
Malam ini di kediaman Sean Armstrong, semua pelayan sedang menyiapkan makan malam untuk menjamu beberapa tamu undangan yang akan hadir.
Zelene dan Vigor sudah berada di kediaman kakaknya lebih awal. Zelene membantu persiapan kakak iparnya dan juga baby Aqua.
Sean juga mengundang tante Jelita. Bagaimana pun kerasnya wanita itu, dia pernah berjasa dalam kelangsungan hidupnya maupun Zelene. Sayang, wanita itu menolaknya karena malu bertemu dengan keluarga Armstrong.
"Sayang, bagaimana persiapanmu?" tanya Sean pada istrinya. Mereka sedang berada di kamar baby A. Kamar utama adalah kawasan yang tidak semua orang bisa masuk, kecuali Sean dan istrinya. Mengenai kebersihan kamar mereka, bibi Madison khusus menyiapkan satu orang dan tidak boleh berganti.
"Aku sudah siap, sayang. Baby A masih tidur," ucapnya.
"Biarkan saja, sayang. Ze, kamu temui tamu yang sebentar lagi datang, ya," pinta kakaknya.
"Baik, Kak." Zelene bergegas pergi ke ruang tamu.
Sementara di dalam kamar baby A hanya ada Sean, Callista dan putrinya.
"Kenapa kamu meminta Zelene untuk ke ruang tamu. Padahal aku masih butuh untuk membantu merapikan make up," ucap Callista.
"Kamu sudah terlihat cantik, sayang." Sean memujinya.
Keduanya masih sibuk di dalam kamar baby A dan tidak menyadari jika di ruang tamu terjadi keharuan yang luar biasa. Pertemuan pertama kali Zelene dan mama Jenica.
Awalnya Zelene sempat terkejut karena mama Jelita datang bersama dengan keluarga Damarion. Zelene hampir marah pada wanita itu yang dianggap tante Jelita. Untung saja Felix lebih dulu menyadari.
"Ze, maaf. Tetap di tempatmu!" ucap Felix.
Wanita itu entah ada masalah apa sehingga hendak marah pada wanita yang dianggapnya tante Jelita.
"Untuk apa wanita ini ikut dalam rombongan kalian?" ucap Zelene. Tatapan mata tak suka ditunjukkan oleh Zelene padanya.
Jenica yang menyadari jika putrinya mengira dirinya adalah Jelita berusaha maju selangkah dan mendekati Zelene.
"Apakah kamu Zelene Armstrong?" tanya wanita itu dengan suara yang sangat lembut dan berbeda dengan Jelita.
Zelene menatap dengan seksama. Wajahnya memang persis, tetapi penampilannya lebih sederhana tetapi terlihat sangat elegan. Gaya busananya juga sangat berbeda dengan Jelita yang jahat itu.
Vigor yang melihat adegan tak biasa itu membisikkan sesuatu pada istrinya. "Sepertinya dia bukan tante Jelita, honey."
Zelene tersadar kemudian maju dan langsung memeluk wanita itu. Wanita yang puluhan tahun tidak pernah disadari keberadaannya. Air mata bahagia Zelene lolos begitu saja. Dia tidak pernah bermimpi jika kelahiran baby A membawa kedatangan mama dalam hidupnya.
__ADS_1
Semua yang ada di ruang tamu terharu melihat pertemuan mama dan anak itu.
Mama Jenica melepaskan pelukan putrinya kemudian menghapus air matanya.
"Jangan sedih, sayang. Maafkan mama baru bisa menemuimu sekarang. Dimana kakakmu?" ucap Jenica.
"Kakak masih ada di dalam, ma. Honey, tolong bawa semua tamunya ke ruang acara. Aku ingin berdua dengan mama sebentar," ucap Zelene.
"Mari ikut denganku!" ajak Vigor.
Sekarang yang tersisa hanya mama Jenica dan Zelene.
"Kenapa sayang?" tanya Jenica.
"Aku baru saja kehilangan bayiku, ma. Gara-gara saudari kembar mama. Kenapa dia sangat jahat sekali?" ucapnya.
Mama Jenica merasa sedih mendengarkan cerita putrinya. Ternyata Jelita tidak hanya menyakiti dirinya saja, melainkan putrinya juga.
"Bersabarlah, sayang. Mama doakan semoga lekas diberikan gantinya," ucap Jenica.
Sangat berbeda dengan Jelita, Jenica adalah wanita yang sabar. Apalagi ketika tau putrinya harus menghadapi kesedihan yang luar biasa itu.
Sesaat Jenica nampak berpikir kemudian menarik napas sangat dalam dan menghembuskannya.
"Untuk apa, sayang? Untuk menambah rasa sakit hatinya lebih dalam lagi? Mamamu bukan orang seperti itu, sayang. Cukuplah dengan rasa sakit hatinya itu, dia sungguh merasakan penderitaan yang luar biasa. Buktinya, mama sekarang lebih bahagia. Apalagi bisa bertemu dengan anak-anak mama. Semakin dia melihat kebahagiaan mama berlipat ganda tanpa papamu, dia justru semakin menderita sayang. Tak perlu mengotori tangan atau mulut kita untuk membalasnya, oke?"
Jenica sangat bijaksana. Bahkan setelah dia rela menjadi madu saudarinya, sang suami malah lebih sayang terhadapnya.
"Mama sangat luar biasa." Zelene mendekati mamanya dan memeluk wanita itu untuk yang kedua kalinya. Hidupnya kini benar-benar sempurna dengan kehadiran mamanya. "Ma, pria yang tadi itu suamiku, menantu mama. Bagaimana menurut mama?" Zelene sengaja memancing mamanya untuk mengomentari Vigor. Setelah itu, Zelene melepaskan pelukannya.
Jenica terdiam sesaat. Walaupun dia belum sempat memandang keseluruhan wajahnya, tetapi dia sangat yakin jika menantunya itu sangat bertanggung jawab.
"Suamimu sangat baik. Dia terlihat menyayangimu dengan sepenuh hati dan menerimamu apa adanya. Dia sangat takut kehilangan dirimu, nak. Kamu sangat beruntung," ucap Jenica.
Ketika sedang asyik mengobrol, Zelene melupakan tugas yang diberikan kakaknya. Sebuah suara khas pria dewasa mengejutkan dirinya.
"Zelene Armstrong, apa yang kamu lakukan di ruang tamu?" ucap pria itu.
Kedua wanita itu langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kakak, kamu mengejutkanku," ucap Zelene.
Sean tidak tau jika di ruang tamu ada wanita yang dikiranya adalah tantenya. Zelene terlihat nyaman berada di dekatnya.
Wanita paruh baya itu berjalan untuk mendekati putranya yang dia yakin bahwa pria itu adalah Sean Armstrong.
"Sean," panggil Jenica.
Panggilan itu membuat hati Sean berdebar. Dia merasakan getaran hebat di dalam tubuhnya. Suara wanita itu mampu membuat matanya berkaca-kaca. Seratus persen, Sean yakin jika ini adalah mamanya.
"Mama? Benarkah ini mama Jenica?" tanya Sean.
Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian merentangkan tangannya berharap putranya akan memeluknya. Sean dengan cekatan mendekati wanita itu dan memeluknya dengan hangat. Untuk pertama kalinya, Sean menangis sebagai pria dewasa. Padahal ketika kelahiran putrinya, dia masih bersikap biasa saja. Semua yang ada di ruang tamu merasa terharu.
Pelukan itu cukup lama hingga sebuah suara menghentikannya.
"Sayang, semua orang sudah menunggumu. Kenapa lama sekali?" teriak Callista.
Callista terhenti ketika melihat suaminya memeluk seorang wanita yang dia tau adalah Jelita, wanita jahat itu. Sean melepaskan pelukannya.
"Sayang, kemarilah. Perkenalkan dirimu pada mama," ucap Sean mengejutkannya.
"Wah, ini pasti Callista. Masih sangat muda sekali kamu," ucap Jenica. Wanita itu tau dari Kayana. Kayana selalu menunjukkan foto istri Sean padanya.
"Mama mengenaliku?" tanya Callista.
"Tentu, sayang. Kayana selalu menunjukkan foto kalian berdua," ucap Jenica.
"Lalu, kenapa Mama tidak mengenaliku?" protes Zelene.
"Sayang, jangan seperti itu. Kakak iparmu ini selalu menjadi bagian cerita Kayana yang diceritakan ke mama. Termasuk__"
Jenica menghentikan ucapannya.
"Apa ma?" ucap Sean dan Zelene bersamaan.
"Pernikahan singkat kalian berdua. Mama sangat bersyukur kalau Sean memperlakukan Callista dengan sangat baik. Terima kasih, nak," ucapnya.
Sean dan Callista saling pandang dan mengingat kejadian konyol di awal pertemuan mereka. Kini semuanya sudah berubah.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓