
Pagi ini di apartemen Sean, semua orang disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Sean sedang bersiap di kamarnya. Kayana sedang membersihkan diri di kamar mandi ruang tamu. Callista menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya.
Rasanya pagi ini sangat melelahkan. Badanku terasa rapuh. Apa yang terjadi denganku?
Callista mempercepat acara memasaknya. Setelah menghidangkan makanan di meja makan, dia mengambil minuman hangat. Callista merasakan keringat dingin dan sedikit pusing dari biasanya. Dia terduduk lemah di meja makan sembari memegang pelipisnya.
Kalau begini caranya, mana bisa gue beraktivitas dengan bebas. Pusing euy!
Sean yang lebih dulu keluar kamar mendapati istrinya sedang memegang pelipisnya.
"Sayang, kenapa?" Sean terlihat sangat khawatir.
"Entahlah, sayang. Badanku terasa lelah dan sedikit pusing," ucapnya.
"Kalau begitu istirahat saja di apartemen. Mengenai Kayana, kamu jangan khawatir. Biar Zelene yang pergi menemaninya," Sean mengusulkan. "Hari ini kuantar ke dokter, yah?"
Callista menggeleng. "Enggak perlu. Mungkin masuk angin saja."
"Ayolah, sayang. Jangan menolak suamimu," pinta Sean.
"Baiklah, tetapi tidak untuk hari ini. Aku ingin rebahan saja, sayang. Bolehkah?" Callista berubah semakin manja.
"Baiklah. Terserah kamu saja. Hari ini masak apa?" Sean melihat hidangan yang tersusun rapi di meja. "Wow, sayur sop dan ayam goreng...."
Callista tersenyum. Tak menunggu lama, Kayana juga sudah muncul di meja makan.
"Eh, Kay... Sini sarapan dulu," ajak Callista.
"Wah, gue ngrepotin lo, Call. Oh ya, Om. Acara double date nanti malam, jadi?" Kayana ingin mendapatkan jawaban pasti.
"Pasti, Kay. Semalam aku langsung mengabari Felix. Dia juga siap. Hanya saja, nanti malam kamu perginya dengan Zelene dan suaminya, yah? Callista sedang tidak enak badan," ucap Sean sembari mengisi piring makannya.
"Biar aku ambilkan!" ucap Callista.
"Diamlah, sayang. Aku akan mengambilkannya untukmu. Duduk saja di situ," pinta Sean.
"Lo sakit apa, Call?" tanya Kayana.
"Entahlah, Kay. Sepertinya masuk angin. AC di kamar terlalu dingin."
"Lekas sembuh, Call. Padahal nanti malam, gue pingin lo menyaksikan kencan pertama gue," Kayana merasa sedih.
__ADS_1
"Tak masalah. Aku akan meminta Zelene merekamnya atau kita bisa video call. Bagaimana sayang? Apa kamu setuju?" Sean meminta persetujuan istrinya.
"Boleh, sayang," binar mata bahagia nampak diwajah Callista.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan santai. Sesekali mereka melontarkan candaan untuk menggoda Kayana.
"Kay, kalau Felix dah setuju. Lo langsung nikah aja. Biar lo bisa ngerasain apa yang pernah lo ajarkan ke gue," canda Callista.
"Memangnya apa yang diajarkan Kayana padamu, sayang?" tanya Sean. Selama ini dia pikir istrinya sangat polos.
"Biasa, Om. Sesuatu yang sifatnya absurd," Kayana menertawakan dirinya sendiri.
Setelah acara sarapan pagi bersama, Kayana pamit terlebih dahulu. Dia harus pulang ke rumahnya untuk bersiap kerja. Sedangkan Sean mengantar istrinya untuk beristirahat di kamarnya.
"Kalau bosan rebahan, nonton tivi saja. Berikan ponselmu padaku!" ucap Sean.
Callista menurut saja perintah suaminya. Setelah menerima ponselnya kembali, dia merebahkan diri di ranjang.
"Sayang, jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa kabari, yah? Nomornya sudah ada di ponselmu. Aku berangkat kerja dulu, sayang," pamitnya pada Callista. Kemudian pria itu mengecup lembut kening istrinya. "Lekas sembuh, sayang!"
Callista mengangguk pasrah. Dia sudah merasakan pening yang luar biasa.
Callista memejamkan matanya. Dia berusaha untuk tertidur agar sakit kepalanya lekas menghilang. Entah, sudah berapa lama dia tertidur. Dia terbangun karena mendengar bel berbunyi sejak tadi. Peningnya lumayan berkurang, tetapi siapakah orang yang sedang memencet bel apartemennya?
Dirasa cukup mendingan, Callista berjalan sambil mencari pegangan terdekat. Dia khawatir tubuhnya tiba-tiba tumbang.
Sesampainya di ruang tamu, bunyi bel sudah tidak terdengar.
"Aneh sekali. Siapa sih yang udah buat mainan bel apartemen suami gue?" Callista berniat membuka pintu dan melihat sekelilingnya.
Ceklek!
Callista menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun di sana. Dia hendak masuk, tiba-tiba pergerakannya terhenti ketika menemukan sebuah amplop tanpa nama. Dia pikir memang untuk suaminya. Diambilnya amplop itu kemudian kembali menutup pintunya.
"Aneh sekali. Siapa pengirimnya? Untuk siapa? Dasar tidak jelas! Oh astaga, ini semacam surat kaleng. Kenapa rasanya seperti mendapatkan teror. Kira-kira siapa pengirimnya?" Callista mengoceh sendiri.
Sebaiknya gue buka aja suratnya. Mungkin hanya orang iseng!
Deg!
Ketika mendapati isi suratnya, Callista benar-benar syok. Tidak hanya selembar surat, tetapi sebuah foto yang tidak pantas untuk dilihatnya.
__ADS_1
Callista merasakan sakit yang teramat sangat melihat foto itu. Dia belum membuka isi suratnya.
Kenapa foto seperti ini dikirimkan padaku? Apa tujuan mereka sebenarnya? Membuatku cemburu atau apa? Ini foto sangat gila! Orang itu niat sekali untuk menghancurkan rumah tanggaku.
Callista meletakkan foto tidak senonoh itu di atas meja ruang tamu. Perlahan dia membuka lembar suratnya. Dia ingin tau apa isi suratnya.
Lihatlah! Kelakuan suamimu yang sebenarnya. Dia tidak hanya tidur denganmu, tetapi dia telah tidur dengan banyak wanita. Foto itu hanya satu dari beberapa foto lainnya yang masih ada padaku. Jangan kau anggap suamimu itu pria baik dan bertanggung jawab. Itu hanya sebuah kedok untuk mendapatkanmu!
Seketika, Callista luruh ke lantai. Dia tidak ada kekuatan untuk menopang dirinya. Jika beberapa hari yang lalu dia bisa menerima kenyataan ini. Namun, saat ini semuanya terasa berbeda. Dia lebih sensitif. Tingkat kecemburuan yang sangat akut. Bahkan, dia sampai cemburu pada sahabatnya sendiri.
Setelah menerima surat kaleng beserta foto tidak senonohnya itu, Callista berusaha kuat. Dia tidak ingin rumah tangganya hancur. Tapi bagaimanapun dia seorang wanita yang gampang rapuh. Tentu akan sangat sulit membangun kepercayaan untuk suaminya.
Setelah ini, apa gue bisa selalu percaya padanya? Dia memang baik. Sempurna untuk ukuran cewek seperti gue. Tak hanya segi fisik, dia sempurna dari segi materi. Apakah benar, doi selalu pergi dengan wanita malam? Ataukah, Mami Vee? Astaga! Apa aku harus mencari wanita itu untuk mengetahui kebenarannya? Wanita itu kunci dari segala apa yang pernah suami gue lakuin. Sebaiknya Om Sean tidak tau tentang surat kaleng ini.
Bergegas Callista memasukkan kembali surat beserta foto itu ke dalam amplop. Dia masuk ke kamarnya. Diletakkan amplop itu dibawah ranjangnya. Dia yakin ini adalah tempat yang aman.
Saat ini, gue belum bisa kemana-mana. Gue tunggu sampai kondisinya bener-bener fit. Kira-kira siapa pengirimnya? Rival gue atau orang lain?
Callista sedang memikirkan cara untuk bertemu Mami Vee. Dia belum memutuskan apapun sampai kondisinya benar-benar fit.
Apa sebaiknya gue pergi ke dokter? Biar badan gue lekas baikan. Dibiarin kek gini lama-lama lemes juga.
ππππto be continuedππππ
Wah, kira-kira siapa ya pengirim surat kaleng itu sebenarnya? Emak lagi deg-deg nih...
Semoga suka part kali ini, jangan lupa like, vote, dan komentarnya. Di bintangin juga boleh. Segenggam bunga ataupun secangkir kopi, emak tunggu hadiahnya...
****
Sambil menunggu part selanjutnya, kuy kepoin karya teman emak.
Judul : Berbagi Cinta : Berbagi Suami
Author : febyanti
*jangan salah paham ya akak readers... Ini novel emang dibuat karena adanya even. Cus kepoin yak.
Terima kasih... Luv yu All πππ
__ADS_1