Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Zelene dipindahkan ke kamar rawat VVIP sesuai permintaan suaminya. Sean dan Callista mengikuti langkah Vigor untuk masuk ke ruang rawat tersebut.


"Bagaimana keadaanmu, Ze?" tanya Callista.


"Rasanya sudah mendingan, Kak. Aku tidak menyangka akan secepat ini menyusul kakak," jawab Zelene semringah.


"Istirahatlah, Ze. Jangan banyak bicara," kata Sean. Pria itu akan memiliki anak dan keponakan dalam waktu yang hampir bersamaan.


Sean merasa berada di persimpangan. Dia ingin mengabari kabar bahagia ini pada Mamanya, tetapi harus meminta persetujuan Zelene maupun Vigor. Dia juga merasa pusing harus menyatukan menantu yang tidak diharapkan Mamanya, tetapi wanita itu sangat dicintainya.


Sean tidak boleh menyerah. Bagaimanapun hasil akhirnya, dia akan tetap memilih hidup bersama istrinya. Dia berharap, lambat laun sang mama bisa menerima keadaan mereka semua tanpa sebuah syarat.


"Ze, boleh kakak mengabari Mama?" tanya Sean membuat Vigor dan Callista menatap langsung ke arahnya.


Mama orang penting dalam hidupku. Aku ingin berbagi kabar bahagia ini padanya, tetapi lidah dan hatiku kelu untuk mengatakannya. Mengingatkan syarat yang diberikan padaku dan suami tempo hari. Aku harus apa? Batin Zelene.


"Honey, kenapa kamu diam? Kak Sean bertanya padamu," ucap Vigor membuyarkan lamunannya.


"Sebenarnya aku ingin berbagi kabar bahagia ini, tetapi aku takut dengan tanggapan Mama yang malah membuatku kepikiran," ucap Zelene dengan wajah tertunduk.


"Pikirkan lagi, Ze. Sebaiknya Mama harus tau," usul Callista.


"Tapi, aku malah akan membuat semuanya kacau. Bukan hanya hubunganku dengan suamiku, tetapi hubungan kakak ipar dan Kak Sean juga akan terusik lagi."


Lama mereka berkutat pada pikiran masing-masing. Zelene memberanikan diri untuk bertanya pada kakak iparnya walaupun itu akan menyakiti hatinya.


"Kak, bagaimana kabar kehamilanmu?" tanya Zelene.


"Sejauh ini baik, Ze. Lihat saja, semakin hari aku gembul," jawabnya semringah.


Memang kenyataannya berat badan Callista semakin hari bertambah. Porsi makannya juga lumayan banyak.


"Jenis kelaminnya apa sudah terlihat?" tanya Zelene lagi.


Callista langsung ingat. Arah pembicaraan adik iparnya itu menuju pada persyaratan yang diajukan Mama mertuanya.


"Belum, kata dokter biasanya akan terlihat di usia kehamilan delapan belas week ke atas," ucapnya dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Sayang, kenapa bersedih? Aku sudah bilang berulang kali, 'kan," kata Sean yang mengerti arah pembicaraan istrinya.


"Kakak ipar tidak perlu khawatir. Kita semua akan membantu mencarikan solusinya. Aku harap Mama mertua bisa menerima kita berdua," ucap Vigor. Dia dan Callista akan bernasib sama. Pernikahannya berada di ujung tanduk mengingat persyaratan konyol melawan takdir itu.


"Lekas baikan, Ze. Biar bisa nge-Mal barengan lagi. Aku sudah rindu jalan-jalan bersamamu." Callista mengangkat wajahnya. Dia sudah lebih baik karena berusaha melepaskan beban pikirannya saat ini. "Sebaiknya kita menghadap mama mertua setelah Zelene keluar dari rumah sakit," usul Callista.


Sean, Vigor, dan Zelene memandang tidak percaya pada ucapan Callista. Wanita muda itu terlihat lebih bijaksana dari yang lainnya.


"Apa kamu yakin, sayang?" tanya suaminya.


Callista mengangguk. "Aku yakin, sayang. Kita tidak bisa terus-terusan menghindar dari mama mertua. Aku yakin, dia merasa kesepian dan butuh kehadiran kita. Mengenai aku diterima atau tidak, itu urusan belakangan," jawab Callista penuh keyakinan.


Tak ada salahnya bertemu dengan wanita itu. Semoga dengan melihat kehamilan kami bisa mengubah jalan pikirannya. Batin Callista.


Selama ini hidup Callista sebatang kara. Tidak ada papa, mama, maupun keluarga. Dia hanya bersahabat dengan Kayana yang bertemu disaat keduanya beranjak remaja.


"Oh ya, Kak. Aku mau pulang sebentar. Bisa minta tolong titip Zelene sebentar?" ucap Vigor. Dia akan pulang untuk mengambil beberapa baju dan selimut.


"Aku bisa, tetapi bagaimana dengan kakak iparmu?"


"Begini saja. Aku antar kakak ipar ke apartemen, kemudian aku pulang sebentar," usul Vigor.


"Baiklah. Aku setuju. Lagipula, aku juga tidak tega membiarkan kakak iparmu naik taksi."


Callista berpamitan pada suaminya. Dia pulang karena lelah berada di rumah sakit. Untung saja mempunyai adik ipar yang baik dan pengertian.


Vigor mengajak kakak iparnya ke tempat parkir mobilnya.


"Kak, naik di depan saja," pinta Vigor.


"Baiklah."


Vigor membukakan pintu kemudian menutupnya kembali. Dia berjalan memutar menuju kursi kemudi.


Sepanjang perjalanan, keduanya sangat diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Callista tidak tahan untuk tidak berbicara. Dia memulainya terlebih dahulu.


"Adik ipar, apa syarat yang diberikan mama mertua padamu?"

__ADS_1


"Sama seperti syarat yang diterima suami kakak," jawab Vigor.


Mama mertua ini mau merencanakan pendirian club sepak bola atau bagaimana, 'sih? Kenapa dia meminta semua cucunya laki-laki?Batin Callista.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika anakku perempuan. Apakah wanita sihir itu akan memisahkan aku dan suamiku?" ucap Callista.


Vigor mendengar mama mertuanya disebut wanita sihir membuatnya spontan tertawa.


"Eh, kenapa malah tertawa? Tidak ada yang lucu," ucap Callista.


"Kakak ipar ternyata sama denganku. Aku tidak munafik, kok. Aku punya cita-cita mendeportasi Mama mertua ke planet Pluto. Supaya kehidupan bumi jauh lebih tenang dan indah," ucap Vigor dengan tawa renyahnya.


"Wah, ternyata kita bisa sekongkol ya adik ipar," balas Callista.


Kedua menantu ini menertawakan mama mertuanya.


Mobil Vigor sudah mendekati gerbang apartemen kakak iparnya. Callista meminta turun di depan saja.


"Aku turun di situ saja," tunjuk Callista di depan gerbang.


"Tidak masuk saja, Kak?" tanya Vigor. Mengingat kakak iparnya sedang hamil, dia tidak tega.


"Tidak apa-apa. Sudah dekat untuk masuk ke unit." Callista bergegas turun. "Terima kasih, adik ipar. Semoga Zelene lekas sembuh. Aku langsung masuk dulu, ya."


Vigor mengiyakan ucapan kakaknya hanya dengan sebuah anggukan. Dia bergegas pulang ke apartemennya sesuai rencana awal.


Sepanjang perjalanan, Vigor merasa bahagia dan kalut diwaktu yang bersamaan. Rencananya untuk mempertemukan istri dengan keluarganya di kampung halaman agaknya akan tertunda. Apalagi sekarang Zelene sedang hamil. Butuh perjuangan besar untuk sampai di tahap ini.


Vigor juga memikirkan kehamilan istrinya. Walaupun dia bahagia, tetapi masih ada yang mengganjal pada dirinya. Dia memang tidak mau melawan takdir Tuhan. Namun, pikirannya kembali pada ucapan Mama mertuanya yang akan memisahkan dia dan Zelene.


Mobil Vigor memasuki basemen Apartemen K&Q. Dia bergegas masuk ke unitnya dan menyiapkan semua keperluannya. Dia tidak mau berlama-lama meninggalkan istrinya.


"Selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit secepatnya," ucap Vigor. Dia membawa tas yang lumayan besar untuk keperluannya selama beberapa hari.


Vigor yakin akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Tetap yakin dan selalu berpikir positif.


🍋🍋🍋🍋🍋TBC🍋🍋🍋🍋🍋

__ADS_1


__ADS_2