
Pagi ini seperti biasa, keluarga Damarion berkumpul di ruang makan. Mama Carlotta selalu menyiapkan sarapan pagi untuk ketiga jagoannya.
"Felix, kau terlihat sangat bahagia," Mama Carlotta meletakkan kopi di hadapan anak bungsunya.
"Pa, Ma. Minggu depan aku akan menikah!" ucap Felix mengejutkan semua yang ada di meja makan.
"Wah, ini berita bahagia untuk Mama. Siapa gadis beruntung itu? Mama ingin bertemu dengannya," Mama Carlotta yang paling bahagia di sini. Dia ingin agar anak bungsunya segera berkeluarga.
"Gadis mana yang mau denganmu?" ejek Dizon, kakaknya.
"Ada. Dia gadis baik-baik. Yang pasti, aku tidak akan menikahi mantan istri orang lain atau merebut seorang wanita dari suaminya," balas Felix.
"Kau mengejekku? Sean yang merebut Diana dariku," Dizon menatap tajam mata adiknya. "Kau tak perlu mengurus kehidupanku. Urus saja kehidupanmu sendiri!"
"Felix, Dizon... Hentikan! Ini meja makan. Mama tidak suka ada pertengkaran lagi di sini," Mama Carlotta merasa kecewa pada kedua anaknya.
Papa Denzel hanya diam saja melihat interaksi ketiga orang di hadapannya.
Setelah Mama Carlotta melerai pertengkaran mereka, kini suasana meja makan hening. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar beradu dengan piring.
Mama Carlotta di usianya yang tak lagi muda mengharapkan kehadiran cucu. Dia sudah meminta Dizon untuk membawa Willow kembali. Tetapi pria tiga puluh delapan tahun itu menolaknya dengan tegas.
Papa Denzel tipikal orang yang keras kepala persis dengan Dizon. Dia tidak pernah mau mendukung sedikit saja niat istrinya untuk membuat Dizon dan Diana bersama.
Harapan satu-satunya Mama Carlotta ada pada Felix. Pria tiga puluh dua tahun yang sifatnya bertolak belakang dengan anak sulung dan suaminya.
Mama akan selalu mendukungmu, Felix.
Setelah sarapan pagi, Dizon lebih dulu pergi. Sedangkan Felix masih ingin mengobrol dengan Mamanya.
"Ma, bisa kita ngobrol berdua?" tanya Felix.
"Kau tidak mau berbicara denganku, Felix?" protes Papa Denzel.
"Tidak, Pa. Aku memang ada urusan dengan Mama," ucap Felix beralasan. Dia belum mau Papanya mengetahui dengan siapa dia akan menikah.
"Kau tidak ke kantor, sayang?" tanya Mama Carlotta pada Felix.
__ADS_1
"Kak Dizon sudah berangkat, Ma. Aku bisa datang terlambat," ucapnya.
"Baiklah. Mama akan meminta pelayan membersihkan meja makan," Mama Carlotta pergi ke dapur untuk memanggil pelayan. Setelah urusannya selesai, wanita paruh baya itu mengajak anaknya mengobrol di taman belakang.
Mama Carlotta duduk di kursi taman, sedangkan Felix masih berdiri menghadap Mamanya.
"Duduklah, Felix!"
"Ma, sebelumnya Felix minta maaf. Gadis pilihanku tidak memiliki latar belakang dari keluarga kaya. Dia hanya seorang gadis yatim piatu yang masih menempati rumah keluarganya. Aku harap, Mama mau menerima pilihanku," ucap Felix yang duduk di depan Mamanya. Dia menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu.
Mama harusnya bahagia dengan keputusan Felix. Tetapi aku tidak tau bagaimana caranya menghadapi Denzel yang selalu mengharapkan anak-anaknya menikah dengan gadis yang memiliki latar belakang sama dengan keluarga Damarion.
"Sayang, Mama tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa kamu akan menikah. Mama berharap, dia gadis yang baik dan bertanggung jawab padamu, Nak," ucap Mama Carlotta. Ini akan sulit baginya menjelaskan pada Denzel. Mengingat pria paruh baya itu sama perfeksionisnya dengan Mamanya Sean.
"Terima kasih, Ma. Menurut Mama, pernikahanku sebaiknya dilaksanakan di mana?"
"Nanti biar Mama dan Papa yang memilih tempatnya. Kau berangkatlah bekerja. Tidak baik seorang pemimpin datang terlambat ke kantornya," Mama Carlotta tetap akan melibatkan suaminya untuk mengurus pernikahan putranya.
"Baik, Ma. Terima kasih," ucap Felix kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang, siapa nama gadis beruntung itu? Mama ingin mendengar namanya."
Mama Carlotta duduk seorang diri di taman. Dia membayangkan punya menantu yang bisa membuatnya selalu menjadi orang yang paling bahagia. Dia membayangkan bisa bersenda gurau, memasak bersama, berbelanja bersama. Semua ingin dinikmati bersama menantunya.
Sayang seribu sayang. Anak sulungnya belum mampu mewujudkan keinginannya. Dizon semakin lama semakin keterlaluan. Usianya sudah tak lagi muda, tetapi pria itu terus saja kekeh pada pendiriannya.
Aku akan menikmati masa tuaku dengan gadis itu. Semoga dia gadis yang baik untuk Felix. Sebentar lagi, aku akan punya cucu.
Rona bahagia tergambar jelas di wajah Mama Carlotta. Saking asyiknya melamun sampai dirinya tidak menyadari jika suaminya sudah berada di hadapannya.
"Ma, kau sedang apa?" Papa Denzel duduk di sampingnya.
"Ah, Papa. Sejak kapan ada di sini?"
"Lumayan, Ma. Kau sedang melamun?"
"Aku hanya memikirkan masa depanku, Pa. Aku ingin menikmati kehidupanku dengan menantuku. Felix akan mewujudkannya," ucap Mama Carlotta terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Ck, aku tidak percaya jika Felix mendapatkan gadis sepadan dengan keluarga kita, Ma. Aku yakin anak itu asal-asalan untuk segera mendapatkan istri," Papa Denzel masih teringat kegagalan pertunangan putranya dengan anak keluarga konglomerat, Chaiden Barnard Armstrong.
"Pa... Setidaknya dia akan menikah dengan gadis single. Bukan seperti Dizon yang terus saja mengejar istri orang lain? Sampai kapan kelakuan anak itu akan berhenti. Dia sama keras kepalanya denganmu!" Dari dulu, Mama Carlotta memang memiliki sikap dan sifat yang berbeda dengan suaminya.
"Mama tidak malu memiliki menantu dari kalangan biasa? Mungkin saja Felix berhasil mendapatkan seorang jal*ng di luar sana dan memaksa Felix untuk menikahinya," ucap Papa Denzel.
"Ya ampun, Papa! Jaga ucapanmu! Mama selalu mendoakan yang baik untuk kedua anak kita. Tapi apa, ucapanmu selalu buruk kepada mereka. Jika kau tidak mau ikut andil dalam acara pernikahan putramu, tak mengapa. Biar aku yang merencanakan pernikahan Felix dan Kayana," Mama Carlotta berdiri meninggalkan kursi taman yang sejak tadi didudukinya.
"Jadi, namanya Kayana, Ma...," teriak Papa Denzel.
Mama Carlotta tidak peduli pada suaminya. Siang ini dia harus segera menentukan tempat untuk pernikahan putranya. Dengan atau tanpa suaminya dia akan pergi sendiri.
Kau keterlaluan, Denzel. Sampai kapan kita akan hidup seperti ini? Kau terlalu fokus mengurus harta benda tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anakmu. Lihat saja kelakuan Dizon. Aku sangat malu, Denzel....
Mama Carlotta berada di kamarnya sedang mempersiapkan diri. Dia akan pergi ke hotel Starlight siang ini. Dia berharap bisa membuat pesta pernikahan untuk Felix di tempat itu.
Ceklek!
Pintu kamar dibuka oleh Papa Denzel. Dia melihat istrinya sangat sibuk sekali.
"Kau mau kemana, Carlo?"
"Aku akan pergi ke hotel Starlight untuk memesan Ballroom hotel dan pergi ke Wedding Organizer. Kenapa? Apa kau mau ikut?" Mama Carlotta menawarkan.
"Tidak! Pergilah sendiri. Kau yang menginginkan pernikahan ini, tidak denganku," ucap Papa Denzel. Dia masih mengharapkan bisa menjadi besan keluarga Armstrong. Dia juga tidak tau jika Zelene Armstrong telah menikah.
"Terserah kau, Pa! Jangan pernah menyesali keputusanmu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Felix," ucap Mama Carlotta meninggalkan suaminya.
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
Yang lagi kesel sama kelakuan Papa Denzel angkat tangan?😁😁😁
Yang kangen Mama Jelita, sabar dulu. Doi lagi bertapa... 😎😎😎
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
Bunga dan secangkir kopi jangan lupa disuguhkan untuk emak...
__ADS_1
Terima kasih... Luv yu All... 😍😍😍😍