
Pagi ini di meja makan, Sean terlihat semringah. Semalam dia tidur dengan sangat nyenyak setelah membayangkan kegagalan malam pertama Dizon dan dokter Olivia.
"Sayang, kamu terlihat sangat bahagia," ucap istrinya.
"Tentu. Aku sangat bahagia dan pengantin baru itu akan terlihat merana karena kegagalan malam pertamanya," ucap Sean. Dia mengambil beberapa makanan dan diletakkan di piringnya.
"Kenapa bisa seyakin itu? Apa bunyi alarm sangat mengganggu?"
"Tentu saja, sayang. Ketika mereka membutuhkan ketenangan ternyata mendapatkan kejutan seperti itu, pasti mereka akan mundur pelan-pelan. Sudah pasti itu."
Sean bisa seyakin itu karena sebagai seorang pria, dia akan terganggu dengan bunyi yang tidak diharapkan. Apalagi ketika sedang fokus melakukan sesuatu yang membahagiakan.
"Sayang, hari ini aku ikut ke kantor, yah? Aku ingin menemanimu bekerja," pinta Callista.
"Tumben? Kenapa tidak di apartemen saja?"
"Tiba-tiba saja aku pingin ikut. Please, boleh ya?"
"Terserah kamu saja. Awas kalau sampai bosan di sana!" Sean akan sibuk dengan berkasnya dan membiarkan Callista duduk seorang diri di sofa ruangannya.
"Terima kasih, sayang." Callista berdiri kemudian mengecup pipi suaminya.
Callista membawa beberapa piring kotor ke wastafel kemudian mencucinya. Setelah itu dia kembali ke kamar untuk bersiap.
Callista siap dalam waktu lima belas menit. Dia tidak mau suaminya menunggu terlalu lama.
"Sayang, aku sudah siap," ucap Callista sembari memakai baju yang mirip orang akan bekerja.
"Kenapa berpakaian seperti itu?" protes Sean.
"Aku ingin menjadi sekretaris pribadimu, sayang," jawabnya dengan senyum mengembang.
"Aneh-aneh saja," ucap Sean.
Keduanya langsung berangkat ke kantor. Sean tidak mempunyai pikiran buruk tentang istrinya. Dia hanya memikirkan kebosanan yang akan diperoleh wanita hamil itu.
Sepanjang perjalanan, Callista terlihat sangat senang. Dia sangat menikmati pemandangan di sekelilingnya yang dikelilingi gedung pencakar langit itu.
SA Corporation yang berkembang karena peninggalan sang papa dan dikelola dengan baik oleh Sean. Kini, pria itu telah memasuki area parkir gedung tempatnya bekerja.
"Apa yang kamu pikirkan untuk ikut ke kantor seperti ini?" tanya Sean yang hendak turun dari mobil.
"Menyalurkan cita-citaku yang tertunda, sayang. Selain ingin menjadi pengangguran yang berkecukupan, aku juga ingin menjadi seorang sekretaris," jawab Callista dengan wajah polosnya.
Sean mendengar cita-cita aneh istrinya itu merasa sangat lucu sekali. Entah apa yang akan terjadi jika berebut pekerjaan dengan Vigor.
Setelah keduanya turun dari mobil, Callista berjalan mengekor di belakang suaminya. Sesampainya di depan front office, staf mengira jika Callista akan menjadi sekretaris baru Bosnya.
__ADS_1
"Sekretaris baru, Bos?" tanya staf itu.
"Bukan, Bu. Saya asisten barunya," jawab Callista.
Sean sebenarnya menahan tawa atas ulah istrinya itu. Tetapi bagaimana lagi, demi menjaga wibawanya, dia tetap diam. Pria itu hanya tersenyum pada stafnya.
Mereka sampai di ruangan teratas gedung ini.
"Sayang, kenapa ruanganmu berada paling atas? Apa tidak capek naik turun?" ucap Callista ketika sudah duduk di sofa.
"Aku tidak pernah merasa capek. Apalagi naik turun bersama istriku," ledek Sean.
"Ish, pikiranmu tidak jauh-jauh dari kata mesum," cibir Callista.
"Wajar saja, sayang. Aku pria normal. Memangnya kamu tidak suka jika suami sendiri yang mesum?"
Sean mulai membuka laptopnya untuk mengecek beberapa proyek yang sudah masuk laporan.
"Sayang, kenapa kamu diam?" tanya Callista.
"Aku sedang fokus pada laporan kerja, sayang," jawabnya.
Sean benar-benar tidak bisa fokus pada semua laporannya. Ketika sedang fokus mengecek, Callista bertanya lagi. Fokus Sean sangat terpecah saat ini.
"Sayang, please... Diamlah sejenak! Aku pusing," ucap Sean.
Sean sampai kewalahan dan memijit keningnya. Ketika sampai pada batas putus asa, pria itu memanggil Vigor melalui interkom. Suasana masih pagi, tetapi pikirannya sudah kacau balau.
"Vigor, datanglah ke ruanganku!"
Tak menunggu lama, Vigor sudah berada di ruangannya.
"Ada apa, Bos?" tanya Vigor. Dia tidak menyadari jika kakak iparnya berada di dalam ruangan Bosnya. "Apa kakak ipar berulah lagi?"
Pertanyaan Vigor disambut kejutan yang luar biasa dari seorang Callista.
"Apa ini pekerjaanmu di kantor, sayang?" tanya Callista pada suaminya.
Vigor sontak menoleh ke sumber suara.
Astaga... Kakak ipar? Ini namanya cari mati.
Sean terdiam. Dia seperti sedang ketahuan selingkuh oleh istrinya.
"Jawab! Kenapa kalian diam?" tanya Callista. Wanita hamil itu kini mendekati suami dan adik iparnya. "Apa yang kalian bicarakan di belakangku?"
Terkadang, Sean meminta solusi pada Vigor untuk menghadapi istrinya di sela kesibukan pekerjaannya. Makanya, Sean sangat tenang menghadapi semua sikap istrinya.
__ADS_1
"Tidak ada, sayang. Hanya urusan pekerjaan. Kamu pasti salah dengar," ucap Sean beralasan.
"Sepertinya memang aku salah dengar," Callista mundur lagi ke sofanya.
Ck, mereka pikir aku tuli, hah?
"Sayang... Di sekitar kantor ini apakah ada restoran yang menjual makanan yang enak?" tanya Callista.
"Memangnya kamu mau makan apa?" tanya Sean.
Rencana pria itu untuk menyelesaikan pekerjaan agaknya hanya wacana yang tak kunjung terealisasi. Drama yang dibuat istrinya sangat menyita waktu.
"Nasi bakar, sate ayam, sop buntut, nasi pecel, ayam panggang, dan ikan bakar," ucap Callista.
Sean pusing mendengarnya. Semua makanan itu letaknya tidak dekat. Mereka saling berjauhan. Sekarang pikiran Sean akan terpecah antara pekerjaan dan menuruti keinginan istrinya.
Mengidam memang ciri khusus yang dimiliki ibu hamil. Dia pernah mengalami pada masa bersama Diana. Wanita itu juga menginginkan sesuatu yang aneh dan harus dituruti pada waktu itu juga.
"Memangnya apa bedanya panggang dan bakar?" ucap Vigor menyela ucapan pasangan suami istri itu yang tak menganggap keberadaannya.
"Tulisannya," jawab Callista seperti tidak berdosa.
"Dari beberapa makanan tadi, mana yang paling kamu inginkan, sayang?" tanya Sean. Tidak mungkin dia harus membelikan semuanya.
"Aku ingin pulang saja. Sepertinya aku sangat bosan di sini."
Sean mengedipkan matanya pada Vigor. Dia meminta asistennya itu untuk keluar dari ruangannya.
Sebelum Vigor keluar, Callista menyadari jika pria itu disuruh untuk keluar oleh suaminya.
"Tunggu, adik ipar!"
Vigor menoleh ke arahnya. "Ya, Kak?"
"Aku minta tolong belikan jus buah yang ada di restoran XX. Di sana jus nya sangat enak. Jangan lupa belikan nasi box spesialnya untuk seluruh karyawan dan untuk kita," ucap Callista.
Mendengar permintaan normal istrinya itu, Sean segera menyuruh Vigor berangkat sebelum wanita itu berubah pikiran.
"Pergilah dan turuti semua kemauan kakak iparmu!" perintah Sean.
Vigor memang asisten yang tanggap. Dia tidak mau terjebak dalam rangka ngidam kakak iparnya itu.
"Jus apa yang kakak ipar inginkan?" tanya Vigor.
"Jus lemon," jawabnya.
Callista ingin meminum sesuatu yang masam tapi menyegarkan. Vigor secepatnya pergi dari ruangan Bosnya sebelum ada tambahan permintaan lain yang lebih rumit lagi.
__ADS_1
🐬🐬🐬🐬🐬🐬TBC🐬🐬🐬🐬🐬