
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, jika buah cinta kita adalah perempuan?" tanya Sean. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan istrinya.
"Naluri seorang ibu," jawabnya singkat.
"Alasan tidak logis. Masih ada kemungkinan bayi kita laki-laki, 'kan?" Sean berusaha mematahkan keyakinan istrinya.
"Itu artinya, kamu lebih mendukung mama daripada istrimu sendiri. Sudah kubilang, sebaiknya kita akhiri saja pernikahan ini. Aku berjanji akan merawat putriku dengan baik dan tidak kekurangan suatu apapun," ucap Callista tegas.
"Ck, mana bisa begitu." Sean beranjak dari ranjang. Dia pindah duduk di sofa. Dia tidak mau emosinya tiba-tiba meledak di samping istrinya. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Camkan itu."
"Untuk apa kita bertahan jika pernikahan ini tidak mendapatkan restu? Apalagi anak kita dipertaruhkan di sini. Hati ibu mana yang tidak sakit jika harus memaksa takdir Tuhan," ucap Callista sesenggukan. Sebenarnya dia tidak ingin membahas ini yang akan membuat hatinya pedih, tetapi mau bagaimana lagi. Dia juga butuh kejelasan kelanjutan hidupnya sebagai istri kontrak.
"Apa yang kamu inginkan sekarang?" tantang Sean.
"Berpisah darimu dan mendapatkan status janda," jawab Callista.
"Jangan bodoh! Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan konyolmu itu. Kamu pikir, aku pria yang tidak bertanggung jawab akan membiarkan anak dan istrinya terlantar di luaran sana sementara aku sendiri orang yang mampu untuk menghidupi mereka," ucap Sean berapi-api.
"Kalau masalah menghidupi, aku sanggup, kok," ucapnya.
Sean berdiri. Dia mendekati istrinya. Dia memberikan ciuman bibir yang akan membuat istrinya itu berhenti bicara. Sean terus saja membuat istrinya susah bernapas hingga membuat Callista mendorong suaminya.
"Kenapa malah mendorong suamimu?" tanya Sean.
"Aku bisa mati kehabisan napas jika kamu menciumnya seperti barusan," protes Callista.
"Lebih baik kamu mati, daripada minta bercerai dariku," cibir Sean.
"Jadi, kamu lebih suka jika aku mati?" tanya Callista.
"Jangan seperti itu, sayang. Tidak akan ada perceraian di antara kita sampai kapanpun," ucap Sean melunak. Dia sepertinya paham arah pembicaraan istrinya. Mungkin saja dia telah mengobrol banyak dengan Vigor yang berada di posisi yang sama dengannya.
Ketika sedang memperdebatkan ciuman dan perceraian, keduanya terhenti manakala ponsel Callista berdering. Tidak hanya sekali, tetapi berulang kali.
"Ponselmu sangat mengganggu, sayang," protes Sean.
"Tunggu! Urusan kita belum selesai. Aku akan mengangkat telepon dulu," ucap Callista. Dia bergegas mengambil ponselnya di nakas.
Callista bergegas menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo, Kay... Ada apa?" jawab Callista.
"Call, besok aku mampir ke apartemen, ya?" ucap Kayana.
"Jam berapa?"
"Pagian, sepertinya sebelum Om Sean berangkat kerja." Suara Kayana dibuat sebaik mungkin agar tidak terlihat sedih.
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau pergi berbulan madu, Call. Cuman mau mampir pamitan saja," ucapnya dengan tawa renyahnya.
"Hemm, iya deh. Tidak mau kalah sama pengantin baru yang itu," ucap Callista menyindir Dizon, kakak iparnya Kayana yang baru menikah.
"He em. Oke ya, see you," ucap Kayana mengakhiri sambungan teleponnya.
Callista mengembalikan ponselnya ke atas nakas.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Kayana besok pagi mau mampir. Katanya mau pamit berbulan madu," jawab Callista.
"Hah? Menginginkan apa maksudnya?" Callista bertukar tempat. Sekarang dia yang duduk di sofa. Dia lebih takut serangan mendadak seperti barusan.
"Honeymoon?"
"Ck, tidak pakai honeymoon juga dah melendung kek gini. Hemm," balas Callista.
"Itu artinya, makhluk hidupku bekerja dengan baik, sayang. Harusnya kamu lebih bersyukur, tanpa honeymoon kita berhasil mendapatkan Sean Junior," ucap Sean dengan bangganya.
"Mana bisa begitu, baby A bukan laki-laki, dia perempuan. Yang benar itu Callista junior," bantahnya.
"Memangnya kamu tidak suka anak laki-laki?" tanya Sean. Dia mendekati istrinya. Belum sampai sofa, Callista menghentikannya.
"Stop! Jangan ke sini! Aku tidak mau mati mendadak seperti tadi. Awas saja kalau berani mendekat. Aku dan baby A mogok bicara," ucap Callista.
Bagaimana lagi membuat istrinya mudah untuk didekati. Menciumnya secara mendadak tidak membuatnya mengalah malah semakin menjauh.
Sean kembali naik ke ranjangnya. Dia berusaha menggoda istrinya untuk naik ke ranjang.
__ADS_1
"Apa malam ini kamu tidak ingin memanjakan makhluk hidupku? Aku menginginkannya, loh," rayu Sean.
"Tidak akan. Sampai aku mendapatkan kejelasan pernikahan kita," jawab Callista.
Oh astaga! Harus bagaimana lagi? Kontrol kehamilan masih beberapa minggu lagi. Itupun kami tidak akan tau jenis kelaminnya jika tidak beruntung. Tapi apapun hasilnya, aku tidak akan menceraikannya.
"Callista, istriku. Malam ini aku akan meminta hak sebagai seorang suami dan kamu harus memberikannya. Jika tidak, maka tidak akan kubiarkan kamu melangkah satu inci-pun dari kamar ini," perintah Sean. Dia sudah tidak tau lagi harus merayunya seperti apalagi.
Callista terkejut. Tidak biasanya suaminya memaksa seperti itu.
"A-aku tidak mau. Aku takut akan terjadi kontraksi pada kehamilanku. Tunggu trimester tiga saja, yah?" Callista berusaha menawar permintaan suaminya.
"Hemm, jangan seperti itu, sayang. Makhluk hidupku akan karatan jika tidak mendapatkan haknya. Apa kamu tega pada suamimu?" Sean sudah melunak. Dia hanya mengerjai istrinya saja. Lagipula, dia memang tidak tega terus-terusan membuat istrinya kelelahan.
Apa sebaiknya aku mengalah saja? Setidaknya aku akan mendapatkan kejelasan tentang pernikahan kontrakku ini.
"Baiklah. Aku akan memberikannya. Tetapi dengan beberapa syarat," ucap Callista. Dia mulai berdiri dari sofa menuju ranjang.
"Katakanlah!"
Callista mendekati suaminya. Dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sana.
"Pertama, aku ingin kejelasan pernikahan kontrak kita. Kedua, aku akan membawa serta anakku jika ternyata tidak sesuai dengan keinginan mama mertua," ucap Callista.
Sean tidak mampu melanjutkannya. Akan semakin sulit menaklukkan istrinya. Dia berjalan ke lemari penyimpanan berkas. Di sana terdapat bukti pernikahan kontraknya dengan Callista. Dia memang menjerat istrinya dengan pernikahan seperti itu agar tidak ada yang berani selingkuh seperti yang sudah dilakukan mantan istrinya terdahulu.
Sean mengeluarkan berkas tersebut kemudian merobeknya di depan istrinya.
"Lihat! Tidak ada lagi pernikahan kontrak. Kita selamanya akan terikat satu sama lain. Aku tidak akan pernah membiarkanmu membawa pergi putra ataupun putri kita. Dan kuperingatkan sekali lagi. Jangan lagi ada kata pisah di antara kita! Aku tidak suka," ucap Sean. Dia membuang berkas yang sudah hancur itu ke tempat sampah.
Callista bangun dari ranjang. Dia mendekati suaminya. Masih ada ganjalan dihatinya.
"Bagaimana nasib putri kita?" tanya Callista. Dia sudah berlutut di hadapan suaminya. Walaupun kertas kontrak itu sudah hancur, tetapi kekuasaan seorang ibu pasti akan menang terhadap putranya.
Sean menarik tangan istrinya untuk berdiri. Dia memeluk istrinya dengan erat. Walaupun perutnya belum terlalu buncit, tetapi Sean memeluknya dengan mesra.
"Jangan khawatirkan baby A. Aku ataupun mama tetap akan menerimanya. Dia darah dagingku. Jangan berpikir untuk berpisah dariku dan membuat baby A sengsara," ucapnya.
Sean melepaskan pelukannya kemudian mencium istrinya dengan mesra dan sangat lembut. Keyakinan tentang kehadiran putrinya akan membuat mamanya berubah menjadi semakin besar. Bukan Sean ataupun Callista yang akan meluluhkannya, tetapi putrinya, baby A.
__ADS_1
🍇🍇🍇🍇🍇🍇TBC🍇🍇🍇🍇🍇🍇