
"Sudahlah, ngomong apa kamu ini. Pergilah, jangan ganggu aku!" tolak Olivia.
"Kamu mengusirku?" Dizon semakin maju dan membuat Olivia sampai mendekati tembok kamarnya. "Tunjukkan dimana kamar kita?"
Ck, dasar pria aneh!
"Tidak ada tempat untukmu disini. Pulanglah! Aku juga tidak mau menampung pria aneh sepertimu," sindir Olivia dalam posisi terjepit.
"Ck, jangan munafik! Tidak mau menampung pria aneh, tetap saja benihku sudah tertampung pada dirimu. Anggap saja aku kesini untuk mengejar benih yang kamu bawa pergi. Aku tidak terima karena usahaku bisa menghasilkan pembuahan yang sempurna," ucap Dizon. Dia mendorong mundur lagi sampai posisi Olivia benar-benar berada di tembok.
"Kamu terlalu percaya diri. Bisa saja pembuahan semalam gagal karena aku tau kamu berbuat curang. Setidaknya mintalah baik-baik pada istrimu, Tuan Arrogan!"
Ucapan Olivia membuat bomerang untuk dirinya sendiri. Mengenai sentuhan nakal yang diberikan Dizon semalam, tidak menampik bahwa Olivia sangat menginginkannya lagi.
"Baiklah. Aku akan memintanya baik-baik, tetapi ajari aku untuk memintanya biar tidak salah paham." Dizon menempelkan keningnya pada kening Olivia. Napas keduanya seakan memburu.
"To-tolong mundurlah! Aku tidak bisa bernapas," ucap Olivia.
"Ck, diam saja. Aku juga tidak membekap hidungmu. Bernapas saja."
Dizon membuat Olivia tidak berkutik. Sikap kaku dari keduanya bukan tanpa alasan. Sama-sama mempunyai ego yang tinggi.
"Malam ini, aku menginginkannya. Bisakah kamu memberikan hakku?" tanya Dizon. Dia sangat kesulitan menaklukkan istrinya sendiri. Dunia bisa menertawakan dirinya jika malam ini dia gagal.
"A-aku lelah," tolak Olivia secara halus. Malam sudah menunjukkan tepat jam dua belas, itu artinya jika dia mengiyakan permintaan suaminya, pasti akan berakhir mendekati fajar. Itu menyebabkan besok dia tidak bisa bekerja dengan benar. Bisa jadi, dia akan ambil libur sehari karena habis digempur oleh suaminya. Ini sangat konyol dan tidak berkelas.
"Hemm, sudah kuminta baik-baik, kamu malah menolaknya. Baiklah, aku ngantuk. Tunjukkan dimana kamar kita!" Dizon mundur beberapa langkah. Niatnya untuk mengatakan perasaan diurungkannya.
Olivia membukakan kamarnya yang bernuansa biru dan pink. Sangat jauh dari kamar Dizon yang pure tipe pria banget.
"Seperti kamar anak gadis saja," sindir Dizon.
"Kalau tidak mau, tidur saja di kamar tamu!" Olivia mengambil satu bantal dan selimut dari lemari. Diletakkan di sofa. "Tidurlah di ranjang, biar aku di sofa saja."
Olivia menolak karena ukuran ranjangnya tidak seluas di kamar suaminya. Ukuran ranjang dengan lebar seratus dua puluh centi meter itu akan terasa penuh bila ditempati dua orang.
"Aku ingin tidur seranjang dengan istriku. Jangan tolak!" Dizon naik ke ranjang dan merebahkan dirinya di sana.
__ADS_1
"Aku tidak bisa!" Olivia bersikukuh untuk tetap tidur di sofa. Dia tidak sadar telah membangkitkan amarah Dizon karena berulang kali menolaknya.
Dizon turun dari ranjang. Dia menyambar tubuh Olivia kemudian membopongnya ke atas ranjang. Diletakkan dengan pelan kemudian langsung dilu*atnya bibir istrinya dengan penuh ga*rah.
Olivia tidak mampu menolak setiap sentuhan pria kaku itu. Bahkan di awal, dia telah membuat Olivia mende*ah merasakan sentuhan nakal suaminya.
Dizon melepaskan ciumannya. Dia mulai bermain diseluruh titik sensitif istrinya.
"Maafkan aku, Oliv. Aku memintanya dengan baik, tetapi kamu terus saja menolaknya. Maafkan aku yang tidak bisa bersikap romantis padamu, tetapi aku berjanji akan memberikan yang terbaik untukmu," ucap Dizon sembari memainkan titik sensitif Olivia.
Perlahan pria itu membuat istrinya polos. Terpampang nyata keindahan di hadapan Dizon.
"Izinkan aku memberikan hakku dengan lembut. Maafkan aku telah membohongimu tentang obat itu." Dizon terus saja bermain-main, membuat Olivia tidak mampu menjawabnya dari semua pengakuan Dizon.
Terakhir, Dizon juga tidak sadar. Sejak kapan dia sudah sama polosnya dengan istrinya.
"Izinkan aku melakukannya," ucap Dizon meminta persetujuan.
Olivia sudah terlena dengan permainan suaminya itu. Ketika milik suaminya hampir memasukinya, Olivia tersadar.
"Hentikan, Dizon! Aku tidak mau melakukannya tanpa cinta!" tolak Olivia.
Rasanya langsung nyut-nyutan. Bagaimana tidak, ketika Dizon sudah berada pada puncak tertingginya, ternyata istrinya menolak.
"Oliv, tolong sekali saja bantu aku menyelesaikan pelepasan ini. Rasanya kepalaku mau pecah." Dizon sedang bernegosiasi.
"Tidak! Kamu tidak pernah melakukannya dengan cinta. Kamu sering menyakiti perasaanku. Tolong turunlah dari atas tubuhku!" pinta Olivia.
Dizon tidak menggubrisnya. Dia tetap saja melancarkan aksinya membuat Olivia berteriak kesakitan.
"Auuuh...." Olivia kalah.
Dizon memegang kendali permainan ini.
"Aku mencintaimu, Oliv. Sangat mencintaimu." Dizon terus saja memacu tubuhnya. Dia ingin memberikan kenikmatan yang luar biasa. "Katakan, kamu juga mencintaiku!" racaunya.
Malam ini, di apartemen Olivia untuk pertama kalinya Dizon mengakui perasaan cintanya. Olivia tidak mampu menolak karena setiap sentuhan suaminya itu bagaikan surga dunia yang sangat indah.
__ADS_1
Olivia tidak mampu membendung air mata bahagianya. Suami sedingin esnya itu bisa berubah dan mencintainya. Walaupun awalnya Dizon memaksa, lambat laun Olivia berusaha mengimbanginya.
"Terima kasih, Oliv," ucapnya ketika berhasil mendapatkan pelepasan dengan sempurna.
Keduanya berada dalam satu selimut dan saling memeluk.
"Lekaslah hamil! Aku ingin mempunyai seorang anak sama sepertimu," ucap Dizon.
Olivia mengangguk tanda setuju. Dia dan suaminya telah berdamai. Ternyata tidak susah membuat suaminya mengakui cintanya. Olivia tersenyum puas memandangi wajah suaminya yang mulai terlelap itu.
Ternyata kamu pria yang baik, Dizon. Mungkin ini yang namanya bertemu disaat yang tepat. Semoga saja esok kamu tidak berubah lagi. Aku khawatir jika setelah malam ini, kamu melupakannya dan kembali pada dirimu yang asli. Awas saja!
Olivia hendak turun untuk ke kamar mandi, namun itu malah membuat Dizon terbangun.
"Kamu mau kabur kemana lagi?" tanya Dizon.
"Eh, kamu belum tidur?"
Dizon menggeleng. "Pandangi terus seperti tadi. Aku suka."
Dizon sengaja pura-pura tidur agar dia tau bagaimana Olivia bisa menerima dirinya atau tidak. Olivia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa ditutupi? Malu? Kita sudah sama-sama tua dan masih polos. Aku juga sudah hapal dimana titik sensitif itu berada." goda Dizon.
"Kamu curang untuk yang kedua kalinya," tuduh Olivia.
Dizon tersenyum. Dia memeluk istrinya dengan sangat lembut.
"Cintai aku dengan segala kekuranganku. Suami monstermu ini." Dizon sadar diri. Dia berhak memperjuangkan cinta istrinya yang menurutnya sudah sangat luar biasa ini.
"Aku malu padamu, Dizon. Selama ini, aku sama menginginkannya. Aku malu untuk mengakuinya."
Dizon melepaskan pelukannya kemudian menurunkan tangan istrinya. "Jangan katakan itu! Kita pasangan tua yang sama-sama egois. Sebenarnya kita juga bisa bucin seperti Felix maupun Sean, hanya saja kita terlambat untuk mengatakannya."
Jangan salah, Dizon sudah tertarik pada Olivia dipertemuan pertamanya. Dia bahkan dengan gamblang untuk mengajak tidur wanita itu, ternyata bukan malah mengiyakan. Dizon mendapatkan tamparan di depan umum. Di pesta pernikahan adiknya.
Perseteruan itu berujung damai di atas ranjang. Semoga ke depannya pasangan ini selalu bersama dan saling mencintai.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓