Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Ibu Kandung


__ADS_3

Keputusan Callista tepat. Dia memilih menghindar sesaat dari suaminya. Sean sepuluh menit tersadar karena kepergian istrinya yang mendadak itu.


"Kemana dia bawa anakku? Harusnya kamu tidak pergi, sayang." Sean bangkit mengambil kunci mobil. Dia bergegas turun ke basemen untuk mencari istrinya.


Sepanjang jalan, dia menengok kesana-kemari untuk mencari keberadaan istrinya. Kemungkinan untuk pergi ke rumah lama sahabatnya adalah hal mustahil. Ke tempat Zelene juga tidak mungkin. Kemana lagi dia pergi? Kost lamanya juga bukan tempat yang nyaman untuk ibu hamil sepertinya.


Sean memukul kemudinya. Dia merasa kesal karena tidak berhasil menemukan istrinya. Hari semakin malam, hawa di luaran semakin dingin. Sean menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Sayang, kemana kamu bawa anak kita? Aku tidak pernah mengizinkanmu untuk pergi apalagi membawa baby A. Kita akan merawatnya bersama-sama. Tolong kembalilah!" ucap Sean. Dia menerawang jauh ke depan. Mungkin saja di depan ada istrinya yang tengah lewat.


Sementara di apartemen Sean. Semuanya terlihat sepi. Kamar utama kosong ditinggal kedua penghuninya. Hanya kamar tamu yang cahayanya terang benderang. Di sinilah Callista berada. Wanita hamil itu tidak pergi jauh dari kamar utama. Dia hanya ingin berdiam diri tanpa melihat kegalauan suaminya. Padahal dirinya sendiri juga galau.


"Hemm, rasanya aku sangat lapar. Lebih baik aku ke dapur membuat masakan. Siapa tau, suamiku juga akan makan malam," ucap Callista.


Callista keluar. Dia tidak melihat tanda kehidupan di kamar utama. Kamarnya terbuka dan sedikit berantakan.


"Ish, kemana suamiku pergi? Jangan-jangan dia sedang dugem terus ketemu cewek bohay dan kecantol sama dia. Ish, amit-amit. Semoga itu hanya bayangan novel yang pernah kubaca. Hanya sedikit, tetapi kenapa perasaanku jadi cemburu seperti ini?" ucap Callista sembari menyiapkan makan malamnya. Dia menyesal karena meninggalkan suaminya. Ya, walaupun hanya ke kamar sebelah. Dia juga butuh istirahat dan pikiran yang tenang, 'kan.


Callista melupakan sejenak masalahnya. Dia merasa nyaman bisa berkutat di dapur seorang diri.


"Baby A anak mama. Selalu jadi orang yang luar biasa, nak. Jangan seperti Mama. Hidup terombang-ambing sama mama mertua. Baby A, mama galau. Apakah kutukan paman Dizon akan menjadi kenyataan? Cukup mama saja yang terjebak duda berumur. Sebaiknya kamu cari perjaka mapan yang matang, tetapi jangan tua banget, yah," ucap Callista mengelus perutnya.


Callista meminum lemon hangat. Hanya itu yang mampu membuat tenggorokannya terasa lega. Entah sejak kapan dia menyukai sesuatu yang berbau jeruk atau lemon itu.


"Tunggu! Kalau kamu berjuang mengejar cinta pria duda yang dingin, masih beruntung mama, nak. Papamu mengejar cinta mama. Tapi, ngomong-ngomong, suami eks dudaku itu kemana? Jam makan malam tidak muncul," ucap Callista. Dia duduk di meja makan menikmati makan malamnya.


Ketika hampir selesai, seseorang masuk seperti orang linglung. Beruntung bau menyeruak masakan yang sampai ruang tamu itu menuntunnya untuk masuk ke ruang makan.

__ADS_1


"Harum baunya seperti masakan istriku. Mana mungkin, dia sudah kabur sejak tadi sore. Atau jangan-jangan, ada hantu bergentayangan di apartemen elite ini?" ucap Sean dengan gontai.


Callista belum menyadari jika suaminya sudah kembali setelah mencari dirinya sepanjang jalan. Pria itu terlihat lusuh dan sangat kelaparan. Dia langsung duduk di meja makan dan melihat ada beberapa masakan di sana.


"Wahai hantu penjaga apartemen, terima kasih kamu telah menyiapkan makan malam ini. Aku sangat kesal, kemana istriku membawa pergi baby A? Tapi tidak apa-apa, setidaknya malam ini aku tidak kelaparan," ucap Sean.


Sean sudah melihat Callista, tetapi dia tidak yakin jika itu nyata.


"Wahai bayangan istriku. Enyahlah dari hadapanku!" ucapnya membuat Callista geleng kepala.


"Bayangan istrimu?" tanya Callista.


"Kenapa bayangan bisa berbicara? Dimana kamu berada, sayang?" tanya Sean.


"Sepertinya suamiku sudah tidak waras," ucap Callista mendekatinya.


Callista cuman bisa geleng kepala menghadapi tingkah suaminya.


"Helo, Tuan Sean. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Callista. Suaminya bertingkah sangat aneh dan diluar nalar manusia. Dia mengira istrinya seorang hantu.


"Kamu memanggilku?" tanya Sean.


Callista mengangguk.


"Kamu pasti jelmaan istriku," ucapnya lagi.


"Oh, ya ampun. Suamiku mulai bermasalah," ucap Callista.

__ADS_1


"Memangnya istri Tuan kemana?" tanya Callista.


"Istriku kabur membawa anakku," ucapnya.


Callista tertawa. Dia sejak tadi tidak kemana-mana. Dia hanya kabur ke kamar tamu saja. Tidak melangkahkan kaki keluar dari apartemen. Kehamilannya jauh lebih berharga dari apapun. Dia juga tidak tau jika suaminya pergi mencarinya.


"Aku dari tadi tidak pergi kemana-mana. Aku hanya ingin menenangkan diri di kamar sebelah. Memangnya aku kabur kemana, sayang?" ucap Callista seperti orang yang sangat tidak berdosa sama sekali. Dia telah merugikan Sean dalam beberapa hal. Rugi waktu, bahan bakar, tenaga dan pikiran.


"Kamu...," teriak Sean. "Kamu sengaja membuatku panik dan hampir gila, sayang." Sean berdiri kemudian memeluk istrinya dengan lembut dan sangat hangat.


Sean pikir, istrinya akan pergi jauh dari jangkauannya, tetapi kenyataannya malah masih berada di dalam apartemen. Dia sudah membuat seorang Sean Armstrong pusing.


"Bukannya tadi memang di suruh pergi? Ya aku pergi, 'lah. Tapi jujur, aku masih sangat kepikiran ucapan Mama mertua. Kenapa Mama mertua jahatnya luar biasa seperti itu? Atau jangan-jangan, kalian berdua anak adopsinya," ucap Callista. Dia masih dalam pelukan suaminya.


"Entahlah. Itu juga perlu dipertanyakan. Kenapa dia selalu membuatku dan Zelene berada dalam genggamannya? Terkadang, aku iri melihat Dizon dan Felix. Tante Carlotta lebih mementingkan kebahagiaan kedua putranya," ucap Sean. Dia sudah melepaskan pelukannya kemudian meminta Callista untuk masuk ke ruang tengah.


Memang kenyataannya demikian. Mama Jelita selalu membuatnya sempurna. Bukan urusan rumah saja, tetapi urusan anak beserta jodohnya. Masa lalu Sean bukan malah menjadikan pelajaran untuknya berubah, malah sekarang membabi buta.


Wanita paruh baya itu juga tidak gentar untuk meminta anaknya bercerai. Kalau dia ibu kandung, harusnya tidak bersikap seperti itu. Tetapi pada kenyataannya dia tetaplah ibu kandung Sean dan Zelene.


"Itu sangat wajar, sayang. Harusnya kamu bersyukur punya mama. Lihatlah diriku, hidup sebatang kara. Seandainya aku punya mama, tidak akan serumit ini hidupku." Callista memandang sendu nasib dirinya. Dia dan Kayana bernasib sama. Hanya saja, Kayana masih menempati rumah peninggalan orang tuanya. Sedangkan Callista, dia dibesarkan di panti asuhan tanpa orang tua.


"Tetap saja seperti bukan mama, melainkan seorang musuh yang selalu mengusik kehidupanku maupun Zelene. Tidak semua yang diinginkan itu sesuai dengan kenyataan. Lihat, bahkan aku sudah sangat tua untuk diatur menjadi seorang anak. Pantasnya aku mengatur seorang anak. Bukan begitu, sayang?"


Callista hanya mengangguk. Rencananya berhasil. Sean ternyata sangat mencintainya. Bahkan dia rela berkeliling di jalan raya hanya untuk menemukan dirinya.


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓🍓

__ADS_1


__ADS_2