
Semenjak sore hari, jika biasanya suaminya pulang kerja tidak pernah terlambat sama sekali. Kali ini, suaminya tak kunjung pulang. Awalnya, Callista merasa biasa saja. Dia pikir, mungkin sedang ada meeting akhir tahun yang sangat penting.
Semakin malam, suaminya tak kunjung pulang. Dia semakin khawatir. Sekitar pukul tujuh malam, Callista berusaha mengirim pesan pada suaminya. Nihil. Pesan tidak terkirim. Panggilan telepon pun tidak tersambung.
Callista khawatir sekaligus kesal.
"Awas saja nanti merayu!" gerutunya.
Berulang kali di cobanya dan tetap tidak berhasil. Diletakkan ponselnya begitu saja. Dia sudah tidak peduli lagi. Dia lelah sekaligus kelaparan karena menunggu kabar dari suaminya. Akhirnya, Callista memutuskan untuk makan malam seorang diri.
Selesai makan malam, dia pikir akan mudah tanpa kabar dari suaminya. Nyatanya membuat dia semakin gelisah tak menentu.
"Kemana saja dirimu, sayang? Kenapa tidak mengabariku sama sekali?" ucapnya.
Callista dari kamar utama, pindah ke ruang tamu. Dia berharap suaminya lekas datang. Sampai pukul sembilan malam, dia belum bisa tertidur.
Tak lama, pesan dari suaminya muncul. Bahkan pria itu tidak membalas pesan istrinya terlebih dahulu.
[Sayang, maafkan aku. Aku akan sampai rumah tepat pukul tiga pagi. Jangan khawatirkan suamimu, Zelene akan menemanimu malam ini. Istirahatlah dan jangan terlalu khawatir] bunyi pesan yang didapat dari suaminya.
Hemmm, kenapa. tidak membalas pesanku yang sebelumnya?
Callista berusaha mendial nomor suaminya setelah menerima pesan tersebut. Usahanya sia-sia. Pria itu tidak mengangkatnya sama sekali.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan dariku, sayang? Apa aku tidak boleh mengetahui sesuatu?" ucap Callista.
Callista merasa tidak nyaman harus tidur di kamar seorang diri. Dia memutuskan untuk mengambil selimut dan tidur di sofa ruang tamu.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, bel apartemen berbunyi. Dia pikir suaminya datang tetapi malah Zelene yang datang.
Ceklek!
"Kakak ipar... Maaf, aku baru datang. Kak Sean memintaku untuk menemani kakak," ucapnya.
"Masuk, Ze. Kupikir kakakmu sudah datang," ucap Callista menutup pintunya kembali.
"Kak Sean akan datang dini hari, Kak. Sebaiknya kakak ipar istirahat saja," pinta Zelene.
Iya, Ze. Kau benar... Pesan kakakmu memang seperti itu. Aku saja yang terlalu berharap dia akan pulang lebih cepat.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan kakakmu dariku? Kenapa hari ini dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya? Apa aku ini tidak dianggap sebagai istrinya?" bertubi-tubi pertanyaan dilayangkan pada adik iparnya yang tidak tau apa-apa itu.
__ADS_1
"Aduh, kakak ipar... Maaf, bahkan aku juga tidak tau. Suamiku juga belum pulang. Dia sedang bersama Kak Sean," ucap Zelene yang langsung duduk di sofa.
Callista memijit pelipisnya.
"Kakak ipar baik-baik saja, kan?" tanya Zelene.
"Iya, Ze. Aku baik," bohongnya. Padahal Callista sendiri masih merasa khawatir. Apalagi suaminya tidak mau jujur apa yang sedang terjadi malam ini.
"Kakak ipar jangan khawatir. Kak Sean akan baik-baik saja," ucap Zelene. Dia menguap.
"Tidurlah di kamar tamu! Sebentar lagi aku akan masuk ke kamar," perintahnya.
"Terima kasih, kakak ipar. Aku sangat ngantuk sekali," ucap Zelene kemudian beranjak menuju kamar tamu.
Sebenarnya Callista akan tetap menunggu suaminya sampai pulang. Dia merebahkan badannya di sofa ruang tamu sambil mengelus perutnya.
"Kita tunggu sampai daddy pulang...," ucapnya.
Callista berusaha memejamkan matanya. Bisa memang, tetapi hanya sekian menit terbangun lagi. Terus saja begitu sampai akhirnya tepat pukul tiga pagi dia mulai terlelap.
Sesuai rencana, Sean seharusnya sudah sampai di apartemen sekitar pukul tiga pagi. Tetapi karena jalanan sedikit macet, dia baru masuk ke apartemen sekitar pukul empat pagi.
Ceklek!
"Masuklah ke kamar tamu! Istrimu pasti sudah berada di sana," ucap Sean.
Vigor mengikuti ucapan kakak iparnya, sementara Sean membiarkan istrinya untuk tetap tidur di ruang tamu. Dia masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Sekitar lima belas menit, Sean sudah terlihat lebih segar. Dia berniat memindahkan istrinya tidur di ranjang kamar. Perlahan dia mulai membopong istrinya yang terlelap itu.
Maafkan aku, sayang. Kau pasti sangat khawatir padaku.
Sampai di ranjang kamarnya, Sean meletakkan istrinya dengan perlahan.
Sayang seribu sayang, niatnya ingin hati-hati malah berujung membuat istrinya terbangun.
"Maaf, aku tidak berniat mengganggu tidurmu, sayang," ucap Sean.
Callista langsung menyadari keberadaan suaminya. Dia langsung memeluk suaminya dengan sesenggukan.
"Hei, kenapa menangis? Aku baik-baik saja," ucap Sean.
__ADS_1
"Kenapa nggak pamit padaku? Apa aku tidak boleh mengetahui rahasia yang sedang disembunyikan?" tanya Callista.
"Sayang, jangan seperti itu. Aku tidak menyimpan rahasia apapun darimu. Berhentilah menangis. Aku sudah di depanmu sekarang," ucap Sean. Dia sebenarnya tidak ingin menceritakan sesuatu yang akan membuatnya memikirkan dirinya lebih jauh.
Callista melepaskan pelukannya. Dia lebih memilih untuk meringkuk di ranjang seorang diri. Sean semakin bingung menghadapi istrinya itu.
Sean merebahkan badannya tepat di samping istrinya.
"Biarkan aku istirahat sejenak. Nanti aku ceritakan," ucap Sean akhirnya.
Setelah tak lagi mendengar suaminya, itu artinya sudah terlelap bersama mimpi-mimpinya, Callista turun. Dia mengambil beberapa baju kotor milik suaminya untuk diletakkan di keranjang baju.
Bukan Sean namanya jika tidak cekatan membuat istrinya untuk mengira bahwa dia sudah tidur. Sebenarnya malah dia belum tidur sama sekali.
Callista kembali ke kamarnya dan betapa terkejutnya melihat sang suami sudah duduk di tepi ranjang.
"Kenapa seperti itu? Masih tidak percaya dengan suamimu?" tanya Sean.
"Bukan tidak percaya, tetapi aku sangat khawatir. Dari semalaman aku sulit untuk memejamkan mata. Kamu tidak menjawab pertanyaanku," ucap Callista masih dalam mode gondoknya.
"Baiklah. Duduklah di sini, sayang. Aku akan menceritakan semuanya," ucap Sean meminta Callista untuk duduk disebelahnya.
Awalnya Callista menolak. Takut jika suaminya membohonginya. Mengingat dia juga butuh alasan kenapa suaminya pulang dini hari, akhirnya dia menekan egonya sendiri.
Callista duduk tepat di samping Sean. Pria itu memegang tangan istrinya sangat erat sekali. Dia mulai menceritakan awal sampai akhir. Tak ada sedikitpun yang ditutupinya. Setelah mendengar semua cerita yang disampaikan suaminya, Callista meminta maaf telah menuduhnya tanpa alasan.
"Maaf, sayang... Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu, sayang. Andai saja sejak awal kamu katakan yang sebenarnya. Aku tidak akan berfikir yang macam-macam," ucap Callista.
"Tidak apa-apa. Ayo istirahatlah! Aku yakin, kamu terlalu keras memikirkan aku. Lain kali aku tidak akan membuatmu khawatir seperti itu. Maafkan aku, sayang... Aku tidak bermaksud membuat mood ibu hamil rusak. Sekali lagi, maafkan suamimu...," ucap Sean.
Sean sebenarnya juga salah. Dia tidak pamit kemana akan pergi. Seperti berada di persimpangan. Pamit salah. Tidak pamit pun salah.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Hai akak reader. semoga suka part kali ini. bentar lagi bakal masuk ke perencanaan akhir tahun yang sudah mereka susun. sabar yah...
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk kepoin karya teman emak.. Doi penulis khilaf terdalam dan khilaf terindah, loh... Nih, kepoin karya barunya, Terjerat Cinta Ketos Arrogan ,,, Author : Navizaa
Terima kasih... Luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1