
Setelah mengantarkan Kayana pulang ke rumahnya, Sean memperlambat kecepatan mobilnya. Dia ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
"Om kenal dengan Tuan Dizon?" tanya Callista. Dia yang lebih penasaran, kenapa suaminya seperti tidak suka melihat pria itu.
Bukan kenal lagi, sayang. Dia tiba-tiba saja datang mengacaukan kehidupanku.
"Nanti saja kuceritakan padamu. Sekarang lebih baik kamu tidur. Masih beberapa menit lagi baru sampai apartemen," ucap Sean. Dia tidak ingin menceritakan masa lalunya di jalan. Dia khawatir tidak akan konsentrasi untuk mengemudi.
"Baiklah, Om. Aku juga nggak akan tidur, tanggung. Ntar Om ngapa-ngapain aku," ucapnya meledek suaminya.
"Bukannya setiap hari sudah? Kenapa mesti takut lagi? Memancing makhluk hidupku bisa berakibat fatal!" ancamnya.
Ish, selalu saja mesum!
"Kenapa diam?"
Callista tidak merespon ucapan suaminya. Dia berpura-pura tidur. Setidaknya dia sedikit menghindari obrolan mesum dengan suaminya.
"Awas kalau bohong! Tambah lagi satu permainan. Total untuk malam ini... Empat!" Sean sengaja menggoda istrinya.
Callista merasa terganggu dengan kata empat yang diucapkan suaminya.
"Enggak! Hari ini libur. Aku lelah, Om," ucapnya membela diri.
Om Sean gila, yah? Empat? Hah, empat? Besok pagi gue ambruk beneran kagak bisa bangun.
"Mana bisa begitu? Dalam kebohongan sudah tercatat berapa kerugian yang kuterima. Sebagai perhitungan ganti ruginya sesuai kesepakatan awal. No complain!" Sean sengaja membuat istrinya mati kutu.
"Oh, ya ampun... Om Sean perhitungan sekali. Kalau model begini, aku bukan seperti seorang istri lagi. Sudah seperti wanita malam, tauk!" ucap Callista.
Sean yang mendengar ucapan Callista membuatnya menghentikan mobil secara mendadak. Untung saja suasana jalanan sedang sepi. Sean bisa memberhentikan mobil seenaknya. Aura kemarahan nampak di wajah pria empat puluh tahun lebih itu.
Pria itu mencengkram erat rahang istrinya. Tidak terima dengan ucapan yang barusan dilontarkan wanita itu.
"Sakit, Om!" ucap Callista berusaha memberontak.
"Jangan katakan itu lagi! Kamu wanita baik-baik. Aku menikahimu secara baik. Jangan sekali-sekali mengatakan dirimu seperti seorang jal*ng!" Sean melepasnya kemudian mencium Callista dengan lembut. Ciuman hangat yang biasa mereka lakukan.
Callista sadar telah salah bicara. Setelah Sean melepaskan ciumannya dan melanjutkan perjalanannya lagi, Callista meminta maaf pada suaminya.
"Maaf, Om! Aku mengaku salah," ucapnya.
"Good girl. Jangan diulangi lagi, sayang!"
Callista mengangguk.
Setelah sampai di bassement apartemen, Sean mengeluarkan beberapa belanjaan. Dia meminta tolong istrinya untuk membantu membawakan beberapa kantong belanjaan.
__ADS_1
"Sayang, bawakan beberapa kantong, ya?" pintanya.
"Iya, Om," Setelah kejadian di dalam mobil tadi, Callista menjadi semakin takut menghadapi suaminya.
Keduanya berjalan menuju unit apartemen tanpa berbicara. Sean tampaknya menyesal telah berlaku kasar pada istrinya.
Setelah membuka pintu, Callista masuk ke dapur untuk menyelesaikan tatanan barang belanjaan yang sudah dibelinya. Dia masih dalam diam, bahkan ketika suaminya memanggilnya berulang kali, dia tidak merespon.
"Sayang... Sayang... Sayang...," panggil Sean. Pria itu menyadari istrinya tidak merespon. Dia mendekati istrinya kemudian memeluk wanita itu dengan kasih sayang.
Callista pasrah dengan perlakuan suaminya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku bersumpah! Tolong mengertilah," Sean berusaha membuat Callista ceria seperti biasanya.
"Apa karena ucapanku yang salah? Om akan terus bertindak seperti tadi? Aku takut, Om!" ucapnya.
"Hei, lihatlah! Kamu segalanya untukku, sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu," Sean mengeratkan pelukannya.
"Tapi, kenapa Om lakukan seperti tadi?"
"Kita lanjutkan besok, sekarang kita bicara di kamar. Aku ingin kamu mengetahui semuanya tentangku, sayang," ucapnya merayu Callista.
"Biar kuselesaikan. Tanggung tinggal sedikit, Om," ucapnya. Dia melepaskan pelukan suaminya.
"Baiklah, sayang. Kutunggu di kamar!" Sean beranjak menuju ke kamarnya. Malam ini dia terlihat sangat lelah sekali.
Sean bergegas ke bathroom untuk sekedar menyegarkan pikirannya yang sedang kalut itu. Setelah sekian lama dia terbebas dari teror Dizon, sepertinya sekarang akan terulang lagi. Sean sengaja membuat dirinya basah dengan guyuran shower yang ada di kamar mandinya.
Aku lelah, Dizon! Kau terlalu jauh mengurusiku.
Sementara Callista sudah selesai dengan semua belanjaannya. Dia menuju ke kamar sesuai permintaan suaminya.
Dilihatnya kesana kemari, tetapi suaminya tidak ada di dalam kamarnya.
Kemana Om Sean? Apa mungkin sedang mandi? Apa dia tidak ingin diganggu?
Sekelebat bayangan tentang pria yang menjadi sandarannya selama ini membuat Callista merasa khawatir. Entah, dia seperti bisa merasakan kekalutan yang dialami suaminya.
Ceklek!
Sean baru saja keluar dari bathroom dengan pakaian yang rapi dan rambut yang terlihat masih basah. Aroma sampo menyeruak ke hidung Callista. Rasanya dia ingin menghirup aroma itu semakin dalam dan semakin memabukkan. Callista mendekati suaminya kemudian memeluk dengan sangat mesra. Tak ada penolakan dari suaminya, bahkan pria matang itu membalas pelukannya semakin erat.
"Maafkan aku, sayang," Hanya itu yang mampu Sean ucapkan pada istrinya.
"Maaf untuk apa, Om?" tanya Callista sembari memandang wajah suaminya yang tak secerah biasanya.
"Maaf untuk ketidak sengajaan yang kulakukan hari ini. Aku benar-benar minta maaf, sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucapnya.
__ADS_1
"Iya, Om. Mungkin, Om sedang banyak masalah yang tidak pernah ingin diceritakan padaku," ucap Callista yang menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Ada banyak hal yang harus kamu ketahui dariku, sayang. Aku tidak bisa menyimpannya terlalu lama. Aku percaya padamu untuk menyimpan rahasia besar ini," ucapnya membuat Callista sedikit mendongak memandang mata suaminya.
"Rahasia besar?"
"Iya, sayang. Kita bicarakan di atas ranjang, yah? Hari ini aku sangat lelah," Sean melepaskan pelukannya kemudian membimbing istrinya untuk naik ke ranjang.
Sean bersandar pada headboard dan memeluk istrinya dari belakang.
"Ceritakan apa yang tidak kuketahui, Om!" pinta Callista.
"Kau ingat pria yang bertemu kita di Mal malam ini? Pria yang bersama Felix. Kalau soal Felix, kamu mungkin masih ingat. Dia calon tunangan Zelene yang gagal kemarin," ucapnya mengawali.
Callista hanya manggut-manggut mendengarkannya.
"Aku pernah punya masalah dengan Dizon, kakaknya Felix...," Sean menjeda ucapannya.
Rahasia sebesar apa yang akan kuketahui? Apakah ini ada hubungannya dengan pernikahan kami?
"Dia sebenarnya kekasih Dian Carrington, mantan istriku. Sebelum aku menikah dengan Diana, Dizon adalah kekasihnya. Mama yang memaksaku untuk menikah dengan wanita itu. Ketika tau jika aku yang akan menikahi Diana, Dizon marah besar. Dia akan selalu mengganggu kehidupan pernikahanku...," Sean seperti menahan beban hidup yang sangat berat selama ini.
"Lalu, apa selanjutnya, Om?" tanya Callista.
"Dia menciptakan affair di belakangku. Dia selalu membuat Diana sibuk bersamanya. Hingga akhirnya Diana hamil. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini semua, sayang. Maafkan aku," ucap Sean memeluk erat istrinya.
"Rahasia besar mana yang Om maksud?" tanya Callista yang masih bingung dengan maksud suaminya.
"Dizon akan selalu mendekati siapapun yang menjadi istriku saat ini. Dia seolah tak terima ketika Diana menerima pinanganku dan memutuskan hubungan dengannya," Sean menjelaskan.
"Itu yang membuat Om merasa tidak nyaman saat kita bersama pria itu?" Callista mulai memahami kenapa suaminya tiba-tiba berubah.
"Iya, sayang. Maafkan aku."
ππππto be continuedππππ
Hai akak readers, kuy mampir di karya teman emak...
Judulnya : Berbagi Cinta : Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami
Author : Santi Suki
*Cerita itu dibuat karena lagi ada even. Cus yang mau kepoin. Jangan khawatir, ceritanya keren loh...
Terima kasih ππππ
__ADS_1