Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Obrolan Absurd


__ADS_3

Setelah Zelene menyiapkan cemilan dan soft drink untuk Felix, Kayana meminta Zelene dan Callista untuk mengobrol hal yang sangat penting. Ada sesuatu yang membuatnya masih bingung harus mulai dari mana.


Sebenarnya tuan rumah adalah Callista, berhubung dia lagi kurang enak badan, Zelene-lah yang melayani kedua tamunya itu.


"Sayang, izin ngobrol bersama mereka, ya? Nunggu Om Sean-nya di sini saja, sebentar lagi pasti pulang," ucap Kayana malu-malu karena dilihat oleh Zelene dan Callista.


"Iya, sayang," jawab Felix.


"Cie... Cie... Pengantin baru," goda Zelene. "Yaudah, kami tinggal bentar nggak apa-apa, yah?"


"Silakan," jawab Felix.


Kayana, Zelene, dan Callista masuk ke kamar tamu. Tempat ini adalah tempat paling bebas di apartemen Sean. Tempat yang paling dikunci permanen dan tidak boleh orang lain masuk selain istrinya adalah kamar utama. Callista juga takut untuk melanggarnya. Entah apa yang akan terjadi, jika orang lain masuk ke kamarnya.


Ceklek!


Pintu kamar tamu sudah dibuka. Zelene masuk yang pertama kali dan Callista yang paling akhir bertugas menutup pintu.


Mrs. Kepo yang sesungguhnya akan terlihat. Siapakah dia?


Aku penasaran, semanis apa Tuan Felix memperlakukan Kayana?


"Kay, bagaimana malam pertamanya?" tanya Zelene yang langsung to the point.


Callista yang sejak tadi mau menanyakan hal itu dipikir ulang karena takut membuat Kayana malu.


Kayana malah tertawa menanggapi pertanyaan Zelene. Bahkan dia harus mengingat bagaimana bernegosiasi dengan suaminya di malam itu.


"Mrs. Kepo muncul," ledek Callista.


Semuanya tertawa.


"Eh, mau tau banget, yak?" ucap Kayana.


Zelene dan Callista kompak mengangguk.


Kayana malah menggeleng. Callista tau, jika sahabatnya itu pasti belum melakukannya. Dia sok jadi orang yang paling mengerti karena kebanyakan membaca novel. Callista sendiri belajar darinya, sekarang malah dia yang belum berani.


"Kenapa kita bertiga kompak bener ya? Suka sekali menunda," ucap Callista.


"Entahlah. Mungkin sedang tahap uji coba," jawab Kayana.


"Eh, apa hubungannya uji coba dengan begituan, sih?" balas Zelene yang merasa paling tua padahal sama saja masalah seperti itu harus belajar dari yang terdahulu.


"Nggak ada," Kayana menertawakan dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong, sekarang kamu pulang kemana, Kay?" tanya Callista.


"Rumah mertua, Call. Tadi pagi aku disana, terus minta anterin ke sini karena nggak tau harus ngapain di sana," jawab Kayana memelas.

__ADS_1


Callista terdiam. Dia merasa mertua Kayana sangat baik, berbeda dengan mertuanya yang seperti itu. Entah seperti apa pastinya?


Nyaman Kay, punya mertua baik seperti itu. Andai saja mertuaku juga begitu. Apalagi sejak kecil aku tidak pernah hidup bersama orang tuaku.


"Kak, jangan melamun. Mama memang seperti itu. Sebenarnya dia baik, kok. Kakak percaya padaku. Suatu hari nanti, Mama akan menyadari telah memiliki menantu sebaik dan secantik kakak. Sudah ya, bumil jangan sedih!" ucap Zelene yang melihat raut wajah kakak iparnya terlihat sedih.


Callista bisa tersenyum mendengar ucapan adik iparnya.


"Mau kapan akan dimulai, Kay?" goda Callista.


"Hemm, entahlah. Aku belum siap," ucapnya.


"Sayang loh dianggurin. Kak Felix udah ganteng, baik, tajir, sabar, dan penyayang pula," jawab Zelene keceplosan. Dia paham betul dengan Felix karena dia hampir saja menjadi calon istrinya. Walaupun hanya pertemuan yang pertama waktu pertunangan itu. Terlihat jelas dari sikapnya, tetapi Zelene lebih memilih Vigor yang sudah lama dicintainya.


"Kok Zelene lebih paham dengan suamiku, ya?" tanya Kayana.


Zelene dan Callista memandang wajah Kayana yang nampak tidak suka suaminya dipuji seperti itu. Callista berniat akan mengatakan yang sebenarnya, tetapi malah lebih dulu didahului Zelene.


"Sebelumnya minta maaf, Kay. Kak Felix itu hampir menjadi calon suamiku," ucap Zelene. Dia tidak akan menutupi masa lalunya dengan Felix.


Kayana malah tertawa. Zelene berpikir jika Kayana akan marah padanya karena tidak jujur dari awal.


"Loh, kok kamu malah ketawa, Kay?" tanya Zelene.


"Iyalah. Kenapa aku ketawa, kalian mau tau?" ledek Kayana.


"Untung gagal, jika tidak... Entah jodohku siapa lagi? Nggak mungkin aku mengejar kakaknya yang telah membuatku patah hati itu," ucapnya mengingat beberapa kejadian di hari sebelumnya.


Sekarang giliran Callista dan Zelene yang menertawakan dirinya.


"Pria playboy yang kau suka?" tanya Zelene penasaran.


Kayana menggeleng. "Kupikir dia duda," ucapnya.


Mereka tertawa bersamaan.


"By the way, kenapa kau suka sama duda?" tanya Zelene pada Kayana.


"Hemm, mana aku tau. Tanya saja sama Callista. Suamiku kan bukan duda," ucap Kayana.


Lagi-lagi mereka tertawa. Entah sudah berapa lama mereka mengobrol sampai tidak menyadari jika di luar sudah ada dua pria yang sedang menunggu.


Sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar berulang kali dan panggilan dari seseorang yang Callista hafal betul.


"Sayang, cepat kemari! Kasihan Felix. Sejak tadi menunggu sendirian," panggil Sean dari luar kamar.


"Astaga, Kay... Ze... Kita sudah terlalu lama berada di kamar ini. Lihatlah!" Callista menunjukkan jam dinding yang ada di kamar itu.


"Hemm, baiklah. Lain waktu kita ngobrol lagi. Ternyata berteman dengan kakak ipar dan Kayana sungguh menghibur," ucap Zelene yang turun dari ranjang.

__ADS_1


Callista lebih dulu keluar untuk menemui suaminya.


Ceklek!


"Lama sekali, sayang," protes Sean.


"Maaf, sayang. Terlalu asyik jadi lupa diri," ucap Callista dengan senyum semringahnya.


Setelah Callista, Kayana dan Zelene juga mengikuti keluar kamar kemudian langsung ke ruang tamu.


"Oh ya, ada kabar baik untuk kalian semua...," Sean menjeda ucapannya. "Akhir tahun, kita akan menikmati pergantian tahun di Villa keluargaku. Felix juga setuju. Benar kan, Felix?"


"Iya, Kak. Itu benar," ucap Felix membuat ketiga wanita tersebut berpelukan.


Oh, ya ampun! Sepertinya mereka memang sangat cocok sekali. Batin Sean.


"Kak, kami langsung pamit, ya. Aku khawatir Mama akan mencari menantunya," pamit Felix.


Semua orang tersenyum memandang Kayana yang wajahnya memerah karena malu.


"Hati-hati di jalan," ucap Sean mengantarkan pasangan suami istri itu sampai pintu unit apartemennya.


"Tunggu!" teriak Callista.


"Ada apa, sayang?" tanya Sean.


"Kado untuk Kayana ketinggalan, sayang," ucapnya sembari membawakan sebuah kotak kado yang sebenarnya dibawa pada hari pernikahannya, tetapi Callista lupa tidak membawanya.


"Terima kasih, Call," ucap Kayana menerima kotak kado tersebut.


Setelah keduanya pergi, Sean menutup kembali pintunya.


"Kak, kenapa tiba-tiba mendadak seperti itu?" protes Zelene.


"Itu tidak mendadak, Ze. Aku sudah memikirkannya sejak lama," ucap Sean yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Callista dan Zelene juga melakukan hal yang sama. Keduanya sedang memikirkan sesuatu, tetapi Sean membuyarkan lamunan mereka.


"Kita ada misi khusus pada malam pergantian tahun besok," ucap Sean.


Callista dan Zelene saling pandang.


"Misi?" ucapnya bersamaan.


"Iya, nanti akan kujelaskan. Sekarang aku lelah," ucapnya.


Misi akhir tahun yang dimaksud Sean adalah untuk mendekatkan dokter Olivia dengan Dizon. Kedua pribadi yang sangat bertolak belakang. Sean bahkan tidak yakin jika misi itu akan berhasil. Kita lihat saja tanggal mainnya!


😍😍😍😍TBC😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2