Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Keputusan


__ADS_3

Setelah beberapa hari yang lalu mendapatkan kejutan jika ternyata mertuanya bukan mama Jelita membuat Callista bahagia. Sekarang, suaminya sibuk meminta bantuan kesana-kemari untuk mencari keberadaan mama Jenica.


"Sayang, papa berangkat dulu, ya? Baik-baik jaga mama," ucap Sean setelah mengecup lembut perut besar istrinya. Setelah itu, dia berdiri dan mengecup kening istrinya. "Kapan baby A akan lahir?"


"Hanya tinggal beberapa hari lagi, sayang. Memangnya kenapa?"


"Aku ingin segera memeluknya, sayang. Dia__"


Callista sudah paham kelanjutan ucapan suaminya. Sebelum selesai, Callista lebih dulu menyambung ucapannya.


"Putri pertamamu."


Sean tertawa puas. Semua kalimat yang sering diucapkan terekam jelas oleh istrinya.


"Selain kamu mesum juga merupakan peniru ulung," goda Sean.


"Hemm, mesum itu karenamu, sayang," balas Callista.


"Baiklah, suamimu berangkat kerja dulu. Hari ini Vigor mulai meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan mama di tempat terakhir papa tinggal. Semoga kami bisa menemukannya," ucap Sean. Pria matang itu sangat antusias.


"Hati-hati, sayang. I love you," ucap Callista.


"Tumben," sindir Sean.


"Hemm, baiklah. Kutarik lagi kata-kataku." Callista mengerucutkan bibirnya.


Sean tidak lagi melanjutkan candaannya. Bisa-bisa niatnya untuk ke kantor menjadi malas karena betah menggoda istrinya. Setelah Sean pergi, Callista merasa sangat lelah. Dia ingin merebahkan dirinya di kamar.


"Rasanya aku ingin tidur untuk beberapa saat." Callista merebahkan dirinya diranjang kemudian memiringkan tubuhnya ke kiri. Belum sempat terpejam, Callista merasa ingin buang air kecil. Dia bangun dan hendak berdiri. Ketika baru saja berdiri, dia merasakan langsung keluar air seperti air seni tetapi bukan. Semakin dia berdiri, air itu semakin banyak keluarnya. "Apakah aku akan segera melahirkan?"


Callista tidak boleh panik. Dia harus tetap tenang, pasalnya tidak mengalami kontraksi melainkan pecah ketuban.


Callista mengambil ponselnya kemudian mendial nomor suaminya. Beberapa kali terhubung, namun tidak lekas diangkat oleh suaminya.


"Sebaiknya aku pergi ke rumah sakit sekarang. Akan kukirimkan pesan saja padanya." Callista bergegas memesan taksi online. Tak lupa dia mengirimkan pesan pada suaminya. Sebelum itu, tak lupa Callista membawa sebuah tas yang memang sudah disiapkan menjelang hari persalinannya.


Setelah itu, Callista bergegas turun ke lantai bawah dan menuju ke tempat biasanya untuk menunggu taksi online-nya. Jangan tanya lagi, jelas saja Callista tidak bisa menahan rembesan air ketubannya. Baju bagian bawah yang dipakainya semakin basah walau tidak terlihat.

__ADS_1


Callista masih bisa naik taksi karena tidak ada kontraksi. Dia malah seperti penumpang hamil yang tidak sedang mengalami proses hendak melahirkan.


Sesampainya di rumah sakit, dia langsung masuk ke IGD dan mengatakan semua keluhannya. Dia juga meminta pihak rumah sakit untuk mengabari suaminya yang sedang bekerja.


Callista langsung di infus, diperiksa tekanan darahnya, kemudian dilakukan pengambilan sampel darah. Entah semua itu untuk apa, Callista tidak paham. Selanjutnya masih ada rangkaian tes yang harus dijalani Callista.


Sementara di SA Corporation, pria eks duda itu baru saja melakukan meeting bersama beberapa karyawan dan Vigor, asistennya. Ponselnya sengaja ditinggal di dalam ruangannya.


"Rasanya proyek kita akan berjalan lancar, Vigor. Oh ya, apa sudah ada perkembangan tentang pencarian mama?" tanya Sean ketika mereka berdua sudah berada di ruangan CEO.


"Mereka baru berpencar, Bos. Aku sudah mengirimkan ke dua negara yang paling dominan untuk ditinggali mendiang papa mertua." Vigor menatap kakak iparnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Pria itu terlihat sangat gelisah. "Bos, kenapa sangat gelisah?"


"Entahlah, aku tiba-tiba memikirkan Callista. Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali," ucapnya. Padahal Sean sendiri lupa, ponselnya diletakkan di laci dalam posisi mode silent.


"Kenapa bos tidak menelponnya saja?" usul Vigor.


Sean akhirnya ingat jika ponselnya masih di laci. Diambilnya kemudian dilihat. Ada banyak panggilan dari istrinya, satu panggilan dari nomor yang tidak di kenal, dan satu pesan dari istrinya.


[Sayang, ketubanku pecah. Aku ke rumah sakit.]


"Ada apa, Bos? Sekarang kenapa buru-buru?" Tanya Vigor.


"Callista akan melahirkan!" Hanya itu yang diucapkan Sean kemudian pergi meninggalkan ruangannya.


Tepat di tempat parkir mobil, Sean sengaja meminta semua orang yang didepannya untuk minggir sebentar. Dia sangat buru-buru.


Sepanjang perjalanan, Sean tersenyum semringah. Dia tidak sabar menanti kelahiran baby A yang selama ini ditunggunya.


"Papa terlalu tua untuk mendapatkanmu, sayang," ucapnya. Diusianya yang sudah kepala empat, dia akan memiliki seorang anak dari pernikahan keduanya.


Sampai di rumah sakit, Sean langsung masuk ke IGD dan melihat kondisi istrinya. Dia bertanya kepada suster yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan itu.


"Suster, dimana pasien atas nama Callista yang akan melahirkan?"


"Oh, yang baru masuk, ya? Masih ada di dalam, Tuan. Silakan masuk!" ucap perawat tersebut.


"Terima kasih, suster." Bergegas dia masuk dan mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


Callista sudah berbaring di brankar rawat dengan tangan yang sudah terpasang infus.


"Sayang...." Sean memegang erat tangan istrinya. "Maafkan aku. Aku tadi sedang meeting, jadi tidak bisa menjawab panggilanmu."


"Tidak apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja. Untung tadi sopir taksinya sangat baik," ucap Callista.


Sean bukan suami siaga karena sang istri lebih memilih naik taksi daripada menunggunya. Itu tak jadi masalah. Keselamatan istri dan anaknya juga penting.


"Kapan baby A akan lahir?" tanya Sean.


"Belum tau, tetapi tadi sudah ada yang mengecek pembukaan jalan lahirnya baby A. Katanya masih bukaan satu," ucapnya.


"Aku tidak paham soal itu, sayang," ucap Sean. Yang dia paham, bagaimana caranya membuat baby A.


Setiap jam, Callista selalu di observasi. Hingga malam menjelang, detak jantung janin melebihi standar normalnya. Semua yang bertugas di ruangan tersebut segera memberikan tindakan.


Sampai pada akhirnya, kelahiran baby A diputuskan melalui operasi caesar.


"Maaf, Tuan Sean. Besok pagi Nyonya Callista harus segera masuk ke ruang operasi. Silakan tanda tangani surat persetujuannya," ucap suster yang kebetulan bertugas pada malam itu. Semua atas keputusan dokter untuk segera melahirkan bayinya.


Sean tak menunggu lama. Demi kelancaran persalinan istrinya dan keselamatan baby A, dia segera menandatanganinya.


Setelah semua prosedur administrasi dilakukan, Sean kembali ke tempat istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi padamu," ucap Sean sendu. Dia tidak tubuh istrinya akan dibelah demi mengeluarkan seorang bayi hasil kerja kerasnya.


Callista malah tersenyum semringah. "Apapun itu asal aku segera bertemu dengan baby A, tak jadi masalah untukku."


Sean mengecup kening istrinya sangat lama sekali. Dia terharu pada wanita itu yang rela membawa hasil kerja keras Sean selama ini dan dia juga membayangkan bagaimana mamanya sanggup terpisah dengan kedua anaknya karena ulah tantenya. Dia sangat mencintai Callista.


Aku mencintaimu, sayang. Berjuanglah demi baby kita.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


Mungkin ada emak-emak yang prosedur lahirannya berbeda. Mohon maaf, ya mak... Karena beda rumah sakit juga beda prosedurnya. Sekali lagi ini yang pernah emak Othor alami,.. Jadi, kalau yang model lahirannya berbeda, boleh bagi pengalaman. Siapa tau, suatu saat nanti emak Author juga ngalami begitu... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya. 😍😍😍😍

__ADS_1


Pejuang Caesar maupun normal... Kalian semua ibu yang hebat 😍😍😍😍... Yang sedang berjuang, semoga tahun ini berhasil garis dua... 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻


__ADS_2