
"Sayang, temuilah Kayana! Kasihan dia, sejak tadi kamu meninggalkannya seorang diri," ucap suaminya melepaskan pelukannya.
"Baiklah, Om," ucapnya hendak berlalu dari hadapan suaminya, namun tangan Sean lebih cekatan untuk mencegahnya.
"Tunggu, sayang! Biasakan untuk tidak memanggil suamimu dengan panggilan, Om. Kita ini suami istri, bukan antara Om dan keponakan. Tolong mengertilah!" pinta Sean. Sebenarnya dia tak masalah untuk dipanggil Om oleh istrinya. Dia hanya ingin mengantisipasi rivalnya yang akan datang.
"Baiklah, sayang. Boleh aku menemui Kayana?" Callista Meminta izin suaminya.
"Nah, begitu kan lebih baik. Pergilah!" Sean melepaskan tangan istrinya.
Setelah istrinya pergi, dia mengingat kartu nama yang Felix berikan. Dia ingin secepatnya membuat pria itu mendapatkan pasangan.
Kayana bukan gadis yang buruk untuk Felix. Mereka pasti akan cocok. Apa aku coba tanya Kayana? Mungkin dia mau bertemu dengan Felix. Setidaknya aku sudah berusaha, mengenai hasil akhirnya ada ditangan mereka.
Sean menyimpan kembali kartu nama itu, sebelumnya dia memindahkan nomor itu ke ponselnya. Sewaktu-waktu dia kehilangan kartu nama itu tidak akan membuatnya kehilangan jejak nomor ponsel Felix.
Sean keluar kamarnya. Dia melihat Callista dan sahabatnya masih ada di dapur. Sepertinya mereka sedang membersihkan bekas piring makannya.
"Kalian terlihat sibuk sekali," sapa Sean.
"Eh, Om Sean. Enggak juga, Om. Aku hanya membantu Callista membereskannya," ucap Kayana sembari meletakkan piring ke tempatnya.
"Setelah ini, bisa kita bicara?" ucap Sean pada Kayana.
"Sayang, apa yang ingin dibicarakan dengan sahabatku?" Callista sedikit cemburu melihat suaminya dekat dengan sahabatnya.
"Kita ke ruang tengah saja, biar lebih santai. Ayo sayang, ajak Kayana ke sana," ajaknya pada gadis dua puluh tahun itu.
Mereka semua sudah berada di ruang tengah. Sean duduk tepat di samping istrinya, sedangkan Kayana berada agak jauh.
"Malam ini, sebaiknya kamu menginap saja di sini. Sayang, apa kamu senang jika Kayana menginap di sini?" ucapnya seperti meminta izin istrinya.
Entahlah, sayang. Sebenarnya gue cemburu melihat Om Sean perhatian sekali dengan Kayana. Perasaan apa ini sebenarnya? Gue ngerasa cemburu banget!
__ADS_1
"Sayang, kenapa diam? Hei...," Sean menyadarkan lamunan istrinya.
"Ah, iya... Tak masalah, sayang," ucap Callista yang sedang dirundung rasa cemburu berlebihan. Tak biasanya dia merasakan seperti ini.
"Oh ya, apa kamu sudah menemukan seorang kekasih?" tanya Sean pada Kayana.
Lagi-lagi, pertanyaan suaminya itu membuat Callista semakin cemburu jika sahabatnya mendapatkan perhatian lebih. Sebelum Kayana menjawab, Callista sengaja ingin kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin mendengar apapun dari mulut suaminya. Tingkat cemburunya sangat tinggi dan terlalu sensitif.
"Sayang, aku ke kamar sebentar, yah? Ada yang ingin kuambil," Callista beralasan. Sebenarnya sejak keinginannya makan rujak terpenuhi, tingkat emosional dan kecemburuannya semakin tidak menentu. Dia seperti menjadi orang lain.
"Iya, sayang," jawab Sean. Sean melanjutkan obrolannya dengan Kayana. Dia ingin membuat gadis itu bisa dekat dengan Felix.
Sementara Callista yang melihat suaminya tidak peka itu membuat tingkat kecemburuannya semakin tinggi. Sesampainya di kamar, Callista menangis sesenggukan.
Kenapa Om Sean lebih perhatian pada Kayana dibanding istrinya? Ish, dasar pria menyebalkan.
Callista menutupi wajahnya dengan bantal. Dia tidak ingin keluar lagi untuk menemui sahabatnya.
Sean merasa istrinya terlalu lama berada di kamar. Setelah dia menjelaskan pada Kayana dan meminta keputusan gadis itu, Sean meminta izin sebentar untuk melihat istrinya.
Sesampainya di depan kamar, Sean membuka pintu secara perlahan kemudian menutupnya kembali. Dia melihat istrinya meringkuk di atas ranjang sambil menangis.
"Hei, sayang... Kenapa lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi. Kenapa meninggalkanku ngobrol berdua saja dengan Kayana. Ada apa sayang? Ceritakan!" Sean mendekati istrinya, mengelus punggungnya dan berusaha membuatnya berhenti menangis.
"Aku cemburu!" ucap Callista singkat. Dia tidak mengerti kenapa perasaan takut kehilangan bahkan takut jika Sean menduakan dirinya.
"Cemburu pada Kayana? Ayolah sayang. Ini terlalu berlebihan. Aku hanya membantunya mendapatkan seorang kekasih. Apa suamimu salah?" Sean tak habis pikir. Bisa-bisanya istrinya itu cemburu pada sahabatnya.
"Enggak! Tapi aku terlanjur cemburu. Om sangat perhatian sekali sama dia."
"Hemm, Om lagi, Om lagi. Sayang, dengarkan aku!" Sean meraih wajah istrinya. "Aku akan menjodohkan Kayana dengan Felix. Kamu mau kan sahabatmu bahagia sepertimu?"
Callista mengangguk. Selama ini, kedua sahabat itu saling mendukung dikala susah maupun senang.
__ADS_1
"Good girl! Bantu aku merencanakan double date. Kita akan pergi makan malam bersama. Kamu dan aku. Kayana dan Felix. Kamu mau kan, sayang?" Sean harus berusaha keras membujuk istrinya. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini.
Callista mengangguk.
"Nah, sekarang cuci muka! Kembali ke depan, kita lanjutkan rencananya. Jangan cemburu pada sahabat sendiri," Sean melepaskan tangannya lalu beranjak dari ranjang untuk kembali ke ruang tengah.
"Maaf, Kay. Menunggu terlalu lama, yah? Bagaimana keputusanmu?" ucap Sean yang mendaratkan tubuhnya di tempat semula.
"Setelah aku pikir, mungkin sebaiknya aku mencoba membuka hati untuk pria itu, Om. Bukankah Om bilang jika kakaknya adalah seorang playboy kelas kakap?" ucap Kayana.
Sean tidak menceritakan siapa sebenarnya Dizon. Dia hanya ingin urusannya dengan Kayana maupun Felix lekas selesai. Dia selalu menanamkan dalam ingatan Kayana jika Dizon adalah seorang playboy, agar gadis itu selalu menjauhinya.
Callista telah kembali dengan wajah yang lebih segar. Dia duduk di samping suaminya.
"Call, lo lama bener, sih? Lo tau nggak, Om Sean mau ngajak kita double date. Duh, gak sabar gue...," ucap Kayana dengan binar mata bahagia.
Callista yang mendengarkan ucapan sahabatnya sudah bisa ceria seperti sebelumnya. Dia merasakan mood swing yang tidak terkendali akhir-akhir ini.
"Wah, gue ikut seneng, Kay. Jadi, siapa pria itu?" tanya Callista. Walaupun dia sudah tau dari mulut suaminya, tetapi dia ingin mendengar langsung dari sahabatnya.
"Felix, Call. Tapi... Gue nggak ada gaun yang bagus...," Kayana tiba-tiba bersedih.
"Kalian jangan khawatir. Oh ya, besok kamu bekerja?"
"Iya, Om. Masuk shift pagi," ucap Kayana.
"Sepulang kerja, datanglah ke apartemen. Pergilah ke butik bersama Callista! Aku juga akan meminta Zelene untuk menemani kalian," ucap Sean memberikan angin segar pada Kayana.
"Terima kasih, Om. Om sangat baik sekali...," ucap Kayana penuh syukur.
"Kalian sudah lapar? Aku siapkan makan malam, yah?" Callista hendak berdiri, tetapi Sean mencegahnya.
"Aku pesankan Delivery Order saja. Kalian berdua lanjutkan mengobrol. Kamu jangan terlalu capek, sayang," ucap Sean. Dia baru menyadari terjadi perubahan besar pada istrinya. Mulai dari menginginkan rujak buah sampai mood swing yang berubah dengan sangat cepat. Berbeda jauh dari Callista yang dikenal sebelumnya.
__ADS_1
Semoga kamu hamil, sayang. Aku sudah tidak sabar menunggu momen itu.
ππππto be continuedππππ