya. Awalnya dia sudah tertarik pada wanita itu dan berniat mendekatinya.
"Jangan bodoh, Tuan. Wanita itu sudah bersuami... Apakah tidak ada wanita lain, misalnya seperti wanita yang kau sewa semalam?" ucap Sean. Semalam dia ingat ada wanita penggoda itu yang menolongnya.
"Maaf, Tuan. Aku mengaku salah. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi," ucap pria itu. Tak ada gunanya melawan Sean. Pria itu akan punya seribu cara untuk membuatnya hancur.
"Kenapa kau berani memegang tangan istriku? Tidak adakah tangan lain yang bisa kau pegang?" tanya Sean lagi.
Pria itu terdiam. Dia tidak ingin terus meladeni pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Baiklah. Kau tidak mau menjawabnya. Siapa namamu?" tanya Sean.
Aku harus menjawabnya. Setelah ini, aku harus bebas. Aku tidak mau terus terkurung di tempat yang tidak layak ini. Batin pria itu.
"Juvenal, Tuan," ucap pria itu.
Sean terdiam. Dia tidak melanjutkan beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan sejak tadi. Dia teringat nama itu. Nama yang sangat familiar di telinganya.
"Burchard Juvenal Halbur?" tanya Sean.
Pria yang mengaku bernama Juvenal sangat terkejut. Bagaimana Sean bisa tau nama lengkapnya dengan jelas seperti itu?
Vigor pun sama terkejutnya. Yang tadinya tidak mengenali pria itu, tiba-tiba Bosnya malah menyebutkan nama lengkapnya.
"Bos mengenalnya?" Vigor buka suara.
"Ternyata aku tidak perlu susah payah harus menunggu tahun depan. Rupanya dia datang dengan sendirinya. Aku sudah lama mencarinya. Akhirnya sekarang muncul di hadapanku," ucap Sean.
"Apa maksud Anda, Tuan?" ucap Juvenal.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang pernah kau perbuat di masa lalu. Aku bukan tipe orang pendendam yang akan menyiksamu sepanjang hidupmu," ucap Sean.
Juvenal maupun Vigor masih tidak mengerti dengan ucapan Sean.
"Bertanggung jawablah pada wanita yang pernah kau hamili. Setidaknya untuk anaknya," ucap Sean.
Juvenal baru menyadari ucapan Sean. Dia teringat wanita yang dulu mengejar dirinya sepanjang waktu. Wanita itu menyukai dirinya tetapi tidak dengannya. Dia menolaknya secara terang-terangan karena keluarga mereka berbeda.
__ADS_1
"Apa wanita itu punya anak?" tanya Juvenal.
"Iya. Kau harus bertanggung jawab. Karena ulahmu, kami semua hampir terperdaya dengan semua kebohongannya yang diciptakan terus menerus. Apa hubunganmu dengannya?" tanya Sean.
"Aku tidak ada hubungan dengannya," ucap Juvenal jujur.
"Bohong! Jika kalian tidak ada hubungannya, bagaimana dia bisa hamil anakmu? Berapa lama kalian menjalin hubungan dibelakangku?" Sean terus saja mencerca dengan berulang kali pertanyaan.
Juvenal terdiam. Tak ada gunanya dia menjelaskan masalah yang orang lain tidak tau duduk masalahnya. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya dia terlepas dari jeratan Sean Armstrong. Dia secepatnya akan pergi dari tempat ini.
"Vigor, urus penerbangannya! Pertemukan dia dengan Diana!" perintah Sean.
"Hah? Harus hari ini, Bos?" tanya Vigor tidak percaya.
"Tidak! Tunggu... Biarkan saja dia berada di sini untuk sementara waktu. Minta Diana untuk datang. Aku ingin penjelasan darinya!" Sean mengubah rencananya. Jika seorang Juvenal tidak mau membuka mulut seorang diri, maka dia akan menghadirkan pasangannya untuk buka suara.
"Baiklah, Bos! Itu akan lebih mudah untukku," jawab Vigor. "Ikat kembali mulutnya! Jangan biarkan dia kabur begitu saja. Awasi dengan ketat!"
Setelah itu, Sean keluar bersama Vigor. Anak buah Vigor mengerjakan sesuai perintah atasannya.
"Bagaimana cara mereka mendapatkan pria gila itu?" tanya Sean penasaran. Bahkan dirinya tidak menyebut secara detail ciri pria itu.
"Mereka hanya menanyakan tentang pria yang sempat bertengkar semalam. Salah satunya sudah pergi dari hotel itu sedari pagi. Tak sulit untuk membuatnya keluar," ucap Vigor.
"Kau memang luar biasa, Vigor. Dia yang kucari selama ini," ucap Sean.
Usahanya tidak sia-sia. Sebentar lagi, Diana benar-benar lepas dari kehidupannya dan Mama Jelita. Wanita itu tidak akan memaksanya lagi untuk kembali rujuk.
🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Hai hai akak... semoga suka... maaf sedikit terlambat karena flu sedang melanda. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan, rezeki yang berlimpah dan keberkahan... Aamiin...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... 🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ ditunggu... 😍😍😍
Sambil menunggu update selanjutnya, kuy kepoin karya teman emak yang ceritanya sangat luar biasa juga...
Judul : Berbagi Cinta : Aku, Madu Sahabatku
Author : Ruth89
Terima kasih... Luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1