Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Pertemuan ayah dan anak


__ADS_3

Rumah besar yang didatanginya ternyata adalah rumah keluarga Juvenal yang telah lama ditinggalkan pergi keluarganya ke luar negeri. Rumah itu masih terawat karena di dalamnya masih dipekerjakan beberapa pelayan untuk merawat rumah itu selama bertahun-tahun.


"Ini rumah siapa, Sean?" tanya Diana.


"Lihat saja sendiri," ucap Sean.


Sean memencet bell rumah itu.


Ceklek!


Seorang pelayan membukakan pintu.


"Silakan masuk, Tuan dan Nyonya," ucap pelayan itu.


Sean dan Diana masuk terlebih dahulu. Sean sengaja meminta Callista dan Willow untuk menunggu di mobil selama beberapa saat sampai dia bertemu dengan Juvenal.


Tak menunggu lama, Juvenal sudah berada di ruang tamu. Dia sangat terkejut melihat kedatangan Sean dengan wanita yang bertahun-tahun ditinggalkan begitu saja.


"Masih ingat dengannya?" tanya Sean pada Juvenal.


Pria itu menatap wanita di hadapannya. Setelah meninggalkan negara ini, dia tidak menikah dengan siapa pun. Dia merasa ketakutan jika akan terlibat hubungan rumit seperti ini. Itulah sebabnya untuk menyalurkan hasr*tnya, dia selalu memakai jasa wanita malam di manapun dia berada.


"Diana... Apa kabar?" ucap Juvenal untuk pertama kalinya bertemu wanita itu.


Diana terdiam. Pria di hadapannya masih sama seperti dulu. Selalu menarik dan berkharisma. Dia sangat mencintainya. Sesaat, ingatan Diana berputar ke masa lalunya. Dia yang memaksa pria itu untuk tidur dengannya.


Wanita itu mencintai Juvenal sejak usia belia. Laki-laki yang selalu bisa bersikap baik kepada siapapun walaupun saat itu perekonomian keluarganya berada sangat jauh dibandingkan Diana. Itulah sebabnya, ketika Mama Jelita menawarkan perjodohannya dengan Sean. Wanita itu tidak menolak. Dia bahkan berusaha menutupi kesalahannya dengan menikahi Sean. Diana masih bisa berhubungan dengan Juvenal tanpa diketahui siapa pun.


Alasan kenapa dia tidak hamil keturunan Sean, karena sejak awal Diana sudah mengakui jika telah kehilangan masa depannya karena ulahnya sendiri. Wanita itu juga memakai alat kontrasepsi supaya tidak hamil keturunan Sean dan pria itu tidak tau sama sekali. Malam itu, ketika Juvenal akan meninggalkan negara ini demi masa depannya, Diana nekat melepas alat kontrasepsi yang dipakainya. Sejak dia tidur dengan Juvenal malam itu, Diana selalu menolak ajakan Sean.


"A-aku baik... Kau apa kabar? Bertahun-tahun aku mencarimu," ucap Diana.


"Aku sibuk, Di. Bisnis baruku telah membawaku pada kesuksesan. Itulah kenapa aku kembali lagi ke negara ini," ucapnya.


Menurut pengamatan Diana, pria itu sudah banyak berubah sekarang. Dia lebih berisi dan sangat matang. Berbeda ketika enam atau tujuh tahun yang lalu. Pria itu adalah pria kerempeng yang sangat tidak menarik, tetapi Diana terlanjur mencintainya.

__ADS_1


"Sudah selesai bertanya kabar? Ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan kalian berdua," ucap Sean.


Tatapan mata Juvenal kini beralih pada Sean. Pria yang telah membuatnya babak belur sekaligus orang yang telah mempertemukannya dengan wanita masa lalunya.


"Sudah. Silakan lanjutkan, Sean," ucap Juvenal.


"Karena kesalahan kalian berdua. Lahirlah seorang gadis kecil yang tidak berdosa itu. Aku ingin bertanya padamu, Juvenal. Apakah kamu akan bertanggung jawab penuh pada ibu dan anak itu? Atau pertanggungjawaban apa yang bisa kamu berikan pada mereka?" tanya Sean to the point.


Juvenal tampak sedang berpikir keras. Dia memang masih menyendiri dan belum menikah. Tetapi untuk hidup bersama Diana, dia memikirkan ulang. Apalagi mengingat gadis kecil yang belum ditemuinya. Tidak adil rasanya jika harus memisahkan ibu dan anak. Apakah ini pilihan terbaiknya menerima Diana beserta anak itu? Atau hanya anak itu saja?


"Pertemukan aku dengan anak itu!" pinta Juvenal. Mungkin setelah bertemu dengannya, dia akan mempertimbangkan untuk menerima ibunya.


"Tunggu sebentar!" ucap Diana. Wanita itu bergegas keluar untuk menyusul putrinya yang selalu menemaninya selama bertahun-tahun.


Tak menunggu lama, Diana masuk dengan seorang gadis kecil yang berambut pirang dan bermata coklat. Gadis kecil yang sangat manis dan cantik. Gadis itu kebingungan, kenapa tiba-tiba sang Mama mengajaknya untuk masuk.


"Mom, ada apa?" tanya Willow.


"Sayang, kamu kenalan dulu sama Om itu," perintah Diana.


Mata Juvenal tidak mampu beralih dari gadis kecil itu. Dia terlihat sangat bahagia memandang anak secantik itu.


Willow mendekati pria itu dan memperkenalkan dirinya.


"Willow, Om... Om siapa?" tanya Willow dengan kepolosannya.


"Om Juvenal... Willow sayang sama daddy?" tanya Juvenal lagi.


"Daddy... Apakah Om yang dimaksud daddynya Willow?" Willow hampir menangis jika Juvenal tidak memeluk gadis kecil itu dan menenangkannya.


"Jangan menangis, sayang... Maafkan daddy... Daddy akan membuat Willow menjadi gadis yang paling bahagia sepanjang masa. Willow mau memaafkan daddy?" Juvenal tidak bisa membendung perasaannya pada gadis itu. Dia gadis kecil yang sangat cantik. Hampir seratus persen terdapat kemiripannya dengan gadis kecil itu.


Willow mengangguk dalam dekapan pria asing yang disebutnya sebagai daddy.


"Terima kasih, sayang," ucap Juvenal.

__ADS_1


Melihat ayah dan anak seakrab itu membuat Sean terharu. Gadis kecil itu sebentar lagi akan memiliki keluarga utuh. Namun, Sean belum tau apa keputusan Juvenal terhadap Diana. Kapan hari dia mengatakan akan bertanggung jawab penuh pada anaknya, tetapi tidak dengan ibunya. Semoga setelah pertemuan ini, Juvenal mau berubah pikiran.


"Sean, boleh aku mengajak Diana dan Willow untuk beberapa hari tinggal bersamaku? Setelah itu, aku akan memutuskannya," ucap Juvenal.


"Kamu tidak perlu bertanya padaku. Diana sudah bukan istriku lagi. Dia wanita bebas, kamu bisa menanyakannya secara langsung padanya," Sean menunjuk Diana.


"Maafkan aku di masa lalu, Sean. Diana... Apa kau mau untuk tinggal bersamaku selama beberapa hari? Setelah itu, aku akan memutuskan untuk memilih menikah denganmu atau tidak?" ucap Juvenal.


Sebenarnya ucapan Juvenal sangat menyakitkan untuknya. Tetapi demi perasaan Willow, Diana berusaha menepis pikiran buruk yang akan terjadi kedepannya.


"Baiklah, Juvenal. Aku mau," ucap Diana akhirnya.


Setelah selesai, Sean pamit undur diri.


"Baiklah Juvenal. Semoga Anda bisa memutuskan yang terbaik untuk ibu dan anak itu. Aku harap, keputusan yang sangat membahagiakan. Karena aku juga ingin agar Willow memiliki keluarga yang utuh," ucap Sean.


"Terima kasih, Sean. Kau pria yang sangat bijak," ucap Juvenal.


"Sean, terima kasih. Kau sudah mewujudkan keinginan Willow," ucap Diana.


"Bukan aku, Di. Juvenal yang akan mewujudkannya," ucap Sean.


Mengenai Willow, jangan tanya lagi dimana gadis kecil itu berada. Dia berada di gendongan Juvenal sejak tadi. Dia tidak mau lepas sedikitpun dari pria itu.


Sean bergegas masuk ke mobilnya. Sang istri telah menunggu di sana sejak tadi.


"Bagaimana, sayang?" tanya Callista ketika suaminya sudah berada di dalam.


"Semuanya sudah beres, sayang... Tinggal tunggu kabar terbaik dari mereka berdua," jawab Sean.


Bergegas Sean mengendarai mobilnya untuk meninggalkan halaman rumah keluarga Juvenal. Dia segera berbalik ke apartemennya untuk melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda.


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


Semoga suka. Jangan lupa like, vote, dan komentarnya....

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐⭐ jangan lupa diberikan agar enak author lebih bersemangat lagi.


Terima kasih. Luv Yu All..😍😍😍😍


__ADS_2