
Selama beberapa hari tinggal di rumah keluarga Juvenal, Diana merasa tidak nyaman terus-terusan berinteraksi dengan pria itu tanpa kejelasan.
Pagi hari, di ruang makan yang sudah disiapkan pelayan rumah itu, Diana dan Juvenal sedang berbincang. Mengenai Willow, jangan ditanya. Gadis kecil itu selalu bangun kesiangan karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Daddynya, Juvenal.
"Apa keputusan yang akan kamu ambil?" tanya Diana.
Juvenal terdiam. Dia sedang menimbang semua tentang wanita yang ada dihadapannya itu.
Hidupku sudah tidak ada tujuannya lagi. Sekarang aku sudah berhasil. Aku juga memiliki seorang anak yang sangat menggemaskan. Apa aku yakin bisa menerima Diana dengan baik? Wanita itu selalu menyayangiku sejak dulu. Batin Juvenal.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Diana lagi. Wanita itu sudah tidak sabar mendapatkan kepastian dari Juvenal yang merupakan ayah biologis putrinya.
"Tunggulah! Sebaiknya kita sarapan dulu sembari menunggu Willow bangun," ucap Juvenal.
Diana tak menolak. Perangai Juvenal yang kalem dan terkadang penuh teka-teki itu membuat Diana tidak bisa melupakannya sampai kapanpun. Bahkan, dia rela kehilangan keluarganya demi pria itu.
Diana mengambil piring makannya dan mengisinya dengan berbagai macam menu di meja makan itu. Hanya porsi kecil, karena wanita itu selalu menjaga bobot tubuhnya tetap seperti sebelumnya.
Ketika sedang sarapan pagi, Willow ternyata sudah terlihat cantik. Pelayan yang membantunya bersiap.
"Daddy... Kenapa tidak membangunkanku? Willow kesiangan, kan!" protes gadis kecil itu.
Juvenal menghentikan sarapan paginya. Dia mendekati putri kecilnya itu.
"Maafkan Daddy, sayang. Tidurmu terlalu nyenyak... Daddy tidak tega membangunkan mimpi indahmu, sayang," ucap Juvenal memeluk gadis kecil itu.
"Benar kata Cinzia... Punya seorang Daddy itu sangat enak...," ucapnya membuat Juvenal melepaskan pelukan dan penuh tanda tanya dengan ucapan putrinya.
"Cinzia? Siapa dia?" tanya Juvenal.
"Teman sekolahnya Willow. Dia selalu memamerkan Daddynya pada Willow. Itulah sebabnya, aku selalu berusaha mengejar Sean kembali sebelum aku menemukanmu," ucap Diana sedih. Kesalahannya pada mantan suaminya itu sudah sangat keterlaluan. Dia bahkan hamil dengan orang lain, tetapi minta pertanggungjawaban pria itu. Sean hanya korban dirinya yang selalu ingin mendapatkan apa yang menjadi targetnya.
"Kenapa kamu tidak mencariku?" tanya Juvenal yang telah selesai mendudukan putrinya di kursi meja makan.
"Mom, ambilkan itu!" tunjuk Willow pada salah satu makanan favoritnya.
Diana melayani putrinya terlebih dahulu. "Makanlah! Setelah selesai, tunggu Mommy di sini. Ada yang perlu Mommy bicarakan dengan Daddymu."
Juvenal tidak melanjutkan sarapannya. Dia lebih memilih mengikuti Diana ke ruang tengah.
__ADS_1
"Aku tidak meminta lebih padamu. Aku berharap, kamu segera memberikan keputusan padaku dan Willow... Mengenai wanita yang pernah bertemu denganmu di Mal itu, aku juga tidak ingin tau dan tidak mau tau. Terlihat wanita itu sangat mengenalmu," ucap Diana.
"Dulu, wanita itu hampir menjadi istriku. Aku meninggalkannya tepat di hari pernikahan kami," ucap Juvenal.
Diana menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya jika Juvenal hampir menikah waktu itu.
"Kenapa kamu meninggalkannya?"
"Aku tidak bisa bersanding dengannya. Keluarganya berkelas. Aku hanya seorang rendahan," jawab Juvenal mengingat masa lalunya.
"Lupakan wanita itu! Aku sedang menunggu keputusanmu. Secepatnya aku harus kembali untuk mengantarkan Willow pulang. Dia sudah lama meninggalkan sekolahnya. Di sana, kami hidup dengan tenang dan sangat jauh dari keluarga," Diana mengatakan kondisi kehidupannya bersama sang putri.
"Akan kupikirkan...," jawab Juvenal santai seperti tanpa beban.
"Daddy... Daddy...," teriak Willow. Gadis kecil itu sudah selesai dengan sarapan paginya. "Dad, Mommy bilang... Besok atau lusa, kita akan pulang... Daddy ikut, kan? Aku ingin menunjukkan Daddy pada Cinzia... Aku juga punya Daddy seperti mereka," rengek Willow.
Deg!
Sebenarnya Juvenal telah berpikir akan bertanggung jawab dengan Willow saja. Mendengar penuturan gadis kecil itu, naluri hati Juvenal berubah. Tinggal serumah tanpa ikatan dengan Diana akan membuatnya semakin sulit bergerak. Sebagai pria normal, dia tidak menampik jika pesona Diana masih sama seperti dulu. Keputusannya menikah mungkin yang terbaik. Daripada dia harus menyewa jasa wanita malam setiap berpindah tempat. Hidupnya juga akan semakin terarah.
"Aku akan ikut denganmu. Kita akan bangun rumah tangga bersama dan membesarkan Willow. Itu keputusanku," ucap Juvenal akhirnya.
"Terima kasih, sayang," ucap Diana lega.
Willow tidak paham dengan pembicaraan kedua orang tuanya. Dia hanya memandangi mereka secara bergantian.
"Sayang... Daddy akan pulang ke rumah kita... Kamu bahagia, Nak?" ucap Diana pada putrinya.
"Iyey... Aku pulang bersama Daddy... Daddyku juga keren... Tidak kalah dengan Daddynya Cinzia...," Willow naik ke sofa. Gadis kecil itu melompat bahagia di sofa itu.
"Sayang, turunlah... Nanti bisa jatuh," tegur Juvenal.
Willow sangat bahagia. Dia mengikuti semua apa yang diucapkan Daddynya. Gadis kecil itu lebih riang dari biasanya. Willow kembali ke kamar. Dia mau berkemas katanya. Secepatnya ingin pulang ke rumahnya.
"Dia terlalu bahagia, Juve... A-aku juga sangat bahagia... Kita akan segera menikah. Aku berjanji akan selalu bersikap baik padamu dan pada siapapun," ucap Diana.
"Tentu, Diana... Maaf sudah membuatmu hidup seorang diri dengan Willow," ucap Juvenal memegang tangan Diana.
"Itu bukan salahmu, Juve. Aku yang terlalu mencintaimu dari dulu sampai sekarang."
__ADS_1
Juvenal memeluk wanita itu untuk pertama kalinya setelah kejadian malam panas itu. Willow adalah kesalahannya dengan Diana. Dia harus bertanggung jawab.
Juvenal kemudian melepaskan pelukannya. Dia sedikit ragu dengan sesuatu.
"Kita akan menikah setelah hasil tes DNA Willow keluar," ucap Juvenal membuat wanita itu sedikit terkejut.
Diana pikir, Juvenal sudah tidak mempermasalahkan putrinya lagi. Ternyata dia salah.
"Kamu meragukanku? Meragukan Willow juga?" tuduhnya pada pria itu.
"Di, dengarkan aku! Aku butuh kejelasan tentang Willow. Aku tidak meragukanmu lagi. Aku butuh hasil itu untuk memberikan nama Halbur dibelakang namanya," ucap Juvenal menjelaskan.
Juvenal mendengar cerita dari Diana, jika Willow pernah bernama Willow Armstrong. Setelah Sean tau kenyataan bayi kecil itu bukan putrinya, dia mengajukan perceraian dan penghapusan nama Armstrong dibelakang nama anak itu.
"Jadi, kamu mau memberikan nama Willow Halbur?" tanya Diana.
Juvenal mengangguk.
"Terima kasih, Juve. Aku mencintaimu...."
"Kapan kamu akan kembali?" Juvenal harus menyelesaikan satu urusannya yang belum kelar.
"Besok sore jika tidak ada kendala. Lusa, Willow harus masuk sekolah," ucapnya.
"Kita akan pesan tiket penerbangan yang baru. Sebelum berangkat besok, siang ini antarkan aku ke kantor Sean. Aku ingin meminta maaf dan berterimakasih padanya," ucap Juvenal. Bagaimana pun, dia pernah ada salah paham dengan mantan suami Diana. Apalagi tidak sengaja dia mengagumi Callista, istri Sean.
"Benarkah? Kita ajak Willow, ya?" ucap Diana.
"Tidak perlu! Biarkan Willow di rumah. Ini urusan orang dewasa," tolak Juvenal.
Diana sangat bahagia, akhirnya akan memulai hidup baru bersama orang yang sangat dicintainya. Setelah ini, dia juga akan meminta maaf pada mantan suaminya sekaligus berpamitan.
🌹🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹
Pelan-pelan kita selesaikan, ya... Biar lekas kelar ceritanya...
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
Terima kasih... Luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1