
Sesuai rencana Diana dan Mama Jelita, hari ini Diana akan membawa Willow menemui Sean. Gadis kecil itu sudah paling heboh sedari bangun tidur. Dia meletakkan selimutnya asal karena secepatnya ingin lekas mandi kemudian berganti pakaian. Usianya baru enam tahun, dia bisa melakukan kegiatan itu secara mandiri. Gadis kecil itu terbiasa ditinggal mommynya untuk bekerja dan pergi ke luar negeri.
"Mom, bagus tidak jika aku pakai baju warna pink ini?" tanya Willow pada mommynya yang kebetulan sedang merapikan kamar gadis itu.
"Terserah kau saja, sayang. Apapun yang kau pakai, daddy pasti akan senang," ucap Diana. Dia meletakkan selimut yang sudah dilipat ke atas ranjang. Menatanya dengan rapi seperti sebelumnya.
Gadis kecil itu tertawa riang. "Yeay... Daddy, aku datang!"
"Sayang, setelah ini kita sarapan dulu. Mommy yakin, daddy akan sangat sibuk ditempat kerjanya. Jangan buat daddy dalam kesulitan, yah?" ucap Diana. Wanita tiga puluh lima tahun itu harus berpikir secara matang untuk mempertemukan Willow dengan Sean. Sekadar hanya untuk membuat gadis itu percaya jika dirinya masih mempunyai seorang daddy.
Aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak. Setidaknya aku akan mencoba mempertemukannya dengan Sean. Aku berharap Juvenal akan lekas kembali dan menemukan kita di sini.
"Mom, kenapa melamun? Ayo kita sarapan pagi! Grandma sudah menunggunya," ajak Willow. Gadis itu sudah siap dengan pakaian dan tasnya yang selalu dibawa kemanapun dia pergi.
"Baiklah, sayang. Ayo!"
Diana menggandeng erat tangan putrinya. Dia bahagia bisa hidup berdua dengan Willow. Dia juga sedih belum bisa memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya.
Sebelum Diana tau jika Sean telah menikah lagi, dirinya ingin rujuk dengan pria itu. Tetapi melihat Sean sudah menikah, sekarang dia berada di posisi yang serba salah.
"Halo, Willow sayang... Sudah siap bertemu daddy?" sapa Mama Jelita.
"Iya, grandma... Wow, makanannya banyak sekali? Aku tidak akan bisa menghabiskan semuanya...," teriak Willow.
"Sayang, makan secukupnya!" perintah mommynya.
"Baiklah," ucap gadis kecil itu menurut.
Setelah sarapan pagi selesai, Diana pamit pada Mama Jelita untuk mengajak anak gadisnya pergi menemui Sean.
"Ma, aku pamit dulu...," ucapnya.
"Pergilah!" jawab Mama Jelita.
Gadis kecil itu sudah berada di dalam mobil. Sopir Mama Jelita yang akan mengantarkan mereka ke kantor Sean.
"Mom, apakah aku sudah terlihat sangat cantik? Aku tidak mau daddy kecewa melihatku," ucap Willow. Dia merasa ingin seperti Cinzia, teman sekolahnya yang selalu tampil cantik dan bersikap manis di hadapan daddynya.
"Iya, sayang. Kau cantik dan sempurna!" ucap Diana.
Sepanjang perjalanan, gejolak batin Diana berperang. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Demi janjinya pada Willow, dia berusaha keras untuk mendekati Sean, mantan suaminya.
Mobil telah memasuki area parkir SA Corporation. Willow dan Diana turun. Mereka berjalan menuju ke staf front office.
__ADS_1
"Bu, bisa bertemu dengan Pak Bos?" tanya Diana. Jika biasanya wanita itu akan bersikap kasar demi bisa bertemu Sean, kali ini di hadapan putrinya dia tidak mau gegabah.
Bukannya wanita ini yang tempo hari mengaku istrinya Bos? Padahal bukan! Dia sudah memaksa masuk ke ruangan Bos Sean. Tumben untuk hari ini dia bersikap baik? Dan... Siapa gadis kecil itu?
"Tunggu sebentar, Nyonya! Saya akan mengabarinya," ucap staf front office.
Bukan Willow namanya jika dia bisa bersabar.
"Mom, lama sekali...," gerutu gadis kecil itu. Sebelum mendapatkan jawaban, Diana segera membawa gadis itu ke hadapan Sean.
Staf front office melihatnya hanya bisa geleng kepala.
Tok tok tok.
Diana mengetuk pintu ruangan Sean. Ini kali pertamanya dia berusaha bersikap baik.
"Masuk!" jawab Sean dari dalam. Dia pikir, staf atau asistennya yang datang.
Ceklek!
Mata Sean bersitatap dengan mantan istrinya. Dia melihat seorang anak kecil yang sedang bersama wanita itu. Reaksi Willow sungguh diluar dugaan.
"Daddy... Apa kau daddyku?" teriak Willow mendekati Sean. Pria itu tidak bisa bersikap kasar di hadapan anak kecil. Sebisa mungkin dia menguasai amarahnya.
Sean tidak bisa menjawab pertanyaan gadis kecil itu.
"Wow, daddyku sangat keren dan tampan. Cinzia bisa saja cemburu padaku jika dia tau ternyata aku punya daddy seperti ini," ucap gadis kecil itu.
"Apa yang kau katakan padanya?"
Semua pertanyaan Sean dijawab dengan bungkam oleh Diana. Sejak perceraiannya, Sean tidak pernah merasa memiliki seorang anak. Itulah sebabnya, dia tidak bisa dekat dengan Willow. Walaupun selama hampir setahun, Sean selalu menggendong Willow sepanjang pagi.
"Aku bisa jelaskan, Sean! Setidaknya tolong untuk kali ini bisa buat anakku bahagia," pinta Diana.
"Maaf, Di. Kita bisa ngobrol sebentar? Aku tidak mau terlihat sangat emosional di hadapan anakmu itu!"
"Sayang... Kau tunggulah di sofa itu! Mommy akan bicara sebentar dengan daddymu," ucap Diana.
Sean yang mendengar ucapan mantan istrinya itu langsung mengepalkan tangannya. Dia tidak suka jika Diana harus membohongi gadis kecil itu terus menerus.
Kini keduanya sudah berada di ruangan yang sangat privasi. Sean tidak terima dengan semua perlakuan Diana padanya. Dia meminta pada mantan istrinya itu untuk mengatakan yang sebenarnya pada putrinya.
Diana tidak bisa menjanjikan apapun pada Sean. Dia tetap pada pendiriannya untuk bisa mendekatkan Willow padanya. Sean dengan tegas menolak menerima keberadaan gadis itu. Sean juga mengancam akan memberikan Willow kepada keluarga Damarion yang Sean pikir adalah ayah biologis dari anak itu. Diana tidak setuju dan menolak dengan tegas ancaman Sean. Terjadilah keributan!
__ADS_1
Willow yang sedang duduk manis di sofa tidak bisa mendengar keributan yang terjadi antara mommy dan daddynya. Gadis itu mengkhayal bisa pergi bersama kedua orangtuanya. Bahkan, gadis itu juga tidak menyadari seseorang telah mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Ceklek!
Callista langsung membuka pintu ketika tidak ada respon dari dalam ruangan. Callista masuk membawakan bekal makan siang untuk suaminya.
"Sayang, kau dimana?" Callista mencari keberadaan suaminya. Dia tidak menyadari jika di ruangan suaminya ada seorang anak kecil yang sedang menunggu orang tuanya.
Callista memindai seluruh ruang kerja suaminya sampai mendapati seorang gadis kecil yang duduk di sofa. Dia dan gadis itu saling menatap.
"Hai, gadis kecil... Siapa kamu?" tanya Callista dengan sangat lembut.
"Aunty, siapa? Kenapa bisa masuk ke ruangan ini?" protes gadis kecil itu seolah tidak terima jika ruangan daddynya dimasuki oleh orang lain.
Callista belum bisa memahami keberadaan gadis kecil yang ada di hadapannya saat ini. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepalanya tetapi belum mendapatkan jawaban apapun.
Kenapa gadis kecil ini ada di ruang kerja suamiku? Siapa dia sebenarnya? Apakah ini ada hubungannya dengan suamiku? Kemana suamiku sekarang?
Callista tidak menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Gadis itu merasa kesal karena aunty yang diajaknya berbicara tidak merespon. Dia berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya.
"Aunty, namaku Willow...," ucap gadis kecil itu.
Deg!
Jantung Callista seolah berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Keberadaan gadis itu membuatnya sangat terkejut.
Willow?
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍
Hai hai, akak readers... Semoga suka part kali ini.
Jangan lupa like, vote dan komentarnya.
Oh ya, sambil menunggu update selanjutnya...
Kuy kepoin karya teman emak
Judulnya : Ketulusan Cinta Istri Pertama
Author : munasih
__ADS_1
Terima kasih... Luv yu all 😍😍😍😍