
"Kak Vigor siap untuk bertemu Mama?" Zelene berusaha memastikan agar pria yang sangat disayanginya itu tidak ragu menghadap sang Mama.
"Siap, Ze. Apapun yang terjadi, kita harus selalu bersama," pinta Vigor. Selama kepergian Zelene, dia seperti seorang pria yang tidak memiliki ketertarikan terhadap wanita lain. Hatinya terkunci pada Zelene.
Melihat situasi sudah kondusif, sepasang suami istri beda generasi muncul di hadapan mereka.
"Apa rencanamu selanjutnya, Ze?" ucap Kakaknya yang duduk di sofa bersama istrinya.
"Kami akan meminta restu pada Mama Jelita, Kak. Menurut kakak bagaimana?" Zelene meminta pendapat Sean.
Bahkan pernikahanku saja tanpa restu Mama, Ze. Kakak belum siap mempertemukan Callista dengan Mama. Apalagi sekarang kamu sedang berjuang mendapatkan restu Mama. Kakak tidak ingin merepotkanmu, Ze.
"Berusahalah! Apapun yang terjadi, kalian harus tetap bersama. Kakak akan membantu semampunya. Kalian tau sendiri, kan. Jika pernikahan Kakak belum diketahui oleh Mama. Sementara jangan sampai Mama tau dulu," Sean memohon pada Vigor dan adiknya.
Eh, mana bisa begitu? Mantan istrinya kan sudah tau? Gawat dong....
"Eh, sayang... Bukankah mantan istrimu sudah tau hubungan kita?" Callista bersusah payah bersikap romantis dan mengingatkan suaminya perihal mantan istrinya itu.
"Hah? Wanita itu sudah tau?" Zelene terkejut. "Ini akan terlihat sangat sulit, Kak. Jika Mama tau dari mulut wanita itu, aku tidak tau lagi akan seperti apa jadinya," Zelene pesimis.
"Biarkan saja, Ze. Sekarang yang paling penting urusan kalian cepat selesai. Kakak akan membuat kakak iparmu lekas hamil. Biar Mama tidak memisahkan kita," ucapan Sean membuat Callista sangat malu.
"Eh, kenapa bawa-bawa aku?" protes Callista.
Zelene menertawakan kakak iparnya yang masih kecil dan sangat lucu itu.
"Kau lucu sekali, kakak ipar... Kak Sean benar. Kakak secepatnya harus hamil. Kami akan membantu memperjuangkan hubungan kalian di depan Mama," Zelene menyetujuinya.
Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kakak ipar di usianya yang masih sangat muda harus menikah dengan Duda kepala empat. Apalagi kakakku tipe orang yang selalu membuat orang lain harus menuruti semua kemauannya. Ish, jodoh beda generasi memang unik....
Zelene tertawa.
"Eh, kamu menertawakan kakak?" protes Sean.
"Enggak, Kak. Ze nggak habis pikir kenapa kakak bisa hidup bersama dengan kakak ipar. Menurut pengamatan Ze, kalian berdua berada di zaman yang berbeda...," Zelene mengejek kakaknya.
"Kamu mau tau, Ze? Ada password-nya...," goda Sean memandang wajah istrinya yang bersemu merah.
__ADS_1
Ish, Om Sean mau membuka kartu AS-ku? Aku memang sudah bosan dengan pria lajang seperti model Eros Kalandra itu... Eh, kenapa gue keinget sama si brengs*k itu lagi sih? Amit-amit deh....
Vigor dan Zelene penasaran apa yang dimaksud password oleh kakaknya.
"Kalian berdua memang jodoh. Lihat saja muka penasaran kalian mengenai password yang kakak maksud," Sean sengaja membuat keduanya terus penasaran. Sean tidak akan mengatakan jika Callista menukar perjanjian kontraknya dengan sebuah uang unlimited. Biarlah menjadi rahasianya dengan istrinya.
"Hemm, kakak selalu saja begitu," balas Zelene.
"Ze, lekaslah ke rumah Mama. Mintalah restu malam ini. Secepatnya kabari kakak. Kakak yang akan mengurus pernikahan kalian," Sean mengusirnya secara halus. Dia ingin secepatnya bisa bermanja dengan istrinya.
"Kau mengusirku, Kak?" canda Zelene. Dia tau jika mood kakaknya sedang terlihat kurang baik saat ini. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu?
"Tidak! Kakak hanya ingin secepatnya mendapatkan jawaban kalian," ucap Sean santai.
Zelene dan Vigor undur diri. Keduanya bergegas ke rumah utama untuk memperjuangkan hubungannya. Vigor mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Dia ingin menata hatinya terlebih dahulu.
"Kak, apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Zelene memecah keheningan.
Entahlah, Ze! Aku pesimis menghadapi Mama Jelita. Semoga saja aku tidak keder menghadapi wanita paruh baya itu.
"Kak, kenapa kau diam? Jika kakak tidak yakin, kita balik lagi ke apartemen Kak Sean. Aku takut mendapatkan penolakan dari Mama," Zelene seakan tau kekhawatiran yang dihadapi dirinya dengan Vigor.
Setelah membukakan pintu untuk Zelene, Vigor menggandeng erat tangan gadis itu. Dia berharap bisa menyalurkan kekuatan untuknya.
Keduanya masuk ke ruang tamu. Di sana dia disambut oleh pelayan rumah utama.
"Mbak, Mama di mana?" tanya Zelene pada pelayan wanita itu.
"Nyonya di dalam kamarnya, Non," jawab pelayan.
"Mbak, tolong panggilkan Mama. Aku tunggu di ruang tamu," pinta Zelene.
Sementara pelayan sedang memanggil Mamanya, Vigor dan Zelene duduk berdampingan di kursi.
"Ze, siap ya?" ucap Vigor menguatkan.
Mama Jelita muncul dari dalam. Dia melihat pemandangan yang tak biasa itu mengenai putrinya dan asisten anaknya, Sean.
__ADS_1
"Ada apa ini, Ze?" Mama Jelita duduk di hadapan mereka.
Aku ingin menikah dengan Kak Vigor, Ma. Aku harap Mama merestuinya....
"Ze, ada apa? Kenapa malah diam?" tanya Mama Jelita lagi.
"Mama, sebenarnya kami ingin meminta restu untuk menikah," ucap Vigor nekat. Dia sudah tak peduli lagi hasil akhirnya.
Mama Jelita melotot tajam kepada kedua orang di hadapannya itu. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini, jika putri bungsunya lebih memilih Vigor yang notabene hanya seorang asisten dari anak sulungnya.
"Apa yang kau punya hingga berani mengajak putriku menikah?" Mama Jelita sengaja membuat Vigor mundur dari rencananya itu.
"Kami punya cinta, Ma," Zelene menjawabnya.
"Persetan dengan cinta, Ze! Kau tidak akan kenyang dan bahagia hanya bermodalkan cinta. Hidup itu realistis, Ze! Gaji seorang asisten apa cukup untuk membuatmu bahagia?" Mama Jelita sengaja menjatuhkan harga diri Vigor di hadapan putrinya.
Jeduar!
Zelene dan Vigor tak habis pikir, jika Mrs. Perfeksionis itu masih memandang sesuatu dengan harta, tahta, dan tanpa cinta.
Ma, kau jahat sekali! Sampai kapan putrimu ini akan lekas menikah? Jika permintaanmu selalu seperti itu. Aku mencintai Vigor, Ma....
"Mama tidak akan merestui...," ucap Mama Jelita akhirnya. Dia tidak mau berbelit-belit untuk memberikan harapan palsu pada calon menantu yang tidak diinginkannya itu.
Tanpa melihat persetujuan anaknya, Mama Jelita beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke dalam.
"Tunggu, Ma! Jika Mama tidak memberikan restu, kami akan memilih kawin lari. Dengan atau tanpa restu Mama, Ze tidak peduli lagi...," Zelene sangat lelah menghadapi sikap Mamanya yang semaunya sendiri.
Mama Jelita menengok sejenak pada putrinya dengan senyum mengejek.
"Jangan macam-macam, Ze... Lusa calon suamimu akan datang ke rumah utama. Jangan sekali-kali kau berani keluar dari rumah ini atau memikirkan untuk kawin lari. Mama tidak segan akan membuat kehidupan kalian berantakan!" ancam Mama Jelita. Kemudian wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan ruang tamu.
Zelene dan Vigor bagaikan disambar petir. Niatnya untuk mendapatkan restu malah berujung kekecewaan yang didapat.
"Kak, bagaimana ini?" Zelene khawatir pada Vigor.
"Kau jangan khawatir, Ze. Sementara ikuti saja permainan Mama Jelita. Aku akan meminta pendapat Bos Sean. Tunggulah di sini!" Vigor berdiri kemudian memeluk Zelene.
__ADS_1
Aku berjanji akan mendapatkan restu dari Mama Jelita, Ze. Tunggulah!