
Pagi hari di keluarga Damarion, Mama Carlotta sedang berada di dalam kamar putra sulungnya. Wanita paruh baya itu harus berhasil membujuk putranya untuk berangkat ke rumah sakit. Jika tidak, semuanya akan tetap seperti semula. Menjadi pria pendendam yang sangat ambisius.
"Selamat pagi, sayang. Bagaimana harimu? Apa kau sudah siap untuk pergi ke rumah sakit?" tanya Mama Carlotta yang sedang duduk di tepi ranjang putranya.
"Untuk apa aku ke sana, Ma? Aku baik-baik saja dan aku tidak sakit," tolaknya.
"Kau memang sehat secara fisik, tetapi Mama mau kau mengikuti perintah Mama kali ini. Tolong untuk tidak membantah. Bukankah kau juga ingin seperti Sean untuk mendapatkan seorang istri?" bujuk Mamanya.
Kenapa Mama menyebut pria itu lagi? Telingaku rasanya tidak nyaman mendengar namanya.
"Apa Mama bisa menjanjikan sesuatu padaku jika aku mau mengikuti kemauan Mama?" Dizon sedang melakukan negosiasi.
"Tentu! Tergantung apa keinginmu. Jika mama bisa mengabulkan, akan Mama kabulkan," ucap Mamanya.
Aku ingin menikahi Callista. Wanita itu sudah menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu. Bahkan aura kecantikannya masih jauh dibandingkan Diana.
"Aku menginginkan Callista, Ma," ucap Dizon.
Harapan Dizon sangat besar pada wanita itu. Dia berharap bisa mendapatkannya sebagai wujud balas dendam pada Sean.
Kau tidak bisa begitu, sayang! Callista itu milik orang lain. Orang akan selamanya mengecap dirimu sebagai seorang pebinor, Nak. Mama tidak mau itu terus melekat padamu.
"Jangan gila, Dizon! Dia wanita yang bersuami. Mama akan memberikan padamu sepuluh atau bahkan lima puluh wanita asal statusnya masih single atau janda. Terserah kau! Asal bukan wanita itu!" Mama Carlotta berusaha membuat putranya untuk tidak berambisi mendapatkan apapun yang didapatkan Sean.
"Aku tidak akan pernah pergi ke rumah sakit!" Dizon menolak permintaan Mamanya.
Harus membujuknya seperti apa agar Dizon mau menurut kepadaku?
"Kau ingin berubah, tapi kau tidak mau berusaha merubah dirimu! Sampai kapan, Dizon? Sampai Mama mati?" teriak Mamanya membuat Dizon membelalakkan mata.
"Kenapa Mama bicara seperti itu? Aku tidak mau kehilangan Mama," balas Dizon tertunduk.
Kekuatan terbesar Dizon ada pada Mamanya. Wanita itu yang selalu bisa menerimanya dalam kondisi apapun. Di luar sana, dia bahkan di cap sebagai playboy yang selalu mempermainkan istri orang. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.
"Kalau kau tidak mau kehilangan Mama... Bisa 'kan ikuti kemauan Mama? Setelah itu, terserah kau! Mama hanya menyarankan cari seorang gadis atau menikahlah dengan Diana dan bertanggung jawab atas Willow!" pinta Mamanya.
Mama tidak pernah tau yang sebenarnya. Willow juga bukan anakku. Aku berselingkuh dengan Diana karena obsesiku menghancurkan Sean. Saat itu, Diana tengah mengandung. Jadi, aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah kulakukan.
"Aku mau mengikuti kemauan Mama, tetapi tidak menikah dengan Diana," ucap Dizon membuat Mama Carlotta terkejut.
__ADS_1
Kenapa dia selalu menolak menikahi Diana? Apa sebenarnya yang tidak kuketahui tentang wanita itu?
"Baiklah. Lekaslah ke meja makan. Kita sarapan pagi dahulu. Papamu dan Felix pasti sudah menunggunya," ajak Mama Carlotta.
"Aku akan bersiap, Ma," jawab Dizon.
Mama Carlotta keluar dari kamar putranya menuju ke meja makan. Pagi ini dia menitipkan tugas menyiapkan sarapan pagi kepada pelayan. Dia harus membujuk putranya untuk pergi ke rumah sakit.
"Bagaimana Kak Dizon, Ma? Apa dia mau?" tanya Felix ketika Mamanya sudah duduk di meja makan.
"Iya, dia sudah setuju. Setelah ini, Mama akan mencarikan seorang gadis untuknya," ucap Mama Carlotta semringah.
Papa Denzel hanya mendengarkan saja obrolan antara ibu dan anak itu.
Dizon selesai bersiap, dia juga sudah berada di meja makan bersama anggota keluarga lainnya.
"Kakak terlihat berbeda hari ini. Semoga ini tidak akan berjalan sia-sia," ucap Felix. Dia turut senang melihat perkembangan kakaknya.
"Aku hanya ingin berbakti pada orang tua," ucapnya.
Mereka semua fokus pada makanan masing-masing. Tidak ada obrolan lagi yang berlanjut. Setelah Mama Carlotta dan Dizon selesai sarapan pagi, keduanya berangkat ke rumah sakit.
"Iya, Ma. Apapun terserah Mama. Kenapa Mama masih peduli padaku?"
"Kau anak Mama, melihat Felix bahagia, Mama juga ingin membuatmu bahagia. Tidak masalah untukmu, kan?" Mama Carlotta sebenarnya kasihan pada Dizon. Memang sejak ditinggalkan Diana, anaknya berubah menjadi orang lain. Walaupun sifatnya mengikuti suaminya, Denzel saja masih mau menuruti semua kata-kata istrinya.
Ketika sampai di rumah sakit, tak sengaja pandangan Dizon menatap seseorang yang dikenalnya. Tiba-tiba wajahnya memerah, dia lepas kontrol hendak menyusul orang yang baru saja keluar dari rumah sakit bersama dua orang wanita. Untung saja orang itu tidak menyadari keberadaan Dizon.
Mama Carlotta menahan anaknya untuk tidak mengejar orang itu.
"Dizon. Dengarkan Mama! Mengejar Sean tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu. Tolong hargai Mama," Mama Carlotta memohon dengan sangat pada putranya itu.
"Tidak, Ma! Sampai kapanpun aku tidak akan mengalah dengannya. Dia sudah membuat hidupku kacau!"
"Kau terlalu emosional, sayang! Pernahkah kau berfikir yang sesungguhnya? Sean tidak akan pernah merebut Diana darimu jika dia tau kau adalah kekasihnya. Pakai sudut pandang Diana, dia menerima pernikahan itu karena orang tuanya. Sekarang mereka sudah bercerai. Apa yang kau inginkan sekarang?" ucap Mama Carlotta.
Semua yang dijalani Dizon dan Sean memang sama hancurnya karena wanita yang sama. Bedanya, Dizon ditinggal menikah dengan orang lain sedangkan Sean ditinggal selingkuh oleh Diana.
Perlahan, Dizon mau menerima penjelasan Mamanya. Sekarang Mamanya dan dirinya berada di dalam ruangan psikolog. Sekitar dua jam keduanya berada di sana.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Mama Carlotta ketika sudah keluar dari ruangan itu.
Keduanya berjalan menuju tempat parkir.
"Sedikit lebih baik, Ma," ucapnya.
"Baiklah, seminggu lagi kita akan kembali. Siapkan dirimu."
Mama benar, aku sudah sangat berumur. Jika aku tidak berubah dari sekarang, aku tidak akan pernah mendapatkan wanita yang baik seperti Mama.
Dizon bisa tersenyum, walaupun masih merasa tertekan pernah kehilangan orang yang dicintainya.
"Baiklah. Terserah Mama saja," ucapnya pasrah.
"Kenapa kau bersikeras menolak menikahi Diana?" tanya Mama Carlotta ketika sudah berada di dalam mobil.
Karena wanita itu pembohong!
"Aku tidak mau bekasnya Sean, Ma," ucap Dizon beralasan.
Mama Carlotta tertawa mendengar jawaban putranya.
"Kau sudah sadar, rupanya! Jika kau tidak mau bekas Sean, lalu kenapa kau masih ingin mengejar Callista? Ternyata Psikolog Rumah Sakit AB patut untuk di apresiasi."
Setelah mendengar jawaban Mamanya, Dizon tidak bisa berkutik lagi. Dia kalah dengan wanita yang disebutnya Mama itu.
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
Hai, kak. Semoga suka dengan part kali ini...
Kuy mampir ke karya teman emak
judulnya : Jejak Cinta Jenaka
Author : Mizzly
Terima kasih. Luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1