
Sepagi ini di rumah keluarga Damarion, semua berkumpul. Formasinya sangat lengkap. Sepasang suami istri dan kedua anak lelakinya. Mama Carlotta menyiapkan sarapan pagi sederhana ala rumah itu. Sandwich dan roti selai yang dihidangkannya.
Dizon Damarion baru pulang beberapa hari dari luar negeri. Dia ada pekerjaan penting di sana, setelah selesai barulah hari ini mereka berkumpul semua.
Felix Damarion yang mengalami kegagalan pertunangan beberapa hari yang lalu tampak biasa saja. Dia tidak merasa sedih ataupun kecewa. Sejak awal, dia tidak akan mau menerima calon tunangannya jika terdapat keraguan pada gadis itu.
Dizon dan Felix, dua saudara yang sangat bertolak belakang. Dizon tipe orang ambisius dan mau menang sendiri, sedangkan Felix adalah tipe lelaki yang sangat penyabar dan menerima sesuatunya dengan berlapang dada.
"Bagaimana pekerjaanmu, Dizon?" tanya Papa Denzel.
"Lancar, Pa. Seperti biasa hanya tersisa sedikit. Aku menitipkannya pada asistenku," ucapnya.
"Kapan rencanamu akan menikah, Dizon?" tanya Mama Carlotta yang sedang duduk berhadapan dengan Felix, anak bungsunya.
Aku akan menikahi mantan istri Sean yang masih muda itu. Aku tidak akan pernah membiarkan Sean bahagia.
"Aku akan menikah dengan mantan istri Sean, Ma," ucapnya membuat semua mata tertuju padanya.
"Kakak akan menikah dengan Diana? Aku senang mendengarnya," ucap Felix.
Tidak! Aku akan menikahi Callista. Gadis muda yang sangat menawan itu. Diana tidak ada apa-apanya dibanding gadis itu.
"Tidak, Felix," ucapnya.
Tidak? Lalu kakak akan menikah dengan siapa? Bukankah mantan istrinya Kak Sean hanya Diana?
"Aku akan membuat Sean terpisah dengan gadis itu," ucap Dizon.
"Apa maksudmu, Dizon? Gadis yang mana? Bukankah Sean belum menikah lagi?" tanya Papa Denzel.
"Iya, Dizon. Yang Mama tau, tante Jelita akan menjodohkan lagi dengan mantan istrinya, Diana. Kau tau, Willow itu adalah anakmu, bukan anaknya Sean," ucap Mama Carlotta menjelaskan.
Felix menyeruput kopinya. Dia terlihat sangat kecewa dengan kelakuan kakaknya.
__ADS_1
"Kak, kenapa kau tidak mencari wanita lajang dan menikahinya? Selama ini, kau sudah sering membuat pasangannya suami istri bercerai. Apa kau puas telah berbuat seperti itu? Dan kau tau, Kak, semua itu berimbas kepadaku. Kepada keluarga kita juga. Apa yang ada di otak kakak hanya balas dendam saja?" Felix tidak sabar menghadapi Kakaknya itu.
Aku tidak akan pernah berhenti karena keluarga Armstrong telah membuatku hancur. Mereka mengambil Diana yang saat itu menjadi kekuatanku, penopang semangatku untuk menjadi seorang pengusaha mandiri yang sukses. Tetapi, tiba-tiba aku mendapatkan kabar jika Diana akan menikah dengan lelaki itu. Aku hancur, Felix. Hanya Diana yang bisa menerimaku apa adanya.
"Aku tidak akan berhenti sampai Sean benar-benar hancur sepertiku. Biar dia merasakan apa yang pernah kurasakan," ucapnya dengan nada tidak bersalah.
Bukan dia yang akan hancur, Kak. Tetapi dirimu sendiri yang akan hancur. Kak Sean orang baik, dia akan selalu dikelilingi oleh orang baik.
"Mama tidak setuju kau berbuat demikian, Dizon. Mama akan menikahkanmu dengan Diana dan bertanggung jawab atas Willow, anakmu," Mama Carlotta tidak ingin anaknya selalu menyimpan dendam yang berlarut lama. Wanita itu yakin, jika pernikahan Sean saat itu bukan atas kemauan lelaki itu, melainkan perjodohan dua keluarga. Sejak dulu, keluarga Armstrong dan Carrington sudah bersahabat lama.
"Papa setuju, Dizon!" ucap Papa Denzel yang membuat wanita paruh baya di sampingnya melotot tajam ke arahnya.
"Tidak, Pa! Jangan ajari Dizon untuk lebih kurang ajar. Apa Papa tidak malu jika publik sampai tahu kebiasaan Dizon merebut istri orang. Harusnya Papa buat dia sadar, bukan malah menjadi provokator untuknya," Mama Carlo meradang dengan sikap suaminya dan anak sulungnya.
"Biarkan Dizon menentukan jalan hidupnya, Ma. Dia sudah dewasa," Papa Denzel tak ambil pusing atas anak sulungnya itu. Yang penting baginya, dia mau bekerja keras untuk membuat bisnis keluarga semakin berjaya.
Felix beranjak dari meja makan, dia ingin secepatnya pergi dari rumah itu. Melihat kedatangan kakaknya tidak membuatnya senang, malah membuat semakin rumit.
"Ma, Pa, aku ke kantor. Kak, tolong pikirkan baik-baik ucapanmu," pamit Felix pada semuanya.
"Ma, tolong cegah Kak Dizon berbuat demikian. Usianya sudah tiga puluh delapan tahun dan belum menikah. Akan sampai kapan dia menjadi pebinor?" ucap Felix mengingatkan Mamanya.
Kau benar, Nak. Selama ini Mama terlalu membiarkannya dengan kegilaan yang Mama pikir akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi pria itu sangat sulit Mama kendalikan. Entah apa yang ada dipikirannya.
"Baiklah, Felix. Doakan Mama!" ucapnya pada anak bungsunya.
Setelah mengantarkan Felix untuk berangkat bekerja, Mama Carlotta kembali ke ruang makan. Di sana dia tidak melihat Dizon, hanya Papa Denzel yang masih menikmati kopi paginya.
"Dizon mana, Pa?" tanya Mama Carlotta.
"Dia masuk ke kamarnya. Biarkan saja dia sendiri, Ma. Jangan paksakan apapun padanya," ucap Papa Denzel memperingatkan.
"Pa, lama-lama Mama yang bisa gila menghadapi kelakuan pria dewasa itu. Mama ingin Willow diakui sebagai keluarga Damarion, tetapi Papa sepertinya tidak menyukai rencana Mama yang sangat baik ini," ucap Mama Carlotta kecewa.
__ADS_1
"Ma...," Papa Denzel berdiri. "Coba Mama pikir, apa Mama tidak kasihan pada gadis kecil itu. Dizon bukan pria yang bisa menerima seorang anak kecil. Apalagi dendamnya pada Sean tak kunjung usai. Dia akan menganggap gadis kecil itu sebagai keturunan Sean. Dizon akan selalu membencinya," ucap Papa Denzel kemudian pria paruh baya itu pergi ke ruang kerjanya.
Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaan seorang Mama, Pa. Apalagi ketika Mama tau, jika Willow adalah cucu keturunan Damarion. Mama sangat bahagia dan ingin memeluk gadis kecil itu sepanjang hari. Mama akan menemui Dizon dan memintanya membawa Willow ke rumah ini. Kasihan gadis itu harus menerima keegoisan kedua orang tuanya.
Mama Carlotta pergi ke kamar putra sulungnya. Kamar yang beberapa bulan ini ditinggalkannya sekarang telah dihuni oleh pemiliknya.
Mama Carlotta mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Siapa?" tanya Dizon dari dalam.
"Mama, Nak."
"Masuk, Ma! Aku tidak menguncinya," teriak Dizon dari dalam.
Mama Carlotta bergegas masuk ke kamar putranya kemudian menutup pintunya kembali.
"Mama ingin berbicara denganmu, Nak," ucapnya.
"Tentang apalagi, Ma? Aku sudah memutuskan sesuatu. Jangan coba-coba Mama merayuku!" Dizon kekeh pada pendiriannya.
Anak ini, selalu saja keras kepala. Persis Denzel!
"Mama ingin agar kau menjalankan permintaan terakhir Mama. Jika kau tidak mau mendengarkan, setidaknya ini yang terakhir Mama katakan. Tolong, menikahlah dengan Diana. Bawa serta Willow kembali ke rumah ini. Mama ingin melihat gadis itu tumbuh sebagaimana mestinya. Kau jangan egois, Dizon. Willow memang benar anakmu," Mama Carlotta tidak tau harus berkata apalagi untuk membujuk anaknya.
"Tidak, Ma! Sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi. Aku ingin memiliki mantan istrinya Sean lagi. Biar dia merasakan sakit hati yang pernah kualami," Dizon tidak mau didebat. Dia akan tetap pada pendiriannya untuk memisahkan Sean dengan istrinya saat ini.
Dendam tak membuat Dizon berhenti dengan hal gilanya. Dia akan terus membuat Sean menjadi orang yang paling menderita setelah dirinya.
ππππto be continuedππππ
Hai akak, tahan yah... Jangan marah-marah... ππππ
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
Lup yu All... πππ