
Setelah gonjang-ganjing surat kaleng beberapa hari yang lalu dan membuat Callista bersikap dingin pada suaminya, sekarang semuanya berubah. Callista berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya.
Jika biasanya sang suami akan bersikap sangat romantis, kini giliran Callista yang menjadi istri agresif.
Pagi ini, dia sengaja memakai gaun malam untuk memancing suaminya. Sejak dirinya dinyatakan hamil, Sean berusaha untuk menahan diri agar tidak menyentuh istrinya.
Callista sedang menyiapkan sarapan paginya di dapur. Ketika sedang sibuk, munculah suaminya dengan jas kerja lengkap. Pria itu akan pergi ke kantor. Melihat istrinya dengan gaun transparan itu membuat Sean berdesir sangat hebat. Niatnya untuk menahan selama beberapa hari, sepertinya akan gagal untuk kali ini.
Apa dia sengaja memancingku?
Sebagai pria normal, dia tidak menampik jika istrinya terlihat sangat s*ksi dan lebih berisi.
"Kau sengaja menggoda suamimu, sayang?" Sean memeluk istrinya dari belakang dan membisikkan sesuatu padanya. "Aku akan memintanya, sayang."
"Kau merasa tergoda? Lakukanlah jika kau menginginkannya. Semua milikmu, sayang!"
Kata-kata mesra yang dilontarkan Callista membuat Sean tak berdaya. Callista merasa berhasil membuat suaminya masuk ke dalam perangkap mesumnya itu. Callista terus saja menertawakan dalam hati tingkah konyolnya itu.
Aku sangat merindukannya, sayang!
Sean yang sudah tidak sabar, menghentikan aksi memasak istrinya itu. Dia mematikan kompornya secara mendadak kemudian melepaskan pelukannya. Dia membawa istrinya masuk ke bathroom. Di sana, dia sengaja membuat istrinya polos tanpa sehelai benangpun. Sean juga sudah melepaskan semua yang dipakainya saat ini.
Sean perlahan mulai mengecup bibir istrinya. Membiarkan wanita itu meleguh nikmat merasakan pertemuan dua bibir yang saling memberi dan menerima. Ci*man yang semakin dalam dan semakin membuat nafas mereka menderu. Saling berbelit lidah dan bertukar saliva.
Pagi yang romantis!
Tak hanya berhenti di situ saja, Sean mulai melewati leher jenjang istrinya dan meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di sana. Dia masih ingin bermain-main dengan istrinya.
Setelah dirasa cukup bagi Sean, dia meminta izin istrinya untuk melakukan penyatuan.
"Apa kau siap, sayang?"
Callista mengangguk. "Pelan-pelan, sayang. Ada baby kita."
Setelah Callista dinyatakan hamil, ini pertama kalinya Sean menyentuh wanita itu. Dia takut terjadi sesuatu pada janin yang dikandung istrinya itu.
Setelah mendapatkan izin Callista, dia mulai membenamkan makhluk hidupnya itu ke dalam tempat yang semestinya. Dengan perlahan namun pasti, akhirnya makhluk hidup itu masuk dengan sempurna!
Sean berusaha memberikan sebuah kenikmatan tanpa menyakiti istrinya. Dengan perlahan dia mulai memacu kendali untuk mendapatkan pelepasan.
Entah sudah berapa lama, Sean baru mendapatkan pelepasannya yang pertama. Dia meminta izin lagi untuk melakukannya.
Kali ini, Sean membawa istrinya ke atas ranjang kamarnya. Dia ingin sesuatu yang berbeda. Perlahan dia memulai bermain-main dengan istrinya.
Callista sudah mulai kelelahan. Sean tidak tega melihat istrinya yang gampang lelah itu.
__ADS_1
"Baiklah, sayang. Untuk kali ini, cukup! Sebenarnya aku bisa memintanya lagi dan lagi, tetapi melihat kondisimu seperti itu, aku tidak tega," ucap Sean yang sedang membantu istrinya membersihkan diri.
"Maaf, sayang! Aku sangat lelah," ucapnya.
Setelah kegiatan panasnya, Callista kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang sebentar lagi akan selesai. Suaminya sudah berada di meja makan menunggu istrinya.
"Sayang, apa kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Callista dari dapur.
"Ini sudah terlambat, sayang! Aku ingin di apartemen saja bersamamu," ucapnya.
Callista mulai menghidangkan makanan di meja makan. Setelah selesai, dia duduk dan makan bersama suaminya.
"Apa Vigor tidak akan mencarimu, sayang? Ini mendekati akhir tahun, lo. Di kantor pasti akan sangat sibuk," protes Callista.
Seharusnya akhir tahun menjadi akhir yang paling sibuk untuk suaminya. Entah untuk hari ini, Callista merasa senang dan sedih. Senang karena berhasil menggoda suaminya. Bersedih karena telah membuat pekerjaan suaminya menjadi terbengkalai.
"Jangan khawatirkan itu, sayang. Pikirkanlah kehamilanmu! Akhir tahun ini, aku akan mengajakmu menikmati malam pergantian tahun. Jika kau punya tempat yang cocok, tunjukkan padaku. Kita akan pergi bersama!"
Gue tidak pernah memimpikan untuk menikmati akhir tahun kemana ataupun dimana. Sepanjang akhir tahun, biasanya gue selalu tidur di kost atau di rumah Kayana.
"Entahlah, sayang! Setiap akhir tahun aku tidak pernah pergi kemana-mana. Tempat ternyaman untuk menikmatinya ya di kamar. Tidur!" ucap Callista.
Ucapan Callista ternyata membuat Sean berpikiran mesum kepada istrinya itu.
Ranjang pergantian tahun. Akan menjadi ranjang terhangat sepanjang kehidupanku.
"Apa, sayang?" Callista sembari menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Ranjang pergantian tahun! Aku ingin menikmati malam panas bersamamu sampai beberapa part, sayang. Bagaimana?"
"Ish, kau selalu saja mesum! Tidak, aku tidak mau. Aku sedang hamil, sayang. Kita boleh melakukannya tetapi tidak boleh berlebihan," Callista menjelaskan.
"Baiklah, dua sesi! Malam pergantian tahun dan awal pergantian tahun. Tidak banyak. Hanya dengan dua sesi dan durasi yang ... Ehem!" goda Sean.
"Ish, sama saja! Itu melelahkan untukku!"
Sebaiknya gue meminta Zelene untuk menginap.
"Kita bikin barbeque party aja, sayang. Kita dengan dua pasangan lagi," usul Callista.
"Maksudnya?"
"Kita bisa pergi ke villa terdekat dan mengadakan barbeque di sana. Bersama dengan Zelene dan Kayana," ucap Callista.
"Itu usul yang baik, sayang. Kita bisa pergi ke villa keluarga Armstrong."
__ADS_1
Ketika sedang sarapan pagi setengah siang karena pergulatan panas mereka, seseorang sedang menekan bel apartemennya.
Ting tong ting tong.
"Siapa?" tanya Callista pada suaminya.
Sean mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa suaminya itu juga tidak tau. "Entahlah, sayang! Biar aku saja yang buka pintunya."
Sean beranjak dari tempat duduknya menuju ruang tamu.
Ceklek!
"Kakak ... Kau tega sekali membiarkan suamiku bekerja seorang diri," cerocos Zelene yang baru saja datang.
"Ck, kau terlalu berlebihan, Ze. Vigor sudah terbiasa bekerja seorang diri. Benar begitu, kan?" ejek Sean.
"Mana kakak ipar? Aku akan mengadu padanya...," Zelene menuju ke ruang makan. Hanya beberapa tempat yang bebas didatanginya kecuali satu, yaitu kamar utama milik Sean.
"Duduklah, Ze!" ucap Callista.
"Wah, tumben kalian baru sarapan jam segini? Ish, mencurigakan! Apa yang kalian lakukan sepanjang pagi?" Zelene sudah seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi untuk mencari pelaku yang sebenarnya.
"Memangnya apalagi, Ze. Selain kegiatan mengunjungi calon baby. Bukankah ini hal normal untuk sepasang suami istri?" ucap Sean yang sudah kembali ke tempat duduknya.
Kak Sean benar. Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini?
"Aku pikir, Kak Sean sedang sakit," kilahnya untuk menutupi rasa malu.
"Aku baik, Ze. Lihatlah! Calon daddy sangat sehat!" Sean membusungkan dada pada adiknya.
"Kak, aku barusan mendapatkan kabar. Yang menurutku itu hanya kabar burung," ucap Zelene mendaratkan tubuhnya di kursi dekat kakak iparnya.
"Kabar apa yang kau bawa, Ze?" tanya Sean.
Callista sedang menikmati makanannya sehingga dia hanya mendengarkan obrolan kakak beradik itu.
"Kakak ipar, tolong jangan salah paham atau cemburu, ya?"
Callista menghentikan kegiatan makannya.
Apa maksud ucapan Zelene?
"Kak Sean ... Willow akan pulang ke rumah Mama, Kak ...," ucap Zelene. Dia juga tidak yakin itu benar akan terjadi atau tidak. Mama Jelita hanya memintanya untuk datang ke rumah jika gadis kecil itu sudah datang.
Sean memandangi adiknya dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
Apa yang sedang direncanakan Diana dengan gadis kecil itu?
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍