Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Zelene Keguguran


__ADS_3

Apartemen K&Q adalah tempat tinggal Zelene dan Vigor. Kondisi kehamilannya sudah lebih baik sekarang, tetapi tetap saja Zelene tidak boleh bekerja terlalu lelah atau setres yang berlebihan.


Zelene sangat nyaman berada di apartemen suaminya. Dia bisa beristirahat dengan santai tanpa gangguan siapapun.


Sore ini, sebelum suaminya pulang kerja, Zelene menyiapkan makanan sederhana. Tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi.


"Siapa yang datang?" ucapnya. Dia bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


Ceklek!


Orang yang tidak diharapkan kedatangannya sudah berada di depan wajahnya. Ingin menolak takut dosa, kalau tidak ditolak selalu saja membawa petaka.


"Ada apa mama ke sini?" tanya Zelene ketus. Dia sempat ribut beberapa waktu lalu karena mamanya meminta alamat Sean.


"Mama hanya ingin berkunjung. Apa mama salah?"


Zelene belum mempersilakan masuk karena tidak ingin mamanya berlama-lama di apartemen.


"Sudahlah, ma. Lebih baik mama pergi sekarang. Suamiku sedang tidak dirumah. Aku tidak akan nyaman menerima tamu tanpa keberadaan suamiku," ucap Zelene.


Mama Jelita menatap tajam mata putrinya itu. Binar mata sarat akan kebencian padanya.


"Kamu menikah dengan orang rendahan seperti Vigor dan sekarang kamu membenci mama. Sudah mama duga, pria itu akan membawa dampak buruk padamu. Kenapa dulu kamu menolak Felix dan memilih menikahi asisten kakakmu itu?"


"Ma, cukup! Aku berhak bahagia atas pilihanku sendiri. Lebih baik sekarang mama pergi." Zelene sengaja tidak mempersilakan masuk mamanya.


"Kamu mengusir mama?" Mama Jelita seakan tidak terima dengan perlakuan putrinya.


"Ma, setiap kedatangan mama, tidak ditempatku maupun kak Sean, mama selalu bikin ribut. Apa yang sebenarnya mama inginkan?" tanya Zelene.


"Perceraian kakakmu dan istrinya. Mama akan mencarikan calon yang sepadan untuk Sean," ucapnya.


"Alasan apa yang membuat mereka untuk bercerai? Mereka saling mencintai, ma. Kakak ipar juga sedang hamil. Sebentar lagi cucu mama akan lahir," ucap Zelene.


"Mama tidak suka jika Sean memiliki anak perempuan," ucap mamanya.


Zelene langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan sudah dijawab oleh mamanya. Itu artinya kakaknya harus ekstra mempertahankan rumah tangganya.


"Sudahlah, Ze. Tinggal menunggu kabar darimu. Jika anakmu laki-laki, mama akan mempertimbangkan untuk menerima Vigor dengan mudah."


"Sebaiknya mama pergi saja. Laki-laki atau perempuan, dia tetap bayiku. Kak Sean pun demikian. Jadi, jangan terlalu berbuat sesuka hati mama." Zelene tidak sopan memang. Dia harus menutup pintu apartemennya terlebih dahulu sebelum dia sangat emosional menghadapi mamanya.

__ADS_1


Zelene bergegas ke kamar mandi. Rasanya ingin buang air kecil, tetapi sedikit tertahan. Manakala sampai di dalam toilet, dia mendapati bercak darah di ****** ********.


"Oh God, ada apa ini?" ucap Zelene. Seperti darah segar yang baru jatuh sekitar dua atau tiga tetes. Masih terlihat samar tetapi kelihatan bahwa itu adalah darah.


Zelene bingung. Dia harus menghubungi siapa dulu? Jika langsung ke suaminya, pasti pria itu akan sangat kacau pikirannya.


Semakin lama, perutnya semakin kram. Rasanya seperti orang yang mau melahirkan. Darah segar mulai mengucur perlahan bersamaan munculnya gumpalan daging kecil yang tidak beraturan. Zelene seperti hampir pingsan.


Zelene secepatnya menghubungi dokter Olivia minta bantuan untuk mengirimkan ambulance ke apartemennya. Setelah itu, dia akan meminta dokter Olivia untuk mengabari suaminya.


Dokter Olivia sudah tidak ada pekerjaan lagi. Dia membawa mobilnya menuju apartemen Zelene. Bersamaan dengan itu, ambulance telah siap untuk menjemput pasien.


Tak lama, dokter Olivia bersama ambulance yang dimintanya telah tiba di apartemen Vigor. Mereka segera membawa Zelene ke rumah sakit.


Sangat dramatis, Zelene keluar dari kamar mandi dengan darah yang mengalir di sela pahanya. Petugas rumah sakit membawanya turun melalui lift dan menyiapkan brankar di lantai bawah. Dokter Olivia memarkir mobilnya di basemen lalu ikut ke rumah sakit.


"Ze, tahan sedikit lagi, ya?" Walaupun Olivia bukan dokter kandungan, tetapi dia sudah meminta tolong dokter Adelard untuk menyiapkan perawatan Zelene.


"Kak, aku kehilangan bayiku," tangisnya pecah.


"Jangan khawatir, Ze. Kamu bisa hamil lagi. Yang penting sekarang penanganan untukmu dulu. Jangan pikirkan macam-macam," pinta dokter Olivia.


"Halo," sapa Sean.


"Halo Sean. Maaf aku mengganggumu," ucap Olivia.


"Tidak apa, Oliv. Sebentar lagi aku pulang. Memangnya ada apa? Suaramu seperti gugup," balas Sean.


"Datanglah ke rumah sakit. Zelene ada di IGD sekarang."


Sean langsung panik mendengar ucapan Olivia.


"Ze, kenapa?" tanya Sean.


"Datang saja. Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon."


"Baiklah." Sean menutup teleponnya.


Sementara dokter Olivia memanfaatkan situasi ini dengan baik. Bukan karena Zelene keguguran dan dia dendam padanya. Dia berniat untuk tidak pulang ke rumah keluarga Damarion malam ini. Dia ingin tau seberapa besar pria kaku itu membutuhkannya.


Semoga kamu baik-baik saja, Ze. Walaupun sudah jelas hasil akhirnya bahwa kamu kehilangan janin itu.

__ADS_1


Olivia mengelus perutnya yang masih rata. Semalam dia menerima banyak bibit dari suami kakunya itu.


Akankah ada satu benih yang berhasil menembus pertahananmu, sayang.


Tak menunggu lama, Sean datang bersama suami Zelene.


"Oliv, sebenarnya ada apa ini?" tanya Sean.


Olivia menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke apartemen Zelene dan membawanya ke rumah sakit. Vigor akhirnya menyadari jika istrinya itu tidak ingin membuatnya panik.


"Bagaimana kondisi istriku saat ini?" tanya Vigor.


"Tunggu saja, sebentar lagi dokter akan meminta persetujuan penanganan untuk Zelene," jawab Olivia.


Benar saja, suster memanggil keluarga pasien dan memintanya untuk masuk. Sekitar lima belas menit, Vigor keluar lagi dengan wajah sedihnya.


"Apa. yang terjadi dengan adikku?" tanya Sean.


"Zelene keguguran, Kak. Dia tidak berhasil mempertahankan kehamilan ini," ucap Vigor tertunduk.


"Kamu yang sabar, ya. Zelene pasti bisa hamil lagi. Ikuti arahan dokter saja mengenai promil pasca keguguran," ucap Olivia.


"Terima kasih, dokter." Vigor duduk di kursi tunggu yang ada di depan IGD.


Sean dan Olivia sedang mengobrol sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, Olivia pamit untuk mengambil mobil yang ditinggalkan di apartemen Vigor.


"Terima kasih, Oliv. Kamu sudah membantu. Untung saja Zelene cepat dibawa ke rumah sakit. Jika tidak, aku tidak akan tau bagaimana keadaannya," ucap Sean. Dia memikirkan adiknya sekaligus istrinya. Bagaimana Zelene akan menerima kenyataan buruk ini?


"Sama-sama, Sean. Aku langsung pamit ya." Bergegas dokter Olivia meninggalkan rumah sakit. Dia mencari taksi untuk menuju apartemen K&Q.


Maafkan aku, suami. Aku harus berbuat seperti ini agar kamu sadar bahwa aku sangat penting untukmu. Bukan sekedar mendapatkan kepuasan dengan cara licik seperti semalam. Datanglah dengan cinta, maka aku akan memberikan apapun yang kamu minta. Walaupun aku belum mencintaimu, tetapi kenyataannya kita berjodoh.


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓


Yang sedih dulu lewat...


Untuk yang sedang berjuang mendapatkan momongan, saya doakan lekas mendapatkan... Aamiin...


Emak Othor juga pernah berada di titik terendah itu, jangan putus asa. Tetap yakin semua akan ada masanya.


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2